Seri Diskusi Injil & Adat
Oleh: Daniel T.A. Harahap
TUNGKU TIGA BATU
1. BERKEMBANG DALAM SEJARAH
Contoh lain menunjukkan pergeseran dalihan na tolu: Pada jaman dahulu tidak semua even pertemuan Batak dihadiri oleh tulang atau hula-hula (kecuali pesta besar). Hal ini dapat dimaklumi karena hula-hula atau tulang tinggal di kampung yang lain yang jauh (kecuali bagi sonduk hela, orang yang menetap di kampung hula-hulanya). Namun keadaan ini berubah dengan migrasi orang Batak ke luar Tapanuli. Kampung dan kota di luar Tapanuli bersifat majemuk (multi marga, multi suku). Banyak orang kini tinggal sekampung atau bahkan bertetangga dengan hula-hula atau tulang-nya. Apakah
dampaknya? Interaksi antara hula-hula dan boru semakin intensif. Jika ada acara di rumah banyak orang jadi sungkan jika tidak mengundang tulang atau hula-hula yang kebetulan menjadi tetangga atau tinggal sekota dengannya.
Pada jaman dahulu ketika nenek moyang kita masih menetap di Tanah Batak kampung identik dengan marga. Artinya “dongan sahuta” hampir identik dengan “dongan tubu”. Namun dengan migrasi orang Batak ke Sumatera Timur dan kota-kota lain keadaan berubah. Dongan sahuta tidak lagi otomatis dongan tubu (kawan semarga). Dampak perubahan demografi ini peranan dongan sahuta (parsahutaon) yang terdiri dari multi marga ini semakin besar di kota-kota. Jonok dongan partubu jumonok dongan parhundul.
2. MANAT MARDONGAN TUBU, ELEK MARBORU, SOMBA MARHULA-HULA
Jika kita perhatikan kampung-kampung tradisional di Tapanuli dihuni oleh orang-orang yang semarga. Dongan tubu karena itu adalah teman untuk mengerjakan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Sebab itu kita harus memperlakukan dongan tubu secara hati-hati (manat). Kehati-hatian pada dasarnya adalah bentuk lain dari sikap hormat. Nasihat ini relevan sebab justru kehati-hatian sering kali hilang karena merasa terlalu dekat atau akrab. Hau na jonok do na masiososan. Selanjutnya Elek marboru merupakan nasihat bahwa boru harus senantiasa dielek atau dianju (dibujuk). Boru adalah penopang dan penyokong. Sebab itu mereka senantiasa diperlakukan dengan ramah-tamah dan lemah-lembut agar mereka tidak sakit hati dan kemudian membiarkan hula-hula-nya. Namun sebaliknya: Bagi orang Batak pra-Kristen hula-hula memang dipandang sebagai mata ni ari bisnar, sumber berkat dan kesejahteraan, sebab itu harus disembah (somba marhula-hula).
Lantas bagaimana dengan kita orang Kristen? Prinsip-prinsip dalihan na tolu ini dapat terus kita pertahankan sebagai kontsruksi budaya yang positif. Namun makna somba marhula-hula harus kita beri warna baru. Sebab bahasa Batak tidak membedakan istilah hormat dan sembah. Sementara sebagai orang Kristen kita mengakui bahwa Tuhanlah sumber berkat satu-satunya. Hula-hula atau mertua hanyalah salah satu (baca: bukan satu-satunya) saluran atau distributor berkat yang dipakai Tuhan.
Selanjutnya sebagai orang Kristen dan moderen, kita juga harus memperkaya prinsip dalihan na tolu ini dengan semangat egalitarian (kesetaraan). Pada dasarnya tiap-tiap orang, tanpa kecuali, harus kita hormati. Tiap-tiap orang (apapun suku, ras, profesi, pendidikan, jenis kelamin, agama dan tingkat ekonominya) pantas mendapat hormat.
Inti atau substansi kultur dalihan na tolu adalah sirkulasi dan distribusi peran dan jabatan. Dalam kultur Batak setiap orang tidak mungkin terus-menerus dihormati sebagai hula-hula. Hari ini menjadi boru, esok menjadi dongan tubu, lusa menjadi hula-hula. Hari ini duduk dilayani besok melayani. Tidak ada orang yang mutlak selama-lamanya (dondon pate) dihormati. Tidak ada juga orang yang selama-lamanya berada di bawah melayani!
Masyarakat Batak sangat sadar akan arti ruang atau tempat dan even. Peran dan kedudukan seseorang sangat dinamis sebab tergantung ruang dan even (ulaon).
Ini sangat relevan dengan dunia modernitas. Kepemimpinan moderen tergantung kepada even dan ruang dan waktu. Tidak ada orang yang boleh mengklaim menjadi pemimpin di setiap even, di semua ruang dan sepanjang waktu. Ini juga relevan dengan iman Kristen yang memandang semua manusia setara di hadapan Tuhan (Gal 3:28) dan harus diperlakukan dengan hormat dan kasih (Roma 12:10, II Pet 1:7, Yoh 13:14, 34)
4.HUKUM BERBALASAN POSITIF
Selanjutnya dalihan na tolu merupakan perwujudan prinsip hukum berbalasan. Sisoli-soli
do uhum siadapari do gogo. Saling berbalas adalah hukum dan saling berganti merupakan kekuatan. Boru memberikan juhut (daging) dan hula-hula menyambut dan memberikan boras dohot dengke (beras dan ikan). Boru memberikan piso-piso (uang) dan hula-hula merespons dengan memberi doa memohon berkat. Hula-hula memberikan ulos dan boru membalas dengan uang.
Namun prinsip dalihan na tolu tetap harus dimurnikan senantiasa dengan KASIH AGAPE atau kasih tanpa mengharapkan balasan yang diajarkan Yesus. Yesus memang tidak pernah melarang kita membalas yang baik (seluruh ayat Alkitab hanya melarang membalas yang jahat), namun Dia menghendaki agar kita belajar juga mengasihi dan memberi tanpa mengharapkan balasan (pamrih).
5. KESETARAAN PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI
Pada jaman dahulu hula-hula dianggap sebagai pemberi perempuan. Namun di jaman modern perempuan yang bebas dan otonom karena itu tidak boleh dijadikan objek apalagi “diserah-terimakan”. Perempuan adalah subjek atau pribadi. Pernikahan karena itu kini dianggap perjanjian dua pihak yang setara. Akibatnya secara tak langsung makna hula-hula pun bergeser bukan lagi sebagai “marga pemberi perempuan” namun “marga asal perempuan”.
Sinamot atau tuhor (uang mahar pernikahan( karena itu bukanlah keuntungan yang diperoleh dari transaksi perempuan tetapi harus diartikan sebagai biaya (cost) yang diperlukan untuk menciptakan sukacita bersama.
6. GEREJA MENCEGAH CHAOS
7. DEPOLITISASI DAN DOMESTIKASI ADAT
Dahulu yang disebut adat Batak adalah segala sesuatu konsep, nilai, ide, hasil karya dan kegiatan orang Batak (menanam padi, membangun rumah, membuka kampung baru, berperang, mengikat perjanjian antar marga dll). Dalam perkembangan terakhir makna adat telah mengalami proses depolitisasi dan domestikasi. Kini adat Batak direduksi atau diminimalisasi menjadi sekedar ritus domestik (rumah tangga): ritus pernikahan, kelahiran dan kematian. Apa akibatnya? Peranan dalihan na tolu menjadi sangat dominan atau menonjol walaupun pada prakteknya kurang berpengaruh kepada kehidupan ekonomi dan politik komunitas Kristen-Batak itu sendiri. Sebab itu tantangan bagi kita sekarang adalah mencari dan menemukan hakikat atau esensi adat Batak itu sendiri agar tidak larut dan hanyut dalam ritus atau seremoni konsumtif belaka.
———————————————————————————–
Sebab itu tantangan bagi kita sekarang adalah mencari dan menemukan hakikat atau esensi adat Batak itu sendiri agar tidak larut dan hanyut dalam ritus atau seremoni konsumtif belaka.
( Pdt. Daniel T.A. Harahap)
————————————————————————————
Horas,
Adat hanya salah satu bagian dari sebuah budaya. Budaya yang bagus seharusnya berkembang dinamis diarahkan demi kemajuan peradaban dari komonitas itu sendiri.
Menurut saya, biarkan saja adat menjadi seremoni konsutif belaka,…kalau memang komunitas batak masih membutuhkannya…memang sih bukan untuk kemajuan peradaban….. Bahkan bagi orang batak yang masih miskin, adat itu semakin lama semakin terasa sebagai ‘beban-ekonomi’. Sedangkan bagi generasi muda katanya ‘ ngga gokil, cape..deh!!’….tidak menarik…ngga seru, kurang heboh…..
