Almanak Senin 4 Februari 2008:
Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak-anak manusia yang tidak dapat memberi keselamatan. (Mazmur 146:3)
Sehebat-hebatnya raja, pejabat tinggi negara, atau pengusaha besar, atau kepala gang, dia adalah tetap manusia yang berasal dari debu dan kembali kepada debu. Tidak ada seorang pun manusia yang kekuasaan dan kebesarannya abadi sepanjang masa. Yang kemarin dipuja-puja dan disanjung bagaikan ilah atau dewa oleh jutaan orang, hari ini bisa telah dilupakan, dan hanya sesekali saja dikunjungi makamnya oleh segelintir keluarga dan pengagum fanatiknya. Yang hari ini selalu disambut dengan karpet merah, pengawalan pasukan berjas dan bersenjata, serta dikalungi karangan bunga, dan bila berpidato didengarkan seksama, besok atau lusa bisa hidup sebagai manusia biasa tua renta kesepian, atau malah-malah berada dalam penjara. Sebaliknya yang dulu disepelekan karena miskin kini bisa sudah kaya-raya. Ya manusia, siapapun dia, dibatasi oleh umur, masa jabatan atau edar, rentang waktu, periodesasi, dan konstitusi dan lain-lain. Jaman berubah-ubah. Mode selalu berganti.
Itulah sebabnya sang pemazmur mengingatkan kita agar jangan menggantungkan hidup dan masa depan kita kepada manusia, betapa pun kuat, kaya, atau baiknya dia. Mengapa? Sebab manusia itu fana. Kekuasaan, kekayaan dan kebaikannya sementara. Dia tidak bisa selamanya menolong kita. Lebih mendalam: dia tidak bisa memberi keselamatan jiwa kita. Lantas bagaimana? Mari kita mempercayakan dan menyerahkan kehidupan kita hanya kepada Tuhan Allah. Sebab hanya Dia sajalah yang kekal atau abadi.
Itu artinya kita harus mengubah paradigma kita tentang manusia, khususnya orang besar, kaya, kuat, dan berkuasa, juga baik yang acap ingin kita mintai tolong, yang kehadirannya selalu kita tunggu, yang namanya kita sanjung, dan bisa dekat dengannya membuat hati kita bangga dan berbunggah. Pada hakikatnya mereka adalah manusia fana, ciptaan Allah, yang tidak bisa disejajarkan apalagi ditinggikan melampaui Allah. Kita boleh-boleh saja ingin dekat dengan orang yang kita pandang besar, kaya, kuat dan atau baik itu. Dalam hidup ini kita wajar-wajar saja dan malah bagus jika dapat membangun relasi dan perkawanan dengan banyak orang, apalagi dengan mereka yang sukses. Kita juga sangat manusiawi memiliki tokoh sebagai role model atau anutan. Namun diingatkan: jangan sekali-kali menggantungkan hidup pada manusia. Tetaplah independen atau mandiri. Tetaplah hanya bergantung kepada Tuhan.
Doa:
Ya Tuhan, kami mengucapkan syukur dan terima kasih atas orang-orang besar, kuat, kaya dan berkuasa, serta baik yang kami kenal di dunia ini. Ajarlah kami mencontoh kebajikan-kebajikan yang ada dalam hidup mereka, namun doronglah juga kami mau belajar dari kekurangan-kekurangan yang mereka lakukan. Lebih dari itu, berilah kami Roh Kudus, agar kami tidak menggantungkan hidup dan menyerahkan nasib kami kepada orang besar, kuat, kaya dan berkuasa, atau baik. Berkatilah kami, agar kami juga dapat bertumbuh menjadi besar dan kuat serta terutama baik dalam hidup ini. Ya Tuhan, buatlah hidup kami berlimpah-limpah dengan kasih dan kebajikan, agar namaMu dipermuliakan melalui hidup kami. AMIN.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Home: http://rumametmet.com
Share on Facebook