Renungan Adven Pertama: Tuhan segera datang, tetaplah siaga

December 2, 2007
By Daniel T.A. Harahap

bunga-ungu-21.jpg

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Dasar : I Tesalonika 5 : 1 – 11

Bacaan: Yakobus 5 : 7 – 12
Hari ini gereja-gereja memasuki minggu Adven. Istilah Adven berasal dari bahasa Latin: adventus. Arti hurufiahnya: kedatangan. Gereja purba mengartikannya sebagai kedatangan Yesus Kristus, Putra Allah, ke dalam dunia ini. Lebih tepat: persiapan atau penyambutan kedatangan Tuhan. Ibarat pagi hari, mataharinya sendiri sebenarnya belum muncul, namun cahayanya di ufuk timur sudah tampak dan dapat dirasakan. Ibarat kedatangan seorang raja, maka Sang Rajanya sendiri belum tiba, namun para pengawalnya sudah muncul dan musik penyambutannya sudah berkumandang. Laksana tanaman padi, bulirnya sudah tampak bernas namun padinya belum menguning. Lantas apakah makna Adven bagi kita?

Minimal ada 4(empat):

Pertama: persiapan Pesta Natal Tuhan Yesus. Bagi gereja-gereja Natal adalah pesta ibadah besar, yang menunjuk kepada peristiwa kelahiran Putra Allah di bumi untuk membebaskan manusia dari berbagai belenggu termasuk belenggu dosa dan kematian. Sebelum masuk ke Pesta Natal itu maka gereja-gereja (baca: orang Kristen) harus mempersiapkan diri, berdoa dan ber-refleksi, membaharui hati dan pikirannya selama 4(empat) minggu.

Namun harus kita akui makna Adven sebagai persiapan pesta Natal sudah sangat sulit dirasakan di gereja-gereja protestan. Mengapa? Karena gereja-gereja kita tidak setia kepada kalender liturgi atau ibadahnya. Karena pengaruh dari luar (khususnya dunia bisnis dan hiburan) dan keinginan hati yang tidak terkendali, orang-orang Kristen sudah sibuk merayakan Pesta Natal justru pada saat seharunya kita masih harus merenung dalam keheningan. Keadaan ini sesungguhnya persis seperti petani yang tidak sabar panen tiba dan memetik padi sebelum menguning, atau seperti pemuda-pemudi yang tidak sabar menanti malam pengantin lantas melakukan hubungan seks sebelum perjanjian dan pemberkatan (atau berfoto sebelum pernikahan sah) , atau memestakan hari ulang tahun sebelum tanggalnya tiba. Sebab itu kita harus jujur dan berani mengatakan bahwa gereja-gereja harus kembali ke rel atau kalender ibadah kita. Sebab hanya dengan merayakan Adven dalam keheningan permenunganlah kita sungguh-sungguh merasakan gegap-gempita sukacita Natal Tuhan itu.

Kedua: kenangan akan penantian para nabi dan umat Perjanjian Lama. Kitab Suci menyaksikan bahwa para nabi dan umat Perjanjian Lama begitu lama menanti-nantikan Mesias atau Kristus yang dijanjikan Allah itu. Melalui 4(empat) minggu Adven, gereja-gereja mau mengenangkan kembali penantian umat yang begitu lama akan kedatangan Sang Mesias, sekaligus mau menyatukan diri dengan iman dan harapan mereka yang tidak kunjung padam.

Ketiga: penantian akan kedatangan Yesus kembali ke dunia ini. Gereja percaya bahwa Yesus yang lahir di Betlehem dahulu kata, mati dan bangkit sekarang duduk di sebelah kanan Allah memerintah. Namun Dia berjanji akan datang kembali. KedatanganNya kembali ke dunia inilah yang sekarang sedang dinanti-nantikan oleh gereja. Sebab itu minggu Adven bagi kita bukan sekadar kenangan ke masa silam, tetapi juga harapan ke masa depan, yaitu penantian gereja kepada Kristus yang akan datang kembali untuk menggenapkan dan menyempurnakan seluruh kehidupan, keselamatan dan pembebasan kita. Jika di Betlehem dua ribu tahun yang lalu Dia datang dalam kerendahan dan kehinaan, maka gereja percaya bahwa Kristus akan datang kembali ke dunia ini sebagai Hakim Agung yang akan mengadili seluruh dunia.

