KONSEP TATA LAKSANA HKBP

November 9, 2007
By

KONSEP TATA LAKSANA

(ANGGARAN RUMAH TANGGA)

HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN

(Silahkan dibandingkan dengan Paraturan atau ART HKBP 2002. Jika lebih buruk, lupakan saja konsep ini. Jika jauh lebih baik, mari diskusikan bagaimana menyempurnakan dan mewujudkannya menjadi kenyataan.)

BAGIAN PERTAMA

BAB I

JEMAAT (HURIA)

Pasal 1

PEMBENTUKAN POS PERIBADAHAN (PARMINGGUAN)


1. Beberapa orang anggota HKBP yang tinggal di suatu wilayah tertentu dimana belum ada gereja HKBP dapat mendirikan pos peribadahan (parmingguan) HKBP dengan syarat sebagai-berikut:

1.1. Ada keinginan untuk mendirikan jemaat HKBP
yang dituangkan dalam surat kepada Majelis Jemaat HKBP terdekat.

1.2. Ada tempat menetap untuk melaksanakan kebaktian minggu

1.3. Ada sekurang-kurangnya 3(tiga) orang anggota dewasa yang bersedia dilatih menjadi pelayan di pos peribadahan tersebut.

1.4. Ada persetujuan Majelis Jemaat HKBP yang terdekat untuk menjadi penanggungjawab dan pengasuh pos peribadahan (parmingguan) tersebut.

Pasal 2

PEMBENTUKAN JEMAAT (HURIA)


1. Syarat-syarat pendewasaan pos peribadahan
(parmingguan) menjadi jemaat dewasa (huria).

1.1. Mempunyai
motivasi yang benar dan sehat berdasarkan iman kristiani.

1.2. Mempunyai
kemampuan mengatur diri sendiri sebagai jemaat berdasarkan Alkitab, Pengakuan
Iman HKBP, Tata Gereja dan Tata Laksana HKBP serta Hukum Penggembalaan HKBP.

1.3. Mempunyai
jumlah anggota sekurang-kurangnya 100 (seratus) orang dewasa dan atau 50 (lima
puluh) kepala keluarga.

1.4. Mempunyai
jumlah anggota dewasa sekurang-kurangnya 7 (tujuh) orang yang bersedia dan
mampu menjadi sintua.

1.5 Mempunyai
kemampuan keuangan gereja untuk melaksanakan program-program jemaat dan
mencukupi kebutuhan biaya hidup pendeta jemaat yang bersangkutan berdasarkan
peraturan Sinode yang berlaku.

1.6. Ada
tempat ibadah menetap yang dapat dipakai setiap hari Minggu dan hari-hari
lainnya.

1.7. Ada
surat pernyataan yang ditandatangani oleh semua anggota HKBP yang sudah sidi
yang menyatakan bahwa mereka bersedia tunduk kepada Pengakuan Iman, Tata Gereja
dan Tata Laksana HKBP dan Hukum Penggembalaan HKBP.

2. Prosedur
Pendewasaan pos peribadahan menjadi jemaat:

2.1. Majelis
Jemaat yang menaungi pos peribadahan mengkaji dan memutuskan kelayakan
pendewasaan pos peribadahan tersebut untuk menjadi jemaat (huria).

2.2. Pos
peribadahan yang akan didewasakan diberi kesempatan menjalani masa persiapan
atau latihan pemandirian (marguru manjae) sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun.

2.3. Persiapan
atau pemandirian mencakup kemampuan:

2.3.1. melaksanakan
tugas panggilan gerejawi

2.3.2. pengorganisasian
gereja

2.3.3. pemeliharaan
harta benda gereja atau penatalayanan

 

2.4. Jika
masa persiapan atau latihan pemandirian sebagaimana tersebut dalam ayat 2.3. sudah dipenuhi dan Majelis
Jemaat memutuskan pos peribadahan tersebut layak didewasakan, maka Majelis
Jemaat yang bertanggungjawab atas pos peribadahan tersebut menyampaikan rencana
pendewasaan pos peribadahan tersebut kepada Majelis Distrik.

2.5. Setelah
Majelis Distrik membahas rencana pendewasaan pos peribadahan tersebut, maka
Majelis Distrik mengutus Tim untuk mengadakan penilaian terhadap pos
peribadahan yang akan didewasakan, selanjutnya melaporkan ke rapat Majelis
Distrik setelah pelaksanaan tugas tersebut.

2.6. Sidang
Majelis Distrik membahas laporan Tim untuk menyetujui atau tidak menyetujui.

2.7. Apabila sidang menyetujui rencana
pendewasaan sebagaimana yang dilaporkan Tim, maka Majelis Distrik melaporkan
kepada Majelis Pusat tentang peresmian jemaat (huria) baru tersebut.
Selanjutnya Majelis Distrik memimpin kebaktian peresmian jemaat baru tersebut
pada kebaktian hari Minggu.

2.8.` Majelis
Distrik menginformasikan peresmian huria baru tersebut kepada jemaat-jemaat
HKBP di wilayahnya dan lembaga-lembaga
lain yang dipandang perlu.

Pasal 3

ANGGOTA JEMAAT

1. Anggota jemaat HKBP adalah:

1.1. Orang yang dibaptis di HKBP dan tercatat dalam
Buku Induk (Buku Bolon) jemaat yang bersangkutan.

1.2. Orang yang pindah dari jemaat HKBP atau gereja
lain. Pelaksanaan penerimaan anggota yang datang dari jemaat HKBP lain atau
gereja lain diatur sebagai berikut:


2. Anggota yang pindah dari jemaat HKBP lain diterima dengan surat keterangan pindah
(atestasi) dan diwartakan dalam kebaktian hari Minggu dua minggu
berturut-turut.


3. Anggota yang pindah dari gereja anggota PGI
diterima dengan surat keterangan pindah (atestasi) dan diwartakan dalam
kebaktian hari Minggu dua minggu berturut-turut.


4. Anggota yang pindah dari gereja bukan anggota
PGI diterima menjadi anggota gereja HKBP dengan ketentuan terlebih dahulu diadakan percakapan dengan Majelis
Jemaat tentang Konfesi dan Konstitusi HKBP. Penerimaan diwartakan dalam
kebaktian minggu dua minggu berturut-turut.


5. Seorang anggota gereja yang ingin menjadi
anggota jemaat HKBP padahal tidak mendapat atestasi dari jemaat HKBP lain atau
gereja asalnya, dapat diterima menjadi anggota HKBP dengan ketentuan sebagai
berikut:

5.1. Orang yang bersangkutan membuat surat permohonan
kepada Majelis Jemaat yang dituju, yang juga berisi pernyataan atas kehendak
sendiri ingin menjadi warga gereja HKBP yang tembusannya disampaikan ke gereja
asal.

5.2. Majelis Jemaat mengadakan percakapan pastoral
dengan yang bersangkutan untuk memutuskan menerima atau menolak permohonannya
itu. Apabila permohonan diterima maka penerimaan dengan surat permohonan (tanpa
atestasi) diumumkan dalam warta jemaat dua minggu berturut-turut.


6. Semua anggota yang pindah dari jemaat HKBP
lain atau gereja lain dicatat dalam Buku Induk (Buku Bolon) dan buku jemaat
yang pindah (Buku Ruas na pinda).

7. Anggota jemaat titipan adalah seorang anggota
jemaat HKBP lain atau gereja lain yang menetap di wilayah dekat jemaat HKBP
bersangkutan dengan membawa surat penitipan dari jemaat HKBP lain atau gereja
asalnya. Orang tersebut mendapat perlakuan sama dengan anggota jemaat HKBP baik
dalam tanggung jawab, hak, maupun kewajiban. Apabila ia kembali ke jemaat atau gereja
asalnya, maka jemaat HKBP yang mendapatkan penitipan memberikan surat
penyerahan kembali anggota titipan tersebut ke jemaat HKBP atau gereja asal yang bersangkutan.

2. Hak dan kewajiban anggota:

2.1. Hak anggota:

2.1.1. mendapatkan seluruh pelayanan yang
diselenggarakan oleh HKBP, yaitu: pelayanan kotbah, pendidikan, konseling, diakonia,
surat-menyurat serta hal-hal lain.

2.1.2. hadir dan berperan dalam kegiatan-kegiatan
yang diperuntukkan bagi anggota jemaat.

2.1.3. dipilih menjadi utusan-utusan HKBP dari
kategori anggota jemaat ke forum-forum ekumenis lokal, regional, nasional
maupun internasional.

2.1.4. dipilih menjadi sintua

2.1.5. mendapatkan informasi tentang keputusan
Majelis Jemaat yang tidak bersifat rahasia jabatan gerejawi.


2.2. Kewajiban anggota:

2.2.1. Mentaati Alkitab, Pengakuan Iman HKBP, Tata
Gereja dan Tata Laksana HKBP, serta Hukum Penggembalaan HKBP.

2.2.2. Menghayati kehidupan etis dan moral kristiani dalam
hidup sehari-hari.

2.2.3. Mengikuti ibadah-ibadah yang dijalankan oleh
HKBP

2.2.4. Melibatkan diri dalam pelayanan HKBP

2.2.5. Membantu dana HKBP melalui persembahan

BAB II

Pasal 3

MAJELIS JEMAAT

1. Keanggotaan:

1.1. Pendeta yang menerima Surat Keputusan dari
Eforus HKBP untuk melayani di jemaat yang bersangkutan.

1.2. Guru jemaat yang menerima Surat Keputusan dari Eforus HKBP untuk melayani di
jemaat yang bersangkutan.

1.3. Diakon/diakones yang menerima Surat Keputusan
dari Eforus HKBP untuk melayani di jemaat yang bersangkutan.

1.4. Pendeta, guru jemaat, diakon/diakones HKBP
yang menerima Surat Keputusan dari Eforus HKBP untuk bekerja di pelayanan umum,
badan ekumenis, pemerintahan, atau menerima SK untuk tugas belajar, yang
bertempat tinggal di sekitar jemaat tersebut dan terdaftar sebagai anggota
jemaat tersebut.

1.5. Penatua yang dipilih secara periodik.

1.6. Ketua-ketua seksi dan komisi/ panitia

1.7. Bendahara Jemaat.

2. Tugas dan wewenang:

2.1. Bertanggungjawab kepada Majelis Distrik.

2.2. Mendampingi dan membantu pendeta jemaat
melakukan seluruh tugas-tugas gerejawi untuk mewujudkan visi dan misi HKBP.

2.3. Menyusun Rencana Kerja Empat Tahun (REKEMTA)
Jemaat untuk dibawa dan disahkan oleh Rapat Jemaat.

2.4. Menyusun Rencana Kerja dan Rencana Anggaran
Tahunan untuk dibawa dan disahkan oleh Rapat Jemaat.

2.5. Mengkoordinir pelaksanaan program kerja dan
anggaran tahunan yang sudah diputuskan oleh Rapat Jemaat dan melaporkannya
kepada Rapat Jemaat.

2.6. Memilih dan menetapkan Sekertaris dan Bendahara Jemaat.

2.7. Memilih dan menetapkan Ketua dan Wakil Ketua
Dewan.

2.8. Mengesahkan kepengurusan Komisi dan Seksi dan
Panitia.

2.9. Mengusulkan nama-nama Ketua dan anggota Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) Jemaat untuk ditetapkan oleh Rapat Jemaat.

2.10. Memilih utusan-utusan jemaat mengikuti
kegiatan atau menjadi perwakilan di distrik dan pusat.

2.11. Memilih utusan-utusan jemaat mengikuti
kegiatan ekumenis atau masyarakat.

2.12. Memilih dan mengangkat Guru Sekolah Minggu,
Tim Pembina Remaja dan Tim Pembina Pemuda.

2.13. Menyeleksi dan memberi izin bagi tenaga-tenaga pelayan/ pengkotbah/ pembina
yang datang dari luar HKBP untuk melayani di jemaat.

2.14. Mengadakan perlawatan/ perkunjungan bagi
anggota jemaat yang sakit, miskin, berduka, atau menjauh dari kehidupan gereja.

Pasal 8 Sintua

1. Syarat-syarat:

1.1. Anggota
jemaat yang telah sidi dan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun menjadi anggota di
jemaat HKBP setempat serta tidak berada dalam status dihukum oleh gereja atau
negara.

1.2. Bertempat
tinggal dan memiliki kehidupan sehari-hari yang memungkinkan yang bersangkutan untuk
melaksanakan tugas sebagai penatua

1.3. Memiliki
pengetahuan dan ketaatan kepada Alkitab, Pengakuan Iman HKBP, Tata Gereja dan Tata Laksana HKBP dan Hukum Penggembalaan HKBP.

1.4. Memiliki
kepribadian yang baik.

1.5. Bersedia
dan mampu memegang rahasia jabatan.

1.6. Mau
dan mampu bekerjasama dengan orang lain.

1.7. Laki-laki
atau perempuan, menikah atau tidak menikah, berusia sekurang-kurangnya 21 tahun
dan maksimal 61 tahun saat terpilih.

2. Pencalonan, pemilihan dan penetapan sintua

2.1. Selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sebelum
berakhirnya periode kesintuaan (hasintuaon) HKBP di tingkat jemaat, Majelis
Jemaat mengumumkan melalui warta jemaat agar tiap-tiap wijk atau wilayah
pelayanan bergumul dalam doa dan mengadakan rapat wijk mengusulkan nama-nama
calon sintua dari wilayahnya sesuai dengan kriteria yang tertera dalam pasal 1
di atas. Setiap wijk mengusulkan lebih dari satu calon penatua.

2.2. Rapat wilayah atau wijk untuk pemilihan
dilakukan secara serempak dan diwartakan melalui warta jemaat dua minggu
berturut-turut dan dipimpin oleh anggota majelis yang bertugas di wilayah
tersebut.

2.3. Hasil keputusan rapat wijk atau wilayah
disampaikan kepada Majelis Jemaat. Lantas
nama-nama calon sintua tersebut diwartakan dalam kebaktian hari Minggu 2 (dua)
minggu berturut-turut. Jika tidak ada keberatan yang sah dari anggota jemaat
maka Majelis Jemaat menetapkan calon sintua yang terpilih untuk mengikuti katekisasi
menjadi penatua.

2.4. Apabila cara pemilihan seperti yang dimaksud
dalam ayat 2.1. s/d 2.3. di atas tidak dapat dilaksanakan, maka dengan
persetujuan Majelis Distrik penetapan sintua diatur sebagai berikut:

2.4.1. Setelah nama–nama calon sintua yang dihubungi oleh
Majelis Jemaat menyatakan kesediaannya, maka Majelis Jemaat menetapkan nama
calon sintua tersebut sesuai dengan
kebutuhan, dan diwartakan dalam kebaktian hari Minggu 2 (dua) minggu
berturut-turut. Dalam warta tersebut ditetapkan juga rencana hari dan tanggal
peneguhan ke dalam jabatan sintua.

2.4.2. Warga Jemaat dipersilahkan mempergumulkan
dalam doa dan mempertimbangkan kelayakan dari calon sintua tersebut. Jika tidak
ada keberatan yang sah maka calon penatua tersebut diundang mengikuti
katekisasi menjadi sintua.

2.5. Seluruh calon sintua terpilih diwajibkan
mengikuti katekisasi menjadi sintua yang dipimpin oleh pendeta jemaat. Penatua
yang tidak mengikuti katekisasi atau tidak lulus dalam katekisasi dinyatakan
batal menjadi calon sintua.

2.6. Peneguhan ke dalam jabatan sintua dilaksanakan
dalam kebaktian dengan menggunakan Agenda Ibadah HKBP. Dalam kebaktian
peneguhan tersebut dilakukan penandatanganan pernyataan sintua yang berisi
janji setia kepada Alkitab, Pengakuan Iman HKBP, Tata Gereja dan Tata Laksana
HKBP serta Hukum Penggembalaan HKBP.

3. Tugas
Sintua:

3.1. Membantu
pendeta jemaat melaksanakan tugas panggilan gereja.

3.2. Memelihara
kerohanian anggota jemaat secara khusus di wilayahnya.

3.3. Membantu Pendeta memimpin ibadah, berkotbah
dan melakukan kegiatan diskusi Pemahaman Alkitab.

3.4. Menghadiri
Sermon dan Rapat-rapat Majelis Jemaat

3.5. Melakukan
perkunjungan atau visitasi jemaat

3.6. Memberikan
perhatian khusus kepada bidang pelayanan yang ditugaskan oleh Rapat Majelis
Jemaat kepada yang bersangkutan.

4. Masa
Jabatan Sintua.

4.1. Masa
jabatan sintua dalam satu periode adalah tiga tahun. Seorang dapat menjabat
sebagai sintua sebanyak-banyaknya dua periode berturut-turut dan dapat
diusulkan lagi menjadi sintua setelah tidak menjabat sekurang-kurangnya selama 2(dua)
tahun.

4.2. Peletakan
jabatan sintua yang berakhir masa jabatannya dilakukan dalam kebaktian hari
Minggu, dengan menggunakan Agenda Ibadah HKBP.

 

4.3. Jabatan
sintua dapat tanggal sebelum masa
jabatannya berakhir karena:

4.3.1. Pindah
menjadi anggota gereja lain atau menerima jabatan dari gereja lain.

4.3.2. Bekerja
di luar kota atau memiliki pekerjaan atau keadaan sedemikian sehingga tidak
dapat melakukan pelayanannya dengan baik

4.3.3. Sengaja
tidak aktif melaksanakan tugas sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan.

4.3.4. Berada
dalam hukuman gereja atau hukuman tetap oleh negara.

4.3.5. Sakit
sehingga tidak dapat melanjutkan pelayanannya.

4.3.6. Mengundurkan
diri dengan alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan.

4.3.7. Meninggal dunia.

4.4. Penanggalan
jabatan dilakukan dalam Rapat Majelis
Jemaat dan dilaporkan kepada Majelis Distrik.

Pasal 9 Badan Pekerja Harian (BPH) Majelis
Jemaat

1. Badan
Pekerja Harian (BPH) Majelis Jemaat adalah organ untuk membantu Majelis Jemaat
melakukan tugas-tugasnya.

2. Badan
Pekerja Harian (BPH) Majelis Jemaat diketuai oleh Pendeta Jemaat. Bila di suatu
jemaat tidak ada pendeta maka Badan Pekerja Harian (BPH) dipimpin oleh seorang
penatua yang dipilih oleh Majelis Jemaat.


3. Keanggotaan Badan Pekerja Harian (BPH) Majelis
Jemaat adalah:

3.1. Pendeta Jemaat

3.2. Sekertaris

3.3. Bendahara

3.4. Ketua Dewan Persekutuan dan Peribadahan

3.5. Ketua Dewan Pelayanan dan Kesaksian

3.6. Ketua Dewan Pendidikan/ Katekisasi

3.7. Ketua Majelis Penatalayanan

4. Tugas BPH:

4.1. Melaksanakan keputusan-keputusan Majelis
Jemaat dan memimpin jemaat sehari-hari.

4.2. Mengkoordinir pelaksanaan tugas dewan, seksi,
komisi dan unit-unit lain dalam jemaat serta melaporkannya kepada Rapat Majelis
Jemaat.

4.3. Menyusun bahan-bahan agenda Rapat Majelis
Jemaat.

4.4. Membahas masalah-masalah yang penting dalam
jemaat untuk dibawa ke Rapat Majelis Jemaat.

Pasal 10 Pendeta Jemaat/ Huria

1. Pendeta jemaat (pandita huria) adalah
pendeta HKBP yang menerima SK dari Ephorus untuk memimpin jemaat/ huria
tertentu.

2.
Tugas dan Wewenang

2.1. Bertanggungjawab kepada Praeses.

2.2. Membuat laporan berkala tentang pelaksanaan
tugasnya, statistik dan keadaan keuangan jemaat, kepada Praeses sekali dalam
enam bulan dan di akhir masa jabatannya. Salinan laporan disampaikan kepada Eforus.

2.3. Bersama-sama Majelis Jemaat memimpin,
mengkoordinir dan mengarahkan seluruh jemaat untuk mewujudkan visi dan misi
HKBP.

2.4. Menyampaikan kotbah dan memimpin Penelaahan
Alkitab

2.5. Melayankan Babtisan Kudus dan Perjamuan Kudus

2.6. Memimpin katekisasi sidi

2.7. Memimpin katekisasi pernikahan

2.8. Melengkapi dan membekali para penatua agar
dapat membantu pendeta melayani jemaat.

2.9. Memimpin Rapat-rapat Majelis Jemaat.

2.10. Melayani Ibadah Pemberkatan Nikah.

2.11. Melayani konseling.

2.12. Memimpin Sermon Guru Sekolah Minggu Tim
Pembina Remaja dan Tim Pembina Pemuda agar dapat melakukan pembinaan sesuai
dengan ajaran HKBP.

2.13. Memimpin katekisasi calon sintua.

2.14. Mengambil keputusan terakhir menyangkut ajaran
atau dogma dan melaporkannya kepada Praeses.

2.15. Mengingatkan Sekertaris dan Bendahara Jemaat
untuk melaksanakan kewajiban Jemaat kepada Distrik dan Pusat HKBP.

2.16. Memberikan persetujuan terhadap konsep warta
jemaat yang dipersiapkan oleh Sekretaris Huria.

2.17. Memberikan persetujuan kepada konsep laporan
keuangan mingguan yang dipersiapkan oleh Bendahara Huria dan telah diperiksa
oleh Majelis Penatalayanan (Parartaon).

2.18. Menandatangani cek bersama-sama Bendahara dan
atau Ketua Majelis Penatalayanan.

2.19. Menerima pertanggungan jawab Bendahara dan
Sekertaris, Majelis Penatalayanan, dan Ketua-ketua Dewan serta Badan
Pembangunan.

Pasal 12 Sekertaris Jemaat/ Huria

1. Sekertaris
Huria adalah seorang sintua atau seorang anggota jemaat yang dipilih oleh Rapat
Majelis Jemaat untuk mengerjakan tugas-tugas kesekretariatan dan memimpin
Kantor Gereja.


2. Tugas dan Wewenang

2.1. Bertanggungjawab kepada Pendeta Jemaat.

2.2. Melaksanakan administrasi jemaat yang rapih
dan baik sebagaimana diatur oleh Majelis Pusat HKBP yaitu:

2.2.1. Buku Besar
2.2.2.Buku Anggota lahir
2.2.3. Buku Anggota babtis
2.2.4. Buku Anggota Sidi
2.2.5. Buku Anggota akad nikah
2.2.6. Buku Anggota baru
2.2.7. Buku Anggota pindah
2.2.8. Buku Anggota kena Hukum Penggembalaan
2.2.9. Buku Anggota meninggal dunia
2.2.10. Buku Warta Jemaat.


2.3. Mempersiapkan konsep surat-menyurat, mencatat
dan menyimpan surat masuk serta mencatat dan menyimpan salinan surat keluar,
petikan Surat Keputusan.

2.4. Mempersiapkan bahan-bahan dan alat-alat yang
diperlukan Rapat Majelis dan Rapat Jemaat.

2.5. Mengkoordinir pelaksanaan tugas pegawai gereja
(tata usaha, kebersihan, dapur, keamanan, kurir dll).

2.6. Membuat konsep warta jemaat dan
menggandakannya setelah disetujui oleh pendeta jemaat atau ditunjuk untuk melakukan
tugas tersebut.

2.7. Memelihara dan membaharui basis data (database)
jemaat secara berkala.


3. Periode sekertaris adalah 4 (empat) tahun
dan sesudahnya dan dapat dipilih kembali maksimal dua kali berturut-turut.


4. Syarat menjadi Sekertaris Huria

4.1. Berpendidikan
minimal SLTA
4.2. Berusia
minimal 30 tahun dan maksimal 60 tahun sewaktu dipilih
4.3. Berbadan
dan berjiwa sehat
4.4. Memiliki
integritas atau dapat dipercaya serta dapat menjaga rahasia
4.5. Mempunyai
kemauan dan kemampuan bekerjasama
4.6. Memiliki
pengetahuan kesekretariatan
4.7. Rajin,
jujur dan cermat


Pasal 13 Bendahara Jemaat

1. Yang disebut Bendahara Jemaat adalah seorang
anggota jemaat yang ditetapkan oleh Majelis Jemaat untuk melaksanakan tugas dan
wewenang kebendaharaan.

