Setia Agar Bahagia

Almanak Senin 09 Juli 2007:

Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: “Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau.”


Ini adalah bagian drama rumah tangga kurang lebih 3000 tahun lalu di Timur Tengah kuno. Sepasang suami istri (Abram dan Sarai) tidak memiliki keturunan. Padahal pada masa itu (sampai sekarang?) kesuburan atau memiliki anak dianggap begitu penting dan menentukan status sosial seseorang, bahkan merupakan bukti utama berkat Tuhan. Sebaliknya: tidak memiliki anak (laki-laki) menurunkan kedudukan sosial bahkan bisa dianggap tanda tidak diberkati Tuhan atau dikutuk. Sebab itu Sarai terpaksa memberikan seorang hamba perempuannya untuk (maaf) digauli suaminya Abram dan dijadikan selir. Hamba perempuan itu hamil dan melahirkan anak bagi tuannya. Mungkin si pembantu itu begitu bahagia dan bangga, sebaliknya nyonya atau puannya menjadi sangat cemburu dan direndahkan. Lantas dia pun mengeluh kepada suaminya sebagaimana kita baca di atas.

Kisah gejolak rumah tangga Abram dan Sara yang terstulis dalam Alkitab itu harus kita pahami dengan memegang 3(tiga) prinsip. Pertama: Tuhan Allah tidak mengijinkan perbudakan atau perhambaan. Fakta bahwa tokoh-tokoh Alkitab seperti Sarai dan Abram memiliki hamba haruslah diterima sebagai konstruksi sosial-budaya (politik) jaman itu dan sama sekali bukan kehendak Tuhan Allah. Bagi kita orang Kristen moderen semua manusia bebas, terhormat dan sederajad, serta tidak bisa diperjual-belikan dan dimiliki sebagai hamba. Kedua: pernikahan adalah pilihan dan tidak menaikkan kemanusiaan seseroang di hadapan Tuhan. Manusia menikah atau tidak menikah sama saja nilainya bagi Tuhan. Selanjutnya memiliki atau tidak memiliki anak juga sama berharganya. Ketiga: Tuhan memanggil kita untuk menghayati pernikahan tunggal (monogami) dan final (tidak bercerai), sebagaimana hubungan kasih kita dengan Tuhan.

Dengan latar belakang ketiga prinsip itu kita memahami drama rumah tangga Abram dan Sarai sebagai “contoh yang salah” yang tidak boleh diikuti oleh umat Kristen jaman moderen. Tuhan Allah melarang manusia memberikan kesempatan apalagi menganjurkan suami/ istrinya untuk menikah lagi dengan alasan untuk mendapatkan keturunan. Dengan atau tanpa persetujuan suami atau istrinya, dan apapun motifnya. manusia tidak diijinkan berselingkuh. Lantas bagaimana? Bagaimana pun kondisi kehidupan yang ada kita dipanggil menghayati kesetiaan, kasih dan hormat, serta kekudusan pernikahan. Miskin atau kaya, dengan atau tanpa anak, sehat atau sakit, masih muda atau sudah lanjut usia, kita dipanggil setia kepada kekasih kita, dan tidak menjadikan kondisi atau situasi apa pun sebagai pembenaran penghianatan atau ketidaksetiaan kita.

Doa:

Ya Tuhan, bantulah kami belajar dari kisah-kisah umatMu di masa lalu untuk menghayati makna pernikahan dan cinta kasih kami di masa kini. Bantulah kami menyegarkan cinta kasih dan kesetiaan kami setiap hari. Berilah kami kekuatan menolak godaan atau bahkan tekanan untuk melanggar komitmen dan janji kasih yang kami ucapkan di hadapan Tuhan. Berkatilah rumah tangga kami agar berbahagia sepanjang masa. Jadikanlah kami murid kasih dan kesetiaan Tuhan. AMIN.


Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

5 comments for “Setia Agar Bahagia

  1. July 9, 2007 at 12:51 am

    Bapak Pendeta,
    Saya kurang mengerti tentang arti prinsip ke-dua yang Bapak sampaikan (pernikahan adalah pilihan).
    Terkait prinsip di atas, (.. santabi) apakah dalam hal ini Bapak termasuk pendukung kegiatan homoseksual ?

  2. July 9, 2007 at 1:37 am

    Maksud saya Tuhan memberikan kita kebebasan memilih menikah atau tidak menikah. Sampai saat ini saya belum dapat menerima pernikahan homoseksual, sebab pernikahan adalah karunia khas kepada laki-laki dan perempuan. :-)

  3. July 9, 2007 at 2:26 am

    Bapak Pendeta,
    Pilihan “tidak menikah” karena faktor disorientasi seksualitas seseorang (misal=homoseks), apakah dapat diperkenankan ?

  4. July 9, 2007 at 2:56 am

    Mungkin maksudnya orientasi seksual sejenis. Tentu saja mereka yang memiliki bawaan lahir berorientasi seksual sejenis harus bersikap jujur kepada calon istri/suaminya. Pertanyaan: jika dia memang tidak tertarik secara seksual kepada calon istri/suaminya lantas kenapa mau menikah dengannya? :-)

  5. July 9, 2007 at 6:33 pm

    Bapak Pendeta pastilah orang yang sangat baik sehingga terlihat ambigu dalam menanggapi pertanyaan saya.
    Di satu sisi Bapak menggunakan pilihan kata “orientasi seksual sejenis”, atau dengan kata lain bahwa homoseksual adalah sesuatu yang normal. Dengan demikian secara tidak langsung Bapak Pendeta setuju bahwa kaum homoseksual memiliki hak yang sama dengan kaum heteroseksual dalam memenuhi kebutuhan biologisnya.
    Tapi di satu sisi Bapak Pendeta mengatakan bahwa “belum dapat menerima perkawinan sejenis”. Atau dengan kata lain kaum homoseks tidak memiliki hak yang sama dengan kaum heteroseks dalam memenuhi kebutuhan biologisnya (=melalui pernikahan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *