Jaksa Penuntut

Almanak Jumat 13 Juli 2007

Jikalau aku mengabaikan hak budakku laki-laki atau perempuan, ketika mereka berperkara dengan aku, apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri; kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepadaNya? (Ayub 31:13-14)

Apakah budak? Budak ialah manusia yang tidak memiliki dirinya sendiri namun dimiliki oleh tuannya. Karena itu budak persis seperti barang atau ternak yang dapat dimiliki, diperjual-belikan, bahkan sering kali diperlakukan seenak tuan atau pemiliknya. Itulah yang terjadi dimana-mana termasuk di negeri kita pada jaman dahulu. Umat TUHAN tidak bisa disangkal pada jaman dahulu banyak yang memiliki budak, bahkan mereka juga pernah menjadi budak di Mesir. Namun kita mencatat bahwa umat Israel ribuan tahun yang lalu telah berusaha mengatur hukum tentang para budak agar mereka tidak diperlakukan sewenang-wenang. Namun lebih dari itu para nabi giat mewartakan bahwa TUHAN sayang dan memperhatikan keluhan para budak yang tidak punya hak itu. Itulah juga yang diimani oleh Ayub. Dia percaya bahwa Tuhan Allahnya justru menjadi Pembela atau Pelindung para budaknya berhadapan dengan Ayub sendiri!

Pada jaman sekarang perbudakan telah dihapuskan (minimal secara legal formal). Semua manusia dianggap oleh konstitusi sebagai manusia bebas. Namun dalam prakteknya banyak orang (terutama buruh, TKW, pembantu rumah tangga, supir, pesuruh dll) yang hidup mirip budak jaman dahulu: tanpa hak dan bisa diperlakukan sewenang-wenang. Kasus-kasus penipuan dan kekerasan yang dilakukan terhadap pembantu rumah tangga dan buruh juga banyak dilakukan oleh tuan dan nyonya kristen yang rajin beribadah, tampak saleh di gereja, dan suka berhaleluya.

Firman hari ini hendak menginspirasi kita. Tuhan, Allah yang kita imani, tidak selamanya di pihak kita orang Kristen. Ketika ketika bertindak tidak adil dan sewenang-wenang kepada orang-orang kecil yang bekerja membantu kita Tuhan Allah yang kita sembah itu justru memilih berhadap-hadapan dan melawan kita. Dia akan menjadi Jaksa yang mengusut dan menuntut kita. Mau dan beranikah menghadapi Dia?

Doa:
Ya Tuhan Allah, berhari-hari Kau mengingatkan kami agar membuka hati kepada orang-orang miskin dan kecil. Lembutkanlah hati kami. Janganlah keraskan hati kami seperti Engkau pernah mengeraskan hati Firaun. Ampunilah dosa kami. Ya Tuhan Allah, tolonglah kami orang-orang Kristen agar mau bertobat dari egoisme, kepicikan dan kemunafikan serta kesalehan palsu. Kami adalah murid Kristus, sebab itu teguhkanlah kami mengikut Dia juga berbuat baik dan adil kepada semua orang terutama mereka yang kecil, lemah dan miskin. Mulialah namaMu oleh seluruh sikap hidup dan perbuatan kami sehari-hari. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

3 comments for “Jaksa Penuntut

  1. July 22, 2007 at 6:42 pm

    Naeng manukkun ahu tu Amang Pandita Prenster nami :

    Sikap mana yang tepat untuk kita lakukan, bila menghadapi anak-anak yang menjadi pengemis di pinggir jalan, ketika mereka meminta sepeser uang dari kita ? Pada saat itu, patutkah mereka kita beri… karena mereka miskin (tanpa melihat latar belakang kemiskinan mereka) ataukah lebih baik jangan diberi supaya tidak membuat mereka malas.

    Sebelum membaca renungan-renungan di blog ini, sikap aku cenderung ke nomor dua (tidak memberi, dengan harapan tidak membuat mereka malas). Tapi setelah mebaca renungan-renungan di blog ini aku jadi ragu, karena setelah aku simpulkan… Miskin=miskin, tidak perlu kita latar belakang mereka (siapa, kenapa, bagaimana, dll).

  2. July 22, 2007 at 6:47 pm

    Naeng manukkun ahu tu Amang Pandita Prenster nami :

    Sikap mana yang tepat untuk kita lakukan, bila menghadapi anak-anak yang menjadi pengemis di pinggir jalan, ketika mereka meminta sepeser uang dari kita ? Pada saat itu, patutkah mereka kita beri… karena mereka miskin (tanpa melihat latar belakang kemiskinan mereka) ataukah lebih baik jangan diberi supaya tidak membuat mereka malas.

    Sebelum membaca renungan-renungan di blog ini, sikap aku cenderung ke nomor dua (tidak memberi, dengan harapan tidak membuat mereka malas). Tapi setelah mebaca renungan-renungan di blog ini aku jadi ragu, karena setelah aku simpulkan… Miskin=miskin, tidak perlu kita latar belakang mereka (siapa, kenapa, bagaimana, dll).

  3. July 22, 2007 at 8:22 pm

    alasan yang selalu dikatakan orang yang tidak mau memberi kepada pengemis adalah: tidak mendidik. Pertanyaan saya: emangnya kapan kita punya kesempatan mendidik mereka? Selain itu apakah benar mereka malas? Bukankah mengemis di pinggir jalan dari pagi sampai sore di bawah terik matahari dan hujan sangat melelahkan dan menyengsarakan? Sayan pikir, jika ada kesempatan melakukan pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, sebagian besar pengemis akan berhenti mengemis. Kesimpulan: berikanlah apa yang bisa diberi. Kesimpulan tambahan: pilih presiden, gubernur, bupati dan walikota serta anggota parlemen yang serius mengatasi kemiskinan masyarakat dan bukan hanya memperkaya diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *