Mari Berperang Di bawah Panji Tuhan

February 3, 2008
By

Kotbah Minggu 3 Februari 2008

agnusdeistjohns.JPG

Dasar: Keluaran 17:8-16

 

Judul kotbah ini bagi sebagian orang, apalagi yang bukan Kristen, mungkin bisa dinilai sangat provokatif atau malah menyebarkan rasa kebencian dan permusuhan. Bagi sebagian orang lagi, yang berpikir kritis dan skeptis, judul itu malah bisa dianggap klise dan sloganistik. Namun bagi sebagian orang lagi, terutama kalangan Kristen yang sangat fanatik, malah dianggap kebenaran yang tidak harus diragukan atau dipertanyakan lagi.

Jika kita membaca Alkitab khususnya bagian Perjanjian Lama penuh dengan kisah peperangan (dalam arti harafiah) termasuk yang menjadi dasar kotbah Minggu ini, yaitu perang bangsa Israel melawan bangsa Amalek. Para bapa gereja dan teolog, mungkin karena situasi dan kondisi jaman yang sedang dihadapinya, juga sangat suka melukiskan kehidupan ini bagaikan peperangan. Ya bahkan peperangan sengit yang berlangsung seumur hidup. Jika kita perhatikan lagi banyak nyanyian rohani yang selalu kita nyanyikan di gereja menggambarkan hidup bagaikan perang itu, antara lain yang sangat terkenal: Laskar Kristen, maju! (Onward Christian Soldiers), Hai Bangkit bagi Yesus , atau lagu dalam bahasa Batak Sai berengi partonggolan (Lihatlah Panji). Mari kita simak syair salah satu lagu tersebut:

Hai bangkit bagi Yesus, pahlawan salibNya! Anjungkan panji Raja dan jangan menyerah. Dengan semakin jaya Tuhanmu ikutlah, sehingga tiap lawan berlutut menyerah.

Pada Minggu Estomihi yang berarti “Allahlah benteng keselamatanku” marilah kita merenungkan ulang sungguh-sungguh bagaimanakah kita sebagai orang-orang Kristen memahami dan menghayati kisah-kisah peperangan umat Israel masa lalu dan juga lagu-lagu bersemangat peperangan yang acap kali kita nyanyikan.

PERTAMA: MENGENALI MUSUH: SIAPAKAH MUSUH KRISTEN ATAU GEREJA SEBENARNYA?

Inilah pertanyaan pertama dan penting yang harus kita jawab sungguh-sungguh. Salah menjawab pertanyaan ini bisa berakibat fatal. Sebab yang kita anggap musuh boleh terjadi sebenarnya teman kita, atau sebaliknya apa yang selama ini kita anggap teman sebenarnya itulah justru musuh kita. Selanjutnya ketidakjelasan akan musuh ini bisa membuat kita menembak atau menyerang membabi-buta, menghabiskan begitu banyak tenaga, dan akhirnya kelelahan dan frustrasi sendiri. Atau membuat kita hidup selalu curiga dan merasa terancam , bersikap paranoid atau takut berlebih-lebihan, terlalu membentengi diri, dan akhirnya menghabiskan begitu banyak enerji untuk bertahan sehingga tidak mampu lagi melakukan hal-hal penting lainnya. Satu lagi: membuat kita menjadi sangat tajam melihat “lawan” namun menjadi sangat “tumpul” terhadap diri dan kelompok sendiri. Sebab itu sekali lagi saya mengajak kita bertanya ulang dan merumuskan siapakah sebenarnya musuh kita orang Kristen, musuh gereja kita, musuh HKBP?

Penulis Surat Efesus mengingatkan kita bahwa kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan iblis, roh-roh dan penguasa-penguasa jahat dunia. (Efesus 6:12) Dengan kata lain musuh kita orang kristen atau gereja pertama-tama dan terutama sebenarnya bukanlah manusia ( walau pun berbeda iman dan keyakinannya, suku bangsa, ras, warna kulit, budaya, orientasi politik dll) dengan kita. Musuh kita adalah iblis, dosa dan kejahatan, serta maut. Kitab Suci mengatakan bahwa Kristus telah mengalahkan iblis, dosa dan kejahatan serta maut itu dengan kematian dan kebangkitan Putra Allah itu. Dan Kristus mengajak kita untuk senantiasa melawan sisa-sisa kekuatanNya yang masih ada di dunia ini. Namun jangan anggap remeh. Walaupun iblis sudah dikalahkan oleh Kristus, namun kuasanya yaitu dosa dan kejahatan telah sempat masuk dan melekat ke dalam kehidupan kita. Itu artinya perang melawan dosa dan kejahatan harus dipahami seringkali perang melawan dosa dan kejahatan yang ada dalam diri kita sendiri. Itulah yang membuat perasaan kita seringkali terbelah dan hati kita enggan atau setengah-setengah melakukan peperangan melawan dosa dan kejahatan. Mengapa? Sebab seringkali dosa dan kejahatan itu terkait dengan diri kita.

Selanjutnya musuh utama kekristenan kita khususnya di negeri-negeri berkembang adalah kemiskinan. Baiklah kita sadar bahwa sebagian besar kemiskinan di negeri kita bukanlah akibat kemalasan yang bersangkutan, tetapi lebih merupakan akibat sistem dan struktur ekonomi, politik dan budaya yang tidak adil yang sudah begitu lama terjadi di negeri kita, yang membuat orang miskin cenderung semakin miskin saja. Kemiskinan atau pemiskinan struktural itu berdampak sangat buruk dan merusak kehidupan bangsa kita. Kemiskinan itu membuat banyak orang berpikir sangat pendek dan pragmatis. Kemiskinan itu membuat banyak orang begitu mudah tergoda mengesampingkan prinsip dan hukum, mengorbankan iman, keyakinan dan apalagi masa depan, dan juga melakukan berbagai hal yang bertentangan dengan hati nurani. Berbagai kisah memilukan hati acap kali kita dengar terjadi karena banyak orang sudah tidak kuat lagi menahan penderitaan dan tidak memiliki solusi: penjualan bayi dan anak perempuan, bunuh diri sekeluarga, jatuh ke dalam prostitusi dan kriminalitas untuk mempertahankan hidup dan lain-lain. Kemiskinan juga membuat bayi-bayi dilahirkan dan dibesarkan dengan kurang gizi dan selanjutnya memperburuk keadaan generasi berikutnya. Jika dahulu bangsa Israel berperang melawan orang Amalek, maka sekarang kita gereja dipanggil berperang melawan kemiskinan yang merupakan musuh bersama kita di negeri ini.

Ketiga, musuh kita adalah kebodohan dan keterbelakangan. Tuhan menganugerahkan kita bangsa ini dengan tanah dan laut yang sangat subur namun kita tetap saja tidak mampu mengolahnya untuk mendatangkan kesejahteraan kita. Tuhan sudah menganugerahkan kita lebih dari setengah abad merdeka sebagai bangsa dan negara, namun kita tetap saja terpuruk sebagai negara terbelakang. Itu adalah akibat dari kebodohan kita. Mari kita bersatu hati menjadikan kebodohan dan keterbelakangan sebagai musuh yang harus dilenyapkan dari bumi ini, secara khusus dari negeri kita, lebih khusus dari gereja dan keluarga kita. Ingat: musuh yang mesti dibasmi atau disingkirkan bukan orang yang berbeda suku, agama, keyakinan, budaya orientasi politik atau seksual, atau rasnya dari kita, tetapi kebodohan dan keterbelakangan kita sendiri. Dengan mengatakan kebodohan atau keterbelakangan sebagai musuh bangsa sekaligus musuh gereja, maka kita pun sadar betapa pentingnya pendidikan dan keterlibatan gereja menyelenggarakan pendidikan.

