POS NI UHUR & PUAK YANG GALAU

September 12, 2007
By

rawamangun.JPG

Lagu asal Simalungun berirama mendayu itu begitu populer di pesta-pesta pernikahan adat Batak. Popularitasnya mungkin hanya bisa dikalahkan oleh Poco-poco yang berasal dari Minahasa atau Menado. Judulnya: Pos ni uhur. Namun saya berani bertaruh sebagian besar orang Batak, kecuali yang berasal dari Tanah Simalungun, tidak tahu apa arti judul apalagi syair lagu Pos ni uhur itu. Mayoritas orang hanya menganggap irama lagu itu merdu dan memukau, serta cocok memeriahkan pesta. Titik. Tapi baiklah saya kutip syair pantunnya di bawah sini berikut terjemahannya (yang khusus saya minta kepada Johnly, seorang kawan di milis):

Reff

pos ni uhur mai daboto manadingkon au sononda
rugih iluhku mambur mardingan janji na dob salpu,
(otene boto)

teganya kau ito meninggalkan aku seperti ini
percuma air mataku terbuang mengingat janji yg telah kita buat (iya kan ito?)

Song 1:
nasuan ma timbaho dua gantang sadari (otene boto)
naubah ma parlahou ulang songon sapari (otene boto)

tanamlah tembakau dua gantang satu hari (iya kan ito)
kita ubahlah perilaku jangan seperti yang dulu (ya kan ito)

Song 2:
dalan hu harang gaol bahat bulung ni pisang (o tene boto)
pala pala margaul ulang be namin sirang (o tene boto)

jalan ke harang gaol banyak daun pisang (iya kan ito)
terlanjur bergaul jangan lagi berpisah (iya kan ito)


Membaca lirik lagu Pos ni uhur, mungkin kita dapat segera menyimpulkan itu bukan ungkapan sukacita, tetapi ungkapan lara seorang yang ditinggal pergi kekasihnya. “Teganya kau meninggalkan aku dalam keadaan begini” kata si gadis. “Percuma air mataku tumpah mengingat janji yang telah kita buat“. Saya menafsirkan kesedihan dan kekecewaan luar biasa si gadis ditinggal bisa jadi karena cintanya yang begitu tulus, atau bisa jadi juga keluguannya yang membuat dia terlanjur intim atau malah hamil, atau merasa sudah tua dan sulit “laku”, atau malu. Yang menjadi pertanyaan mengusik pikiran saya: bagaimana mungkin sebuah komunitas Batak bisa menjadikan lagu ungkapan kesedihan ini justru sebagai tembang wajib di pesta pernikahan yang seharusnya penuh tawa-ria dan sukacita?


Ketika saya menceritakan hal ini kepada ibu saya, yang kini berusia 79 tahun, dan sudah lama gusar menyaksikan apa yang dikatakannya sebagai “penyimpangan” atau “pergeseran” adat Batak yang dialaminya di Tanah Batak puluhan tahun silam, responsnya: ini akibat latah. Orang Batak punya penyakit latah, dan kelatahan itu bersifat kronis dan juga genetis (diwariskan). Oala. Mungkin awalnya ada orang yang menyanyikan Pos ni Uhur di pesta pernikahan (tanpa terlalu mau tahu arti syairnya), semua merasa lagu itu merdu, kemudian yang lain mengikut dan mengikut saja, dan akhirnya jadilah lagu lara seorang yang patah hati ini pun sebagai “lagu wajib” di pesta pernikahan. Hal yang sama bisa dilihat dengan lagu Borhat ma Dainang (Pergilah kau putriku) yang juga entah kenapa seolah wajib (tidak bisa tidak) dinyanyikan saat sang mertua menyampaikan ulos hela (= menantu laki-laki. Istilah ulos pengantin sebenarnya bukan terminologi batak) kepada menantu dan putrinya. Padahal menurut saya di jaman maju dan moderen ini pernikahan tidak bisa lagi diartikan sebagai “perpisahan” atau “kepergian”, sebab mereka semua toh masih tinggal sekota dan segereja (atau jangan-jangan masih tinggal serumah dengan orangtua/ mertuanya), dan saban jam bisa telpon-telpon atau sms-sms-an. Lantas kenapa harus bernyanyi : Borhat ma dainang? Emangnya sang putri mau pergi kemana? Tapi berhubung latah atau cenderung mengikut saja hal itu tidak pernah dipertanyakan.


Namun saya berpikir lagi apakah hal ini memang bagian dari sikap ungkapan paradoksal atau malah “kontroversial” Batak. Kita tahu orang Batak di luar tampak kasar namun hatinya sangat sensitif (rapuh?). Batak suka konflik tetapi juga melankolis. Apakah karena itu di pesta pernikahan banyak penyanyi batak tak merasa salah menyanyikan lagu andung-andung atau ratap sedih? Entahlah, saya bingung.
Kebingungan saya itu makin bertambah manakala mengingat lagu Eme ni Simbolon, yang juga sangat populer dinyanyikan di pesta-pesta pernikahan batak mengiringi pemberian ulos kepada pengantin. Lagu berbahasa Batak Toba ini (karena itu tidak ada alasan tak mengerti syairnya) jelas-jelas juga ungkapan hati yang sedih. Lihatlah di bawah ini:


Eme ni Simbolon (inang na lambok malilu)
Gambir ni Simardangiang (inang na lambok malilu)
Tarsingot sidangolon (inang na lambok malilu)
Tu ahu ma sungkun! (o inong, among e!)

Padi Simbolon (oh inang yang baik)
Gambir Simardangiang (oh inang yang baik)
Tentang penderitaan (oh inang yang baik)
Kepadakulah tanya! (oh inang, oh amang!)

Halak marsoban bulu (inang na lambok malilu)
Muba ahu marsoban tolong (inang na lambok malilu)
Sude mauli bulung (inang na lambok malilu)
Muba ahu marsidangolon (oh inong among e!)

Orang lain menggunakan bambu sebagai kayu bakar (oh inang yang baik)
Tetapi aku menggunakan rumput sebagai kayu bakar (oh Inang yang baik)
Semua orang bersenang-senang (oh Inang yang baik)
Tetapi aku menderita (oh inang, oh amang!)


Ai ndada tarhaithon (inang na lambok malilu)
Tagonan ma niponggolhon (inang na lambok malilu)
Ai ndada tartangishon (inang na lambok malilu)
Tagonan ma ni tortorhon (o inong among e)

Kalau tidak bisa dikaitkan (inang yang baik)
Lebih baik dipatahkan saja (inang yang baik)
Kalau tidak bisa lagi ditangisi (inang yang baik)
Lebih baiklah ditarikan saja (oh inang oh amang)


Bagi saya ini sangat menarik didiskusikan. Mengapa komunitas Batak justru menggunakan lagu-lagu bersyair sedih di saat pesta sukacitanya? Mengapa? Syair lagu yang seringkali dinyanyikan keras-keras sambil manortor itu jelas-jelas bertentangan dengan hakikat pesta sukacita itu sendiri. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Sekadar “latah” atau “mode”, atau jangan-jangan ini bisa diindikasikan sebuah ungkapan kegalauan dan kebingungan komunitas Batak itu sendiri. Puak Batak sedang bingung dan galau dengan banyak hal, termasuk memposisikan dirinya sendiri di era global ini, sehingga tanpa sadar mengeluarkan sinyal-sinyal yang bertabrakan dan bertentangan satu sama lain. Tampak sedih di saat gembira dan sebaliknya bisa tampak gembira di saat sedih. Mengungkapkan sukacita dengan kata-kata yang perih. Sebaliknya menyatakan duka dengan kata-kata keras dan terbahak. Ya tetapi tidak. Beda mulut dengan hati, beda lagi perbuatan. Oala anehnya.


Seorang teman saya Untung P Siahaan, yang menjadi pelatih paduan suara ama di Menteng, mengatakan lagu yang tidak dijiwai sebenarnya “tawar” atau “hambar”. Sebab itu dalam festival biasanya penjiwaan memiliki bobot terbesar dalam penilaian. Lantas mengapa banyak orang tidak mau lagi menjiwai lagu dan hanya bernafsu menyanyikannya kuat-kuat (pake mik dengan volume pengeras suara maksimal)? Mengapa orang-orang sama sekali tak kepingin tahu syair lagu, apalagi sejarah dan pesannya, dan hanya ingin menikmati iramanya saja? Saya kuatir, semoga saya salah, bahwa ini bisa jadi sebuah tanda menumpulnya perasaan puak Batak sendiri. Kita telah kehilangan kepekaan kepada lagu dan syair. Ya, mungkin kita memang tidak peka lagi kepada perasaan orang lain. Bahkan jangan-jangan kita tidak tahu lagi perasaan kita sendiri. Yang lebih berbahaya mungkin kita tanpa sadar cenderung mau mengeksploitasi dan memperkosa apa saja apalagi sebuah lagu: ingin mencumbu iramanya tetapi menolak jiwanya. Persis seperti banyak orang moderen yang menginginkan seks minus cinta, materi minus etika, atau kaya minus kerja. Inikah? Entahlah.


Namun seorang teman saya yang lain buru-buru mengingatkan saya agar jangan terlalu serius menanggapi masalah ini. Jaman sekarang ini adalah jaman entertainment dan showbiz. Kata kuncinya: hiburan. Masalahnya sederhana saja, katanya. Orang jaman sekarang apalagi Batak yang terkenal pragmatis tidak mau repot-repot berpikir. Mereka hanya ingin menghibur dirinya. Having fun! Bahasa Batak: asal ma heppi. Mereka tidak mau tahu dengan syair apalagi perasaan si penggubah Poco-poco, Pos ni uhur, Eme ni Simbolon, atau apa saja. Yang penting lagu itu bisa menghibur jiwa yang resah, jenuh dan galau, dan tak kunjung tenteram ini. Capek-capek amat berpikir! Lihat saja infotainment, katanya lagi. Orang jaman sekarang tidak perduli. Berita perceraian, perselingkuhan, aib, penderitaan, atau malapetaka orang lain semua dikemas untuk menghibur penonton. Jika kesedihan penggubah Pos ni uhur atau Eme ni Simbolon bisa menyenangkan hati saya, why not? Saya terdiam lama, dan mengulang-ulang kalimat itu: jika penderitaan orang lain bisa menyenangkan hati saya, kenapa tidak? Saya menggeleng lemah, tapi kehilangan kata-kata untuk mengatakan: tidak!


Horas

Pdt Daniel T.A. Harahap

(yang tak kunjung bisa mengerti kenapa di pesta pernikahan batak orang suka menyanyikan lagu ratapan/ andung-andung) :-)

 

Kembali ke halaman depan:

 

Share on Facebook

25 Responses to POS NI UHUR & PUAK YANG GALAU

  1. 'kori on September 12, 2007 at 9:53 pm

    oala..ternyata artinya begitu to amang?
    saya setuju sama amang Siahaan yang bilang kalo sebenernya orang2 batak kalo nyanyi’in lagu2 tersebut tanpa perasaan,jadinya emang tawar! cuman sekedar dibuat nyanyian rame2an karena iramanya yang dibuat rancak.
    jadinya emang bener yang amang bilang : kesedihan orang lain bisa bikin kita seneng..kenapa tidak?? ya tidak lah!!! orang kita sendiri ga mau kesedihan kita di ketawain sama orang!!
    saya sendiri selama ini kalo denger lagunya juga cuman sekedar gara2 iramanya yang rancak, ternyata artinya…ealah..ngene to???
    saya juga sebenernya agak heran sama kebiasaan orang batak yang nyanyiin lagu borhat ma dainang kalo ada pernikahan,seolah2 mau jauh aja dari ortu. padahal kenyataannya masih sekota aja! dan biasanya (menurut pengalaman kakak2 yang sudah menikah..) pernikahan mereka kadang masih diatur juga sama ortu. saya yakin sih..ortu pasti pengen yang terbaik buat anaknya..cuman dalam konteks lagu ini, jadinya sama aja anaknya ga dilepas. ‘tul ga???

  2. Boyke on September 13, 2007 at 12:52 am

    Hihihihihi…
    Susah juga orang kita ini ya Amang, hanya jago mendengar ya Mang, tapi agak2 kurang kalo menyimak. Coba deh klo nada fals aja, pasti udah menggerutu orang satu gedung.

    xixixixi…

    kalo untuk lagu borhat ma dainang, saya rasa masih cukup relevan dan beralasan Mang. dalam pernikahan contohnya. biar bagaimanpun pernikahan itu menjadi gerbang seseorang untuk mulai “membatasi” dirinya untuk bisa membangun keluarganya sendiri. Tentu ini juga menjadi ajang perpisahan sebagian juga kan mang walau mungkin secara fisik ga misah2 amat. Tapi tetap aja, si orang tua ngga bisa lagi sepenuhnya ikut campur dalam urusan si anak dan si boru.

    cmiw..

