Aku Tak Memaafkan Soeharto
Pak Daniel,
Seperti sms saya sore tadi kepada Pak Daniel mengenai cover Tempo dan juga bahwa saya akan reply email Pak Daniel soal Suharto. Saya ingin berbagi kepada Pak Daniel bahwa memaafkan Suharto buat saya perbuatan absurd karena Suharto tidak berdiri sendiri. Terbukti dari Suharto sakit sampai wafat kroninya yang menguasai media (RCTI,TPI,Global,SCTV,Metro, Radio Trijaya Network,dll) membuat berita propoganda yg sangat menyesatkan. Ok gini deh saya mulai seperti yang dilakukan Pak Daniel dengan bercerita mengapa tidak mudah memaafkan Suharto.
Saya lahir Suharto baru berkuasa jadi saya tidak tahu persis bagaimana Sukarno memimpin. Namun, saya akan ceritakan mulai dari apa yg terjadi dalam keluarga saya sehingga kami sekeluarga sulit memaafkan Suharto. Pada tahun 1974 sampai 1976, beberapa kali saya yang saat itu masih kecil bersama dengan kakak dan adik saya dibawa ke pelabuhan Tanjung Priok, kami naik VW Combi dan didalamnya penuh dgn nasi bungkus serta air minum di plastik. Karena masih kecil tugas kami hanya di mobil saja menunggu makanan dan kami dibawa kesana karena memang keluarga kami tidak punya pembantu sehingga tidak mungkin ditinggalkan di rumah. Kami tidak mengerti melihat banyak orang turun dari kapal laut kemudian bertemu dengan keluarganya menangis. Saya yang saat itu masih kecil menurut kakak saya ikut nangis kalau lihat orang berpelukan dan menangis karena memang saya paling cengeng di rumah. Saya samar samar mengingat semua itu karena saya masih kecil sekali , saya hanya ingat nasi bungkus dr daun pisang dan teh didalam kantong plastik yg banyak. Ternyata saat itu orang tua saya merupakan salah satu aktivis yg menjemput tahanan PKI yg dilepas dari pulau Buru, saya tahu setelah SMP. itu rasanya pengalaman pertama saya tahu “politik” .
Kemudian tahun tahun berikutnya di rumah saya sering orang menginap dan kebetulan saat itu ayah saya ekonominya lumayan mempunyai sekitar 5 anak asuh, tentu saja istilahnya bukan anak asuh tapi anak titipan. Setelah SMP saya baru tahu bahwa itu adalah anak anak PKI yg memakai nama ayah saya agar mereka bisa sekolah dan kuliah. Rumah saya tidak pernah sepi, entah sudah berapa puluh orang tinggal bersama kami ada yg sebentar tapi ada juga yang tahunan. Kami lima bersaudara tidak pernah merasa kesulitan malah senang karena di rumah ramai dan ada yg bantu beres beres rumah. Lalu ibu saya membeli peralatan membuat roti saya ingat waktu itu kelas 4 SD. Saya pikir ibu saya mau buka usaha roti tapi ternyata roti roti itu dikirim ke penjara untuk tahanan politik karena mereka kekurangan gizi dan roti agak tahan beberapa hari sehingga lumayan untuk kesehatan mereka. Roti diantar bergantian dan saya ikut mengantar roti bersama ibu dan adik saya (Vicki) setiap minggu. Pada saat itulah saya mengenal baik penjara dan persoalan penghuninya. Banyak tapol yg sakit parah namun tidak diobati, pada saat itu kebanyakan dari Papua (OPM), Aceh (GPK isitilahnya), ada juga eks 65 yg dianggap masih bahaya dan ada penghuni baru yaitu tapol Timtim. Saya pernah bertanya kepada orng tua saya, mengapa mereka dipenjara. jawaban orang tua saya karena mereka berbeda pendapat dengan penguasa. yah masih belum ngerti sih meski manggut manggut. Lalu, saya tanya kenapa kakak saya yg perempuan tidk pernah diajak ke penjara. Jawab ibu saya karena dia sudah gadis bahaya kalau ikut ke penjara karena ada sipir di Salemba yg minta dilayani anak gadis salah satu tapol kalau tidak mau maka bapaknya tidak dikasih makan, jadi dia tidak punya pilihan demi bapaknya. Saya sekali lagi manggut manggut saja, ngerti sekaligus ngeri. Orang tua saya selalu mengingatkan utk tidak menceritakan kegiatan kami ke penjara kepada siapapun, saya setuju saja malah saat itu sebenarnya merasa terpaksa diajak kesana apalagi kl sdh lihat org nangis krn sdh puluhan tahun tdk bertemu keluarganya mk saya yg cengeng ini ikut nangis, padahal nggak kenal, jadi capek juga. Cuma saya tidak bisa menolak krn nggak tega juga lihat ibu saya menenteng tas plastik isi roti begitu banyak sendirian.