Yang menjadi problem sesungguhnya adalah memang perkembangan budaya batak memang stagnan bahkan mundur. Karena kebutuhan dan persoalan kehidupan sehari2 sebagai masyarakat yang telah berubah menjadi urban-heterogen-modern, budaya batak sedikit sekali peranannya….ya sebatas kebutuhan seremoni-konsumtif itu tok !!.
Bidang pendidikan misalnya ” Tidak boleh ada anak Batak putus sikola karena biaya ” belum menjadi gerakan budaya. Masih diatasi secara individual/keluarga…peran komunitas/budaya masih nihil. Padahal kesadaran akan pendidikan sudah lama tertanam dimasyarakat batak sejak agama masuk dan terbentuknya negara Indonesia.
Masih banyak lagi kebutuhan dan persoalan kehidupan yang seharusnya bisa dan mampu dijawab oleh budaya Batak, oleh kekuatan komunitas Batak itu sendiri.
Memang butuh sebuah GERAKAN BUDAYA untuk ini, yaitu sebuah PEMBAHARUAN budaya Batak demi kemajuan peradaban…….bukan yang sekedar seremonial-konsumtif dan sekedar bangga mengetahui akan nilai falsafah yang terkandung………namun tanpa buah kemajuan peradaban yang berarti.
Akuilah, Budaya Batak sudah tertinggal jauh dengan modernitas, terperangkap pada masa lalu dengan kepuasan simbolis-seremonial. Contoh,…lihatlah, bila orang meninggal di kota ‘kan butuh biaya untuk beli tanah kuburan dan sewa ambulan dan biaya lain sebagainya. Sialnya keluarga yang meninggal miskin…… bagaimana budaya batak mengatasinya ??
Yah masih seperti jaman dulu… “gotong-royong dadakan”, “sumbangan taken-list”. Prosesnya masih sangat personal dan situasional……….
Kenapa kita tidak memanfaatkan cara-cara modern dan institusi2 modern, yaitu manfaatkan asuransi jiwa secara kolektif. Bentuklah sebuah organisasi/lembaga untuk ini.
Misalnya Saya sekeluarga (+istri dan 3 anak) 5 jiwa, karena merasa mampu membeli 15 polis asuransi jiwa. 10 polis saya sumbangkan ke organisasi/lembaga untuk diberikan kepada keluarga yang kurang mampu/miskin. Yang miskin bisa gratis atau membayar 10%, 20%….. Falsafah Holong dan bantu-membantu menjadi teroganisir dengan nyata, efektif dan transparan.
Jadi Amang Pendeta, tidak usahlah kita risau pada perkembangan adat kita itu..yang penting kita semua kurangi energi dan waktu untuk membahas bolak balik menyangkut tetek bengek adat batak. Gulirkankan saja GERAKAN PEMBAHARUAN BUDAYA BATAK !!
motto :
>> Membangun budaya batak dengan sikap modern <<
Muliate
Horas Amang Pdt. Daniel.
Tulisannya sangat faktual dan mencerahkan isi kepala…
Suku Batak telah diwarisi oleh nenek moyangnya modal sosial yang sangat bernilai tinggi serta unik…produk budaya berupa Tarombo/Marga dan Dalihan Natolu…
Saya yakin, kedua hal ini tidak bisa punah dan tergantikan digilas perubahan jaman…mininal gunanya sebagai ” indentitas ” diri komunitas Batak. Yang jadi soal memang apa lagi gunanya yang lain dari budaya batak selain indentitas dan adat yang sudah bersifat seremoni-konsumtif itu ???
Betul sekali kata Ito Sabar….budaya kita masih banyak berupa ‘aset-aset mati’,… tak banyak digunakan dan berperan dalam membantu kemajuan peradaban komunitas batak. Budaya Batak tinggal dan disimpan dalam sebuah ruang kaca besar yang sejuk berpendingin AC. Kita boleh melihat-lihatnya dan bangga akan aset-aset itu… Seperti Bangsa Mesir dengan Piramidnya, Jawa dengan Borubudurnya……MEMANG sebuah PERADABAN MAJU DI JAMANNYA !!
Sejak tahun 70′an orang batak dikenal pemberani, ulet, tahan bosan…buka tambal2 ban di berbagai titik di jalan raya. Dari usaha itu mereka mampu membiayai kebutuhan keluarga….tapi belum ada yang terdengar berkembang menjadi pemilik bengkel dan toko ban besar.