  3. -BeaTriX- on September 13, 2007 at 2:08 am

    hai amang….makasih udah bahas tentang lagu pos niuhur….aduh…artinya ternyata begitu yah???

    ntar di pesta pernikahanku aku ga mau ah ada lagu itu….bila perlu aku minta Mom yang ngomong ke Bapak…. ;-)

    Kalo lagu borhat ma dainang….hmmm…..no comment (jarang-jarang suka lagu batak, tapi yang itu lumayan bagus amang…..)hihihi

  4. Elita on September 13, 2007 at 5:12 am

    akuw sih udah tau amang, eh sedikit ngerti deh artinya. taunya di lirik ini “rugi iluku mambur, marningot janji na dung salpo, o tene boto”
    dulu pas nyanyiin ini (hehehe) di kawinan orang (hehehe maap) aku sambil nyanyi sambil mikir “nga sega on sude, ntar dikira gue mantan nih penganten laki yang kecewa berat lageee” huahahaha… sejak itu aku tak mau lagi menyanyikan lagu ini! dibayar sejuta pun… hmmm… mau lah! ga bs lebih? hahahaha

    srius deh, lagu ini enak banget loh dinyanyiin, cengkok2nya gue suka, dan kalo dinyanyiin pake teknik keren loh booo… tapi sudah sukkup aku menyanyikan sekali dikawinan, selebihnya di bathroom ajah! :p

  5. Roulina on September 13, 2007 at 11:56 pm

    puak artinya apa ya Amang??? kalo begitu lagu apa yang cocok dinyanyiin pas pesta pernikahan?

  6. daniel harahap on September 14, 2007 at 12:04 am

    puak = kaum, bangsa
    lagu yang cocok pas pesta pernikahan? apa ya? :-)

  7. santiyoosie on September 16, 2007 at 11:43 pm

    Lagu pos ni uhurmi.. lagu yang sangat saya suka, karena bisa nyanyi kencang sama teman-teman kos waktu sekolah dulu, he.he. tapi pendapat saya memang tidak pantas dibawa dalam Pesta pernikahan, dan lagu Borhat ma Dainang lagu yang membawa kesan tersendiri saat memulai hidup baru… dan saya senang karena saya beranggapan punya arti..selamat tinggal masa lajang… dan akan memulai hidup baru… dengan tidak tergantung sepenuhnya lagu dengan kedua orangtua…. Thank yaa amang untuk Blog-blognya walaupun blms sempat semua saya baca dan renungi.. Tuhan Jesus memberkati amang dan keluarga dan kita semua

  8. Imme on September 17, 2007 at 12:04 am

    Jaman globalisasi ini ,malah lagu “Cucok Rowo” atau “SMS” udah dipake buat mangolusi juga lho!!!
    “Arbab” sama “Marolopolop” udah yang paling pas deh!!!!
    Mungkin ga ya bisa dengar lagu “Truly” nya Lionel Richie waktu diulosi????

  9. uly on September 17, 2007 at 12:27 am

    Sebenarnya masih banyak orang yang memang nggak terlalu memperhatikan lirik dalam sebuah lagu.. dan ini bukan hanya terjadi pada orang batak saja..

    Contohnya di kantor-ku, pada acara silaturahmi yang dihadiri oleh semua karyawan & keluarganya, salah seorang ibu direktur diminta untuk menyumbangkan nyanyiannya, dan dia ternyata menyanyikan lagu “Sepanjang kita masih terus begini.. takkan pernah ada damai bersenandung… dst” tau kan lagunya? ini juga tentang perpisahan.. tapi aku gak tau, apa memang keluarga ibu direktur itu diambang perpisahan? Tapi kok dia menyanyikannya dengan senyum2 bahagia.. belum lagi semua hadirin juga sepertinya bergembira menikmati lagu tersebut sambil ikut menyanyikannya…
    So.. apa memang semua keluarga mau berpisah..?

    Ini lah akibat orang kurang penghayatan.. alias nggak ngerti arti dari sebuah lagu.. arti dari sekumpulan lirik dengan aransemen musiknya.. karena lagu juga adalah sebuah pesan.. ungkapan perasaan.. ekspresi diri..
    Kalo boleh mengutip kalimat dari sebuah iklan di televisi..:
    “MUSIC FOR SOUL… NOT FOR SALE..!!!”

    Horas n mauliate..

  10. Butet Aruan on December 1, 2007 at 5:34 am

    Akupun suka bingung lho Bang, setiap dikawinan Batak pas penganten masuk suka dikasih musik wedding chorus, atau dinyanyiin ave maria, trus di sela-sela pemberian ulos, yg marhata minta diiringi dgn lagu poco-poco, lagu rohani, lagu lain yang bukan dari batak.

    Tapi suamiku melihatnya lain lagi, dibilang batak itu dinamis, tidak takut mengadakan perubahan dan sangat terbuka dgn kebiasaan baru.

  11. Parlindungan Hasibuan on February 13, 2008 at 2:44 pm

    Molo hurimang-rimang tulisan ni amang pandita harahap on, mangihuthon pamingkiriongku, ndang na pola ringkot nian si bahason manang si alusan. Alana, adong sungkun-sungkun dibagasan alai nunga dibahas jala dialusi muse.

    Nang pe songoni, ala sada topik na menarik do isi ni surat on, gabe taronjor do roha laho mangalehon pandapot.

    Mangondolhon tu pengalaman niba pribadi na mangihuthon Pesta-pesta ni hita halak batak, memang nunga tung mansai jot-jot niida manortor mangihuthon logu ni Ende na populer. Malah nuaeng on, na paling ngetop di huta nami, Lagu ni Trio Lamtama i do. Judul na “Anak Medan”. Molo mangihuthon, hata-hata ni Ende i nian, Ende nu “rurang” do i. Alai na las an roha ni halak hita umbegesa jala mamalusa di ulaon-ulaon adat na hohom.

    Sude na i, ndang boi tarpalua sian budaya populer na tung mansai gogo mempengaruhi budaya-budaya tradisi, termasuk budaya ni halak batak. Ndang diida be haringkoton ni lirik, fokus tu logu nama hita. Dia logu na hira-hira mangonai tu roha na, las ima nama dipangido. Ndang adong be sada “pakem” na laho siihuthonon.

    Mansai sulit do mangida hasalahan manang hasintongan ni situasi on, ala ndang adong sada uhum “positip” manang ondolan na boi binahen gabe sada acuan laho memberikan penilaian. Na huiida, ndang boi gabe skeptis hita mamereng perkembangan on, ala na sada budaya (baca : kebiasaan) na ingkon do dinamis, ala nilai-nilai (value) na adong di masyarakat pe nunga godang na muba.

    Inti ni pandapot on : “Ndang na sonang halak hita mamereng halak na susah. Ai panurat ni Ende i pe, na so tontu dope na susa rohana tingki manurathon syair ni Ende i. Na tabo do logu ni Ende i jala pas muse tempo ni logu i tu pangurdot ni simanjojak, tu pangeol ni gonting dohot tu paherbang ni Tangan. Unang pa serius hu hita mamereng permasalahan on, jala gabe tu hubung-hubungkon muse tu “mindset” ni halak batak. Padao hu do i molo laho di-”generalisasi”-hon”.

  12. JP Manalu on February 14, 2008 at 8:02 am

    Mudah-mudahan “sikap” lae P Hasibuan di atas tidak berlaku juga dalam menyanyikan lagu rohani. Misalnya lagu “Mampirlah dengar doaku, Kuberbahagia, dll” (khususnya ciptaan Fanny J Cosby, karena saya pernah membaca riwayat hidupnya). Demikian juga syair-syair lagu yang ada di kidung jemaat dan buku ende. Hemat saya, lagu adalah curahan hati sehingga tidak hanya sekedar dinyanyikan, sehingga sebuah lagu akan lebih bermakna apabila dinyanyikan dengan menghayati lagu melalui “isi” syairnya.
    Saya setuju memang dalam budaya pop sekarang ini, hampir semuanya aspek kehidupan terpengaruh, tetapi hemat saya “kontradiksi” yang terjadi dalam pesta-pesta Batak seperti yang “dipotret” amang Pdt DTA Harahap perlu mendapat perhatian kita bersama.
    Memang ada idiom di orang tua batak jaman dulu yang pernah saya dengar : “Na dila parende”, tapi apa memang betul seperti idiom itu?
    Horas.

  13. O M Simangunsong on February 15, 2008 at 9:54 am

    Salam

    Ada satu lagi lagu ‘anju ma ahu’
    sangat ngetop dikalangan non batak, misalnya saat karaoke saat acara kantor

    ‘….molo adong na sala..
    manang na hurang pambahenanki..
    Sai anju ma ahu, sai anju ma ahu ito hasian
    Sai anju ma ahu, sai anju ma ahu ito na lagu’

    sy selalu berupaya menolak nyanyiin lagu itu.
    Kalo ada orang salah yach minta maaf. Bukannya di ‘anju’. Kalo salahnya berat dan fatal, dihukum/didenda.