Keempat: penantian akan kedatangan Tuhan di dunia ini setiap hari. Kita beriman sebelum hari kedatanganNya yang agung itu, Tuhan datang dan selalu hadir dalam kehidupan kita. Itulah juga yang hendak kita renungkan dan hayati melalui minggu Adven. Kita juga sedang menanti-nantikan Dia datang dalam keseharian kita, menolong dan membebaskan kita dari berbagai hal dan untuk bermacam hal di realitas ini.

Melalui minggu-minggu Adven ini jugalah kita diingatkan akan penantian-penantian kita dalam kehidupan ini. Ada banyak sekali yang mungkin kita nantikan di kenyataan hidup ini: kehamilan, kelahiran anak, panen, hasil usaha, pengabulan doa, kesembuhan, pertemuan dan lain sebagainya. Melalui minggu Adven kita hendak berdoa agar Allah memberkati dan meneguhkan hati kita menyambut semua penantian kita itu. Kita tidak tahu berapa lama lagi Kristus akan datang ke dunia ini. Namun selama kita hidup di dunia ini kita dipanggil untuk berkarya, mengasihi dan berbuat kebajikan, dan Tuhan mengijinkan kita menanti-nantikan buah dari ketekunan, kesabaran dan kerja keras kita melakukan semua yang baik dan benar itu. Lantas bagaimanakah sikap kita dalam minggu-minggu Adven ini? Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika dan Rasul Yakobus mengajarkan kita beberapa hal:

(1) Adven mengajak kita agar kita tahu dan memahami bahwa Kristus akan datang segera dan saat kedatanganNya tidak diberitahukanNya. Para penulis Alkitab termasuk Rasul Paulus tidak menyebut kapan persisnya Kristus datang kembali (walau Rasul Paulus tampaknya mengharapkan kedatangan Kristus itu dalam waktu dekat, atau semasa hidupnya, namun kayaknya dia salah duga). Tidak ada satu orang pun yang bisa tahu kapan Kristus datang kembali (Mat 24:33). Sebab itu jika ada seorang pengkotbah mengatakan bahwa dia menerima wahyu kapan Kristus datang (seperti berulang kali muncul dalam sejarah) sebaiknya jemaat kritis dan jangan mau percaya. Paulus mengatakan kedatangan Kristus seperti kedatangan pencuri di waktu malam. Gambaran ini sebenarnya sangat berani. Kita harus berhati-hati. Paulus tidak berbicara tentang Tuhan an sich tetapi tentang kedatangan Tuhan. Kedatangan Tuhan itulah yang mirip dengan kedatangan pencuri. Yaitu: tiba-tiba, tidak terduga, tidak disangka-sangka, di luar perhitungan. Kedatangan Tuhan itu mirip juga dengan ajal atau kematian kita secara individual, selalu tidak bisa diduga.

Namun baiklah kita sadar bahwa yang diinginkan Paulus dari kita bukanlah sekadar pengetahuan teologis atau dogmatis tentang kedatangan Tuhan kembali, tetapi bagaimana sikap hidup kitasehari-hari terbentuk karena pemahaman dan penghayatan kita akan kedatangan Tuhan kembali itu.

(2) Adven mengajak kita berjaga-jaga, bangun dan siaga. Berhubung kedatangan Tuhan kembali itu pasti namun tidak bisa diprediksi, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah tetap berjaga-jaga, bangun dan siaga. Lukisan ini diambil dari kehidupan serdadu dalam peperangan. Berhubung kita tidak pernah tahu pasti kapan saatnya musuh menyerang, maka tidak bisa tidak kita harus selalu dalam keadaan berjaga-jaga, bangun dan siaga. Bayangkanlah apa yang terjadi jika dalam peperangan suatu pasukan tertidur, mabuk-mabukan atau lengah? Bagaimana pula kita siap menghadapi berbagai musuh dalam realitas kehidupan ini jika kita tidur, mabuk atau lengah? Tentu yang dimaksudkan Paulus tentang berjaga-jaga atau siaga bukanlah terutama dalam hal fisik, tetapi lebih menyangkut moral atau spiritual. Dengan kata lain apakah moralitas dan spiritualitas kita sehari-hari dalam keadaan siaga atau lengah, bangun atau tidur, siuman atau mabuk?

