Yang dibenarkan karena beriman

December 7, 2007
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Sabtu 08 Desember 2007:
medium_616200665345pm_bsp_color_palet_butterfly.jpg

Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. (Roma 3:21-22)

Untuk memudahkan pemahaman dan penghayatan kita akan ayat di atas, bayangkanlah sebuah pengadilan ilahi. Saudara telah melakukan kesalahan dan kejahatan, dan bukan hanya sekadar melakukan satu-dua kesalahan tetapi hidup penuh dengan kesalahan serta kejahatan itu. Namun Allah membebaskan Saudara dari tuntutan hukuman. Dia menyatakan Saudara benar atau membenarkan Saudara, bukan karena Saudara memang sungguh-sungguh benar, tetapi karena Dia penuh dengan belas kasihan dan Saudara percaya kepada Allah yang penuh belas kasihan itu dalam Kristus PutraNya. Lantas apakah yang akan Saudara katakan dan lakukan?

Pembenaran karena iman dan karena itu merupakan anugerah itulah yang diwartakan Rasul Paulus dalam Surat Roma. Paulus menyatakan dengan tegas bahwa kita dibenarkan, dibebaskan dari tuntutan hukuman, dihidupkan oleh Allah bukan karena keunggulan, prestasi, jasa atau kesempurnaan hidup kita, tetapi semata-mata karena anugerah Allah sendiri dan karena iman kita kepada Kristus PutraNya. Kedua hal ini: anugerah Allah dan iman manusia tidak bisa dipisahkan. Anugerah Allah hanya bisa diterima dengan iman. Sebaliknya iman manusia hanya efektif karena anugerah Allah. Inilah yang dijadikan kata kunci reformasi yang dicanangkan bapa gereja Martin Luher: hanya oleh anugerah (sola gratia) dan hanya oleh iman (sola fide).

Namun jangan salah tafsir. Pembenaran karena iman tidaklah menjadikan manusia dapat berbuat suka-suka atau sekehendak hatinya atau hidup dalam kejahatan. Iman kepada Allah yang penuh dengan rahmat dan belas kasihan kepada kita orang berdosa ini justru mendorong kita hidup sepenuhnya bagi Allah, berhenti melakukan yang jahat dan belajar melakukan yang baik. Pemahaman dan penghayatan diri sebagai orang yang berdosa dan kemudian dibebaskan, yang berhutang dan diampuni, membuat kita rendah hati di hadapan Allah, mengucapkan syukur kepadaNya, dan menjalani hidup yang penuh ketaatan kepadaNya dan kasih kepada sesama. Bedanya: jika sebelum mengenal Kristus kita menjadikan ketaatan dan kasih kita sebagai syarat memperoleh belas kasihan dan berkat Allah, maka setelah mengenal Kristus, maka kita menjadikan ketaatan dan kasih justru sebagai jawaban atau respons sebagai orang-orang yang telah dikasihani dan diberkati oleh Allah.

Pertanyaan: apakah kata Saudara dan saya, jika ada seseorang yang dibebaskan dari tuntutan hukum yang begitu berat dan mendapatkan pengampunan, namun tetap saja melakukan yang jahat?

Doa:

Ya Allah, kami bersyukur sebab Engkau tidak menghitung-hitung kesalahan dan pelanggaran kami. Kami bersyukur sebab Engkau mengasihi dan menerima kami tanpa syarat. Dalam Kristus Engkau menyatakan kami benar dan membebaskan kami dari tuntutan murkaMu. Biarlah kami menjawab anugerahMu dengan bersyukur dan sungguh-sunguh berbuat baik dalam hidup ini. AMIN.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*