SEMUA KITA HARUS BAHAGIA

July 9, 2007
By Daniel T.A. Harahap

medium_616200665345pm_bsp_color_palet_butterfly.jpg

Bahan: Mazmur 128

Siapa tak ingin bahagia?

Pada dasarnya semua atau hampir semua orang ingin bahagia dan sedikit-banyak menjadikan kebahagiaan sebagai salah satu atau mungkin satu-satunya tujuan hidupnya. Namun fakta menunjukkan tidak semua orang berbahagia. Ada banyak orang yang merasa hidupnya penuh dengan kekecewaan, kehampaan dan keputus-asaan. Dan diantara mereka yang kecewa itu ada banyak juga yang mengaku beriman kepada Kristus.


Kotbah minggu ini adalah tentang kebahagiaan. Ya tentang orang-orang berbahagia. Apakah yang dikatakan Mazmur 128 dan Alkitab tentang kebahagiaan? Sebelumnya baiklah kita baca dan catat baik-baik: Tuhan menghendaki semua orang berbahagia, baik laki-laki atau perempuan, tua atau muda, menikah atau tidak menikah. Kebahagiaan sebab itu bukanlah monopoli segelintir orang tetapi semua orang tanpa kecuali. (Jika kita tidak hati-hati membaca Mazmur 128, kita bisa salah arti seolah-olah kebahagiaan hanya milik laki-laki dan sudah berumah-tangga.) Apakah Saudara dan saya ingin hidup bahagia dalam keadaan Saudara sekarang? Tuhan menyediakan kebahagiaan itu juga untuk Saudara. Namun ada 4(empat) cara untuk memperolehnya:


Pertama: Kebahagiaan adalah buah ketaatan atau takut akan TUHAN
. Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan! (bandingkan Amsal 28:14). Berbahagialah orang yang menaruh kepercayaannya kepada Allah (Maz 40:5). Berbahagialah orang yang berpegang kepada hukum (Maz 106:3, Ams 29:18). Semua itu sejalan dengan yang dikatakan Yesus dalam Lukas 11:28 “Yang berbahagia ialah orang yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya”. Juga dengan apa yang dituliskan Paulus “bersukacitalah senantiasan dalam Tuhan”. (Filipi 4:4). Semua itu hendak mengatakan satu hal: kebahagiaan itu terletak dalam Tuhan. Lebih sederhana: kebahagiaan yang kita cari dan kejar itu justru kita peroleh saat kita taat kepada hukum-hukum Tuhan, dan hidup menuruti ajaran dan teladanNya. Padahal banyak orang menyangka kebahagiaan terletak dalam diri kita sendiri, ketika kita mementingkan diri sendiri, dan hidup menurut kemauan kita sendiri saja. Lebih menyedihkan banyak orang justru menjauhi Tuhan karena ingin mencari kebahagiaan hidup. Kepada kita semua hari ini diingatkan bahwa kebahagiaan tidak pernah ada di luar Tuhan.


Namun hal ini bisa juga dibalik. Kita juga bisa mengukur ketaatan kita kepada Tuhan berdasarkan kebahagiaan kita. Sebab barangsiapa tidak bahagia, kemungkinan besar dia sebenarnya tidak taat atau takut kepada Tuhan. Mengapa? Karena ada korelasi langsung antara kebahagiaan manusia dan ketaatan kepada Tuhan. Orang-orang yang penuh dan melimpah dengan kebahagiaan itu selalu di dalam Tuhan. Karena itu kalau Saudara dan saya kerjanya hanya bersungut dan mengeluh serta mengamuk: marilah kita memeriksa diri dengan jujur, jangan-jangan kita tidak sungguh-sungguh taat kepada Tuhan. Mengapa? Sebab jika kita taat kepada Tuhan kita tidak akan seperti itu.