2. Tugas dan wewenang:

2.1. Bertanggungjawab kepada pendeta jemaat.

2.2. Memikirkan usaha-usaha mendatangkan dan
menghimpun dana untuk jemaat.

2.3. Menyimpan uang jemaat di bank tertentu yang
ditetapkan melalui Rapat Jemaat.

2.4. Menyimpan uang dalam jumlah terbatas, sesuai
dengan keputusan Rapat Majelis Jemaat, di brankas di Kantor Gereja sebagai kas
kecil.

2.5. Mengeluarkan uang sesuai dengan program yang
sudah ditetapkan oleh Rapat Jemaat dengan sepengetahuan Pendeta Jemaat dan
setelah diverifikasi oleh Ketua Departemen Penatalayanan atau yang ditunjuk
untuk melakukan tugas verifikasi tersebut.

2.6. Membayarkan gaji pejabat gerejawi purna waktu,
honor-honor atau biaya-biaya transportasi pelayan sesuai dengan ketentuan yang
ada dan pada waktu yang ditetapkan.

2.7. Membuat laporan keuangan (penerimaan dan
pengeluaran) uang secara tertulis dan rinci setiap minggu dalam Warta Jemaat.

2.8. Membuat laporan keuangan secara tertulis dan rinci setiap
bulan kepada Majelis Jemaat untuk dimasukkan ke dalam warta jemaat. Laporan
telah diperiksa dan disetujui dan disahkan oleh BPK.

2.9. Membuat laporan keuangan secara tertulis dan
rinci setiap akhir tahun kepada Majelis Jemaat untuk dimasukkan ke dalam warta
jemaat. Laporan keuangan tahunan telah
diperiksa dan disetujui serta disahkan oleh BPK.

2.10. Membuat laporan keuangan secara tertulis dan
rinci setiap akhir periode kepada Majelis Jemaat untuk diteruskan kepada Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) Jemaat. Laporan keuangan akhir periode yang telah
diperiksa oleh BPK dibawa ke dalam Rapat
Jemaat untuk disahkan.

2.11. Menyimpan surat-surat berharga di bank.

2.12. Menandatangani cek bersama-sama dengan pendeta
Jemaat dan atau Ketua Majelis Penatalayanan.

3. Periode
bendahara adalah 4 (empat) tahun dan hanya dapat dipilih maksimal dua periode.

4. Syarat menjadi Bendahara Huria

4.1. Berpendidikan
minimal SLTA
4.2. Berusia
minimal 30 tahun dan maksimal 60 tahun sewaktu dipilih
4.3. Berbadan
dan berjiwa sehat
4.4. Memiliki
integritas atau dapat dipercaya
4.5. Memiliki
pengetahuan dan ketrampilan dibidang keuangan
4.5. Mempunyai
kemauan dan kemampuan bekerjasama

5. Dalam
melaksanakan tugasnya Bendahara wajib dibantu oleh seorang tenaga pemegang buku
dan seorang juru bayar (kasir). Pemegang buku dan juru bayar (kasir) diangkat
oleh Majelis Jemaat.

Pasal 17 Majelis Penatalayanan (Parartaon)

1. Majelis Penatalayanan adalah organ untuk
membantu Majelis Jemaat melaksanakan tugas-tugas gerejawi dibidang penatalayanan
(stewardship) untuk mewujudkan visi dan misi HKBP.

2. Majelis Penatalayanan beranggotakan
sedikit-dikitnya 3(tiga) orang sintua dan dipimpin oleh seorang Ketua.

3. Tugas dan wewenang:

3.1. Bertanggungjawab kepada pendeta jemaat

3.2. Membentuk tim untuk menyusun draft atau
prakonsep Rencana Kerja Tahun (REKEMTA) jemaat untuk diajukan kepada Majelis
Jemaat untuk diteruskan kepada Rapat Jemaat guna disahkan sebagai Program Kerja
Empat Tahun (PROKEMTA) Jemaat.

3.3. Menyusun draft atau prakonsep Rencana
Program dan Anggaran Tahunan Jemaat untuk diajukan kepada Majelis Jemaat untuk
diteruskan kepada Rapat Jemaat guna disahkan sebagai Program Pelayanan dan Anggaran Tahunan.

3.4. Bekerjasama
dengan unit-unit lainnya menyusun konsep aturan-aturan setempat,
pedoman-pedoman kerja dan petunjuk teknis masing-masing unit, sesuai dengan
Tata Gereja dan Tata Laksana HKBP untuk diajukan kepada Majelis agar ditetapkan
prosedur jemaat setempat.

3.5. Membuat daftar inventaris jemaat untuk diserahkan kepada Majelis Jemaat. Daftar
inventaris jemaat disusun menurut:
3.5.1. Jenis barangnya
3.5.2. lokasi/ ruang penempatannya
3.5.3. pengelola atau penanggungjawabnya
3.5.4. tahun pembeliannya.

3.6. Mengecek kondisi inventaris jemaat dan
membuat laporannya minimal sekali enam bulan.

3.7. Memberikan rekomendasi kepada Seksi
Pengadan Barang atas pengajuan pembelian barang inventaris oleh unit lainnya.

3.8. Memeriksa setiap pengajuan transaksi
penerimaan atau pengeluaran yang dilakukan oleh Bendahara.

3.9. Melakukan
perifikasi terhadap setiap transaksi yang hendak dilakukan Bendahara sesuai
dengan program yang ditetapkan dan prosedur.

3.10.Memeriksa laporan keuangan mingguan dan
laporan keuangan bulanan yang dibuat oleh Bendahara sebelum diserahkan kepada
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) jemaat.

3.11.Melakukan pengawasan kepada kegiatan
keuangan yang dikelola oleh unit-unit lain.


4. Periode Majelis Penatayanan adalah 4 (empat)
tahun dan hanya dapat dipilih maksimal dua periode.

(bersambung)

 

Catatan:

Konsep Tata Laksana HKBP ini disusun sebagai bahan diskusi dan studi. Silahkan diperbanyak dan dibagikan kepada pendeta, penatua dan aktivis gereja masing-masing. Kita berdoa dan bermimpi bahwa suatu saat kelak HKBP akan memiliki Tata Laksana yang benar-benar baik yang mendorong gereja kita bukan saja mengakhiri “sejarah konflik” dan ketegangan yang tidak diperlukan, namun bertumbuh dan maju. Demi kemuliaan TUHAN.

 

Horas HKBP

 

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

 

 

Share on Facebook

2 Responses to KONSEP TATA LAKSANA HKBP

  1. Ch Napitupulu on November 4, 2009 at 6:31 pm

    1. Saya setuju dengan ketentuan periodisasi sintua seperti itu; sehingga sintua tidak otomatis berlanjut, bila perlu dilakukan sejenis asesmen setiap 3 tahun.
    2. Pertanyaan :
    a. Kalau bible vroow itu sepertinya tidak ada tertulis cara pengangkatan dan tugasnya ; apakah disamakan dengan guru huria atau diakones?
    b. Apakah dalam 1 Timotius 3 itu merupakan syarat sintua atau pendeta/guru huria / biblevroow (full timer)?

  2. marsangap siburian on September 17, 2012 at 4:54 pm

    Setuju dgn pasal 8. Dalam memilih murid-muridNya, Tuhan Yesus tidak memandang status seseorang, sudah menikah atau belum. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas di kitab Injil, dimana disana tidak ada kata-kata: Yakobus ama ni aha, Petrus ama ni aha, Yohanes ama ni aha, dll. Melainkan disana tertulis: Yakobus anak Zebedeus, dll.

    Jadi dalam memilih calon sintua, HKBP sebaiknya berguru pada Tuhan Yesus. Bukan kepada pesan Rasul Paulus pada Timotius atau Titus. Mengapa? Sebab TUHAN YESUSLAH YANG MENGHAPUS DOSA-DOSA KITA, bukan rasul Paulus. Dan juga TUHAN YESUSLAH yang mengubah Paulus dari seorang pembunuh besar menjadi penginjil besar.

    Manakah yang lebih baik: Sintua dolidoli manang dolidoli na narkoba on?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*