DISKUSI SEKOLAH MINGGU (2)

July 2, 2007
By

11. Tanya:
Saya seorang ibu rumah tangga berusia 41 tahun dan baru diangkat menjadi guru sekolah minggu. Bagaimana sebaiknya saya menyapa anak-anak sekolah minggu: anak-anak atau
adik-adik?


Jawab:
Saya seorang ayah, pendeta, berusia 44 tahun. Saya selalu menyapa anak-anak sekolah minggu dengan sebutan: kawan-kawan. :-) Menurut saya dengan menyapa murid-murid SM dengan “kawan-kawan” atau “teman-teman” kita menempatkan diri kita sejajar atau selevel dengan mereka dan itu lebih memudahkan kita berkomunikasi.

12. Tanya:
Bagaimana caranya mengajarkan hukum kelima (hormatilah orangtuamu) kepada anak-anak jaman sekarang?


Jawab:
Hukum kelima “hormatilah orangtuamu supaya lanjut usiamu” sebenarnya pertama-tama dan terutama bukan ditujukan kepada anak-anak tetapi kepada kita orang dewasa. Anak-anak tidak ada kesulitan menghormati orangtuanya. Yang paling sulit menghormati orangtuanya justru orang dewasa, yaitu mereka yang sudah mandiri dan tidak lagi tergantung secara finansial atau emosional kepada orangtuanya (bahkan sebaliknya orangtuanyalah yang bergantung kepada mereka). Dengan kata lain: hukum kelima adalah untuk para kolonel dan jenderal, pengusaha, profesional, penatua, pendeta dan juga guru-guru SM.


Selanjutnya dasa titah atau 10 Hukum itu adalah sebuah kesatuan. Kita tidak dapat hanya menekankan yang satu tetapi mengabaikan yang lain. Melanggar salah satu hukum akan mendorong kita melanggar yang lain juga. Contoh: orang yang melanggar hukum ke 6,7,8 (jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri) tentulah melanggar hukum ke 5 (hormatilah orangtuamu) juga. Bagaimana mungkin kita hormat kepada orangtua sementara kerja kita hanya mencuri dan berzinah? Selanjutnya: apa dasarnya kita lebih hormat dan takut kepada orangtua daripada kepada Tuhan?


Saran saya: jangan terlalu sering mengulang-ulang hukum ke-5 di depan anak-anak. Itu bukan untuk mereka, tetapi untuk kita orang dewasa.

13. Tanya:
Saya selalu tegang dan grogi saat berdiri di depan kelas mengajar. Bagaimana caranya agar saya bisa lebih rileks?


Jawab:
Pertama-tama persiapkanlah diri sebaik-baiknya. Jika belum dibiasakan di SM membuat satuan pelajaran buatlah catatan pribadi tentang apa dan bagaimana pelajaran hari ini (tujuan yang hendak dicapai, pokok-pokok cerita, aktifitas murid, nyanyian dan doa, termasuk pesan-pesan untuk guru dll). Kuasailah dan hayatilah apa yang hendak diajarkan. Jangan bikin persiapan baru sehari sebelumnya. Hari Sabtu jangan terlalu lelah apalagi malam hari. Jika kamu belum menikah, geserlah hari kencan ke hari Minggu malam atau hari lain. Jika kamu sudah menikah, pakailah Sabtu malam di rumah saja menenangkan diri. Istirahatlah yang cukup.


Kedua: berdirilah di kelas dengan sikap sempurna (tegak lurus simetris). Tariklah nafas berulang-ulang dan perlahan-lahan agar lebih rileks dan menguasai diri. Berdoalah dalam hati. Sapulah pandang ke seluruh ruangan. Tataplah mata anak-anak. Usahakanlah menatap mata anak-anak dengan mantap dan senyumlah kepada anak-anak maupun kepada diri sendiri. Terimalah diri sendiri dengan ikhlas dan sukacita. Kamu tidak perlu menjadi orang lain. Be your self and do your best.


