NATAL GADO-GADO & POLIGAMI.

December 17, 2007
By

christmas.jpg

JAM 19.05. Setelah mengisi buku tamu, dan menjabat tangan anak-anak muda berseragam hitam berselempang merah di pintu, aku pun masuk. Acara sepertinya baru hendak dimulai. Gereja besar yang kutinggalkan hampir setahun lalu terisi separuh. Aku pun mengambil tempat duduk di bagian kanan, barisan ke lima dari belakang. Sendiri. Sambil menarik nafas aku berusaha duduk setenang dan serileks mungkin agar tidak menjadi fokus perhatian jemaat yang pernah kulayani selama tiga tahun, dan yang kuyakin betul belum lupa padaku. Ya, aku telah dilepas dengan penuh kemuliaan oleh mereka, dan kupikir ini saatku kembali menjadi diriku sendiri, duduk di tempat rendah, merenung dan berdoa menghadap altar mulia.

Acara natal pemuda gereja itu diawali dengan kata-kata sambutan. Suatu cara cerdik agar sambutan didengar jemaat. Aku tersenyum. Dulu akulah yang mengajarkan teknik ini dan sekarang giliranku harus menerimanya. Syukurlah, tiga pidato pertama di awal natal itu tidak terlalu panjang, dan lebih syukur lagi soundystem dan akustik gereja sudah sangat baik, sehingga aku tidak melakukan dosa. Tapi belasan relief plastik Santa Claus Amerika berpipi tembem di dinding dan tiang-tiang gereja seakan meledek kegagalanku mengajak jemaat menggugat kedudukannya di ibadah-ibadah natal. Awas nanti kubalas!

 


Ibadah Natal pun dimulai. Seorang sintua berjubah putih berdiri tengah altar nun jauh di depan sana. Sepasang MC berdiri di kanan berpakaian hitam modis. Di kiri, layar multimedia yang diikat tali rafia menyala terang-benderang dengan latar ungu. Di dekatnya ada gua kertas semen, dengan tulisan: Betlehem City. Aku bingung mau berfokus ke mana. Jemaat megap-megap menyanyikan Gita Sorga Bergema dihantam musik gagah perkasa. Bunga-bunga cahaya menari-nari di altar yang terasa sangat dingin. Salib membisu. Dalam temaram mataku tak bisa kupalingkan dari seorang pemuda yang tak kunjung lelah hilir mudik memegang handy talkie. Aku mengatur nafas. Tenanglah engkau hai jiwaku! Tenteramlah engkau, hai batinku.


***

Drama adegan satu dimulai. MC (suatu istilah yang sangat tidak kusukai digunakan dalam ibadah) bergantian menjelaskan tokoh dan karakternya. Aku tidak begitu menyimak, kecuali tokohnya katanya bernama Otto, mahasiswa tingkat akhir Sekolah Tinggi Teologia, yang hendak pergi ke pedalaman Kalimantan. Konsep menyatukan drama dan dan ibadah ini lagi-lagi adalah ajaranku, kataku kepada hatiku. Walau jujur, aku selalu melakukannya penuh kehati-hatian dan perhitungan, agar ibadah tidak berubah menjadi show dan mencuri kemuliaan Kristus. Tapi malam ini, aku hanyalah penonton belaka. Sebenarnya lebih tepat pendengar, karena tempat dudukku di belakang dan cahaya yang temaram membuatku sulit memandang. Tapi celakanya sebagai pendengar aku juga tak mendengar makna apa-apa. Suara soundsystem (aku tahu itu sewaan) bukan saja tak jelas, namun sering memberi kejutan berupa ledakan-ledakan bunyi, membuyarkan apa saja yang ada di kepalaku. Entahlah, perasaanku dari dulu, pemuda gereja sangat suka menyewa soundsystem. Mungkin ada semacam kenikmatan melihat kotak-kotak hitam dan kabel-kabel, apalagi ditambah tiang-tiang lampu. Dan aku tidak lagi muda.

Seorang gadis berseragam hitam memakai handy talkie sibuk kesana kemari. Aku kurang tahu apakah dia sedang menyelesaikan masalah atau bagian dari masalah malam itu. Bunga-bunga cahaya terus berputar-putar di dinding altar yang tetap dingin. Salib mematung membisu. Drama berjalan dalam tempo sangat lambat dengan jeda-jeda mengundang tanya. Lampu hidup, padam, hidup. Pastilah panitia yang ditugaskan kebingungan memilih tombol mana yang harus dipencet, kataku dalam hati. Sebab kutahu betul ada banyak sekali tombol lampu gereja yang telah kutinggalkan itu. Tiba-tiba seorang anak kecil bertengkar dengan ibunya, persis di belakangku. Aku ketawa dalam hati. Suara si anak mengingatkan aku kepada Willy di Palembang. Dia akan datang dua hari lagi. Gadis berhandy talkie hilir-mudik lagi. Aku menghela nafas tak kunjung mengerti kenapa orang-orang sipil di jaman reformasi ini suka sekali memakai handy talkie.

Dua orang remaja laki-laki bergaya acak-acakan datang telat duduk di sampingku. Aku tidak mengenalnya, kurasa mereka juga tidak mengenal aku. Tapi tiba-tiba aku sadar bahwa dia membawa Alkitab sementara aku tidak bawa apa-apa. Dan itu membuat aku harus hormat kepada si rambut awut-awutan ini. Selang beberapa saat kemudian dia merapat ke aku dan berbisik, “amang bisa mengusir setan?” Oalah, kataku. Aku datang ke natal ini untuk menyenangkan hati seorang teman pemuda yang mengundangku via sms hadir di natal mereka, dan bukan untuk berurusan dengan setan-setan celaka. “Kenapa rupanya?” tanyaku. “Ada setan dalam diriku. Dulu Amang sudah pernah mendoakan aku bersama mama, tapi setannya tidak pergi-pergi. Padahal, dalam Alkitab orang-orang yang tidak percaya saja bisa mengusir setan!” katanya mengkotbahi aku. Kepalaku mendadak pusing. “Kurasa kalau dalam dirimu ada setan, kau tidak akan mau datang ke gereja ini,” kataku tak bergairah. “Sudah pergi ke psikolog?” tanyaku lagi. Tampaknya dia tersinggung. “Ini benar kuasa gelap setan Amang’ sanggahnya. Aku mau mengatakan bahwa aku belum pernah melihat setan, tapi kuurungkan. Hatiku diam-diam berdoa. Sementara itu bunga-bunga cahaya berputar-putar lagi. Suara speakermendenging. Oala, sampai kapankah kami baru bisa mengatasi masalah soundsystem? Ratapku. Layar multi media bersusah-payah menjelaskan makna drama. Seorang kakek yang duduk terapit di tengah kulihat sangat gelisah.

Salib di altar tetap membisu. Namun penghiburan memang selalu datang bagi orang yang sabar seperti aku. :-) Belasan remaja putri dari sebuah Panti Asuhan di bilangan Jatinegara bernyanyi tanpa improvisasi. Tanpa musik pengiring. Tapi terasa keluar dari hati yang sungguh tulus dan bening. Aku hanyut di doa yang hening. Tapi, rupanya aku masih hidup di bumi yang berisik. Si Otto, tokoh dalam drama yang dipentaskan di ruang gereja yang gelap itu, konon katanya kecelakaan. Layar di kiri menampakkan adegan di Rumah Sakit. Lampu-lampu blitz berkilatan dari sudut kanan. Suara sirene meraung-raung. Gadis berhandy talkie hilir mudik kembali. Doaku pun seketika buyar lagi. Aku mengintip layar ponselku yang retak. Jam menunjuk 21.10. Kotbah belum dimulai! Ah, ampunilah aku, ya Tuhan, seruku dalam hati.

Di panggung yang begitu jauh Si Otto muncul dengan kursi roda. Katanya kakinya diamputasi. Aku mendengar nama Ayub disebut-sebut. Sepasang keluarga muda keluar sambil menggendong bayi yang tertidur lelap. Mereka tersenyum padaku. Aku membalas, seraya mengirim pesan: pulanglah dengan damai, aku tetap di sini. Remaja yang katanya kemasukan setan itu sudah tak ada lagi di sebelahku. Terserahlah, kataku. Jemaat menyanyikan lagu di muka Tuhan Yesus kuinsaf doaku sebagai bagian pengakuan dosa. Tujuh orang gadis cantik menyanyikan medley Christmas Song. Aku tak begitu paham soal memainkan nada, tapi kurasa mereka penyanyi handal. Suara mereka merdu padu dan mereka cantik.

Akhirnya, akhirnya saat yang selalu kutunggu-tunggu pun tiba: penyalaan lilin. Tujuh lilin natal dinyalakan di atas meja altar. Tiba-tiba aku sadar bahwa gedung gereja ini terlalu besar dan altar itu terlalu jauh dari anggota jemaat. Ya, jauh dariku. Aku teringat lagi akan obsesiku membangun gereja yang altarnya di tengah-tengah, dan jemaatnya duduk berkeliling. Ah, nantilah itu kataku dalam hati. Aku pun buru-buru berdiri untuk ikut menyanyikan Malam Kudus sambil memandang hiasan-hiasan Santa Claus kesukaan sintua-sintua perempuan kami, bergantian dengan lampu ala diskotik di puncak pohon natal gereja batak yang konon paling kaya di seantero negeri ini. Lampu gereja dimatikan, dihidupkan, dan lantas dimatikan lagi. Si petugas lampu diomeli oleh temannya. Aku senyum sedikit. Cahaya kembali bermain-main di dinding altar yang dingin, kadang bentuknya seperti roda kadang seperti daun mapple yang pernah kulihat di Ohio. “Lahir Raja Syalom! Lahir Raja Syalom!” nyanyiku datar. Tanpa rasa apa-apa.

Jam menunjuk 20.59. Giliran pendeta naik ke mimbar. Aku mengambil sikap duduk sempurna selayaknya anggota jemaat yang baik. Walaupun pendeta, aku mau mendengar kotbah dan aku harus belajar lagi. Syukurlah, adikku perempuan dalam jabatan kependetaan ini, kayaknya mempersiapkan kotbahnya dengan baik. Ia tampak penuh percaya diri berkotbah dengan aksen Medan sengaja dicampur bahasa Batak diselingi lagu. Tidak seperti aku, dia pintar menyanyi. Aku tidak tahu apakah yang ada di benak anak-anak muda kelahiran Jakarta ini, tapi untukku sendiri berarti banyak. Dia berkotbah tentang iman tanpa syarat, dan jujur aku juga masih sering membuat syarat untuk beriman kepada Tuhan. Aha. Ada kejutan di akhir kotbah. Pendeta mungil itu membuat teka-teki tentang lomba lari kura-kura dan kelinci. Jawaban bisa dikirim kepadanya via sms. Ada hadiah yang dijanji. Kirim, tidak, kirim, tidak, tanyaku dalam hati. Aku memilih yang terakhir. :-)

Selesai kotbah, tentu ada persembahan, dan lazimnya di HKBP harus diiringi lagu. Aku senang, sebab lagunya kesayanganku: Dison adong huboan Tuhan. Gubahan Pensilwally: tentang anak-anak yang belum mencari namun mau membawa persembahan kecilnya kepada Tuhan. Lagu haru. Tanpa teks, aku dan anak-anakku bisa melantunkannya dua ayat. Namun, rupanya aku tidak boleh terlalu bahagia. Tim pemusik entah mengapa mencampurkan nada Jawa ke dalam lagu khas Batak itu, dan itu sangat mengganggu perasaanku. Syukurlah sintua yang mengumpulkan persembahan senyum penuh kehangatan padaku. Hatiku pun kembali pulih dan aku memasukkan seluruh uang kembalian taksi ke kantong persembahan.

***

Namun Tuhan rupanya masih menguji kesabaran hambanya yang lemah. Perutku sudah lapar sekali. Sudah hampir jam sepuluh malam. Doa syafaat masih harus dinaikkan. Panjang pulak lagi. Tiba-tiba musik bergoncang lagi mengiring solo pujian pop rohani berbahasa Inggris yang tak kupahami. Soundystem mengulah lagi. Tapi aku sudah tidak perduli. Jiwaku sudah damai. Rohku sudah dalam keheningan. Aku berhasil menguasai diri sampai amin tiga kali.


Natal usai. MC mengumumkan bahwa konsumsi dibagikan di pintu dengan menukarkan buku acara. Oalah, kataku. Buku acaraku sudah penuh coretan catatan dan permenungan, dan aku tak rela menyerahkannya sebagai ganti makanan. Tiba-tiba aku melihat ada buku acara tergeletak di lantai. Peninggalan si anak yang mengaku kemasukan setan tadi. “Terima kasih, kawan” kataku dalam hati senyum sendiri. Perutku sudah keroncongan sekali. Tapi ujian untukku belum berakhir juga. Tuhan rasanya ingin benar-benar melatih aku sebagai hambaNya. Kurasa sebagai bekas pendeta di jemaat ini aku tidak pantas buru-buru mengambil konsumsi. Sebab itu, sementara arus jemaat mengalir ke belakang, aku justru bergerak ke depan menyalami anak-anak muda, kawan-kawanku, yang merayakan natal malam ini. Mereka pantas kuhampiri dan kusalam. Mereka kawan-kawanku. Mereka anak-anak yang berbakti. Pemilik masa depan. Jika ada yang kurang pas kurasakan malam ini, toh itu bukan salah mereka sepenuhnya, tetapi salahku juga sebagai pendeta, minimal sebagian, sebab aku pernah tiga tahun menjadi pendetanya. Lagi pula adikku pendeta sudah mengingatkan agar aku belajar bernatal eh beriman tanpa syarat.

Setelah agak sepi, barulah aku menyusul antri mendapatkan konsumsi. Tiba-tiba aku tersentak lagi. Anak-anak muda berseragam hitam berselempang merah membagikan kotak bertuliskan: Ayam Bakar Wong Solo! Oala! Kenapa harus ini, protesku, mengingat pengusaha restoran ini adalah pendekar poligami. Sementara negeri ini belum selesai mendebatkan kasus poligami seorang tokoh yang sempat dipuja-puji. Gadis yang membagikan konsumsi memberikan kepadaku dua (baca: dua) kotak ayam bakar Wong Solo itu. Biasanya satu orang satu kotak konsumsi. Aku terkejut lagi. Simbol apa pula ini? “Kenapa dua?” kataku. “Ya memang dua, Amang” katanya. Aku tertawa spontan. Beberapa anggota Punguan Ina yang mengenalku ikut tertawa. Aku sadar dua kotak ayam bakar per orang itu bukan tanda terselubung bahwa gereja ini diam-diam mendukung poligami. Si gadis pembagi konsumsi hanyalah ingin menghormati aku pendetanya lebih. Tapi perasaanku terlanjur tidak enak. Akhirnya satu kotak ayam bakar Wong Solo itu kuberikan ke supir taksi yang membawaku pulang ke Galaxi. Kupikir, walaupun sangat lapar, dalam beberapa hal di kehidupan ini, kurasa aku cukup mengambil satu. Tidak lebih.

Sepanjang jalan, di taksi, aku menyanyikan ulang lagu malam kudus versi Batak. Sonang ni borngin na i. Sambil membayang-bayangkan Wili, Nina, Kika dan Martha yang janji akan datang dari Palembang dua hari lagi. Selamat natal kawan-kawan, aku temanmu kemarin dan masih sahabatmu hari ini. :-)

 

Desember 06, Damai selalu di bumi monogami.

 

 

Pdt Daniel T.A. Harahap

 


 

Kembali ke halaman depan:

 

Share on Facebook

Tags: , , , , ,

9 Responses to NATAL GADO-GADO & POLIGAMI.

  1. Bergman Silitonga on December 17, 2007 at 11:28 am

    Amang harahap, mohon maaf dan mohon izin saya banyak kutip dan copy paste artikel artikel amang untuk saya forward ke teman teman saya di kantor, boleh kan??? soalnya di kantor saya banyak yang tidak bisa akses internet tapi hanya memiliki akses email. Jadi saya copy paste aja dan forward ke email mereka. Bagi bagi berkat di hari Natal melalui tulisan pak Harahap. syalom…. Horas.

  2. Sibarani on December 17, 2007 at 2:05 pm

    Pemilihan Wong Solo sebagai konsumsi rasanya ‘politically incorrect’, seolah-olah gereja meng-endorse bisnis si pengusaha poligamist itu. ;-)

    Satu hal yang ingin saya komentari dari perayaan-perayaan Natal di gereja Batak adalah kurangnya perhatian pada details dan kecenderungan untuk berlama-lama karena bangga kalau ditonton, yang ujung-ujungnya ‘menyiksa’ penonton.

    Paradigma ini yang ingin saya rubah saat menerima amanah sebagai Ketua Panitia Natal tahun ini di lingkungan (parsahutaon) tempat saya tinggal. Biasanya, acara Natal selalu dilakukan di ruang serba guna gereja dan selepas kebaktian akan ada makan-makan dan hiburan campur sari (joget, nyanyi, poco-poco, dsb).

    November lalu, begitu saya diminta menjadi ketua, langsung saya usulkan bahwa tahun ini kita akan mengadakan Natal bersama anak-anak panti asuhan di lingkungan kita. Christmas is the best time to share with others, especially those who are not as fortunate as we are. Apa esensinya Natal kalau diisi dengan poco-poco? Yesus lahir buat semua orang, kenapa kita mesti terkotak-kotak dalam merayakan kelahiran-Nya? Tentu saja, ada penolakan dari sementara kalangan yang berpikir bahwa inilah saatnya kita berpesta! Tadi malam waktu rapat di rumah saya pun masih ada yang bertanya, anak-anak kita dapat kado apa (karena yang selama ini ditunggu-tunggu adalah acara bagi-bagi kado), walaupun sudah jauh hari dijelaskan, instead of getting Christmas gifts, tahun ini anak-anak kita akan membawa kado Natal buat teman-teman sebayanya di panti asuhan.

    Sulit memang kalau pemahaman terhadap Natal sudah salah sedari kecil. Buat orang Batak, Natal disebut sebagai “ari pesta”, jadi konotasinya memang adalah pesta yang ada makan-makan dan hiburannya. Unsur spiritualitasnya sudah demikian minim. Padahal menurut saya, Natal adalah saat di mana kita harusnya merenungkan peristiwa kelahiran itu – yang walaupun berlangsung di kandang sederhana – menjadi berkat dan rahmat buat segenap umat manusia.

    Selamat Natal!!!

  3. VERA Silitonga on December 18, 2007 at 5:31 pm

    Huahhh…sangat menginspirasi.

  4. Jimmy Situmeang on December 27, 2007 at 9:58 am

    Amang … Saya selalu tergugah dengan pendapat, hati dan pemikiran amang dalam setiap tulisan Amang …

    Jarang ada hamba Tuhan dengan status STh yang dapat seperti Amang. STh yang dalam artian sarjana theologia sering sekali menjadi artian baru yang konyol karena kelakuan pendetanya sendiri.. Sering sekali saya mengkonyolkan diri saya untuk mengartikan STh sebagai Sarjana Tinggi Hati dan ekstrimnya Sarjana Tholol gia …

    Artian natal yang sesungguhnya sepertinya menjadi kabur sekali … kalau mengingat kedatangan Kristus dengan begitu banyak permasalahan yang hadir kala Kelahirannya …

    Semua kabur dan samar ditutup dengan eksotisme keinginan orang untuk tampil … motivasi pelayanan yang lebih ke arah melayani diri sendiri dengan eksodus hasrat narcisisme …

    Btw salut sekali lagi dan tetap berkarya …

    Selamat Natal Amang Harahap!

  5. Singal Sihombing on December 30, 2007 at 5:11 pm

    Selamat Natal dohot Taon Baru, Amang. Sebuah tulisan (khotbah) yang menggugah hati, nyata dan menjadi pelajaran yang membuka pikiran untuk perbaikan selanjutnya. Sadar atau tidak, betapa egoisme sangat berperan, meskipun disaat melayani atau bersama Tuhan.

  6. Sabar Siregar on August 13, 2008 at 6:03 pm

    Susah juga mulainya. Soalnya aku baru baca page ini setelah bebrapa bulan dari hari Natal 2007. Tapi tidak apalah, yang penting ada hikmah dari tulisan amang Pendeta. Menarik juga tulisannya.

    Kita sebenarnya pernah dekat di Palembang dulu, dari sisi keluarga Siregar, tapi nanti aja ceritanya.

    Sebenarnya, yang saya prihatinkan selama saya sudah dewasa tentang peryaan Natal adalah bahwa kita kehilangan arah (kiblat). Tuhan Yesus yang ber-ulang tahun tetapi sosok tentang Tuhan Yesus dan kesederhanaan dan kekudusan kelahiranNya kita lupakan, yang kita kerjakan adalah kemeriahan dan unjuk kebolehan dengan makna Natal yang dangkal. Keterlibatan teknologi di dalam gereja bisa sangat membantu di dalam penyampaian pesan-pesan dan firman Allah, tetapi sangat sering malah menjadi faktor yang menyimpangkan pikiran dan hati kita dari Allah sebagai pusat ibadah. HKBP dengan semangatnya untuk maju boleh saja tidak mau ga-tek, tetapi kalau kemajuan teknologi menjadikan kita terpisah dari Allah (walau hanya sedetik) apa gunanya?

    Ini memang harus dengan cermat dikawal oleh para pendeta dan pelayan gereja supaya jangan Allah di-berada-kan di belakang kemajuan zaman. Terutama para kaum muda, eksekutif yang progresif dan maju cara berfikirnya, sekarang ini sangat senang berada di lingkungan teknologi canggih pun di gereja. Maunya di gereja semua serba canggih, sound system canggih, alat musik harus canggih tidak mau lagi diiringi suara organ yang lembut (ngantuk katanya) harus yang berdentam keras dengan tempo secepat-cepatnya, kalau bisa khotbah dibawakan seperti kita seminar di hotel pakai power point dan ditayangkan dengan projector. Mereka kurang tidak sadar akan kekudusan ibadah yang menuntut kesalehan di hadapan Allah. Sebagai pendeta di kota besar, pasti amang juga mengerti dan mengalami tuntutan=tuntutan seperti ini ya? Sebaiknya HKBP punya sikap yang tegas akan hal ini. Saya senang dengan teknologi pada tempat yang benar, dan HKBP juga harus menguasai teknologi tetapi jangan sampai kehilangan jati diri sebagai HKBP.

    By the way, Lagu Dison Adong Huboan Tuhan, itu ciptaan Pensilwally bukan gubahannya (karena aku helanya Pensilwally, dan aku dididik sama dia tentang theologia musik dan liturgi HKBP. Makanya tulisan amang diatas sangat saya mengerti).

    Daniel Harahap:
    Ah sorilah, aku ini tidak tahu apa beda penggubah dengan pengarang. Kupikir sama rupanya tidak serupa. :-)

  7. Sandy Silitonga on August 24, 2008 at 11:27 pm

    Wahhhh….
    Gimana kabarnya amang,rindu saya dengar kothbah amang.
    Waktu retreat marguru angkatan saya amang jg loh yg kothbah (pertama kali denger kothbah amang).
    Sekarang lg tugas pelayanan dimana amang ?
    Kapan nih kothbah di HKBP Pulomas? Heheh…
    Btw,tulisannya bagus amang,walaupun ada beberapa yg salah ketik,heheh..
    Semoga sukses amang!!

  8. Ronni Siahaan on March 22, 2009 at 2:03 pm

    dari beberapa kali kunjunganku ke Blog amang pendeta ,saya merasa bahwa masih banyak diantara generasi muda Kristen termasuk saya pada khususnya yang perlu harus dibekali, saya merasa bersyukur dan mendapat pengajaran yang berharga dengan beberapa pendapat, pengalaman dan juga nasehat yang saya dapat dari Blog Amang Ini ……

  9. Enda Tarigan on October 7, 2009 at 9:24 pm

    Sebuah sukacita besar, ketika saya menemukan blog ini. Cerita dan tanya jawab di Bapak sangat menginspirasi saya. Apalagi tadi saya menemukan ulasan tentang bagaimana menyampaikan kata sambutan natal dan ribetnya menjadi ketua panitia natal (soalnya saat ini saya juga menjadi ketua natal di sekolah saya). Yaa… sedikit banyaknya tulisan2 Bapak ini sangat membantu saya untuk membuat natal menjadi perayaan yang sungguh2 untuk merayakan kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Bujur ras Mejuah-juah, Tuhan si ngkawali kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*