Keempat: musuh kita adalah korupsi. Kita tahu bahwa korupsi atau kecurangan keuangan telah sangat mengakar dan membudaya dalam kehidupan kita, menjangkiti seluruh aspek dan level kehidupan masyarakat dan negara, bahkan sadar atau tidak sadar termasuk ke dalam kehidupan gereja, persekutuan gereja, dan lembaga keumatan dan LSM kristen. Kita tidak perlu kesulitan mencari contoh bagaimana korupsi itu telah merusak negeri kita (Jangan lupa: Indonesia yang suka membanggakan diri sebagai negara religius dan Pancasila ini juara korupsi se dunia! Sungguh suatu kemunafikan yang seharusnya memalukan). Praktek-praktek markup (menggelembungkan harga), anggaran fiktif (pura-pura membeli sesuatu, namun uangnya dikantongi), suap atau komisi yang tidak resmi (memberi uang untuk memudahkan urusan atau menghindar dari hukuman), penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, memberikan proyek atau kemudahan kepada keluarga atau sanak sendiri tanpa prosedur standart, dan lain-lain dapat ditemukan sehari-hari di hampir segala ruang. Segala bentuk korupsi itulah yang telah membusukkan negara kita, dan jika kita mau jujur, juga gereja-gereja kita dan organisasi-organisasi kristen kita. Sebab itu marilah kita bersatu menjadikan korupsi sebagai musuh nomor satu bangsa dan sekaligus musuh kekristenan kita.

Selain itu kita juga masih mempunyai sejumlah musuh yang sendiri-sendiri dan bersama-sama menyerang kita dengan ganas. Yaitu: berbagai virus penyakit mematikan seperti HIV/AIDS dan narkotika serta obat-obat terlarang. Jika kita tidak serius melawannya kedua hal ini dalam waktu dekat bisa mewabah sangat hebat dan memporak-porandakan kehidupan negara kita sampai ke sendi-sendinya. Rumusan siapa musuh yang jelas dan tegas ini kita dibantu untuk memikirkan bukan saja bagaimana strategi tetapi juga seluruh daya kekuatan, kemauan, semangat dan stamina kita memeranginya. Selanjutnya kita disadarkan bahwa musuh-musuh yang terdaftar ini tidak bisa dilawan hanya dengan kata-kata belaka, atau sekadar dengan slogan, semboyan atau rumus-rumus. Perang ini menuntut totalitas diri kita.

KEDUA: BAGAIMANAKAH KITA MELAKUKAN PEPERANGAN INI? APAKAH SUMBER KEKUATAN KITA BERPERANG?

Di atas sudah kita jelaskan bahwa musuh kekristenan adalah iblis, dosa dan kejahatan yang telah masuk ke dalam diri kita. Selain itu: kemiskinan, kebodohan, korupsi, juga narkotika dan obat terlarang serta virus HIV/AIDS dan berbagai penyakit lainnya. (Catatan: jangan sama sekali remehkan kekuatan dua musuh yang terakhir). Berhubung musuh kita yang utama – juga musuh gereja – adalah hal-hal yang tersebut di atas, tentulah senjata kita untuk melawannya bukanlah pedang, tombak, senapan, dinamit atau bom nuklir. Apalagi bila musuh itu nyata-nyata sebagian ada dalam diri kita sendiri. Kita memerlukan senjata lain di luar kekerasan. Bahkan kita tahu Yesus, Tuhan kita, tidak pernah menggunakan kekerasan sebagai senjata. Dan Dia menang melawan iblis, dosa dan maut.

Penulis surat Efesus (Ef 6:10-18) dengan gamblang menyebutkan senjata dan alat pertahanan apa saja yang kita perlukan memerangi musuh kita, yaitu iblis, kejahatan dan dosa, selanjutnya kemiskinan, kebodohan dan korupsi, juga narkotika dan virus-virus penyakit. Yaitu perlengkapan senjata Allah sendiri, yaitu: iman, kebenaran, keadilan, doa, firman Tuhan, kasih, dan damai sejahtera. Sebagaimana dikatakan Rasul Paulus dalam Roma 12:21 “kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan”. Di sini kita disadarkan bahwa kejahatan tidak bisa dikalahkan dengan kejahatan. Hanya kekuatan yang berasal dari Allah sajalah, yaitu kebenaran dan kebaikan, yang mampu memerangi kejahatan. Jika kita terjemahkan ke dalam aksi konkret maka kita hanya dapat mengalahkan kejahatan dengan tetap memegang iman yang teguh, hukum, etika dan moralitas, serta hati nurani.

Kisah peperangan bangsa Israel melawan orang Amalek dapat menginspirasi kita melakukan peperangan rohani jaman kini. Pada jaman dahulu umat Israel percaya dan mengandalkan Tuhan Allah untuk membantu mereka berperang melawan bangsa-bangsa lain. Pada jaman kini pun kita harus percaya dan mengandalkan Tuhan berperang melawan musuh-musuh kita yang jauh lebih kuat dari orang Amalek, yaitu sisa-sisa kuasa dosa dan kejahatan yang telah ditaklukkan Kristus, juga kemiskinan dan kebodohan yang masih membelenggu bagian terbesar bangsa kita (juga umat Kristen), dan penyakit korupsi yang begitu kronis dan parah. Juga narkotika dan obat terlarang dan virus HIV/ AIDS yang bila tidak kita lawan sekarang akan sangat potensial membunuh jutaan orang bangsa kita.

Kepercayaan kepada kuasa Tuhan Allah yang pernah menaungi bangsa Israel, lebih mendalam lagi kepercayaan kepada kuasa Tuhan Allah yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, itulah yang harus kita andalkan. Tentu saja kita sadar betul jaman berubah. Kita sekarang tidak lagi berperang dengan pedang dan tombak, apalagi melawan musuh-musuh gereja moderen yang kita daftar itu, dan para pemimpin gereja tidak harus naik ke atas bukit untuk mengangkat tongkatnya agar kita meraih kemenangan. Namun prinsipnya sama: pemimpin gereja juga pemimpin-pemimpin masyarakat dan negara tetap harus menaikkan doanya yang sungguh-sungguh, tidak pernah jadi lemah, agar kuasa Tuhan tetap nyata meneguhkan kita. Kita bisa menafsirkan tongkat Musa adalah perlambang atau simbol doa dan kepercayaan kepada Allah, ketaatan kepada hukum dan kebenaran, hati nurani dan moral. Sepanjang para pemimpin (keluarga, gereja, masyarakat dan negara) menjunjung semua itu maka bangsa kita akan mampu mengalahkan musuh-musuh yang sangat kuat itu. Sebaliknya bila para pemimpin menjadi lemah dan tidak lagi meninggikan iman, kebenaran, keadilan, hukum dan moralitas, serta hati nurani maka kekalahan dan kehancuran pun segera terjadi.

Cerita tentang perang Israel melawan Amalek ini hendak menginspirasi dan memotivasi kita bagaimana memenangkan peperangan yang sedang kita hadapi sekarang. Kita benar-benar memerlukan Tuhan. Bahkan kita memerlukan agar Tuhan Allah sendiri yang turun tangan melakukan peperangan demi kita. Senjata, strategi dan taktik, stamina, bekal kita terbatas dan bisa saja habis. Namun dengan mengandalkan Tuhan kita percaya tidak akan pernah kehabisan semangat, akal dan tenaga menghadapi semua musuh yang kita sebut di atas: kejahatan, kemiskinan, kebodohan, korupsi, narkotika, virus HIV dan lain-lain.

Selanjutnya cerita peperangan kuna itu juga mau memotivasi kita agar bersatu hati dan bekerjasama mengatasi masalah dan memerangi musuh-musuh kehidupan kita. Sebagaimana Harun dan Hur mendukung Musa, dan sebagaimana Musa mendukung Yosua, dan sebaliknya Yosua mendukung Musa, maka kita sebagai gereja juga bangsa juga harus saling mendukung. Musuh kita terlalu kuat untuk dihadapi seorang diri. Kita harus bersatu melawan musuh bersama kita. Pepatah lama masih berlaku: bersatu (melawan musuh) kita teguh, bercerai (melawan musuh) kita runtuh. Sebab itu jangan mau dipecah-belah, dipecah dan dikuasai, diadu dan dijajah. Ingat: musuh kita bukan manusia. Musuh kita bukan orang yang beragama, bersuku, berpartai atau berbudaya lain. Sebaliknya mereka adalah kawan kita memerangi dosa dan kejahatan, kemiskinan, kebodohan, korupsi, narkotika dan obat terlarang, serta berbagai virus. Jadi jangan jadikan kawan sebagai lawan. Sebaliknya musuh (walaupun ada dalam diri kita) jangan lagi dipandang enteng, atau dilawan setengah hati, atau malah dianggap kawan.
KETIGA: KITA MEMERLUKAN SEJARAH, TULISAN DAN CATATAN SEBAGAI PELAJARAN.

Sejarah kadang atau selalu berulang. Apa yang pernah terjadi di masa lalu bisa terjadi lagi di masa sekarang. Apa yang terjadi sekarang bisa terulang lagi di masa depan persis atau dengan varian. Juga dalam hal peperangan. Itulah sebabnya manusia memerlukan buku sejarah, tulisan dan catatan sebagai pelajaran. Melalui buku sejarah, tulisan dan catatan itu kita dibantu menarik pelajaran termasuk dalam ikhtiar kita memerangi musuh-musuh besar kita yaitu dosa dan kejahatan, kemiskinan, kebodohan, korupsi, narkotika dan virus-virus.

Itulah sebabnya kita baca dalam bagian Alkitab tadi Tuhan Allah meminta Musa menuliskan kisah peperangan Israel dengan Amalek sebagai tanda, catatan dan ingatan bagi bangsa itu di kemudian hari. Apa yang terutama harus mereka ingat? Bahwa mereka memenangkan perang melawan Amalek itu – dan perang-perang lainnya – karena mengandalkan kekuatan Tuhan Allah. Dengan kata lain: Tuhan Allah sendirilah sumber kekuatan dan kemenangan mereka. Sebab itu tidak ada alasan congkak atau memegahkan diri. Selanjutnya tulisan itu menjadi sumber motivasi dan inspirasi memenangkan peperangan-peperangan mereka di masa depan.

Kita yang sekarang dapat menterjemahkan pesan Tuhan Allah ini agar kita selalu ingat bahwa hanya dengan menjunjung iman kepada Allah, kebenaran dan keadilan, hukum dan moralitas serta hati nuranilah kita dapat menang melawan musuh-musuh kita jaman sekarang. Sebaliknya ketika kita mengesampingkan semua itu maka kita kalah dan hancur berantakan. Di sini kita disadarkan ada lagi musuh kita rupanya, yaitu amnesia atau penyakit lupa sejarah. Bangsa kita, juga gereja kita, apalagi HKBP, mengidap penyakit amnesia atau kelupaan yang sangat parah. Karena malas mencatat dan malas pula membaca seksama, kita mudah sekali lupa akan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu termasuk peperangan-peperangan rohani yang dilakukan oleh bangsa kita. Kita juga sangat gampang melupakan apa yang kita ucapkan apalagi apa yang kita dengar. Dan lebih parah: kita sering melupakan pesan Tuhan. Salah satu pesan yang sering kita lupakan itu adalah: 10 (sepuluh) hukum Tuhan. (Lebih celaka lagi banyak orang Kristen menganggap sepuluh hukum tidak berlaku lagi bagi dirinya karena sudah percaya Yesus, karena itu gampang sekali berbohong, mencuri/korupsi, atau berzinah). Akibatnya kita melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang, jatuh ke dalam tipuan yang sama berkali-kali, dan kalah di segala bidang dan bertubi-tubi.
Inilah saatnya untuk sadar dan bangkit. Tiga ribu tahun yang lalu bangsa Israel sudah memiliki tulisan sejarah yang dapat dijadikan tanda, catatan dan ingatan serta sumber pelajaran melakukan peperangan dalam nama Allah. Mari kita menggunakannya melakukan perang kita terhadap berbagai musuh yang sedang datang dari berbagai arah, dari luar dan dalam, dengan berbagai muslihatnya, untuk menghancurkan kehidupan kita sebagai manusia, bangsa dan gereja.

AMIN.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Catatan: kotbah Minggu Estomihi 3 Februari 2008 seharusnya disampaikan di gereja HKBP Pangkalan Jati Ress Kebayoran Selatan namun gagal karena pengkotbah tidak bisa berangkat dari Palembang karena bandara Soekarno Hatta ditutup berhubung banjir melanda Jakarta.

Home : http://rumametmet.com

Share on Facebook

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*