Kita tahu disini belum ada peran dan bantuan dari orang-orang batak lain sebagai sebuah komunitas. Perjuangan ekonomi baru dianggap sebagai perjuangan pribadi semata,…belum menjadi bagian dari perjuangan komunitas batak. Orang China sukses bisnis bukan cuma mengandalkan ulet dan kerja kerasnya…budaya dan adat serta komunitasnya sangat mendukung….juga demikian untuk suku bugis.
Setuju sekali, Batak butuh gerakan pembaharuan dalam budayanya dengan orientasi pada kemajuan peradaban ke depan……..
Cuma dari mana memulainya…ya ???
Biasanya gerakan pembaharuan ‘kan harus dimotori generasi muda. Secara struktur sosial batak, generasi muda (yang belum kawin) tidak punya posisi di adat dan budaya Batak. Organisai Punguan Marga atau Ompu isinya para orang-tua yang dikepalanya cuma rutinitas tetek bengek acara adat dan pesta bona taon….
Usul saya, generasi muda batak di kota2 besar membentuk organisasi khusus untuk ini, beri saja nama organisasi itu ” GERAKAN PEMBAHARUAN BUDAYA BATAK “.
Jane Ross
Bagi saya, Dalihan Natolu itu konsep yang jenius. Ya, karena denga Dalihan Natolu orang Batak akan mudah menemukan posisinya dengan sesama Batak, apakah memanggil Tulang, pariban, amangboru dan berbagai sebutan lainnya. Itu sebabnya kita mudah akrab dan bersatu, apalagi di tanah perantauan. Berbeda sekali dengan suku-suku yang tidak punya marga, mereka harus mencari medium lain untuk menjamin naluri berkumpulnya. Saya amat menikmati Dalihan Natolu karena saya sedang berada jauh dari kampung halaman. Makna dalihan Natolu benar-benar dapat mempererat komunitas Batak di tempat saya berada sekarang. Suku tempat saya berada sekarang menciptakan metode “membangun rumah bersama (benar-benar rumah yang dibangun satu garis keturunan)” sebagai wadah kesatuan mereka. Sehingga kalau mereka bertemu dengan seseorang yang baru dikenal, mereka akan mengarahkan pembicaraan menanyakan “rumah bersama” tersebut sebagaimana orang Batak menanyakan marga. Jika seorang menyebutkan punya “rumah bersama” di daerah tertentu itu berarti silsilahnya ada di tempat tersebut. Agak rumit dan sepanjang pengamatan saya tidak menimbulkan efek kuat sebagaimana layaknya orang Batak.
Akan halnya Dalihan Natolu lebih dilembagakan dalam berbagai aspek kehidupan orang Batak…. Yes, mari kita kerjakan.
Horas Dalihan Natolu.
Horas,
Masalahnya, Orang Batak memahami budayanya masih dominan sebagai upaya pelestarian semata….. termanfaatkan sebatas kebutuhan akan indentitas (internal : Tarombo, eksternal : sebagai suku bermarga), ataupun kegiatan seremonial/simbolis pada acara2 adatnya. Budaya Batak dipandang sebagai kumpulan barang antik yang telah berumur tua… dibanggakan dan disayang2,.. bahkan untuk dipamer-pamer
Budaya sebagai respon dinamis dari sebuah komunitas untuk mencapai tingkat peradaban yang lebih tinggi, terabaikan, terlupakan. Sejak agama kristen dan islam masuk ke tano batak dan terbentuknya negara republik Indonesia…saling berinteraksi dengan budaya batak. Hasil produk budaya yang menonjol barulah kesadaran dan semangat bersekolah dan merantau ke kota sebagai manusia urban. Pada saat itu sangat mengajak para orangtua untuk menyekolahkan anak2nya, di tano Batak sekolah2 selalu penuh.
Akibatnya tingkat pendidikan orang Batak paling tinggi di Indonesia. Juga para orangtua mendorong para pemuda/i untuk ke kota/tanah perantauan sebagai manusia urban, sehingga kampung-kampung di bona pasogit-pun penduduknya semakin berkurang.
Waktu terus berjalan, jaman cepat berubah, kebutuhan dan tuntutan-pun berubah… jauh beda dengan dulu! Namun belum hadir ‘produk budaya baru’ yang memadai sebagai responnya. Dulu lulusan setara SMA saja, pasti dapat kerja… sekarang banyak lulusan S1 dan S2 menganggur. Dulu di kota, untuk punya rumah mudah, sekarang untuk mencicil rumah tipe-21 orang batak banyak yang tidak mampu. Dulu asal rajin belajar dan otaknya normal… bisa sampai perguruan tinggi. Sekarang tanpa les sana-sini dan punya uang banyak.. bisa2 putus sekolah.
Saur Silitonga bilang : ” Akan halnya Dalihan Natolu lebih dilembagakan dalam berbagai aspek kehidupan orang Batak…. Yes, mari kita kerjakan. ”
Justru disinilah problem terbesar kita, kemampuan sebagai sebuah komunitas untuk membangun berbagai institusi/lembaga/oraganisasi yang efektif masih sangat lemah. Atau belum dimulai ??
Sekedar contoh, gereja HKBP sebagai sebuah organisasi bisa dibilang sudah sangat besar itu,… pertanyaannya seberapa besar sumbangsihnya terhadap kemajuan peradaban orang Batak saat ini. Hal yang sama juga terjadi, yaitu telah begitu banyak terbentuk Punguan Marga/Ompu… sepertinya manfaatnya baru sebatas kebutuhan ‘silaturrahmi’. Jadilah orang batak dibilang punya banyak aset, tapi masih berupa aset-aset mati,…kurang ‘likuid’,… begitulah.
Saya merindukan munculnya gerakan pendidikan yang baru, ” Setiap lulusan SMA/setara skor TOEFL minimal 450 dan tidak ga-tek ICT “. Para Punguan Marga/Ompu bisa bersatu untuk mewujudkannya…… bentuklah sebuah yayasan untuk kepentingan itu.
Sebenarnya masih banyak lagi persoalan2 hidup yang bisa dibantu diatasi dengan mengandalkan kekuatan kita sebagai sebuah komunitas. Misalnya biaya perkawinan dan kematian yang bagi sebagian besar orang batak semakin tak terjangkau… kita bisa mengatasinya dengan asuransi secara kolektif.
Yang kaya/mampu berkesempatan (= berbuat baik) membeli sejumlah polis lebih dari kebutuhannya untuk disumbangkan ke organisasi. Sumbangan polis2 ini berikan secara gratis atau diskon kepada yang kurang mampu/miskin. Disini konsep ‘Holong’ akan menjadi lebih nyata, tidak terkurung sebatas seremonial dan simbol2 di acara adat kita ! Pdt. Daniel bilang ” seremonial konsumtif “,… memang iya,.. karena simbol2 holong yang terkandung didalam acara2 tersebut berhenti sampai disitu saja.. tidak menjalar ke kehidupan keseharian kita.
Intinya, Orang batak dengan kekuatan yang bersumber pada budayanya sendiri,yaitu Tarombo/marga dan Dalihan Natolu seharusnya lebih menempatkan budaya untuk mengatasi tuntutan dan tantangan saat ini dan ke-depan. Budaya haruslah dirasakan sebagai sebuah solusi, bukan malahan jadi beban ataupun tugas oleh anggota komunitas itu sendiri,.. Sesungguhnya pelaksanaan ritual-adat lebih terasa sebagai tugas !!
Maka, marilah kita berikan beban dan tugas yang lebih berguna kepada budaya kita ini. Bangsa Jepang, Korea, Yahudi, Italia, Irlandia, Jerman telah membuktikannya….
Maka, janganlah lagi budaya kita pandang sebagai rutinitas untuk mengulang-ngulang masa lampau. Perlakukanlah BUDAYA sebagai sebuah GERAKAN,.. dimana setiap orang berhak ikut didalamnya untuk berjalan dan berlari bahkan melompat, mendorong atau menariknya… Dalam sebuah gerakan, tak perlu ada lagi kata2 harus begini atau begitu hanya karena dulunya sudah begitu.
GULIRKAN GERAKAN PEMBAHARUAN BUDAYA BATAK !!
Sulitkah..???
Muliate
Komen diatas bagus-bagus-bagus. Saya yakin suatu saat DTAH akan me”racik” komen dan tulisan itu menjadi semacam “action plan”. Tapi tentu saja DTAH tidak bisa kerja sendirian, perlu dukungan dari semua, dari kita-kita.
Btw, Saya setuju dgn lae Silitonga, Dalihan Na Tolu (DNT) adalah konsep jenius. Saya pikir DNT dibangun oleh ompunta sijolo-jolo tubu dari pengembangan budaya yang luar biasa. Konsep itu saya rasa lebih jenius dari pembangunan Borobudur. Karena DNT adalah suatu struktur budaya, suatu non fisik. Membangun borobudur adalah membangun fisik dengan struktur yang juga luar biasa.
Struktur DNT yang “sederhana” itu adalah segitiga. Dan semua orang yang pernah belajar ilmu ukur tau, bahwa struktur segitiga itu adalah pondasi dari segala struktur bangunan yang paling kuat.
Saya belum pernah ketemu dalam budaya suku lain, yang mempunyai struktur seperti DNT. Bagaimana nenek moyang kita membangun struktur budaya DNT. Kenapa di daerah “tetangga” Batak tidak ada DNT. Dari mana asalnya DNT itu. Saya yakin itu bukan konsep yang datang tiba-tiba dan dibangun dari mimpi semalam. Itu adalah hasil pencernaan dan perjalanan budaya yang panjang.
horas,
sy menikmati tulisan amang harahap tentang dalihan na tolu dan reaksi2 yang timbul dari tulisan ini.
saya sendiri dibesarkan di tanah perantauan dan baru beberapa tahun ini memutuskan pulang ke propinsi sumatra utara dan menetap di medan. terus terang saja, saya juga produk generasi muda yang dulunya hanya melihat budaya batak dari sisi ekonominya saja, sampai melupakan nilai-nilai dari budaya itu yang tanpa sadar begitu kuat tertanam didarah saya. protes sana, protes sini….tanpa ada perbuatan nyata untuk melakukannya…. dan mengharapkan secara ajaib, ada suatu gerakan sosial yang didasari budaya batak.
nah sifat dari protes sana-sini tanpa ada perbuatan, dan saling menunggu untuk membuat gerakan pembaharuan dibudaya batak…akhirnya tidak pernah terjadi. yang terjadi akhirnya adalah gerakan semakin sinis tentang budaya sendiri yang didasari oleh “tidak adanya” keinginan untuk bergerak dan memulainya secara nyata.
kalau anda benar-benar perduli dengan budaya batak…yah mulailah dengan gerakan sendiri, misalnya dari beberapa contoh yang saya baca yaitu dengan membeli polis asuransi buat saudara-saudara kita yang tidak mampu. kita tidak harus menunggu ada gerakan besar untuk memperlihatkan keperdulian kita kepada saudara kita batak yang tidak mampu. toh kalau tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu? apakah anda sudah melakukannya?
sifat protes dan menunggu dari generasi muda saya ini harus dihilangkan.
saya seorang perupa, saya mencintai budaya batak saya dan mencintai profesi saya…saya dirikan galeri senirupa Tondi di Medan, yang non stop berpameran setiap bulannya dalam dekade 3 tahun ini, melibatkan perupa-perupa dalam berbagai disiplin senirupa, sastrawan, penari tradisional/kontemporer, penyair, teater, dan bentuk-bentuk seni (yang belum ada nama) di sumatra utara/sumatra/nasional/internasional. DAN ini saya mulai dengan biaya sendiri sampai sekarang dengan menyisihkan 1/3 pendapatan kami sekeluarga setiap bulannya supaya medan/sumatra utara bisa dijadikan salah satu kantong senirupa yang serius di indonesia selain di jakarta, bandung, jogja, bali dst-nya. anda bisa google kan galeri tondi, kalau anda tidak percaya.
inilah salah satu bentuk dari gerakan saya sendiri supaya budaya batak hidup terus dan berenovatif terus.
terus terang saja, saya sudah MUAK dengan budaya anak-anak muda BATAK khususnya diperantauan yang selalu protes tapi tidak berbuat apa-apa dan saban hari hanya sibuk mempertajam keliahaiannya berprotes! sifat yang menunggu dan menunggu dan menunggu dan menunggu danb menunggu… tanpa berbuat apa-apa…..
Saat ini justru ada keperdulian yang besar secara nyata tentang gerakan renaissance budaya batak. saya dengan galeri senirupa Tondi, Dolorosa Sinaga dengan Tapiannya, Viky Sianipar dengan proyek TobaDreamnya, Suhunan Situmorang dengan novel Sordamnya, Sri Simanungkalit dengan lsm lingkungan dan monologue berbahasa bataknya, indra nababan dengan proyek perpustakaan rakyatnya di parapat dan teman-teman lainnya yang saat ini pulang kampung ke huta-huta batak dengan gerakan sendiri dan biaya sendiri bekerjasama dengan masyarakat setempat membangun dan membantu masyarakat batak kita…dan perlu kalian tahu bahwa kami semua berkoordinasi nonstop!
sy tidak pernah merasa bahwa adat batak saya hanya saya li9hat dari gelas kaca bersegi empat, justru saya bangga sebagai boru batak yang diperkaya dengan budaya-budaya nenek moyang kita. kalau kalian tidak ada “budaya” batak kalian lagi…apa yang masih tertinggal didalam harga diri kalian sebagai orang batak? seberapa sering kalian bersingungan secara nyata dengan budaya sendiri? ini bukan yang terlihat dalam kasat mata seperti didalam punguan dan perkawinan…tapi bersingungan dengan nilai dan kekayaan budaya batak baik dalam musik, syair-syair, tari2an, tulisan-tulisan kuno, nilai-nilai ulos-ulos, perangkat batak makan batak yang dipanggil sapa, karya-karya senirupa montemporer yang berdasarkan budata batak dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya……….?
jadi berhentilah protes tanpa berbuat apa dan teruslah berprotes tapi berbuat sesuatu untuk budaya dan masyarakat batak kita…mulailah dari yang paling kecil….
horas amang pdt!
Grace Siregar
Perupa dan Pendiri Galeri Senirupa Tondi
Jl.Keladi Buntu No 6
Medan
SUMUT
20153
horas lagi,
sebagai tambahan, salah satu desainer batak yaitu Merdi Sihombing yang setiap bulan mengunjungi kampung-kampung dipedalaman sumatra utara khususnya untuk mempelajari dan menghidupkan kembali tenunan-tenunan ulos tradisionil ompung2 kita supaya dibuat lagi ulos-ulos itu dengan memakai desain tradisional dan pewarna alamiah yang dipakai oleh ompung-ompung kita jaman dulu sebelum ada zat buatan pabrik. justru sekarang para penenun ulos kita mulai bangkit karena begitu banyak order tenunan asli yang bukan buatan pabrik dan ito Merdi Sihombing akan mendisain rancangannya dengan materi ulos dan akan menerbitkan buku ini dalam waktu yang tidak begitu lama dengan bekerjasama dengan starowsky (perusahaan kristal ternama) yang nantinya akan memakai disain tradisional ulos batak kita ini.
mauliate!
Grace Siregar
Terima kasih banyak saya sudah dikasih ilmu lebih mengenai Dalihan Na Tolu. Walaupun saya batak besar di perantauan, tapi sudah sedikit mengerti mengenai adat batak kita. Masih banyak yang harus saya pelajari, dan rumametmet.com menjadi acuan saya pribadi untuk belajar.
Setelah 8 propinsi kami jalani sekeluarga sampai saya tamat di Yogyakarta, dan bekerja di 15 negara sampai saat ini, tidak ada adat dan budaya yang lebih baik dari adat batak kita, termasuk didalamnya Dalihan Na Tolu. Bahkan saya mengajarkan Dalihan Na Tolu ke kawan-kawan kerja saya di Libya (sebagian besar orang lokal), dan mereka menyatakan SALUT mereka terhadap sistem DALIHAN NA TOLU. Persis seperti yang amang sampaikan, dimana kita sebagai manusia sepantasnya selalu menempatkan diri kita untuk Melayani, Dilayani, dan Mengasihi.
Jadi saya percaya pola Dalihan Na Tolu dalam adat batak ini lebih dari sekedar sistem adat/budaya ompung-ompung kita terdahulu. Sebegitu hebatnya mereka bisa menciptakan sistematika hubungan kekeluargaan batak menjadi suatu sistem untuk hidup saling berdampingan satu dengan yang lainnya, dengan memanusiakan mereka yang menamakan dirinya manusia..!!!
Untuk kita dimasa sekarang, terlepas dari banyak paham kehidupan yang saya pelajari sampai saat ini, saya belum menemukan ada sistem lain dalam hubungan kita sebagai manusia dengan manusia yang lebih baik dari ini. Bahkan Alkitab mempatenkan paham Dalihan Na Tolu ini seperti yang amang Pendeta sudah sampaikan.
Semoga kita bisa lebih bijak menghadapi hari-hari yang dikaruniakan Allah kepada kita.
Horas jala gabe,
Clement Hutabarat
Horas amang, saya ingin memberi komentar sedikit terkait dengan artikel amang ini dengan pengalaman saya.
