Sembahlah Raja Segala Raja

Almanak Rabu 27 Juni 2007:

Hai kerajaan-kerajaan bumi, menyanyilah bagi Allah, bermzmurlah bagi TUHAN (Mazmur 68:33)

Berdasarkan pengalaman iman dan sejarahnya, kekristenan sudah sampai pada kesimpulan tegas: demi kebaikan masing-masing, agama dan negara harus benar-benar dipisahkan. Sebab itu kekristenan menolak adanya negara agama dan juga sebaliknya agama negara. Bahkan kekristenan juga menolak partai politik berdasarkan agama (termasuk kristen) dan menolak jabatan rangkap pejabat agama dan pejabat politik. Sebab semua itu hanya akan membuat proses-proses dan jabatan politik menjadi rancu. Selanjutnya gereja tegas bersikap kedua institusi yang menuntut ketaatan itu harus independen dan otonom, tidak saling mencampuri. Mengapa?

Pembauran negara dengan agama (tertentu) akan membuat negara dan agama menjadi kekuasaan absolut yang tidak bisa dikontrol. Kebijakan negara akan mendapatkan label-label agama sehingga tidak perlu lagi dipertanggungjawabkan kepada publik. Padahal kita tahu kebijakan dan kekuasaan apapun dalam politik dan negara harus transparan, rasional dan akuntabel. Sebaliknya agama dalam menjalankan misinya juga meminjam tangan kekuasaan negara untuk memaksakan kehendaknya. Akibatnya ketaatan kepada agama tidak lagi berdasarkan keikhlasan hati, tetapi atas nama undang-undang. Selanjutnya pembauran agama dan negara itu selalu menyuburkan korupsi.

Dengan pemahaman pemisahan agama dan negara itulah kita mau menghayati mazmur di atas. Artinya: kekuasaan negara, pemerintahan dan kerajaan apa pun di bumi ini sebenarnya sangat terbatas dan sementara, sebab itu tidak bisa dijadikan gantungan apalagi disembah. Kekuasaan raja-raja dan pemerintah dan negara di bumi ini tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah, Sang Pencipta alam semesta. Para raja, kepala negara dan pemerintah di bumi pada akhirnya harus mempertanggungjawabkan kekuasaannya kepada Allah selain kepada publik yang memilihnya. Walaupun agama dan negara harus terpisah, namun negara-negara dapat memuliakan Allah. Yaitu dengan melakukan tugas negara sebaik-baiknya sebagai hamba kebenaran dan keadilan yang mengabdikan dirinya sepenuh-penuhnya kepada kesejahteraan warganya. Dengan sadar diri negara harus tetap bisa dikoreksi. Terakhir: dengan tidak mencoba-coba mengambil posisi Allah untuk disembah dan ditaati secara mutlak.

Doa:
Ya Tuhan Allah, Engkaulah Raja di atas segala raja, Penguasa langit dan bumi ini. Kami berdoa bagi lembaga-lembaga agama agar dapat selalu mengambil jarak, bersikap positif, aktif dan kritis kepada kekuasaan. Ya Allah kami berdoa bagi negara kami, agar menghormati agama-agama di negeri, dan tidak memperalatnya untuk tujuan-tujuan politik pendek dan sempit. Karuniakanlah pemimpin-pemimpin kami roh yang takut kepada Tuhan, agar mereka bekerja sebaik-baiknya menyejahterakan bangsa kami, menegakkan hukum dan keadilan, menjamin keamanan bagi seluruh warga negara Indonesia ini apapun suku, ras, dan agamanya. Dalam Kristus kami berdoa.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *