Yang tergadai Yang ditebus

Almanak Senin 22 Oktober 2007:

Sebab kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang sama seperti darah anak domba yang tak bercacat (1 Pet 1:18-19)

Istilah tebus atau penebusan pada awalnya adalah istilah pergadaian. Tanah warisan atau barang, atau bahkan budak yang sempat digadaikan kepada pihak lain dapat ditebus atau diambil kembali oleh pemilik awal dengan membayar sejumlah uang tebusan.


Alkitab suka melukiskan manusia sebagai hamba yang tergadai kepada tuan dosa, dalam ayat di atas tergadai kepada cara hidup yang sia-sia warisan nenek moyang. Allah menebus manusia dari perhambaan dosa atau dari kesia-siaan hidup itu dengan harga yang sangat mahal, yaitu darah Kristus PutraNya. Di sini sebenarnya Sang Penebus adalah Allah sendiri, sementara Kristus justru menjadi semacam uang tebusannya. Pertanyaan: bagaimanakah seharusnya sikap kita sebagai orang-orang yang terjual kepada dosa namun ditebus oleh Allah dengan harga yang tidak ternilai, yaitu kematian putraNya sendiri?

Tentu saja pertama-tama dan terutama yang harus ada dalam diri kita sebagai orang-orang yang ditebus itu adalah rasa syukur dan terima kasih berikut kerendahan hati kepada Sang Penebus, yaitu Allah. Namun dalam rasa syukur yang penuh kerendahan hati itu juga tersirat kebesaran hati kita betapa berharganya rupanya kita di mata Allah, sehingga Dia rela membayar begitu mahal untuk memiliki kita kembali. Selanjutnya penebusan itu menyadarkan kita pada dasarnya kita adalah milik Allah dan karena itu harus tunduk dan taat kepada Allah. Setelah ditebus kita sekarang adalah hamba Allah dan lantas diangkatNya menjadi anak-anakNya. Selain itu dalam syukur, ketaatan dan kerendahan hati sebagai orang-orang tebusan, kita juga memiliki kebesaran dan kebanggaan: betapa berharganya kita di mata Allah, dan karena itu juga di mata diri kita sendiri dan sesama. Nilai diri dan kemanusiaan kita begitu tinggi, sebab itu hanya bisa ditebus dengan darah Putra tunggal Allah yang kudus dan mulia. Lantas apa lagi yang harus kita takutan atau kuatirkan?

Doa:
Ya Allah, kami bersyukur padaMu sebab Engkau telah menebus kami dari dosa, kejahatan, kesia-siaan hidup dan maut, dengan darah PutraMu. Sungguh kami begitu berharga di mataMu. Engkau menjadikan kami hamba-hamba dan anak-anakMu yang kekasih. Ya Allah penuhilah jiwa dan mulut kami dengan ucapan syukur demi Kristus PutraMu yang telah rela menderita dan mati bagi kami. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *