Kenapa harus saling mengasihi?

November 30, 2007
By

Almanak Sabtu 1 Desember 2007:

white-yellow-beautiful-flowers.jpg

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. (Yohanes 13:34)

Mungkin kita semua sudah sangat sering mendengar kotbah atau petuah bahwa orang Kristen wajib saling mengasihi (walaupun dalam prakteknya tidak sedikit orang yang gagal mengasihi). Bahkan kasih atau mengasihi-dikasihi telah dianggap semboyan khas, filosofi hidup atau hukum utama kekristenan (setidak-tidaknya dalam teori). Namun kita jujur, percakapan tentang kasih seringkali lebih menyangkut “apa yang seharusnya ada” (das sollen) dan bukan apa yang kenyataan memang ada (das sein). Kasih seringkali lebih merupakan cita-cita atau ide luhur yang ada dalam hati namun enggan diwujudkan dalam sikap dan perilaku.

Sebab itu mungkin ada baiknya kita bertanya: mengapa Yesus meminta kita murid-muridNya saling mengasihi? Apakah ada alasan yang cukup kuat sehingga kita kita memang harus saling mengasihi dalam hidup ini di dunia yang justru penuh dengan persaingan, tipu-daya, kekerasan dan kebencian ini?

Pertama: kasih membuat hidup kita penuh sukacita. (Yoh 14:11). Orang yang menemukan dan mengalami dirinya dikasihi tentu sangat bersukacita. Namun orang yang berhasil mengasihi akan lebih besar lagi sukacita dan kebahagiaannya. Di sini kita disadarkan bahwa sukacita sejati tidak pernah terletak dalam diri kita sendiri namun justru dalam relasi kita dengan orang lain. Orang-orang yang sangat egoistis, kikir dan serakah tidak pernah bisa bersukacita, namun selalu penuh dengan kemurungan dan kekecewaan. Sebaliknya orang-orang yang selalu perduli kepada sesamanya justru hidup bahagia.

Kedua: kasih mendorong kita mengenal dan memahami orang lain dengan mendalam (Filipi 1:9). Bila kita mengasihi seseorang maka mata, telinga dan hati kita terbuka untuk mengenalnya dengan baik sekali. Sebaliknya ketika kita tidak perduli atau malah membenci seseorang maka hati kita juga tertutup untuk mengenalnya. Paling-paling kita hanya dapat melihat keburukannya saja. Mengapa seorang ibu sangat mengenal dan tahu keberadaan anak-anaknya? Jawabnya: karena dia sangat mengasihinya.

Ketiga: kasih merupakan enerji yang sangat besar dan kuat untuk hidup. Selama masih ada orang yang mengasihi-dikasihi kita maka selalu ada alasan untuk bertahan dan meneruskan kehidupan. Sebaliknya bila tak ada lagi orang yang mengasihi atau kita kasihi maka itu berakhir juga alasan meneruskan kehidupan ini. Itulah sebabnya tidak ada orang yang memiliki kekasih yang mau bunuh diri. Di tengah kenyataan hidup yang penuh dengan masalah dan tantangan, kasih memberikan kita kekuatan untuk bertahan dan keluar dari berbagai krisis.

Keempat: kasih merupakan tanda bahwa kita anak-anak Allah. Bapa kita adalah kasih. Yesus mengasihi sampai kesudahan kasih (Yoh 13:1). Kasih merupakan tanda bahwa kita sudah lahir baru (1 Yoh 4:7). Orang yang tidak mengasihi tidak bisa mengatakan bahwa dia beriman kepada Allah. Mengapa? Sebab Allah mengasihi. Mereka yang beriman dan dekat kepadaNya juga pasti akan melakukan hal yang sama.

Doa:

Ya Yesus, ajarlah kami saling mengasihi. Penuhilah hati kami dengan kasihMu agar kami hidup penuh sukacita dan bahagia. Mampukanlah kami mencontoh Engkau dalam hidup kami. Biarlah nama Allah dipermuliakan melalui seluruh perkataan, perbuatan dan sikap hidup serta karya kami. Dalam namaMu. AMIN.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*