Ketiga: mulailah mengajar sesuai dengan satuan pelajaran atau catatan yang kamu buat. Jangan jadi patung. Sesekali berjalanlah dan berdirilah di tengah-tengah anak-anak itu. Namun ingat anak-anak itu masih kecil, leher mereka bisa tegang memandangmu ke atas. Sebab itu jangan ragu berjongkok atau bersimpuh di dekat mereka agar pandangan mereka tidak terlalu tinggi. Tetap jaga kontak mata dan jangan pelit dengan senyuman.


Keempat: setialah kepada tujuan. Jangan mau terganggu dengan “insiden-insiden” kecil seperti ada anak menangis, bertengkar atau menguap dll. Tetap tenang dan rileks. Anak-anak itu bukan benda mati atau robot yang bisa disetel begitu saja. Selesaikan masalah dengan cepat tanpa membuyarkan pelajaran. Kalau perlu abaikan saja. Itulah sebabnya sebaiknya paling sedikit ada dua guru di tiap kelas agar ada guru yang mengajar dan ada yang bertugas membantu menyelesaikan masalah-masalah.

14. Tanya:
Kami hendak mengadakan retret SM. Bagaimana caranya agar retret tidak gaduh dan amburadul seperti retret sebelumnya?


Jawab:
Saya ingin sekali menulis satu buku berjudul “Retret Sekolah Minggu: Apa dan Bagaimana” mengingat banyaknya pertanyaan tentang retret ini. Namun secara singkat saya dapat menyampaikan satu hal menyangkut tujuan retret itu sendiri. Namun sebelumnya saya ingin menyampaikan satu kata kunci suksesnya retret: perencanaan dan pengorganisasian. Mengumpulkan seratus anak di satu rumah selama tiga hari tentu perlu perencanaan dan pengorganisasian serius. Mulai dari persiapan tempat, waktu, transportasi, akomodasi, konsumsi, keamanan hingga soal-soal “kecil” seperti tempat tidur, bantal, toilet, persediaan obat dan lain-lain. Satu lagi: acara dan alat-alat
pendukung acara. Semakin baik perencanaan yang dilakukan sebelumnya semakin
mudah pengorganisasiannya. Semakin baik sistem pengorganisasian semakin mudah
pula tugas kita mencapai tujuan.


Apakah tujuan retret? Seringkali kita tanpa sadar menganggap seolah-olah tujuan retret sudah tercantum dalam kata retret itu sendiri atau tertanam dalam benak semua orang. Karena itu kita tidak menganggap penting lagi untuk capek-capek membahasnya. Yang lebih parah: perumusan tujuan itu diserahkan kepada satu orang penyusun
proposal dalam rangka pencairan dana. Saya menganjurkan agar seluruh panitia dan penyelenggara (termasuk pendeta dan penatua, seksi SM) duduk bersama merumuskan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dalam retret itu. (catatan:
untuk memudahkan samakan saja tujuan dengan sasaran, apa yang hendak dituju itulah yang disasar atau dibidik!) . Tujuan atau sasaran itu harus konkret, sederhana, dapat diukur pencapaiannya, realistis dan menantang. Jangan bikin tujuan retret yang sangat abstrak dan luas, contoh: “agar anak-anak mengasihi Tuhan”, “agar anak-anak lahir baru”. Juga jangan buat tujuan retret yang tidak sesuai dengan porsi anak, misalnya: “agar anak-anak menjadi garam dan terang dunia”. Lantas bagaimana? Buatlah tujuan yang lebih simpel, misalnya: “agar anak-anak mendapatkan pengalaman baru berdoa, membaca kisah Alkitab, dan berteman”. Atau: “agar anak-anak belajar makin mengenal Tuhan, diri, dan sesama serta alam”. Setelah tujuan dirumuskan seluruh panitia atau penyelenggara harus bekerja keras menyesuaikan seluruh materi acara (termasuk permainan atau games) dan bahkan suasana untuk mencapai tujuan itu. Usulan acara yang tidak berhubungan dengan tujuan bagaimana pun harus ditolak.


Kita sendiri mewarisi retret dari dua bahasa, yaitu Inggris (retreat) dan Prancis (retret). Artinya sama: mengundurkan diri. Dalam dunia ketentaraan artinya: mundur ke posisi sebelumnya untuk melakukan konsolidasi sebelum bergerak lagi. Dalam dunia catur artinya sama: mundur ke posisi semula untuk mengambil langkah yang lebih strategis. Dalam keagamaan retret artinya pergi sejenak ke tempat sepi dan hening untuk melakukan permenungan. Namun harus kita akui gereja-gereja protestan sebenarnya baru menemukan kembali makna retret dan karena itu artinya samar-samar. Berbeda dengan kawan-kawan di gereja katolik kita tidak memiliki tradisi meditasi dan askese, sebab itu seringkali retret bercampur aduk dengan ceramah, lokakarya dan bahkan rapat. Keadaan makin diperparah dengan belum adanya kebiasaan rekreasi keluarga, sehingga retret identik (apalagi di kepala anak-anak) dengan rekreasi.


Berdasarkan penjelasan di atas saya mermuskan retret adalah sebuah “aktifitas berdoa, merenungkan iman dan kepribadian serta bermain bersama di sebuah tempat khusus yang jauh dari keramaian selama dua atau tiga hari”. Dari pernyataan itu kita tidak membayangkan suatu retret yang benar-benar hening atau “silent” seperti kawan-kawan katolik, tetapi juga tidak menghendaki retret yang gaduh seperti pasar atau terminal. Yang jelas retret itu harus menyegarkan dan menyenangkan. (bagi saya pribadi mendengar ceramah saat retret tidak menyegarkan, apalagi bagi anak-anak!)

15. Tanya:
Manakah yang terbaik saat malam penutupan retret: talent show, api unggun atau candle light services atau sekaligus semuanya?


Jawab:
Saya mau jawab dari yang terakhir: kita tidak mungkin melakukan segala-galanya sekaligus. Itu serakah. Kita harus belajar memilih satu yang kita anggap paling sesuai dengan tujuan retret kita.


Sebenarnya saya kurang nyaman dengan istilah “talent show” (pertunjukan talenta). Istilah “show” sangat tidak tepat digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat ibadah. Mungkin lebih baik kita mencari istilah lain yang lebih dekat kepada terminologi gereja, misalnya: ibadah kreatif atau ibadah ekspresif. Mengapa? Sebab kata show berkonotasi pameran atau penonjolan diri sementara ibadah justru penyangkalan diri agar dapat memuliakan Tuhan. Pertanyaan: bolehkah di saat retret walau pun hanya dua atau tiga jam kita melupakan Tuhan untuk bersenang-senang dan membesarkan diri sendiri saja dulu? :-)


Api unggun adalah sebuah kegiatan yang biasa dilakukan di alam terbuka. Berkumpul mengelilingi api yang menyala hebat di malam dingin tentu menimbulkan kesan sendiri. Namun harus diingat bahwa sangat sulit (mustahil?) mengharapkan konsentrasi atau keseriusan anak-anak di dekat api unggun di tengah malam gelap. Daya tarik api itu sangat luar biasa (warna, panas, percik, suara, bau asap dll) . Bukan hanya mata dan perhatian anak-anak, tetapi semua orang akan ditarik olehnya. Sebab itu jangan heran jika pembawa acara saat api unggun seringkali terengah-engah dan akhirnya frustrasi sendiri karena tak ada yang memperdulikannya. (Apalagi jika angin bertiup kencang membawa udara menusuk!). satu-satunya yang bisa dilakukan saat api unggun adalah bernyanyi bersama sambil berkeliling-keliling (itu pun hanya lima belas menit), dan kemudian membakar jagung. Melakukan games di dekat api unggun? No way! :-)


Saran: jika hendak melakukan permenungan sebaiknya dalam ruangan, hasil permenungan itu boleh dibakar (sebagai simbol penyerahan kepada Tuhan sumber kehangatan dan cahaya).


