Laki-laki dan Perempuan, Bijak & Bertanggungjawablah

September 17, 2007
By

Almanak Selasa 18 September 2007:

Hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang (Titus 2:5)

Alkitab, sebagai buku iman, sumber acuan dan referensi kehidupan, ditujukan dan diperuntukkan bagi semua orang Kristen. Tidak ada bagian Alkitab yang hanya berlaku atau berguna bagi golongan, jenis dan kategori tertentu saja. Kita, saban kali membaca Alkitab, tidak bisa mengatakan ayat ini bukan untukku, atau sebaliknya ini ayat khusus untukku dan bukan untuk orang lain. Mengapa? Sebab Tuhan menyapa dan berfirman kepada semua umatNya. Dalam rangka itu ayat di atas juga bukan spesifik untuk perempuan yang berumah tangga, tetapi untuk kita semua tanpa kecuali: tua-muda, pria-wanita, menikah-tidak menikah.

Kita mengakui teks-teks Alkitab ditulis ribuan tahun lalu, di suatu tahapan perkembangan sejarah dan budaya manusia. Pada jaman itu masyarakat belum sangat sadar atau concern tentang kesetaraan dan keadilan hubungan laki-laki dan perempuan. Yang terakhir seringkali dinomorduakan, dipinggirkan dan dianggap kurang berharga dibanding yang pertama. Dan orang jaman dahulu menganggap sikap itu seharusnya, sepantasnya, bahkan kodrat atau kehendak Ilahi. Kita juga tidak menampik bahwa para penulis Alkitab boleh dikatakan hampir seluruhnya adalah laki-laki, sebab itu sedikit banyak tulisannya juga dipengaruhi oleh pandangan dan kepribadiannya sebagai laki-laki. (Sebab itu dalam penafsiran yang baik kita mesti selalu bertanya: bagaimana jika pesan ini dituliskan oleh seorang perempuan?)

Bagaimanakah jika kita menangkap pesan Alkitab di atas untuk perempuan dan laki-laki? Pertama: kita diminta untuk menjadi manusia yang bijaksana, penuh akal budi dan pertimbangan. Namun sekaligus kudus atau suci. Kata suci memberi bobot kepada kearifan dan kebijaksanaan, sehingga tidak jatuh jadi sekadar sikap kompromistis gampangan. Kedua: kita semua, laki-laki atau perempuan, diminta agar mengurus baik-baik diri kita dan rumah tangga kita (jika kita menikah). Urusan domestik (rumah tangga) adalah kewajiban dan tanggungjawab bersama laki-laki dan perempuan. Ingat dunia moderen hampir tidak lagi mengenal pembagian kerja berdasarkan gender atau jenis kelamin. Ketiga: agar kita menjadi orang baik kepada sesama dan taat kepada Tuhan. Jika kita menikah agar kita saling mengasihi dan menundukkan diri. Bila kita memahami dan menghayati ketiga pesan itu hidup kita tentulah penuh kebahagiaan dan sukacita. Namun ada lagi: nama Tuhan dipermuliakan. Orang luar yang melihat kehidupan pribadi dan keluarga kita terdorong untuk memuji dan membesarkan nama Tuhan kita, dan bukan malah menjelek-jelekknya.

Doa:

Ya Tuhan, Engkau menciptakan kami sebagai manusia laki-laki atau perempuan menurut citraMu. Kami sungguh berharga dan mulia di mata Tuhan. Ajarlah dan mampukanlah kami menjadi pribadi manusia yang benar, bijaksana dan bertanggungjawab. Bantu kami juga bersama-sama membangun relasi-relasi kami di dunia ini. Ya Allah, janganlah jemu-jemu menolong kami membangun rumah tangga kami agar kami sungguh-sungguh bahagia, dan dapat menjadi teladan, inspirasi dan motivasi bagi dunia sekitar kami. Dalam Kristus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*