Kedua: kebahagiaan adalah buah kerja keras dan ketekunan. Tidak ada kebahagiaan yang muncul
tiba-tiba. Kebahagiaan bukan hasil sulap. Petani yang bekerja keras berbulan-bulan sangat berbahagia saat panen tiba. Guru yang mendidik murid-murid sangat bahagia saat murid-murid berhasil puluhan tahun kemudian. Para pemahat dan pelukis serta penulis novel sangat berbahagia setelah hasil karyanya akhirnya jadi. Sebab itu kerja keraslah. Kebahagiaan adalah upah kerja keras, perjuangan hidup dan kebajikan tak kenal menyerah, ketekunan dan kesabaran.


Tantangan komunitas kita justru banyak orang ingin bahagia tanpa kerja. Akibatnya banyak orang mudah sekali tergoda oleh pekerjaan melanggar hukum dan moral namun mendatangkan uang banyak seketika. Antara lain: berdagang VCD bajakan (sebagian besar pornografi), bisnis togel atau judi, membungakan uang, dan yang sangat berbahaya menjual narkotik dan obat terlarang. Percayalah tidak ada kebahagiaan yang bisa ditimbulkan oleh uang yang diperoleh secara cepat dengan cara tidak benar. Yang ada hanyalah kenikmatan sesaat yang segera berganti dengan kehampaan, ketidakpuasan dan pertengkaran serta berbagai kesusahan.


Ketiga: kebahagiaan itu adalah buah kasih. Orang2 bahagia biasanya lebih mudah mengasihi. Namun orang-orang mengasihi lebih mudah juga bahagia. Ada korelasi langsung kebahagiaan dengan kasih. Sebaliknya egoisme, keserakahan, kekikiran, dan kejahatan tidak membuat kita bahagia. Jika kita menemukan diri kita dicintai kita pasti sangat bahagia, tetapi jauh lebh lagi kebahagiaan orang yang mencintai. Sebab itulah Palus berkata bahwa adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. Karena itulah Yesus berkata orang2 murah hati penuh kebahagiaan. Dan orang-orang yang mengasihi melimpah dengan sukacita (Yoh 15:10-11).


Ada dua hal yang mau kita catat di sini dalam kehidupan rumah tangga kristen. Pertama: fenomena kekerasan. Pengamatan saya banyak terjadi kekerasan dalam rumah tangga orang Kristen. Ini bukanlah tanda kasih apalagi tanda iman. Kekerasan tidak pernah dilahirkan atau melahirkan kebahagiaan. Kekerasan hanya ditimbulkan dan menimbulkan luka fisik dan jiwa. Sebab itu kita mempunyai PR (Pekerjaan Rumah) membantu banyak keluarga kristen agar belajar mengasihi dan belajar berbahagia agar dapat menjauhkan kekerasan. Kedua: fenomena perceraian. Sama buruknya dengan kekerasan, maka kita juga melihat banyak perceraian telah terjadi di rumah tangga yang mengaku Kristen. Sebagian perceraian ini diakibatkan ketidakdewasaan dan ketidakmatangan pribadi. Sebagian lagi disebabkan kurangnya pengenalan pribadi dan calon suami/ istri sebelum memutuskan menikah. Sebagian disebabkan oleh intimitas fisik yang terlalu cepat dan dalam saat pacaran sehingga menghalangi intimitas psikis atau jiwa. Sesal kemudian tentu saja tidak berguna. Selain itu perceraian juga banyak diakibatkan oleh ketidakmampuan beradaptasi dan menyelesaikan masalah melalui percakapan. Namun apapun itu perceraian telah terjadi. Dan perceraian itu tidak pernah dilahirkan dan melahirkan kebahagiaan. Sebaliknya luka.


Keempat: kebahagiaan adalah buah pengharapan. Bersukacitalah dalam pengharapan (Roma 12:12c). Orang-orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan tidak akan kecewa (Roma 5:5). Sebab itu tetaplah berpengharapan kepada Tuhan. Tanpa pengharapan, sukacita dan bahagia akan lenyap dari kehidupan kita. Sebaliknya semakin besar dan nyata harapan semakin besar pula sukacita dan bahagia kita.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Disampaikan di Kebaktian Minggu 08 Juli 2007 jam 09.30 di GKPI Rawamangun

 

Home: http://rumametmet.com

 

Share on Facebook

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*