Pisau Bernama Kekuasaan

Almanak Rabu 8 Agustus 2007:

Orang menjerit oleh karena banyaknya penindasan, berteriak minta tolong oleh karena kekerasan orang-orang yang berkuasa (Ayub 35:9)

Kekuasaan ibarat pisau. Bisa digunakan untuk hal-hal baik tetapi bisa juga digunakan untuk hal-hal jahat atau bodoh. Di tangan seorang dokter bedah, pisau mendatangkan kesembuhan bagi si pasien, namun di tangan seorang penjahat pisau yang sama bisa dipakai untuk membunuh.

Karena itu pertanyaan adalah untuk apakah kekuasaan itu digunakan oleh seseorang? Pertanyaan lebih lanjut: siapakah orang yang memegang kekuasaan itu? Bila seorang baik dan benar memegang kekuasaan, maka tentulah dia akan didorong untuk menggunakan kekuasaannya menyejahterakan banyak orang. Namun sebaliknya bila seorang jahat dan culas berkuasa, maka pastilah dia akan menggunakan kekuasaannya hanya untuk memperkaya dirinya sendiri sambil menindas orang banyak terutama mereka yang lemah dan kecil. Berhubung Alkitab bukan untuk melihat kesalahan orang lain, namun cermin bagi diri sendiri, tentulah kita harus bertanya: apakah saya orang yang layak memegang kekuasaan? Apakah di tangan saya kekuasaan sekecil apa pun (di bidang politik, ekonomi, budaya atau agama) tidak akan saya selewengkan untuk memperkaya diri secara tidak benar dan menindas orang lain? Alkitab menyaksikan semua manusia berdosa. Artinya semua manusia, siapapun dia, potensial dan berbakat menjadi jahat termasuk menyalahgunakan kekuasaan di tangannya. Sejarah membuktikan apa yang dikatakan

Alkitab benar: dunia penuh dengan pemimpin haus darah, bertindak sewenang-wenang dan berlaku kejam kepada banyak orang terutama yang kecil dan lemah yang mencoba berbeda atau tidak menuruti keinginannya. Sebab itu Alkitab mengajak kita selalu mengkritisi kekuasaan bukan hanya yang sedang dijalankan orang lain, tetapi terutama yang sedang dipegang oleh diri sendiri, sahabat dan saudara, dan anggota kelompok kita sendiri. Kita harus selalu waspada agar tidak menyalahgunakan kekuasaan (betapa pun kecilnya dan apa pun bentuknya) yang dipercayakan kepada kita. Kita bukan hanya dipanggil mengingatkan orang lain, tetapi juga mau diingatkan. Bukan hanya ingin mengkoreksi tetapi juga bersedia dikoreksi. Dengan begitulah kita akan terhindar dari pameo (bila ada kesempatan) si tertindas menjadi penindas, maling berteriak maling, memelototi kesalahan orang lain namun menutup mata kepada kesalahan diri sendiri.


Doa:

Ya Tuhan, ajarlah kami menggunakan seluruh kekuasaan dan kekuatan yang ada pada kami untuk melakukan yang baik dan benar, sesuai dengan hukum dan moral, dan sejalan dengan kehendak Tuhan. Jadikanlah kami murid-murid Kristus yang penuh kasih. Jauhkanlah dari hati kami kekerasan, kebencian dan kedengkian, agar bila memiliki sejumlah kekuasaan maka kami tidak menjadi penindas sesama kami. Terutama, ya Tuhan, ajarlah kami agar selalu kritis dan waspada kepada diri kami sendiri. Dalam Kristus. Amin.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Home: http://rumametmet.com

Share on Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *