BERKAT OH BERKAT (Renungan Minggu 17 Juni 2007)

June 15, 2007
By Daniel T.A. Harahap

anggur-7.JPG

Bahan: Ulangan 28:1-6

(1) Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia perintahNya yang kusampaikan kepadamu hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. (2) Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: (3) Diberkatilah engkau di kota, diberkatilah engkau di ladang. (4) Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yaitu anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. (5) Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu. (6) Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.

Siapakah sumber berkat

Jika kita baca Alkitab (ada ratusan ayat dalam Alkitab yang menyebut berkat, memberkati dan diberkati) kita dapat menyimpulkan bahwa hanya ada satu sumber atau asal-muasal berkat, yaitu: TUHAN ALLAH. Dalam kisah penciptaan langit dan bumi (Kej 1:28) begitu Allah selesai menciptakan manusia (laki-laki dan perempuan) Dia langsung memberkati ciptaanNya.


Agen, distributor atau penyalur berkat

Pernyataan Tuhan adalah satu-satunya sumber berkat mempunyai konsekuensi yang sangat penting. Orangtua, hula-hula dan tulang (pihak marga istri/ibu), ompung atau kakek-nenek, pemimpin, pembimbing rohani atau pemimpin persekutuan, pendeta atau penatua ternyata bukanlah sumber berkat, tetapi hanya sekadar agen, distributor atau penyalur yang dipilih Tuhan untuk menyalurkan berkat-berkatNya. Sumber, pemilik dan penentu berkat itu adalah Tuhan sendiri. Sebab itu para agen atau penyalur ini tidak punya hak menahan atau menghambat berkat bagi orang-orang yang diinginkan Tuhan menerimanya. Lebih dari itu para agen atau distributor ini jangan sekali-kali mengklaim bahwa dia adalah pemilik berkat itu. Selanjutnya harus kita sadari bahwa Tuhan Allah sama sekali tidak tergantung kepada manusia untuk membagi-bagikan berkatNya. Dia bisa menyalurkan berkatNya dengan atau tanpa perantara, atau secara langsung.

Dalam komunitas Batak-Kristen, seperti sudah disinggung di atas berkat selalu dikaitkan dengan hula-hula atau tulang (laki-laki pihak marga istri/ ibu). Selanjutnya berkat dianggap berasal dari orangtua atau ompung (kakek-nenek). Pertanyaan: mungkinkah hula-hula, tulang, orangtua, kakek-nenek yang tidak mengenal Tuhan, tidak pernah ke gereja dan tidak pernah berdoa, selalu mabuk dan minum judi, hobi bertengkar dipakai Tuhan menjadi saluran berkatNya? Apakah Tuhan rela berkatNya disalurkan oleh orang-orang yang justru tidak mau mengenal dan taat kepadaNya? Di sinilah kita sadar bahwa tidak ada manusia yang boleh mengklaim dirinya sebagai penyalur berkat Tuhan satu-satunya dan abadi serta absolut.

 

Anak memberkati orangtua?
Namun ada yang menarik: Jika kita baca Alkitab tidak pernah ada anak yang memberkati orangtuanya. Berkat Tuhan itu selalu disampaikan orangtua kepada anaknya, dan bukan sebaliknya. Sementara pada jaman sekarang ada trend mengajari anak-anak kecil yang masih ngompol untuk rajin “memberkati” orangtua, kakek-neneknya. Mungkin tidak salah, tetapi seorang anak mengatakan “God bless you” kepada orangtuanya sama sekali tidak lazim di Alkitab. Jika tidak lazim atau bahkan tidak ada, lantas apa artinya?

Bukan sekedar saluran
Namun Alkitab menyaksikan bahwa orang-orang beriman bukan sekadar dipanggil menjadi saluran atau corong berkat tetapi menjadi berkat itu sendiri. Tuhan Allah memanggil Abraham menjadi berkat. (Kejadian 12:1). Nabi Zakaria menyampaikan janji bila umat Allah diselamatkan dan dipulihkan maka umat juga akan jadi berkat. (Zakaria 8:13). Apa artinya menjadi berkat? Pribadi, persekutuan, pelayanan, peran dan keterlibatan kita menjadi solusi, kabar baik, pertolongan dan kebahagiaan bagi orang lain. Itu hanya dimungkinkan bila kita sungguh-sungguh dekat kepada Tuhan seperti Abraham. Tuhan itu sangat baik, karena itu orang-orang yang berada di dekatNya juga pasti baik. Jika dibalik: Tuhan Allah itu baik, jika orang Kristen jahat, egois, serakah, sombong dll itu artinya “si kristen” itu sebenarnya tidak dekat atau jauh dari Tuhannya. Mari kita catat baik-baik.


Cakupan berkat
Bila kita baca Ulangan 28:1-14 berkat TUHAN Allah itu bersifat komprehensif, komplit atau lengkap: lahir dan batin, jasmani dan rohani. Orang-orang yang diberkati Tuhan memiliki kedudukan yang baik di masyarakat, hidup aman dan sejahtera, kesuburan (tanah, kandungan, dan ternak), keberhasilan bisnis dan usaha, kemenangan dalam peperangan dan politik, nama baik dan kekuatan dan lain-lain. Berkat Tuhan benar-benar luas dan menyeluruh membuat hidup kita benar-benar damai, sejahtera, adil dan makmur dan bahagia.

Namun baiklah kita sadar bahwa ada kecenderungan komunitas kita (Kristen-Batak) mereduksi atau mempersempit berkat Tuhan seolah-olah hanya dalam dua hal.

Pertama: kesuburan (bahasa Batak: hagabeon). Kultur Batak yang kita warisi boleh dikatakan sangat memuja kesuburan. Karena itu ada godaan, tanpa sadar kita menganggap kesuburan adalah satu-satunya berkat Tuhan. Konsekuensinya bila tidak subur (baca: tidak memiliki anak) seolah-olah tidak ada berkat Tuhan. Bahkan: seolah-olah ada kutuk. Pemahaman ini harus dikoreksi. Jika kesuburan adalah satu-satunya tanda berkat Tuhan, pertanyaannya: bagaimana dengan Yesus dan Paulus (juga Yeremia) yang tidak menikah dan tidak punya anak? Apakah Yesus dan Paulus tidak penuh dengan berkat Tuhan?

Kedua: kekayaan (bhs Batak: hamoraon). Kultur Batak sangat memuja materi. Teologi sukses (“hidup berkelimpahan”) yang sedang berkembang sekarang juga sebenarnya bentuk lain pemujaan materi. Karena itu kekayaan materi pun dianggap satu-satunya berkat Tuhan. Sebaliknya kemiskinan tentu bukti belum atau tidak diberkati, atau malah dikutuk Tuhan. Pertanyaan: apakah orang Kristen yang kaya-raya dengan korupsi (baca: mencuri uang negara dan rakyat), menipu dan merusak lingkungan, atau mengemplang utang trilyunan rupiah kepada bank negara, boleh disebut sebagai orang-orang yang diberkati Tuhan? Lantas apakah Yusuf dan Maria miskin yang hanya sanggup mempersembahkan sepasang tekukur adalah orang yang diberkati Tuhan? Jangan salah sangka. Saya tidak mengatakan kesuburan dan kekayaan tidak penting atau tidak baik. Usahakanlah memperoleh kesuburan dan kekayaan (juga berbagai cita-cita bagus lain), tetapi jangan jadikan hal itu sebagai bukti satu-satunya atau absolut dari berkat atau anugerah Allah. Dan jangan korbankan kebahagiaan atau sukacita, juga iman dan kesetiaan, demi mendapatkan kekayaan atau kesuburan itu. Sebab Tuhan masih memiliki sangat banyak berkat yang lain.

Dalam kotbah di bukit Tuhan Yesus (yang tidak punya tempat meletakkan kepalaNya itu) menyampaikan bahwa berkat yang dianugerahkan Allah itu tidak sekadar kesuburan dan kekayaan. Yesus mengajak kita melihat berkat-berkat Allah yang lebih dalam, yaitu syalom, damai sejahtera, kebahagiaan Ilahi yang diberikan Allah ke hati orang-orang beriman.


Syarat mendapatkan berkat
Ulangan 28 jelas mengatakan bahwa ada syarat untuk mendapatkan berkat Allah. Syaratnya hanya satu, yaitu: mendengarkan firman Allah dan taat kepadaNya. Dengan perkataan singkat: siapa yang mau mendengarkan firman Allah dan taat kepada Allah pasti melimpah dengan berkat Allah. Sebaliknya: orang yang tidak mendapat berkat pastilah orang yang tidak mau mendengar dan taat kepada Tuhan Allah! (Jika ada yang mengatakan “aku sudah taat kepada Tuhan tapi aku tak mendapat berkat” maka orang itu bohong!)


Di sini kita disadarkan bahwa berkat adalah konsekuensi ketaatan kepada Allah. Ini persis seperti yang dikatakan Yesus dalam Lukas 11:28 “Yang berbahagia adalah orang yang mendengar firman Allah dan memeliharanya”. Apa artinya itu? Segala sesuatu hanya menjadi berkat selama atau sepanjang kita taat kepada Tuhan. Jika dikonkretkan: nama besar, kekayaan, karir tinggi, jabatan, kesuburan, pengetahuan, kesehatan, kecantikan dan kekuatan dan lain-lain hanya menjadi berkat selama kita taat kepada Tuhan. Bila kita tidak lagi taat kepada Tuhan, maka semuanya itu bukan saja tidak berguna malah berubah menjadi kutuk atau sumber petaka. Itulah yang dikatakan nabi Maleakhi: “Jika kamu tidak mendengarkan dan memperhatikan firmanKu, maka Aku akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk” (Mal 2:2). Kata kuncinya di sini adalah: taat kepada Tuhan. Tanpa ketaatan kepada Tuhan kekayaan, pangkat dan jabatan dll bukan berkat! Sekali lagi: tanpa ketaatan kepada Tuhan apa yang kita anggap tadinya berkat berubah menjadi sumber petaka atau sengsara.


Blessing in disguise
Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Ada berkat tersembunyi atau blessing in disguise. Bagi orang-orang yang mendengarkan firman Tuhan dan taat kepadaNya segala sesuatu bisa menjadi berkat. Bagi orang beriman kesukaran, permasalahan, dan ujian, bahkan kekurangan sekali pun bisa berubah menjadi berkat. Kata kuncinya sama: ketaatan. Orang-orang yang taat kepada Tuhan selalu bahagia sepanjang masa. (orang yang tidak bahagia pasti bukan orang yang taat!)


Berkat yang dibagi malah bertambah banyak
Terakhir: dukacita, beban dan masalah bila dibagi-bagi akan berkurang. Namun berkat Tuhan bila dibagi-bagi malah bertambah banyak. Percayalah. Itulah yang dikatakan sang bijak: Ada orang yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa namun selalu berkekurangan (Amsal 11:24). Sebab itu jangan pernah takut memberi, berbagi atau berkurban seperti Tuhan.

Pdt Daniel T.A. Harahap

(disampaikan pada kebaktian Minggu 17 Juni 2007 di HKBP Rawamangun jam 09.30)

 

Home: http://rumametmet.com

 

Share on Facebook

Tags: , , , , , , , ,

12 Responses to BERKAT OH BERKAT (Renungan Minggu 17 Juni 2007)

  1. Boyke on June 18, 2007 at 4:10 am

    ttg “Anak memberkati orangtua?”,
    Ayolah Mang, saya ngga yakin amang serius dengan makna sebenarnya dari ‘masih ngompol’. Tapi sampai seseorang itu menjadi dewasa dan mungkin bahkan menjadi pendeta -bukan dalam kedudukannya sebagai uluan huria, bukankah dia juga tetap seorang anak dari seorang/sepasang orang tua. Saya jadi inget dgn peristiwa desa Meko (87 Km dari Poso -klo blom dpt forward2annya blg y mang) terlepas dari kebenaran cerita tersebut, munginkah alur berkatnya menjadi terbalik dan tidak lazim di Alkitab? Lantas apa artinya Mang??

  2. Natalyne on June 18, 2007 at 5:50 am

    Amang,saya setuju .. selama saya mendengar kotbah memang tidak pernah ada ayat Alkitab bilang anak memberkati (tumpang tangan) terhadap orangtua, tp orangtua yang tumpang tangan pada anak :) tp anak menjadi berkat bagi orangtua (harus itu hehehe), saya juga setuju dengan prinsip berkat itu langsung dari Tuhan, krn memang manusia tidak ada yg layak mewakili Tuhan. Amang terima-kasih ya utk renungannya. Semoga menjangkau banyak jiwa.

  3. daniel harahap on June 18, 2007 at 5:55 am

    pro boyke:
    jika memang tidak lazim, tidak ada apalagi bertentangan dengan apa yang disaksikan Alkitab seharusnya kita benar-benar kritis, “curiga”, dan menyelidiki secara seksama dan penuh kehati-hatian (termasuk menggunakan bantuan psikolog, antropolog, wartawan, dan detektif swasta :-)

  4. ECCO on June 23, 2007 at 12:41 am

    nah, mengenai berkat saya bingung amang, maksud amang dengan berkat itu, apakah mode anak2 sekarang dengan mengatakan “GOD Bless You” (di mulut), atau memberkati dengan menjadi berkat seutuhnya, klo contoh Yusuf yang akhirnya setelah dia dibuang menjadi tuan di negeri mesir, kemudian akhirnya dia malah memberkati (dalam arti kata menjadi berkat bagi keselamatan saudara2nya dan ayahnya), kira2 itu disebut “anak memberkati orangtua” bukan??

    nah kalo misalnya amang, ada pendeta yang “masih ngompol” (lebih mirip anak2 yang pengen terus dilayani) terus memberkati jemaat (yang banyak kakek2, nenek, yang lebih tua dari dia), kira2 berkatnya sah ga amang?

    terus masalah hal lazim dan tidak lazim, bukankah Tuhan kita Tuhan yang penuh kreasi, penuh dengan inovasi, penuh dengan strategi, lantas untuk apa kita membatasinya dengan “kelaziman2″ yang ada??

    wah…wah saya jadi bingung amang, kok amang ini tiba2 jadi sangat “kaku sekali”? , apakah karena tradisi “mengucapkan berkat” antara anak-orangtua atau orangtua anak “tidak lazim” di HKBP??atau memang esensi “berkat” itu yang menjadi alasan??

  5. ECCO on June 23, 2007 at 2:39 am

    kalo memang esensi berkat itu sendiri (yang amang sudah katakan sumbernya dari Tuhan bukan manusianya), kenapa amang masih pusing atau repot2 menuliskan/mempermasalahkan ttg “anak memberkati orangtua”??
    (aduh..apa amang mau mengkritik kebiasaan ‘saudara2 kharismatik’ hehehe…)

  6. daniel harahap on June 24, 2007 at 5:23 pm

    anak memberkati orangtua bukan tidak lazim di hkbp tetapi di alkitab! apa artinya itu? :-)

  7. daniel harahap on June 24, 2007 at 5:24 pm

    anak memberkati orangtua bukan tidak lazim di hkbp tetapi di alkitab! apa artinya itu? :-)

  8. ECCO on July 3, 2007 at 1:57 am

    amang masih belum menjawab pertanyaan saya,

    1. apakah Yusuf tidak ‘memberkati’ orangtuanya

    2. kalo pendeta memberkati jemaat yang kebetulan orangtuanya bagaimana?

    saya rasa tentang kelaziman pada alkitab maksudnya adalah ‘ucapan berkat’ (yang memang betul amang bilang dari orangtua kepada anak), mengucapkan berkat, tp gimana mau mengucapkan sintua yang rajin mengucapkan ‘Tuhan memberkati’ pada jemaat yang datang di gereja di tempat saya (dulu di jakarta) langsung di cap “kharismatik” :)