“Selanjutnya sebagai orang Kristen dan moderen, kita juga harus memperkaya prinsip dalihan na tolu ini dengan semangat egalitarian (kesetaraan). Pada dasarnya tiap-tiap orang, tanpa kecuali, harus kita hormati. Tiap-tiap orang (apapun suku, ras, profesi, pendidikan, jenis kelamin, agama dan tingkat ekonominya) pantas mendapat hormat. Kita wajib menghormati hula-hula, melindungi boru dan memperlakukan hati-hati dongan tubu kita tanpa memandang latar belakang ekonominya, pendidikan, pangkat atau jabatannya. ”
Saya sangat setuju dengan pernyataan amang ini. Akan tetapi saat ini masih banyak orang Batak yang belum mengerti hal ini.
Sering kali saya alami pihak hula-hula itu sepertinya gila hormat (mohon maaf). Kalau kita kurang menghormati atau misalnya dalam berkunjung ke rumah hula-hula lupa membawa oleh-oleh (rokok misalnya) langsung saja diprotes. Padahal misalnya saja dia lupa membawa karena kesibukan di kantor. Belum cukup diprotes, kami juga diceramahi. Apakah kami dianggap masih muda atau hal lain sehingga kami pantas mendapat hadiah seperti ini dari hula-hula, saya tidak tahu.
Yang kedua yang saya alami sendiri di tempat kerja, seringkali orang Batak lupa daratan kalau dia sudah ada jabatan. Di tempat saya ada orang yang saya harus panggil tulang, amangboru dan amangtua sesuai dengan panggilan mereka semestinya. Tapi panggilan ini hanya saya ucapkan apabila diluar kantor, mengingat jabatan mereka. Akan tetapi dalam prakteknya mereka tidak mau mengingat posisi ini, meskipun saya sudah bekerja baik. Teman-teman saya yang batak yang lainnya juga diperlakukan buruk oleh mereka. Bahkan ketika mereka semua dipindahkan dari kantor, banyak yang membuat acara syukuran karena kelakuan mereka itu.
Yang saya mau bilang ke amang, bahwa dari dua contoh ini saya membuat kesimpulan ini semua adalah soal karakter. Mereka bicara mengerti adat dalihan na tolu kepada kami para orang muda ini akan tetapi prakteknya mereka buta sama sekali. Dan satu lagi, sebagian orang Batak sangat mengagungkan adat dalihan na tolu tanpa didasari kasih Kristus, sehingga dalam prakteknya sering membuat orang lain sakit hati. Sedangkan orang Batak sebagian lagi sudah lebih egaliter.
Pelaksanaan Dalihan Na Tolu ini akan terlihat jelas pelaksanaannya pada saat melaksanakan adat (duka cita,suka cita) dan diharuskan melaksanakan kepada hula2 : SOMBA, artinya hormat karena sumber ibu yang telah melahirkan keturunan/marga (ibu itu menjadi bagian terbesar untuk memperkaya marga kita) dan kita tau bahwa hula-hula ini hanya mendapat jambar pada saat kita lahir, pesta kawin dan mati (3 kali) , Atas dasar inilah kita tidak boleh leas,tetapi hormat dan memberikan yang pantas terhadap hula-hula. Saya sangat bangga melihat pihak boru mau menggalang hula-hulanya pada saat manortor dan memberikan materil yang cukup baik, hanya menurut saya pelaksanaan hormat ini janganlah sepihak harus saling menghormati di dalam adat maupun di luar adat. Hula-hula/Tulang langsung ,seyogianya sesekali melihat/ memperhatikan boru atau berenya dan sebaliknya pihak boru/bere memperhatikan Hula2nya dan Tulangnya. Kita akan mendapat giliran ketiga sisi dalihan natolu dan menurut saya ini akan berlaku resmi dalam pelaksanaan adat , sedangkan kesehariannya hanya menyebut Tulang/abang/lae. Memang kalau pergi kerumah Tulang tidak pernah kita menyebut ke rumah hula-hula dan kalau kita mampu boleh juga membawa oleh-oleh dan semua Tulang/lae memang bangga diperlakukan seperti itu, akan tetapi pihak Tulang/lae boleh juga memberikan sangu yang besarannya relatip kepada boru/berenya.
Daniel Harahap:
Pertanyaan: apakah adat dalihan na tolu juga berfungsi di bidang ekonomi atau produksi?