Almanak Sabtu 2 Februari 2008:
Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku. (Matius 12:50)
Ada pepatah Batak yang berbunyi “manghuling do mudar“. Arti harafiahnya: darah itu berbicara. Maksudnya: kita selalu merasa dekat dan terpanggil menolong orang yang memiliki hubungan pertalian darah atau silsilah dengan kita. Ada lagi pepatah Batak “suhar bulu tarihon dongan suhar tarihoanhu“. Arti harafiah: jika saudaraku terbalik menarik bambu maka aku juga akan melakukan hal yang sama. Maksudnya: kita harus tetap membela saudara walaupun dia telah melakukan yang salah. Satu lagi: Masiamin-aminan songon lampak ni gaol, masitungkolan songon suhat di robean. Artinya: saling mengiyakan seperti daun pisang dan saling menopang seperti talas di lembah. Ditambah sistem marga dan kekerabatan berdasarkan pernikahan yang terkenal dengan istilah “dalihan na tolu” inilah mungkin yang mendorong kuatnya keterikatan seseorang kepada kelompok dan juga nepotisme.
Nepotisme atau kebijakan memprioritaskan saudara atau kerabat dalam hal pemberian kedudukan atau kemudahan dibidang bisnis dan ekonomi pada dasarnya sangat manusiawi, tidak hanya ciri khas orang Batak atau Indonesia saja. Sering kali dalam hidup ini kita lebih mengenal, percaya dan mengasihi saudara atau anggota keluarga kita. Bukan hanya pada jaman dahulu, namun justru di jaman moderen yang sangat majemuk ini banyak orang seringkali merasa lebih aman mempercayakan kedudukan dan peran yang penting kepada anggota keluarganya. Mengapa? Sebab keluarga dianggap tidak mungkin atau jarang sekali mau mengkhianati. Nepotisme an sich adalah absah. Namun nepotisme seringkali berkaitan dengan kolusi atau persekongkolan dan korupsi. Di situlah masalahnya. Dua orang bersaudara di suatu perusahaan atau pemerintahan tentu lebih mudah berkolusi melakukan korupsi merugikan negara atau pihak-pihak lainnya. Jika tidak bisa membedakan mana urusan pribadi daripada urusan-urusan lainnya, maka kedekatan hubungan darah di dalam jabatan pemerintahan atau bisnis atau juga gereja bisa merepotkan.
Yesus memperkenalkan kita suatu bentuk persaudaraan dan kekeluargaan yang baru (tanpa menghapuskan yang lama). Bukan persaudaraan karena kedekatan pertalian darah atau silsilah, tetapi persaudaraan yang terwujud karena sama-sama melakukan kehendak Allah. Dia mengatakan siapa saja yang melakukan kehendak Allah itulah saudaraNya, keluargaNya atau kerabatNya. Kita dekat dan bersaudara dengan Yesus sekaligus dengan orang lain yang juga taat kepada Allah dan berusaha melakukan apa yang dikehendakiNya: adil, benar, jujur, rendah hati, baik dan setia. Persaudaraan baru yang diajarkan Yesus ini memperkaya kehidupan kita. Selanjutnya menyadarkan kita bahwa hubungan darah memang penting atau bahkan sangat penting, tetapi bukan yang terpenting atau segala-galanya. Ada yang terpenting dalam hidup ini: melakukan kehendak Allah, yaitu kebenaran dan kasih. Sebab itu jugalah kita tidak pernah mau melakukan yang jahat atau bertentangan dengan kehendak Allah atau kebenaran sekalipun saudara-saudara kita, bahkan seandainya (seandainya) orangtua kita melakukannya atau menyuruh kita melakukannya.
Doa:
Ya Allah, kami beriman dan taat kepadaMu. Ajarlah kami melakukan kebenaran dan kasih. Penuhilah hidup kami dengan hal-hal yang adil, benar, jujur, baik dan indah serta bertanggungjawab. Jadikanlah kami anak-anakMu, saudara-saudara Kristus yang setia dan rendah hati. Yakinkan kami, dengan hidup benar kami akan sejahtera dan berkelimpahan. Ya Allah, berkatilah kami selalu dalam Yesus, AnakMu. AMIN.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Home: http://rumametmet.com
Share on Facebook