Kotbah Minggu 23 September 2007
Dasar: 1 Timotius 6:7-11
Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia
dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.
Tetapi mereka yang ingin kaya
terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat
dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa
dan yang mencelakakan,
yang menenggelamkan manusia
ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.
Sebab oleh memburu uanglah
beberapa orang telah menyimpang dari iman
dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Tetapi engkau hai manusia Allah,
jauhilah semuanya itu,
kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan,
kasih, kesabaran dan kelembutan.
UANG DI DUNIA MODEREN
Namun bagi sebagian besar orang termasuk kita, uang bukan saja penting, tetapi terbukti sangat berkuasa. Uang bisa membeli, menciptakan, mengubah, dan menyelesaikan “hampir” semua masalah. Kita mungkin semua tahu pameo khas Batak yang menunjukkan betapa hebatnya uang: Ise do na mangatur nagara on? Hepeng! Siapa yang mengatur negara ini? Uang! Di sebuah negeri yang penuh dengan korupsi dan suap seperti
Lantas bagaimana kita mengartikan ayat di atas?
Tuhan tidak mengharamkan umatnya menjadi kaya-raya, namun Dia tidak menghendaki umatNya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang atau kekayaan itu. Dia sangat mau tahu asal-muasal atau sumber atau cara kita memperoleh uang tersebut.
Satu dari antara Sepuluh Hukum Tuhan (Dasa Titah) adalah: Jangan Mencuri. Perintah itu jelas-jelas merupakan prinsip atau tiang kehidupan yang tidak bisa dilanggar oleh orang Kristen tanpa kecuali termasuk kita hari ini. Allah tahu kita sangat dan sangat butuh uang, tetapi Dia tidak mengijinkan kita memperoleh uang itu dengan melanggar hukum, membuat orang lain menderita, atau malah dengan mencelakakan diri sendiri. Dengan kata lain kebutuhan tidak bisa dijadikan alasan untuk mencuri atau mengambil apa yang bukan menjadi hak dan bagian kita.
Kita sangat sadar bahwa kita sekarang hidup di dunia yang penuh dengan tawaran, godaan dan atau tekanan. Kita sendiri adalah orang berdosa, yang seringkali terlalu lemah melawan niat jahat dalam hati terutama bila ada kesempatan untuk berbuat salah. Banyak orang, sebagian karena sudah menjadi kebiasaan, tidak dapat hidup sederhana, dan karena itu menganggap kekurangan uang sebagai penderitaan terberat yang seolah tidak tertanggungkan. Kita juga sadar bahwa mungkin kita juga mewarisi materialisme atau penghargaan yang berlebihan terhadap kekayaan materi (hamoraon) dari budaya Batak kita. Banyak orang sejak anak-anak terbiasa hidup berfoya-foya dan karena itu selalu lebih besar pasak (pengeluaran) dari tiang (pemasukan). Selain itu jangan-jangan kita juga mendapat ajaran kekristenan yang salah, entah dari mana, yang mengatakan seolah kekayaan adalah otomatis berkat Tuhan. Itulah yang membuat kita seringkali tanpa sadar tidak peka apalagi perduli kepada ajaran Tuhan agar mencari uang dengan baik dan benar.
Salah satu hal yang patut kita waspadai sebagai orang moderen adalah sifat serakah, atau nafsu yang tidak terkendali untuk meraup uang. Penulis Amsal menggambarkan orang semacam itu seperti lintah penghisap darah yang tidak pernah merasa cukup. Orang-orang serakah ini tentu saja tidak mampu menghayati doa yang diajarkan Yesus: “Berilah kami pada hari ini makanan yang secukupnya”.
Penulis Surat Timotius mengingatkan kita bahwa keinginan untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar, secara cepat dan mudah, bisa menggoda kita melakukan kejahatan atau malah jatuh ke dalam berbagai penderitaan. Terlalu banyak contoh yang dapat kita ambil dari kehidupan sehari-hari tentang orang-orang yang menderita dan bahkan akhirnya hancur karena ingin kaya mendadak.
Catatan: korban penipuan berkedok pelipatgandaan uang, menang undian, atau investasi berbunga-bunga, sebagian besar beriman Kristen tetapi yang langsung kehilangan akal sehat, nurani dan imannya ketika digoda oleh tawaran untuk mendapatkan banyak uang dengan cepat dan mudah! Mereka yang hancur dan kehilangan segala harta bendanya karena kalah berjudi sebagian juga beragama Kristen tetapi tidak mampu mengalahkan nafsu berjudi atau gambling. Orang-orang yang terjerat dalam praktek ilegal untuk mendapatkan uang secara cepat (menjual VCD bajakan/ porno, memalsu merek barang, menjual narkotika, memperdagangkan seks dll) sebagian juga Kristen dan Batak serta HKBP pulak!
KEDUA: TUHAN MENGAJAK KITA MENGGUNAKAN UANG KITA DENGAN BAIK DAN BENAR.
Yesus bersabda “dimana hartamu berada di situ hatimu berada”. Artinya: penggunaan uang menunjukkan hati kita sebenarnya. Sebab itu jika ingin tahu isi hati kita yang sebenarnya mari kita memeriksa anggaran pengeluaran kita. Kemana uang itu paling banyak dikeluarkan kesitulah sesungguhnya hati kita tertuju. Contoh: jika kita sangat banyak dihabiskan untuk pendidikan anak-anak itu artinya hati kita memang tertuju kepentingan masa depan anak-anak. Jika uang kita lebih banyak dibelanjakan untuk membeli hiasan keramik daripada buku, itu karena hati kita memang lebih besar kepada keramik dibanding buku. Silahkan teruskan.
(Persembahan perpuluhan sebagaimana tertulis di Maleakhi 3:10 sebenarnya membantu kita untuk mendisiplinkan diri memberikan hati kepada gereja dan Tuhan. Dengan memotong sepersepuluh anggaran kita untuk Tuhan, gereja dan orang miskin, maka kita melatih diri kita memberi hati kita.) Selanjutnya, orang baik cenderung menggunakan uangnya untuk kebaikan. Sebaliknya orang jahat cenderung menggunakan uangnya untuk kejahatan juga. Itu artinya orang yang memiliki uang harus berusaha dan berjuang menjadi orang baik. Selanjutnya: orang yang tidak memiliki uang harus berusaha agar tidak menjadi jahat. Namun lebih dari itu pemerintah dan negara harus sungguh-sungguh membangun suatu sistem ekonomi dan politik agar uang (apalagi dalam jumlah besar) harus jatuh ke tangan orang-orang baik dan bukan para penjahat.
Pada jaman sekarang dikenal apa yang dinamakan kecerdasan finansial. Maksudnya: kemampuan atau ketrampilan dibidang keuangan yang bisa dan harus dipelajari. Orang moderen sadar bahwa semua orang harus belajar bukan hanya mendapatkan tetapi juga mengelola dan mengembangkan uang. Kecerdasan finansial atau “melek uang” itu harus dipelajari sejak dini. Sebab itulah anak-anak harus dididik untuk berdisiplin, berhemat, menabung, mengelola uang mingguan/ bulanan, menghargai uang dan lain-lain agar setelah dewasa benar-benar cerdas dan trampil menggunakannya.
Orang moderen selalu bergumul sengit sebab mereka, dalam lubuk hatinya, menganggap uangnya sebagai upah kerja keras dan prestasinya dan bukan anugerah Tuhan. Jika memang hasil kerja keras, tentu hak mutlak kita mengendalikan uang kita. Namun Alkitab mengatakan: Tuhanlah yang memberi kita modal, kesempatan, kesehatan dan lain2 sehingga kita bisa mendapatkan uang itu. Sebab itu kita harus tunduk dan selalu
bertanya kepada Tuhan termasuk dalam menggunakan uang kita.
KETIGA: TUHAN MENGAJAK KITA MENJADIKAN MEMILIKI ATAU TIDAK MEMILIKI UANG SEBAGAI BERKAT ATAU KESEMPATAN.
Uang bukanlah otomatis berkat Tuhan dan ketidaaan uang juga tidak otomatis merupakan kutuk atau bencana. Memiliki atau tidak memiliki uang tidak otomatis memperbaiki kualitas hidup seseorang. Sebagian orang bertambah baik dengan memiliki uang, namun sebagian orang lagi malah bertambah buruk.
KEEMPAT: TUHAN MENGAJAK KITA MENJADIKAN UANG SEBAGAI HAMBA ATAU ALAT MELAKUKAN KEBAIKAN.
Ini pertanyaan terpenting: bagaimanakah relasi kita dengan uang? Siapakah sebenarnya tuan dan siapakah hamba. Jika uang itu, sadar atau tidak sadar, telah menjadi tuan atau majikan yang mengatur hidup kita maka uang itu akan menjadi tuan yang paling jahat atau kejam. Namun sebaliknya jika kita berhasil menaklukkan uang itu dan menjadikannya sebagai alat atau hamba, maka itu bisa menjadi alat dan hamba yang sangat berguna.
Yesus mengatakan kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan atau majikan. Kita tidak bisa menjadikan Tuhan dan uang sebagai majikan. Kita akan mentaati yang satu dan membenci yang lain. Ketika kita, mungkin tanpa sadar, menjadikan uang sebagai tuan atau majikan kita, maka kita tidak lagi menturuti perintah-perintah Tuhan dan malah melanggarnya demi mengikuti perintah Uang tersebut.
Sebab itulah kita diingatkan bahwa pembinaan karakter melampaui pentingnya pemilikan uang. Hal ini harus sungguh-sungguh kita ajarkan kepada anak-anak kita. Orang yang sungguh2 memiliki karakter tidak akan diperhamba oleh uangnya. Namun pertanyaannya: bagaimana mungkin kita dapat membangun karakter jika yang ada di kepala dan hati kita hanya: uang, uang dan uang?
Dengan bahasa lain: Tuhan tidak mengijinkan kita menjadikan uang sebagai tujuan akhir hidup kita. Mesti ada tujuan lain yang lebih mulia daripada sekadar pemilikan uang itu. Yaitu: keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. (1 Tim 6:11). Ini menantang kita agar berani meninjau nilai tertinggi dalam hidup kita. Apa atau siapakah nilai tertinggi dalam hidup kita? Tuhan atau uang? Kebenaran atau pemilikan uang? Kasih atau kekayaan? Orang yang menjadikan uang sebagai nilai tertinggi tentu akan rela mengorbankan apa saja, termasuk keluarga, iman, cinta demi uang.
Sebaliknya orang yang menganggap keluarga lebih penting dari uang, tentu tidak akan rela hancur keluarganya. Orang yang mengaggap hati nurani lebih berharga daripada uang tentu tidak akan rela mengorbankan nuraninya demi mendapatkan uang. Sebaliknya juga. Bagaimana dengan Saudara dan saya?
Itulah sebabnya penulis
Terakhir sekali baiklah kita catat kata-kata Amsal: ada orang menyebar uang namun bertambah kaya. Namun ada yang menghemat luar biasa namun semakin miskin saja. Orang-orang yang melakukan sebanyak-banyaknya kebaikan dengan uangnya inilah yang dinamakan Yesus mengumpulkan harta di surga, dimana hartanya tidak pernah bisa hilang, lapuk dimakan rayap, atau berkarat. AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Hmmh, jadi inget pepatah dari negeri cina sana amang :
” Money isn’t everything since it can’t buy happines, but there is a Lot of things we can do with it… ”
Ya, memang mesti bijak sana-sini dlm memanfaatkan “berkat” yg sdh Tuhan percayakan kepada kita yah Amang…
Btw, bagaimana menurut amang kita menyikapi kutipan ayat beriut : ” cukupkanlah dirimu dengan apa yg ada padamu ” .. sebab seringkali dlm hidup manusia kan selalu ingin hidupnya ber”kecukupan”…
Salam hangat untuk Amang sekeluarga….
The best lah amang Pandita…
kotbah yang menarik.
uang akar segala macam kejahatan.
menikam dengan kesakitan karena mengejar kekayaan.