Ibadah lilin sangat baik. Lilin-lilin bisa disusun berbentuk salib dan anak-anak duduk lesehan. Atau masing-masing anak diberi satu lilin (jangan lupa alasnya!). Namun pertanyaan: apa yang hendak disampaikan saat ibadah lilin. Saran saya jika tidak ada pendeta sebaiknya ibadah lilin tidak dilakukan. Mengapa? Anak-anak sangat rentan terhadap praktek “brain washing” atau “cuci otak”. Membiarkan anak-anak dalam gelap diterangi cahaya lilin bisa membuat kesadarannya tergoncang. Guru SM yang baik dan bertanggungjawab tentu tidak akan menyalahgunakan wewenangnya dengan mengacaukan kesadaran anak-anak, menanamkan rasa bersalah di hati anak-anak, atau meracun anak-anak dengan dogma bikinannya sendiri atau pesanan orang lain.

16. Tanya:
Saya orangtua murid SM. Saya ingin memindahkan anak-anak saya ke gereja A sebab di sana Sekolah Minggunya jauh lebih baik. Anak-anak teman saya sangat pintar berdoa dan bahkan menasihati orangtuanya agar berdoa. Bagaimana
?


Jawab:
Maaf, menurut saya mengajar anak-anak berdoa bukanlah tugas Sekolah Minggu tetapi tugas Ibu dan Bapak sebagai orangtua. Itu artinya mungkin Ibu dan Bapak harus belajar lagi berdoa. Selanjutnya sebenarnya istilah pintar berdoa itu tidak tepat. Berdoa adalah mengungkapkan isi hati secara jujur dan tulus kepada Tuhan. Sebab itu yang terpenting bukan rangkaian kata-kata yang diucapkan si anak, tetapi apakah dia mengatakan sesuatu yang ada dalam hatinya. Menasihati orangtua? Jika itu dilakukan spontan saya akan merasa lucu dan bersyukur. Namun jika itu merupakan “pesan sponsor terselubung” menurut saya itu tindakan memperalat anak, dan yang menyuruh anak-anak itu tidak bertanggungjawab.


17. Tanya:
Sejauhmanakah kegunaan alat peraga saat mengajar Sekolah Minggu?


Jawab:
Sesuai namanya alat peraga adalah alat membantu raga atau tubuh kita menyampaikan sesuatu pesan. Jadi sebenarnya yang paling utama adalah raga atau tubuh kita sendiri. Tuhan sudah mengaruniakan kita mata, mulut, telinga, tangan dan kaki serta badan. Pakailah semua pemberian Tuhan itu menyampaikan pesan kepada anak-anak. Agar mau memakainya menyampaikan pesan, kita pertama-tama tentu harus menerima raga atau tubuh kita sendiri dengan ikhlas dan sukacita. Sebab itu bukan hanya anak-anak, guru SM pun tidak boleh malu dan menolak tubuh atau raganya. Gendut, kurus, hitam, pucat, tua bukanlah aib atau dosa!


Namun Tuhan mengaruniakan kita juga akal budi untuk menciptakan alat-alat bantu menambah kemampuan raga atau tubuh kita. Alat bantu itu bisa berbentuk gambar, boneka, tanaman atau apa saja. Di sini memang diperlukan kreatifitas guru. Namun pertanyaannya sederhana saja: apakah alat yang bisa kita pakai membantu kita menyampaikan pesan kepada anak-anak? Jika tidak membantu atau malah mengganggu tentu jangan digunakan, kembali saja kepada tubuh kita. Kadang-kadang karena sangat bernafsunya menggunakan alat peraga, yang terjadi alat peraga itulah yang jadi pusat perhatian anak-anak (dan sang guru) menggeser pesan yang disampaikan.


