Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Dasar : I Tesalonika 5 : 1 – 11
Bacaan: Yakobus 5 : 7 – 12
Hari ini gereja-gereja memasuki minggu Adven. Istilah Adven berasal dari bahasa Latin: adventus. Arti hurufiahnya: kedatangan. Gereja purba mengartikannya sebagai kedatangan Yesus Kristus, Putra Allah, ke dalam dunia ini. Lebih tepat: persiapan atau penyambutan kedatangan Tuhan. Ibarat pagi hari, mataharinya sendiri sebenarnya belum muncul, namun cahayanya di ufuk timur sudah tampak dan dapat dirasakan. Ibarat kedatangan seorang raja, maka Sang Rajanya sendiri belum tiba, namun para pengawalnya sudah muncul dan musik penyambutannya sudah berkumandang. Laksana tanaman padi, bulirnya sudah tampak bernas namun padinya belum menguning. Lantas apakah makna Adven bagi kita?
Minimal ada 4(empat):
Pertama: persiapan Pesta Natal Tuhan Yesus. Bagi gereja-gereja
Namun harus kita akui makna Adven sebagai persiapan pesta
Kedua: kenangan akan penantian para nabi dan umat Perjanjian Lama. Kitab Suci menyaksikan bahwa para nabi dan umat Perjanjian Lama begitu lama menanti-nantikan Mesias atau Kristus yang dijanjikan Allah itu. Melalui 4(empat) minggu Adven, gereja-gereja mau mengenangkan kembali penantian umat yang begitu lama akan kedatangan Sang Mesias, sekaligus mau menyatukan diri dengan iman dan harapan mereka yang tidak kunjung padam.
Ketiga: penantian akan kedatangan Yesus kembali ke dunia ini. Gereja percaya bahwa Yesus yang lahir di Betlehem dahulu kata, mati dan bangkit sekarang duduk di sebelah kanan Allah memerintah. Namun Dia berjanji akan datang kembali. KedatanganNya kembali ke dunia inilah yang sekarang sedang dinanti-nantikan oleh gereja. Sebab itu minggu Adven bagi kita bukan sekadar kenangan ke masa silam, tetapi juga harapan ke masa depan, yaitu penantian gereja kepada Kristus yang akan datang kembali untuk menggenapkan dan menyempurnakan seluruh kehidupan, keselamatan dan pembebasan kita. Jika di Betlehem dua ribu tahun yang lalu Dia datang dalam kerendahan dan kehinaan, maka gereja percaya bahwa Kristus akan datang kembali ke dunia ini sebagai Hakim Agung yang akan mengadili seluruh dunia.
Keempat: penantian akan kedatangan Tuhan di dunia ini setiap hari. Kita beriman sebelum hari kedatanganNya yang agung itu, Tuhan datang dan selalu hadir dalam kehidupan kita. Itulah juga yang hendak kita renungkan dan hayati melalui minggu Adven. Kita juga sedang menanti-nantikan Dia datang dalam keseharian kita, menolong dan membebaskan kita dari berbagai hal dan untuk bermacam hal di realitas ini.
Melalui minggu-minggu Adven ini jugalah kita diingatkan akan penantian-penantian kita dalam kehidupan ini.
(1) Adven mengajak kita agar kita tahu dan memahami bahwa Kristus akan datang segera dan saat kedatanganNya tidak diberitahukanNya.
Namun baiklah kita sadar bahwa yang diinginkan Paulus dari kita bukanlah sekadar pengetahuan teologis atau dogmatis tentang kedatangan Tuhan kembali, tetapi bagaimana sikap hidup kitasehari-hari terbentuk karena pemahaman dan penghayatan kita akan kedatangan Tuhan kembali itu.
(2) Adven mengajak kita berjaga-jaga, bangun dan siaga. Berhubung kedatangan Tuhan kembali itu pasti namun tidak bisa diprediksi, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah tetap berjaga-jaga, bangun dan siaga. Lukisan ini diambil dari kehidupan serdadu dalam peperangan. Berhubung kita tidak pernah tahu pasti kapan saatnya musuh menyerang, maka tidak bisa tidak kita harus selalu dalam keadaan berjaga-jaga, bangun dan siaga. Bayangkanlah apa yang terjadi jika dalam peperangan suatu pasukan tertidur, mabuk-mabukan atau lengah? Bagaimana pula kita siap menghadapi berbagai musuh dalam realitas kehidupan ini jika kita tidur, mabuk atau lengah? Tentu yang dimaksudkan Paulus tentang berjaga-jaga atau siaga bukanlah terutama dalam hal fisik, tetapi lebih menyangkut moral atau spiritual. Dengan kata lain apakah moralitas dan spiritualitas kita sehari-hari dalam keadaan siaga atau lengah, bangun atau tidur, siuman atau mabuk?
(3) Adven mengajak kita tetap bekerja, berbuat kasih dan kebajikan. Jika kita baca dalam pasal sebelumnya Surat Tesalonika, Rasul Paulus mengkritik jemaat Tesalonika yang terus-menerus berkumpul di gereja, meninggalkan tugas dan tanggungjawabnya sehari-hari karena beranggapan Tuhan segera datang (rumor mengatakan malah sudah datang).
Penantian dan penyambutan kita akan kedatangan Tuhan bukanlah perintah meninggalkan pekerjaan, keluarga, tugas dan tanggungjawab sehari-hari. Seorang ayah tidak bisa melalaikan tugas keayahannya demi menyambut Kristus. Seorang penjaga rel kereta api tidak boleh melarikan diri dari posnya dengan alasan Kristus mau datang. Seorang guru harus tetap mengajar, mahasiswa harus tetap belajar, dan pemerintah harus terus bekerja. Yohanes pembaptis berteriak: jalan yang berlekuk harus diluruskan dan tanah yang berbukit harus diratakan. Martin Luther mengatakan: sekali pun Kristus datang besok, maka hari ini aku akan tetap menanam pohon apel. Artinya: penantian kedatangan Tuhan (kedalam kehidupan kita) justru harus dipandang sebagai undangan memperbaiki, menata-ulang dan membaharui seluruh aspek kehidupan kita: pribadi, keluarga, masyarakat, gereja, bangsa dan negara serta dunia global ini. Terutama: memperbaiki hati dan hubungan-hubungan kemanusiaan kita yang paling mendalam.
Gereja sudah dua ribu tahun menunggu Kristus datang kembali.
(4) Adven mengajak kita bersabar menantikan waktu Tuhan. Itulah yang disampaikan Rasul Yakobus sebagaimana kita baca tadi. Sebagaimana para petani harus bersabar menunggu panen tiba, demikian jugalah kita diajak bersabar menunggu waktu Tuhan tiba. Kita tahu Alkitab membedakan dua macam waktu. Yaitu kronos (waktu manusia) dan kairos (waktu Tuhan). Selanjutnya Kitab Suci mengatakan Tuhanlah sebenarnya pemilik waktu itu, baik kronos maupun kairos. Sebab itulah kita diundang selalu berpaling dan mengarahkan hati kepada Tuhan.
Penantian yang lama akan kedatangan Tuhan kembali sebagai Hakim Agung, juga penantian kita akan kedatangan Tuhan saban hari sebagai Penolong, seringkali membuat kita lemah. Khususnya ketika sedang menghadapi pergumulan dan penderitaan, umat Tuhan seringkali bertanya: sampai berapa lama lagi ya Tuhan? Sampai kapan ya Tuhan? Pada Minggu Adven ini Tuhan mau menyapa kita, Saudara dan saya, agar selalu bersabar dan tetap menanti-nantikan Dia. Kesabaran orang yang menunggu Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Mereka yang menanti-nanti pertolonganNya tidak pernah dikecewakanNya atau dipermalukanNya. Setiap orang yang setia akan menerima mahkota. Dengarlah sabdaNya: Maranatha. Aku datang segera! Amin.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Disampaikan pada Kebaktian Minggu Adven Pertama 2 Desember 2007 pukul 09.00 di HKBP Kelapa Gading Jakarta Utara