Jangan Berlagak Orang Besar

Almanak Rabu 26 September 2007:

 

belalang-2.jpg

 

Lebih baik menjadi orang kecil, tapi bekerja untuk diri sendiri, dari pada berlagak orang besar, tetapi kekurangan makan. (Amsal 12:9)

Penampilan apalagi penampilan pertama sangat menentukan kesan bagi yang melihat atau berhubungan dengan kita. Begitulah pendapat para ahli mode dan juga psikologi, dan mungkin kita sepakat mereka benar. Itulah sebabnya para konsultan bisnis atau tenaga penjual berusaha membuat penampilan mereka sedemikian saat berhadapan dengan klien atau calon klien untuk mengesankan diri mereka orang yang dapat dipercaya, handal dan mapan. Itulah sebabnya juga ada nasihat agar pada kencan pertama seorang laki-laki tidak mengenakan jaket kulit hitam agar tidak mengesankan sebagai penjahat tetapi sebaliknya agar wanita politikus memilih warna gaun gelap polos dan menghindari motif kembang-kembang agar tampak sebagai pribadi kuat dan berkarakter. Dan dalam perundingan bisnis dan politik, bukan hanya dalam pakaian, tetapi juga bahasa tubuh dan tutur kata, orang-orang seringkali berusaha tampil sebagai orang besar, mapan, kaya serta berhasil, untuk dapat dipercaya sebagai mitra. Bayangkanlah: apa yang terjadi jika seorang mengajukan proposal bisnis milyardan rupiah datang naik bajaj dan pakaian sederhana? Sebab itu Amsal hari ini bukanlah untuk mengomentari pakaian dan gaya seseorang dalam dunia bisnis atau usaha yang mengharuskannya tampil prima, baik dan meyakinkan.

Amsal hari ini sebenarnya hendak mengingatkan kita agar bangga dan bahagia dengan diri, prestasi, pencapaian dan milik kita sendiri, betapa pun kecilnya. Kita diminta sadar dan ikhlas menerima diri sendiri. Jangan mau membohongi diri, berpura-pura menjadi orang lain, apalagi berlagak menjadi orang besar atau orang kaya. Mengapa? Karena menipu diri sangat melelahkan, menegangkan pikiran dan perasaan, dan akhirnya pasti ketahuan dan akibatnya memalukan. Karena berpura-pura menjadi orang kaya, besar dan berkuasa, menghalangi kita menjumpai dan membahagiakan diri kita yang sesungguhnya.

Namun lebih dari itu, amsal hari ini mau mengingatkan kita bahwa kemanusiaan kita, harga diri, harkat dan martabat kita sebenarnya tidaklah tergantung kepada pemilikan materi, jabatan kita di organisasi atau masyarakat, keindahan fisik kita, tetapi kepada kekuatan karakter, kepribadian, dan iman seseorang. Sebab itu tidak ada alasan, dan tidak ada gunanya, menutupi diri dan keadaan kita yang sesungguhnya. Mending kita memperkuat karakter dan kepribadian serta iman kita dan berbahagia dengan segala kondisi yang ada.

Doa:
Ya Allah, bantulah kami menerima diri kami sendiri apa adanya. Kami berbahagia dan berbangga dengan diri, keluarga, prestasi dan pencapaian kami sendiri. Jauhkanlah kami dari godaan untuk berpura-pura, menipu diri, menjadi orang lain. Sebaliknya mampukanlah kami terus-menerus membangun karakter, kepribadian dan iman kami sendiri, yang membuat kami bangga dan bahagia berkepanjangan. Dalam Yesus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *