Bahan: Mazmur 128
Siapa tak ingin bahagia?
Pada dasarnya semua atau hampir semua orang ingin bahagia dan sedikit-banyak menjadikan kebahagiaan sebagai salah satu atau mungkin satu-satunya tujuan hidupnya. Namun fakta menunjukkan tidak semua orang berbahagia.
Kotbah minggu ini adalah tentang kebahagiaan. Ya tentang orang-orang berbahagia. Apakah yang dikatakan Mazmur 128 dan Alkitab tentang kebahagiaan? Sebelumnya baiklah kita baca dan catat baik-baik: Tuhan menghendaki semua orang berbahagia, baik laki-laki atau perempuan, tua atau muda, menikah atau tidak menikah. Kebahagiaan sebab itu bukanlah monopoli segelintir orang tetapi semua orang tanpa kecuali. (Jika kita tidak hati-hati membaca Mazmur 128, kita bisa salah arti seolah-olah kebahagiaan hanya milik laki-laki dan sudah berumah-tangga.) Apakah Saudara dan saya ingin hidup bahagia dalam keadaan Saudara sekarang? Tuhan menyediakan kebahagiaan itu juga untuk Saudara. Namun ada 4(empat) cara untuk memperolehnya:
Pertama: Kebahagiaan adalah buah ketaatan atau takut akan TUHAN. Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan! (bandingkan Amsal 28:14). Berbahagialah orang yang menaruh kepercayaannya kepada Allah (Maz 40:5). Berbahagialah orang yang berpegang kepada hukum (Maz 106:3, Ams 29:18). Semua itu sejalan dengan yang dikatakan Yesus dalam Lukas 11:28 “Yang berbahagia ialah orang yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya”. Juga dengan apa yang dituliskan Paulus “bersukacitalah senantiasan dalam Tuhan”. (Filipi 4:4). Semua itu hendak mengatakan satu hal: kebahagiaan itu terletak dalam Tuhan. Lebih sederhana: kebahagiaan yang kita cari dan kejar itu justru kita peroleh saat kita taat kepada hukum-hukum Tuhan, dan hidup menuruti ajaran dan teladanNya. Padahal banyak orang menyangka kebahagiaan terletak dalam diri kita sendiri, ketika kita mementingkan diri sendiri, dan hidup menurut kemauan kita sendiri saja. Lebih menyedihkan banyak orang justru menjauhi Tuhan karena ingin mencari kebahagiaan hidup. Kepada kita semua hari ini diingatkan bahwa kebahagiaan tidak pernah ada di luar Tuhan.
Kedua: kebahagiaan adalah buah kerja keras dan ketekunan. Tidak ada kebahagiaan yang muncul
tiba-tiba. Kebahagiaan bukan hasil sulap. Petani yang bekerja keras berbulan-bulan sangat berbahagia saat panen tiba. Guru yang mendidik murid-murid sangat bahagia saat murid-murid berhasil puluhan tahun kemudian.
Tantangan komunitas kita justru banyak orang ingin bahagia tanpa kerja. Akibatnya banyak orang mudah sekali tergoda oleh pekerjaan melanggar hukum dan moral namun mendatangkan uang banyak seketika. Antara lain: berdagang VCD bajakan (sebagian besar pornografi), bisnis togel atau judi, membungakan uang, dan yang sangat berbahaya menjual narkotik dan obat terlarang. Percayalah tidak ada kebahagiaan yang bisa ditimbulkan oleh uang yang diperoleh secara cepat dengan cara tidak benar. Yang ada hanyalah kenikmatan sesaat yang segera berganti dengan kehampaan, ketidakpuasan dan pertengkaran serta berbagai kesusahan.
Ketiga: kebahagiaan itu adalah buah kasih. Orang2 bahagia biasanya lebih mudah mengasihi. Namun orang-orang mengasihi lebih mudah juga bahagia.
Keempat: kebahagiaan adalah buah pengharapan. Bersukacitalah dalam pengharapan (Roma 12:12c). Orang-orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan tidak akan kecewa (Roma 5:5). Sebab itu tetaplah berpengharapan kepada Tuhan. Tanpa pengharapan, sukacita dan bahagia akan lenyap dari kehidupan kita. Sebaliknya semakin besar dan nyata harapan semakin besar pula sukacita dan bahagia kita.
Home: http://rumametmet.com