Pesan moral: alat peraga yang baik justru sangat sederhana, murah dan sangat dikenali dan dihayati oleh anak-anak.

18. Tanya:
Saya seorang guru di kelas kecil. Saya seringkali bertanya dalam hati: apakah anak-anak mengerti apa yang saya ajarkan. Jika tidak tentu semua sia-sia.

Jawab:
Menurut saya sebenarnya tugas guru Sekolah Minggu bukanlah mengajar tetapi bercerita atau bertutur tentang kisah-kisah yang sangat indah tentang Tuhan dan umatNya.
Karena itu pertanyaannya mungkin harus digeser: apakah anak-anak menangkap dan menikmati cerita-cerita yang saya sampaikan?


Anak-anak sangat suka mendengar cerita. Bahkan mendengar cerita yang sama berulang-ulang. Jadi jangan takut anak-anak sudah tahu apa yang akan kamu ceritakan. Yang penting adalah bagaimana cara menceritakannya. Saran saya sederhana saja: hayatilah cerita-cerita Alkitab itu sedemikian sehingga benar-benar menyatu dengan dirimu dan seakan-akan menjadi ciptaanmu sendiri.


Selanjutnya kita harus ingat bahwa anak-anak itu masih sangat kecil dan akan akan bertumbuh perlahan setahap demi setahap. Mendidik anak bukan seperti membuat tauge (hanya perlu merendam kacang hijau satu malam) atau tape atau mencetak batako. Kita tidak boleh memaksa anak-anak bertumbuh lebih cepat daripada yang sewajarnya. Tugas guru SM bukanlah mentobatkan anak-anak, menyuruhnya mengambil keputusan menerima Yesus sebagai Juruslamat dan komit sebagai saksi Kristus! Lantas apa? Tugas guru SM hanyalah menuturkan cerita-cerita indah tentang Allah dan umatNya. Cerita-cerita indah itulah nanti yang menjadi latar belakang dan dasar bagi mereka setelah dewasa untuk membangun imannya.

19. Tanya:
Saya sedang memiliki banyak masalah dan pergumulan pribadi. Apakah saya baik jika berhenti dulu mengajar Sekolah Minggu?


Jawab:
Jika memang kamu dapat tetap berkonsentrasi mengajar di tengah-tengah masalah-masalah dan pergumulan pribadimu tidak ada masalah. Sebab bagaimana pun sebagai manusiakita tidak pernah benar-benar sepi dari masalah, dan juga takkan pernah bisa jadi mahluk sempurna. Namun seandainya masalah itu terlalu berat, baik juga jika meminta cuti, dan berkonsentrasi kepada pribadimu. Nanti sesudah masalahnya selesai atau lebih ringan bisa meminta mengajar lagi.


Pertanyaan ini sungguh bagus. Seringkali tanpa sadar masalah-masalah pribadi kita berpengaruh kepada proses belajar-mengajar SM. Contoh: kita sebenarnya sedang kesepian atau merasa dikecewakan oleh orang yang kita kasihi, akibatnya tanpa sadar, kita lebih mudah tersinggung dan marah jika anak-anak itu berisik atau bermain saat
kita bercerita. Atau: kita di bawah sadar sering merasa disepelekan, karena itu akibatnya tanpa sadar juga kita menuntut anak-anak agar menghormati kita. Atau: kita dalam hati kepingin sekali punya HP baru, sebab itu ketika melihat anak-anak jaman sekarang bawa HP baru ke kelas kita langsung jengkel. :-) Yang penting di sini adalah sebagai guru kita harus benar-benar mengenali dan menyadari diri kita, termasuk harapan-harapan dan masalah-masalah tersembunyi yang sedang kita hadapi. Masalah dan keinginan yang benar-benar disadari lebih mudah dikendalikan dan diatasi.

20. Tanya:
Pendeta kami tidak mau memimpin sermon guru SM. Bagaimana?


Jawab:
Adukan saja secara tertulis kepada atasannya: praeses atau eforus. Memimpin sermon Guru SM adalah tugas utama pendeta. :-)

Pdt Daniel T.A. Harahap


(bersambung)

Kembali ke halaman depan:

 

 

Share on Facebook

Tags: , , , , ,

4 Responses to DISKUSI SEKOLAH MINGGU (2)

  1. Jane on January 3, 2008 at 2:38 pm

    Amang, bagaimana ya cara menghidupkan sermon para GSM?
    Karena sepertinya sdh terbentuk atmosfir sermon GSM yg duduk pasif diskusi bahan FirTu dr buku panduan dan menyampaikan point2nya saja yg akan diceritakan di hr minggu?
    Alhasil….kami sering tanpa persiapan datang ke sermon?
    Bukankah…lebih baik kita berlakon di depan teman2 GSM lain, sebagaimana nantinya kita bercerita di hr minggu?
    Supaya nanti cerita kita bisa dikritik& diberikan ide yg lebih baik…..

    Terima kasih ya,Amang…..
    Horas ‘n GBU

  2. helen on June 20, 2008 at 10:46 am

    Amang… SM kami sedang ada masalah intern GSM dimana perpecahan itu diawali oleh kebijakan Pdt yang baru ditempatkan, nah.. ketika ada waktu mediasi, ternyata masalah sudah mereda tapi paniroi kami malah memancing kembali masalah uneg2. Dan rekan2 pun terpancing, dan anehnya ada Pdt diperbantukan kami tiba2 mengomentari saya kar’na saya cuex tidak menyapa beliau jadi saya dibilang bengis. dalam hatiku seperti teriris m’dengar nya sambil minta ampun sama Tuhan, kog bisa amang itu berkata demikian, padahal saya langsung menyapa anak2 dan merapikan tempat / kursi2 yang kala itu masih berantakan. Dengan spontan saya pun langsung membantah dan mengatakan mengapa hal yang kecil amang komentari,, lantas bgm dengan sikap amang tersebut yang memimpin pujian SM tapi tangannya masih memegang rokok.

    Saya sedih sekali amang,,, selama ini SM tidak pernah ada masalah yang tdk bisa ditangani bersama. Tapi denagn adanya kejadian2 ini kami menjadi terpecah sesama GSM,,, apa yang harus saya lakukan selain bergumul dalam doa amang….

  3. edo on February 26, 2010 at 1:55 am

    SYALOOM………………………………!
    TO:ALL
    Hallo semua guru-guru sekolah minggu
    bagai mana y cara membuat anak agar atusias mengikuti khotba
    tolong bagi pengalamnya
    tank`s before
    GOD BLESS ………..

  4. leni Tambunan on July 23, 2010 at 11:38 am

    Shalom…. amang pendeta yang saya hormati,saya guru baru sekolah minggu di HKBP, awalnya sih mengeluh itu tidak baik apalagi bekerja di ladang TUHAN.Tapi aku harus sampaikan sikap yg tidak mengenakan ini. aku ini ibu rumah tangga yg biasa biasa aja yg sudah dari bln february hingga sekarang tidak ada sermonya hanya dua kali itupun akhir bln maret itupun kami bertiga aja,ada penambahan GSM jadi 4 tapi begitulah amang akupun tidak luput dari kesalahan. sermonnya hinga sekarang tidak ada, biasanya tiap hari selasa, kalau tidak bisa hari selasa kan bisa di bicarakan bersama sama saya sudah bicarakan sama amang pendeta kami , tapi jawabanya sudah menyerah dia menghadapi para sintua di sini apa lagi sebentar lagi dia akan pindah .TOLONG KAMI AMANG PENDETA . Bagaimana solusinya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*