(3) Adven mengajak kita tetap bekerja, berbuat kasih dan kebajikan. Jika kita baca dalam pasal sebelumnya Surat Tesalonika, Rasul Paulus mengkritik jemaat Tesalonika yang terus-menerus berkumpul di gereja, meninggalkan tugas dan tanggungjawabnya sehari-hari karena beranggapan Tuhan segera datang (rumor mengatakan malah sudah datang).

Penantian dan penyambutan kita akan kedatangan Tuhan bukanlah perintah meninggalkan pekerjaan, keluarga, tugas dan tanggungjawab sehari-hari. Seorang ayah tidak bisa melalaikan tugas keayahannya demi menyambut Kristus. Seorang penjaga rel kereta api tidak boleh melarikan diri dari posnya dengan alasan Kristus mau datang. Seorang guru harus tetap mengajar, mahasiswa harus tetap belajar, dan pemerintah harus terus bekerja. Yohanes pembaptis berteriak: jalan yang berlekuk harus diluruskan dan tanah yang berbukit harus diratakan. Martin Luther mengatakan: sekali pun Kristus datang besok, maka hari ini aku akan tetap menanam pohon apel. Artinya: penantian kedatangan Tuhan (kedalam kehidupan kita) justru harus dipandang sebagai undangan memperbaiki, menata-ulang dan membaharui seluruh aspek kehidupan kita: pribadi, keluarga, masyarakat, gereja, bangsa dan negara serta dunia global ini. Terutama: memperbaiki hati dan hubungan-hubungan kemanusiaan kita yang paling mendalam.

Gereja sudah dua ribu tahun menunggu Kristus datang kembali. Ada kemungkinan iman dan harapan kita akan kedatanganNya menjadi lemah dan surut. Atau kita menjadi lengah. Sebaliknya ada pula kemungkinan kita menjadi panik dan menganggap Kristus segera datang, sebab itu merasa tidak ada waktu lagi mengasihi, berbuat baik, membangun dan menanam, memperbaiki kehidupan di dunia ini. Dua-duanya, lengah atau panik, adalah salah dan tidak dikehendaki Tuhan.

(4) Adven mengajak kita bersabar menantikan waktu Tuhan. Itulah yang disampaikan Rasul Yakobus sebagaimana kita baca tadi. Sebagaimana para petani harus bersabar menunggu panen tiba, demikian jugalah kita diajak bersabar menunggu waktu Tuhan tiba. Kita tahu Alkitab membedakan dua macam waktu. Yaitu kronos (waktu manusia) dan kairos (waktu Tuhan). Selanjutnya Kitab Suci mengatakan Tuhanlah sebenarnya pemilik waktu itu, baik kronos maupun kairos. Sebab itulah kita diundang selalu berpaling dan mengarahkan hati kepada Tuhan.

Penantian yang lama akan kedatangan Tuhan kembali sebagai Hakim Agung, juga penantian kita akan kedatangan Tuhan saban hari sebagai Penolong, seringkali membuat kita lemah. Khususnya ketika sedang menghadapi pergumulan dan penderitaan, umat Tuhan seringkali bertanya: sampai berapa lama lagi ya Tuhan? Sampai kapan ya Tuhan? Pada Minggu Adven ini Tuhan mau menyapa kita, Saudara dan saya, agar selalu bersabar dan tetap menanti-nantikan Dia. Kesabaran orang yang menunggu Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Mereka yang menanti-nanti pertolonganNya tidak pernah dikecewakanNya atau dipermalukanNya. Setiap orang yang setia akan menerima mahkota. Dengarlah sabdaNya: Maranatha. Aku datang segera! Amin.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Disampaikan pada Kebaktian Minggu Adven Pertama 2 Desember 2007 pukul 09.00 di HKBP Kelapa Gading Jakarta Utara

bunga-ungu.jpg

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*