Setelah saya SMP ibu saya melarang saya ikut ke penjara namun saya di rumah diminta membantu mengetik surat surat dr keluarga Tapol utk dibawa ke penjara sehingga saya tahu betul penderitaan yg dialami keluarga tapol.Ada anak yg minta maaf kpd bpknya krn memakai nama org lain didlam rapotnya krn bpknya sdh black list. Ada anak yg marah marah sama bapaknya gara gara calon mertuanya tahu bhw bapaknya tapol mk nggak jadi kawin.Ada yg nanya apakah para tapol tahu dimana bapaknya, kakaknya atau ibunya karena tidak ada kabarnya. Pokoknya bnyklah, seperti sinetron lah.
Setelah saya kuliah, ayah saya ingin sekali saya jadi wartawan mengikuti jejaknya. Suatu malam ayah saya bercerita bahwa sebenarnya dia pernah ditahan 3 bln krn ayah saya wartawan Bintang Timur, koran yg dianggap oleh suharto sbg koran komunis. Ayah saya cerita bahwa dia tidak pernah disiksa secara fisik karena kebetulan keluarga ibu saya langsung menghubungi Pangabean (biasalah batak ya Pak). Namun, ayah saya melihat org dicabut kukunya, org disiksa dimana luka lukanya tdk diobati bahkan sampai mati. Malam itu ayah saya menyerahkan kpd saya buku hariannya dan di bait terakhir bukunya mengatakan bhw memutuskan berhenti jadi wartawan krn sudah tidak ada kata kata yg bisa ditulis kembali. Itulah pertama kali saya sadar bahwa Suharto sudah melakukan kejahatan kemanusiaan yg luar biasa, membuat orang menulis saja sudah tidak mampu.
Saya janji kpd ayah saya bahwa saya akan jadi wartawan lalu saya sering diajak ke rumah Mochtar lubis, SK Trimurti dan juga Hasyim Rahman. Mereka adalah wartawan terkenal pada jaman dulu. Mbah Trimurti (begitu saya manggilnya) bilang begini sama saya, “Siap miskin milih jadi wartawan”? saya ketawa terus dia nyambung lagi, siap mampus?, siap masuk penjara? Siap disiksa?Saya diam saja lalu Mbah cerita sama saya bahwa dia pernah ditangkap atas perintah Suharto dimasukkan kedalam tong kemudian tong nya diceburkan ke kolam kemudian tong nya dipukul pukul pakai kayu. Saat dia cerita saya hanya bisa bengong, orang terhormat spt Trimurti diperlakukan spt itu. Lalu, saya bilang Mbah nggak nuntut?Dia ketawa lalu dia cerita soal bagaimana Sukarno diperlakukan Suharto saat sakit sambil meninggal. Bila org lain baru saja mendengar cerita soal Sukarno di saat saat terakhir, saya sudah tahu sejak 23 thn lalu dr seorang Trimurti. Mochtar Lubis pernah bilang, kalau masih suharto presidennya kau nggak bisa jadi wartawan hebat, kl orang blg kau hebat berarti kau sdh mati.
Saat saya menjadi wartawan tahun 1992, mata saya semakin terbuka terutama soal ekonomi yg digembor gemborkan membawa kemakmuran pada jaman suharto. Saat itu saya dekat dengan christianto wibisono (mudah mudah an dia masih ingat sama saya), banyak off the record dr Pak chris terutama hutang luar negeri spt fatamorgana, indah namun mematikan. Begitu juga Pak Chris punya data data bisnis kroninya Suharto. Saat itu saya hanya bisa mengelus dada krn tentu tdk mungkin dimuat di media saya saat itu yaitu Forum Keadilan, anak nya Tempo saat itu. Pak Chris banyak membeberkan akibat dr hutang luar negeri “ala Suharto”, saya ingat dia mengatakan akibatnya mungkin 20 tahun sampai 50 thn kedepan karena kita tergantung dgn dolar. logika ekonomi sehat sulit digunakan gitu katanya. Bayi lahir di Indonesia pada tahun 2000 an hrs menanggung hutang 8 juta rupiah mknya bayi di Indonesia pasti nangisnya keras begitu lahir katanya bercanda. Kalau tdk bisa manage hny bisa bayar bunga saja namun tdk bisa bayar pokoknya mk Indonesia sdh tergadai. Nah, ternyata kejadian sekarang harga tempe ditentukan dolar, harga tempe ditentukan oleh persoalan property yg menjadi masalah di AS. Artinya, kejadian pemiskinan di Indonesia bkn semata mata krn SBY yg tdk capable namun akibat kegiatan eknomi yg amburadul sejak jaman suharto.
Rakyat kecil memang selalu mengatakan enak pada jaman Suharto, saya tidak menyalahkan itu karena Suharto yg meminjam dan rakyat yg membayar. Belum lagi kroni Suharto yg menguasai media seperti saat Suharto sakit sampai wafat, semua media memuakkan terutama RCTI,TPI,Global,SCTV dan Metro yg semuanya kepunyaan kroni Suharto. Malah gembar gembor kesuksesan ekonomi Suharto dengan menghilangkan data berapa trilyun dolar yg dipinjam suharto dan hny diputar putar sekitar kroninya.
Sekarang kita masuk era dimana Pak Daniel ikut berperan yaitu reformasi. Saat 1994 sedang enak enaknya kerja tiba tiba Tempo, Detik dan editor dibredel, saya solidaritas ikut bersama yg lain mendirikan AJI. Kemudian kami di black list, Harmoko menurut petunjuk bapak presiden minta kpd semua pemred utk sweeping jajarannya yg anggota AJI. Hasilnya 3 orang dipenjara entah brp yg dipecat termasuk saya dipecat dgn tdk hormat kecuali mau masuk PWI dan menandatangin surat pernyataan insyaf. Tentu saja memilih nganggur kemudian kami menjadi organisasi underground. Kami menerbitkan media alternatif yg namanya Independen yg membuat kami dikejar kejar dan selalu berpindah tempat.
Kemudian terjadi 27 juli, Pak Daniel dan teman teman tentu tahu apa yg terjadi, Suharto benar benar ngamuk saat itu. Saya dan teman teman sibuk saja evakuasi aktivis ada yg ke daerah sampai ke Flores ada juga yg sampai Bangkok, pokoknya gerilya habis. Saya pernah merasakan masuk polda dan dibentak bentak polisi, aduh kok milih ikut demo mending jadi lonte aja, enak loh, tinggal buka paha dapat duit, sampai sekarang tuh masih nempel di kuping saya. nah sampai akhirnya yg paling tragis penculikan, Mei, Trisakti dan semanggi.
Pak Daniel dan teman teman, buat saya dan beberapa teman sulit memaafkan Suharto karena ini bukan sekedar memberi maaf seperti lebaran tapi sangat dalam. Kami tidak dendam, kami tidak melihat kebelakang malah kami melihat jauh kedepan. Kalau Suharto dimaafkan maka kroni kroninya semakin menancapkan kuku karena tidak ada saluran hukum dan politik untuk menghukum mereka bila berbuat semena mena. Apa yg saya ceritakan bukan bermaksud mengatakan siapa pahlawan, siapa penjahat apalagi Pak Daniel dan mungkin beberapa teman punya keyakinan sendiri untuk memaafkan Suharto. Bagi saya dan teman teman untuk masa depan kita semua menjadi lebih baik, jangan pernah ada kata maaf buat Suharto.
Apa yg saya ceritakan dan alami tidak ada apa apanya dgn apa yg dialami korban Papua, Aceh,Timtim,ibu ibu yg anaknya ditembak, orang tua yg anaknya diculik sampai saat ini entah dimana bahkan tidak ada apa apanya dibandingkan penderitaan Suciwati yg menuntut keadilan atas kematian Munir. Sekali lagi karena tidak ingin terjadi lagi peristiwa kejahatan kemanusiaan makanya sulit bahkan hampir tidak mungkin buat saya pribadi memaafkan Suharto.
Saya anti komunis, saya anti sosialis, saya anti syariat Islam, itu teman teman pergerakan tahu, sampai kapapun saya tidak pernah setuju dengan ideologi ideologi tsb namun sampai kapanpun yang namanya kejatahan kemanusiaan harus dihentikan. Propaganda media yg dilakukan kroni kroni Suharto merupakan kejahatan kemanusiaan. Dan itu adalah ideologi Suharto yg tumbuh subur meski Suharto sdh tidak ada.
Pak Daniel, saat Suharto wafat saya di RS kena typhus (masuk senin siang setelah pulag dr Lombok), saya menonton pemakaman Suharto di RS, yg membuat panas badan saya cepat turun krn teman teman datang besuk dan kami sdh membuat planing antisipasi kedepan agar kroni kroninya tdk tumbuh subur. Jadi ruang rawat menjadi ruang rapat he he he he he.Ternyata Suharto wafat kata teman saya seperti obat typhus nya org cina yaitu cacing kering krn membuat saya turun panasnya (he he he he).
Agustus nanti bersama Paramadina,dan bbrp lembaga akan ada conference besar mengenai demokrasi. Sistemnya panel, seperti conference internasional, jadi ada kelas kelas, peminat silahkan pilih mau ikut yg mana, siapapun dan organisasi apapun boleh ikut. Salah satunya panel soal agama, bagaimana kalau Pak Daniel ambil bagian dengan sidney jones dan Eliabeth Collins. Kemungkinan akan diadakan di UI, kl Pak Daniel mau ikut saya akan atur panel bersama dua org pembicara tsb. KAlau Pak Daniel dan teman teman OU yg ada di Jakarta dan sekitarnya ada waktu ikut lah pertemuan dgn kami kami, banyak program , salah satunya kami akan bikin tabloid spt Detik jaman dulu yaitu independen, kami sdg susun proposalnya. kami sdg siapkan film dokumenter mengenai penanganan kesehatan Suharto dan sukarno, jadi dibandingkan, akan digarap Riri Riza, tino sama Nia Dinata. Kami akan minta teman teman teater Koma bikin pementasan, katanya mau bikin pementasan Kaisar Nero yg selesai menyuruh bunuh rakyatnya, dia main biola, kami sering bikin diskusi, banyak lah , kalau ada waktu pasti teman teman senang bertemu Pak Daniel dan teman teman eks OU lainnya. Saya hanya bagian mikir aja krn kesehatan saya belum pulih, malah belum masuk ktr. Operasionalnya bnyk dilakukan Budiman sujatmiko, Fajroel, Gung Putri,dll. Please join lah….
Duh kepanjangan ya, apa boleh buat supaya jelas aja. Buat yg lain maaf kl bete bacanya…thanks
SQ
Catatan:
Surat ini adalah respons kawan saya Ezki terhadap tulisan saya Aku dan Soeharto – Suatu Kesadaran Politik Yang Bertumbuh : http://rumametmet.com/?p=636 Saya muat utuh dengan seijin yang bersangkutan.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Ikut aja, Mang…
Banyak suara kecil bisa jadi gaung yang besar…
aih aih …. aku kok ngerasa, auranya seperti cerita2 sejarah, bagaimana gerakan pemuda dalam merebut kemerdekaan RI. Tapi bagaimanapun juga, memang harus ada orang-orang yang bergerak di “garis keras”.
God Bless U all …
saya setuju dengan pendapat Ezki, saya juga tidak memaafkan suharto, karena memang pada zamanya, yang berkuasa lebih berkuasa. Saya mendukung Amang Pendeta untuk ikut serta dalam conference tersebut supaya Amang Pendeta dapat ikut serta berjuang dengan memberikan saran – saran. Jesus Bless Us……
amang,
kami mahasiswa 98 juga sedang menyusun sebuah pernyataan sikap…., yang intinya kami mengajukan agar kasus hukum soeharto diteruskan. mungkin akan disampaikan melalui press con.
Wah, semakin menambah pengetahuan sy ttg mantan presiden kita.
Thx n selamat berjuang
saya menangis bacanya.
rupanya, masih ada orang indonesia yang seperti ini.
saya kira sudah pada mati dibunuhi diktator kejam berbalut senyum manis itu.
maaf, saya kurang pintar berkomentar.
itu saja.
Amang, apakah Sdri. Ezki (yang amang kutip tulisannya ini) adalah yang ketemu di Solo tgl 8 Des 2007 yang lalu?.
Cerita mengenai “polah” regim Suharto, saya mau berbagi cerita amang :
Pengalaman ini dialami oleh “calon” rekan sekerja saya di kantor (sekitar tahun 1996), ybs alumni S1 dan S2 dari sebuah PTN di Yogya dengan predikat “cum-laude”; ybs sudah mengikuti tahapan-tahapan test sebanyak 6 kali (dari 7 tahap; setiap tahap dengan menggunakan sistim gugur), eh…. karena orang tua ybs terindikasi terlibat Organisasi Terlarang, calon rekan saya tersebut tidak jadi menjadi rekan kerja saya, padahal ybs lahir tahun 1968 (setelah G30 S PKI).
Horas.
Jawaban DTA: Ya, benar sekali.
Wah……apa masih ada waktu luang untuk jadi panelis amang? kegiatan amang yang saya tahu saja sudah banyak mulai dari sermon, PA Punguan Ina, PA Punguan Ama, persekutuan wijk, sekolah minggu, marjamita hari minggu (yang kadang mungkin harus berlarian karena jadwal di beberapa tempat), kunjungan orang sakit, mangapuli, mamoholi (eh..bener gak tulisannya ya?), pemberkatan pernikahan, sidi, keluarga di Palembang, dan kegiatan mengisi ulasan atau hal lain di rumametmet, de-el-el….. kalo masi nekat jadi panelis jangan2 bisa typus nanti…(hiks….hiks….)
aku baru baca tulisan ini…. meski sudah lama ditulis…. dan waktu itu akumemang belum dapat blog ini… aku kenal baru agustus yang lalu..
Ih…..gila……panas juga kepalaku neh…..
Ih…. tidak ada lagi selera makanku….
jadi teringat juga aku neh… dibalbali….kroni-kroni dia tuh….waktu di HKBP…..oh ala….