  9. daniel harahap on July 3, 2007 at 4:53 am

    kapan yusuf memberkati yakub? Pendeta memberkati orangtuanya bukan sebagai anak tetapi sebagai imam… dan dia melakukan itu paling sedikit setelah umurnya 25 tahun dan bukan 5 tahun saat masih ngompol…. :-)

    istilah GBU sebenarnya sekarang lebih banyak latah-latahan dan itu semakin mengacaukan makna berkat…

  10. ECCO on July 11, 2007 at 3:33 am

    terimakasih atas penjelasannya amang :)

  11. Daniel on July 12, 2007 at 7:43 pm

    saya lihat ada absurditas mengenai pemahaman bahasa antara echo dan abang DTA pada kasus Yusuf.

    Abang DTA menunjuk kepada memberkati yang merupakan otoritas Allah semata-mata dan manusia tidak mempunyai kemampuan ini, sedangkan ecco menyatakan Yusuf ‘memberkati’ keluarganya.

    “MEMBERKATI” dalam konsep DTA hanya milik Kristus sedangkan Yusuf tidak memberkati keluarganya melainkan “mungkin” “MENJADI BERKAT” bagi keluarganya…

    jadi kesalhpahaman bahasanya ada pada “menjadi berkat” dan “memberkati”.

    kalo saya pake GBU lebih sering untuk kenalan ke cewe-cewe yang lebih “rohani” biar sms saya dibalas sama mereka :)

    regards,
    daniel simanjuntak

  12. Latteung on July 23, 2007 at 6:34 pm

    Horas Amang DTAH…

    amang menulis…
    Pertanyaan: mungkinkah hula-hula, tulang, orangtua, kakek-nenek yang tidak mengenal Tuhan, tidak pernah ke gereja dan tidak pernah berdoa, selalu mabuk dan minum judi, hobi bertengkar dipakai Tuhan menjadi saluran berkatNya? Apakah Tuhan rela berkatNya disalurkan oleh orang-orang yang justru tidak mau mengenal dan taat kepadaNya? Di sinilah kita sadar bahwa tidak ada manusia yang boleh mengklaim dirinya sebagai penyalur berkat Tuhan satu-satunya dan abadi serta absolut.

    Kalao saya tanya balik begini…
    Mungkin gak Tuhan menyalurkan Berkatnya lewat Pendeta Pangalakkup??…..who body knows,

    yang saya yakini adalah Tuhan memberikan berkat bagi setiap orang dengan caraNya sendiri. siapapun gak moleh mereka-reka dengan pertanyaan mungkin atau tidak mungkin, bagaimana atau dengan cara apa Alla memberikan berkat kepada kita. Saya juga yakin ‘Sesuatu’ yang manusia anggap itu berkat belum tentu dan tidak bisa kita pastikan apakah itu berkat tuhan apa tidak.

    Hal kedua,…
    Masalah anak memberkati orang tua….

    Mari kita samakan persepsi amang. dimanapun gak ada yang tertulis manusia memberkati manusia, jangankan anak memberkati orang tua,..sebaliknya orangtua memberkati anakpun tidak ada,..yang memberkati adalah Allah. karena setiap orang tua adalah anak, dan setiap anak adalah orang tua.

    saya mau tanya amang,…
    Inongku baru berulang tahun yang ke 53 beberapa hari yang lalu, lalu saya kirim SMS bunyinya ” Selamat ulang tahun ya ma, sai ditambai Tuhanta ma umur di mama, jala dilehon hahipason asa totop boi tontong mangajari hami angka ianakkonmu”….
    apa kata-kata..”sai ditambai Tuhanta ganjang ni umur…” termasuk kategori ‘proses pemberkatan’??

    trus….defenisi ‘pemberian berkat’ juga apa..jadi bener-bener bingung neh ;)
    salam hendry lg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*