    Hal ini sy anggap serius karena, sampai hari ini dalam budaya batak tidak mengenal konsep ‘maaf’. Yg tercermin pada tidak ada kata asli dalam batak yang bermakna ‘memohon pengampunan’ krn melakukan kesalahan (ind=minta maaf, ingg=i’m sorry/appologize)
    Satabi, tidak bisa dikatakan mohon maaf karena artinya ind=permisi, ing=excuse me

    Selaku generasi batak yg lahir diperantauan yang sudah berinteraksi dg budaya lain, hal tsb merupakan kelemahan budaya yg perlu dicarikan penyempurnaannya.

    Kembali ke lagu perkawinan,
    barang kali seniman batak bisa mengadopsi lagu ‘the prayer’ Josh Goban
    agar bisa dinyanyikan pasangan batak.
    Teks inggrisnya di terjemahkan ke bahasa indonesia, teks italinya ke bahasa batak.

    Bosen rasanya liat orang-orang numpang ngetop di acara kawinan dengan sok nyanyi. Kalo mau liat penyanyi mah bisa di tv ato nonton pagelaran.

    Dateng ke kawinan memang diniatkan untuk merestui pasangan penganten, boleh dong mengharapkan sepasang penganten nyanyi (biarin fales, gagap, keringetan etc) ngucapin janji pernikahan dari lubuk hati terdalam dibawah kemurahan Tuhan sesuai lirik lagu tersebut.

    Biarlah jiwaku bernyanyi

  14. ruth silalahi on March 12, 2008 at 12:15 pm

    waow…saya baru tahu…..padahal kalo saya nikah nanti,pengennya lagu wajibnya pos ni uhur….

  15. Keke Lumimuut on May 15, 2008 at 4:18 pm

    Hehehehe……jadi ketawa lagi deh… Itulah kebiasaan orang kita latah…karena irama dan tak mengerti isinya. Padahal yang ngerti bahasa tsb udah senyum2 nkali ya…hihihihi..duhhh…kachian deh kami nihh. Itu kan persis lagu “Poco-poco” ya, lagu “Kumbaya my lord” dan masih banyak lagu yang tak cocok utk disuatu situasi. Pesta kok jadi meratap ya… Sama dengan lagu-lagu Arab. Suatu saat saya dengar lagu disco “techno urban” kok ya di mix dengan lagu Arab “ya Habibi”. Eh..saya jadi curiga, jangan2..jangan..jangan. Maka kutanyalah temanku org Arab, katanya itu artinya “kekasihku”..oppsss..ya..cocok dong ama lagu disconya. Penyanyi lagu “Ya Habibi” itu juga punya lagu2 lain yang lebih romantis percintaan. Sekali waktu saya mainkan di audio system saya, dan temanku perempuan yg muslim nggak sengaja dengar, stlh dia dengar musiknya tanpa tau artinya dan dia bilang dia mau pinjam buat acara sunatan di mesjid, kan berabe…hehehehe. Tertipu dengan alunan musik sementara syairnya “menyesatkan” nggak cocok dgn situasi. Waduh, gimana tuh ya Amang??

  16. inno saragih on May 18, 2008 at 3:07 pm

    wah artinya mang kyk gtu ya lagunya ???? hmmmmm nampak bertolak belakang dengan suasana pernikahan …
    emang iya siey kalo nikah orang batak pasti menangis2……

    pro inno:
    kenapa ya?! pesta gembira kok menangis2 ? :-)

  17. Pieter on May 23, 2008 at 11:25 am

    kenapa ya?! pesta gembira kok menangis2 ?
    jawabannya : tau….deh…ha..ha..ha..
    tapi katanya lagi karena jalan becek…tidak ada ojek….capek deh…..
    he..he..he..

  18. joooo on May 25, 2008 at 11:42 am

    Wah amang Harahap kritis sekali ya….. salut sekaligus setuju sekaligus juga terimakasih sharing ilmunya.

    Tapi kayanya ada 1 lagu yg aku kurang setuju dengan amang… yaitu lagu borhat ma dainang. menurut saya justru dari beberapa lagu yang biasa dimainkan pada saat ulos hela (dah banyak bgt ngikutin pesta adat sebagai kameramen video), lagu itu yg bener2 pas menggambarkan situasi saat itu.
    Dalam adat batak, setelah perempuan resmi menikah (diboyong) maka tanggung jawab orang tua perempuan sudah berpindah.
    Kenapa dalam adat ada acara ulos hela ? karena acara ini sebagai perpisahan dan pelepasan orang tua kepada anak perempuannya makanya paling pas justru lagu borhat ma da inang. Walopun dalam kenyataannya si anak perempuan masih suka kontak dengan orang tuanya tapi secara adat bukan milik orang tuanya lagi. Paling banter ntar-ntar jadi marhobasi doank :P

    Daniel Harahap:
    Pada jaman dahulu seorang perempuan yang menikah memang benar-benar “berangkat” secara lahir dan batin. Di Tanah Batak kampung identik dengan marga. Karena itu seorang perempuan yang menikah memang nyata-nyata meninggalkan kampung marga ayahnya pindah ke kampung marga suaminya, dan tidak ada seorang pun yang dikenalnya di sana. Sebab itu pernikahan pada jaman dahulu memang momen yang sangat menyedihkan bagi perempuan, apalagi diperkuat dengan kultur yang patrinial yang sangat kental yang cenderung menganggap pernikahan sebagai transaksi seorang perempuan. Kini jaman sudah berubah. Bagi orang Batak moderen dan Kristen pernikahan tidak boleh lagi dianggap sebagai “manuhor” atau membeli perempuan. Tetapi perjanjian kasih dan setia dua orang pribadi yang setara. Pernikahan seharusnya menjadi momen yang sangat membahagiakan. Apalagi dengan perubahan demografis, orang Batak telah tinggal di kota majemuk, dan seringkali bertetangga atau bahkan sebagian serumah dengan mertuanya. Lantas: kenapa masih nyanyi borhat ma dainang (pergilah kau gadisku) yang sangat pilu itu? Saat memberikan ulos, kenapa tidak bernyanyi lagu tentang kasih atau kebahagiaan saja? :-)

  19. Dian Matias Saragih on June 5, 2008 at 10:43 pm

    Saya ada usulan ralat dikit tentang lirik lagu “Pos Ni Uhur Mai”.
    Kalau saya lihat, liriknya sedikit bercampur dengan pelafalan kata-kata dalam bahasa Toba.

    Kebetulan kita di masa kecilnya berada di lingkungan di mana lagu ini lahir, jadi kata-katanya ada yang sedikit keliru.

    pos ni uhur mai da botou manadingkon (baca : manadikkon) au sonon da
    rugi iluhku mambur mardingat janji na dob salpu,
    (o’ tene botou/ bukan boto, krn bhs simalungun mengenal vokal rangkap)

    teganya kau ito meninggalkan aku seperti ini
    percuma air mataku terbuang mengingat janji yg telah kita buat (iya kan ito?)

    Song 1:
    nasuan ma timbahou dua gantang (baca : “gattang) sadari (o’tene botou)
    naubah ma parlahou ulang songon sapari (o’tene botou)

    tanamlah tembakau dua gantang satu hari (iya kan ito)
    kita ubahlah perilaku jangan seperti zaman dulu=perilaku yg ketinggalan zaman (ya kan ito)

    Song 2:
    dalan hu harang gaol bahat bulung ni pisang (o tene botou)
    pala pala margaul ulang be namin sirang (o tene botou)

    jalan ke harang gaol banyak daun pisang (iya kan ito)
    terlanjur bergaul jangan lagi berpisah (iya kan ito)

    Comment :
    (1) Lagu “Pos Ni Uhur”, tidak diketahui siapa pengarangnya (NN).
    (2) Bait-bait “nasuan ma timbahou…” dan “dalan hu haranggaol…”
    tidak bisa dijamin bait-bait asli lagu Pos Ni Uhur.
    Adapun bait-bait tsb diambil dari umpasa-umpasa umum
    masyarakat Simalungun, yang ditambahkan ke dalam lagu
    tersebut agar lebih panjang. Sebenarnya antara bait-bait
    tsb tidak ada kaitannya, karena diambil dari umpasa-umpasa
    yang saling terpisah.

    Kami juga sering tambahkan bait-bait lain spt :

    Siganda sigandua, uratni podom-podom (o tene botou)
    Na Sada Gabe Dua, Na tolu gabe onom(o tene botou)
    (akar puteri malu berganda-ganda)
    (yang satu jadi dua, yang tiga jadi enam)
    —-> Agak susah mengartikannya ttp ini ada kaitannya
    dengan “magic number” Simalungun, yaitu “enam”

    Jadi, bagian bait-baitnya tidak asli, yang asli cuman bagian
    refreinnya : “Pos Ni Uhur mai da botou…”


    Daniel Harahap:
    Terima kasih atas koreksinya. :-)

  20. Labora D. Marbun on November 12, 2008 at 10:12 am

    selain nyanyian yang amang contohkan diatas, adalagi menurut saya yang lebih lucu, (lagu ini sering saya dengar dalam acara mangalean tumpak, ketetapan saya pernah tinggal di taman mini, persis di belakang Gedung Pertemuan Sejahtera).

    Mardalan inang da, sikobol-kobol inang da
    da mulbak-ulbak inang da da butuhana
    da mulbak-ulbak inang da da butuhana

    o pio… dstnya.

    untungnya yang hadir di pesta, tidak semua yang memperhatikan lirik lagunya, “holan asal ma girang musikna, nunga hebatb e”.
    (gimana ya kalau yang lagi jalan itu tulangnya atau opungnya??)

  21. Labora D. Marbun on November 12, 2008 at 10:23 am

    untuk O M Mangunsong..
    Dalam bahasa batak “kata Maaf” memang tidak bisa di terjemahkan, karena dalam tradisi leluhur kita sebuah kesalahan bukan untuk dimaafkan tapi untuk di perbaiki. Ini terbukti dari umpasa-umpasa ni opung si jolo-jolo tubu, contohnya
    purpar pe ninna pande dorpi, purpar pe laho tu dimposna,

    artinya kesalahan yang terjadi harus di selesaikan saat itu juga. dan arti manganju bukanlah sekedar memaafkan, akan tetapi lebih kepada mengayomi.
    mauliate.

  22. fabo on February 24, 2009 at 11:09 pm

    horas amang, aku sumbayak (saragih sumbayak)
    memang itu pengertian pos ni uhur
    tapi saya mau membenarkan beberapa kata di liriknya yang selalu salah dipergunakan batak toba, saya yang simalungun dan tau betul masalah bahasa simalungun sedih mendengar kesalahan lirik itu.

    BOTO seharusnya BOTOU
    MARDINGAN seharusnya MARDINGAT
    TIMBAHO seharusnya TIMBAHOU

    diateitupa ma amang

    Daniel Harahap:
    Terima kasih untuk koreksinya. :-)

  23. Rainhard on May 5, 2009 at 8:04 am

    Mantab banget…!! Saya pernah denger artikel di atas dari pendeta yang berkotbah di gereja… Baru tau saya,trnyata diambil dari sini.. Hehehe…

  24. Rahmat Parlindungan Siregar on August 17, 2011 at 8:29 pm

    Horas Harahap…! Horas…Lagu Batak…! Horas hita sude…! Mantap nian uraian pernyataan Iparhanda (Istri saya Br. Hrp) mengenai mengertian lagu “pos ni Uhur”. Sebagai orang Selatan…lama sudah arti lagu ini saya cari dan baru sekarang ketemu. Ipar handa…! yang saya tangkap dari tulisan diatas adalah satu pemaparan fakta pada kehidupan budaya kita secara umum saat ini. Memang Ipar, tak dapat dipungkiri bahwa tujuan setiap orang mendengar suatu lagu bermacam-macam. Secara umum orang banyak bertujuan adalah menghibur, karena itu bagi saya pribadi tidaklah heran jika banyak orang tak terlalu perduli sama makna lagu. Tentunya saya pribadi tidaklah demikian, saya justru lebih menyukai “syair/lirik” lagu tersebut dari pada musiknya. Alasan saya Iparhanda karena dari syair lagu tersebut sungguh banyak pelajaran yang bisa kita peroleh. Iparhanda…! dalam mengisi waktu senggang, saya pernah mengumpul 15 lagu-lagu Batak yang berhubungan dengan “Marpariban/marboru tulang”. Dan dari laggu-lagu tersebut tergambar benar olehku bagaimana sebenarnya marpariban itu atau marborutulang itu dilihat dari sisi budaya batak. Horas Iparhanda. Trims atas adanya blog ini.

  25. manja damanik on January 7, 2012 at 7:19 pm

    bah… selama ni kita pake lagu tu ito… klw setau saya sich… tu cerita marpariban… bgtulah kata omak dulu. salam saya manja damanik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*