Lebih Taat Kepada Siapa?

Almanak Kamis 14 Juni 2007:

borobodurconehead.jpg

Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: “Kita harus lebih taat kepada Allah
dari pada kepada manusia.” (Kisah Rasul 5:29)

Memiliki banyak anak buah yang bisa diperintah pastilah sangat menyenangkan. Tetapi bagaimana jika memiliki banyak pemimpin atau boss yang semuanya harus ditaati? Itu jelas sangat melelahkan dan bisa membingungkan. Namun itulah yang sering terjadi dalam kehidupan ini. Kita mungkin saja harus taat kepada banyak orang: atasan langsung di pekerjaan, boss besar, orangtua, mertua, suami/istri, pendeta dan pemerintah. Satu lagi: kepada Tuhan. Syukurlah ketaatan itu tergantung situasi, tempat dan waktu, dan sering-sering bisa ditawar.

Namun bagaimana jika kita harus taat kepada dua orang di even, tempat dan waktu yang sama? Selama perintah yang diberikan oleh kedua boss itu sama atau sejalan tidak ada masalah yang terlalu besar. Semua aman-aman saja. Pertanyaan: bagaimana kalau perintah yang diberikan berbeda bahkan bertentangan? Bagaimana kalau atasan memerintahkan bekerja pada hari Minggu sementara orangtua menyuruh kita hadir di pertemuan penting keluarga? Mungkin kita akan melihat situasi, skala prioritas, atau
urgensi atau kepentingan untuk mengambil keputusan. Namun bagaimana kalau atasan yang sangat berkuasa, atau orangtua yang sangat kita hormati, memerintahkan kita melakukan sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan perintah Allah?

Kita tahu ada beberapa lembaga dunia yang sering ingin memaksa kita taat penuh tanpa syarat kepadanya, yaitu: orangtua atau keluarga, pemerintah dan perusahaan tempat kita bekerja, juga musuh. Ketaatan tak bersyarat kepada pemimpin atau boss di dunia ini merupakan masalah besar bagi orang Kristen. Mengapa? Karena Tuhan Allah justru menuntut ketaatan mutlak, total, dan tak bersyarat. Masalahnya, seringkali perintah Allah dan perintah boss dunia itu berbeda dan bertentangan. Lantas bagaimana? Siapakah yang akhirnya dipatuhi oleh orang Kristen?

Rasul Petrus mengajarkan kita agar lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Ketika kita menghadapi pertentangan perintah Allah dan perintah manusia (ingat: tidak selamanya bertentangan), maka kita harus lebih taat kepada Allah.

Seorang teolog pernah menjelaskan agar tidak mengalami keterpecahan jiwa, sebenarnya kita hanya memiliki ketaatan tunggal: kepada Allah saja. Hanya kepada Allah sajalah kita satu-satunya harus taat. Lantas bagaimana dengan yang lain-lain? Ketaatan kita kepada orangtua, pemerintah, dan adat hanyalah sepanjang hal itu mendukung ketaatan kita kepada Allah atau kebenaran. Jangan dibalik.

Doa:
Ya Allah, Engkaulah satu-satunya Tuhan kami. Hanya Engkaulah yang harus kami sembah, patuhi dan muliakan. Tolonglah kami membangun ketaatan-ketaatan kami di dunia ini berdasarkan firmanMu. Karuniakanlah kami Roh Kudus, agar Dia mengajar kami bagaimana harus hormat dan taat kepada orangtua yang melahirkan kami, pemerintah yang melindungi kami, para pemimpin dan atasan, mereka yang Engkau percayakan memimpin kami. Berkatilah kami semua, ya Allah. Bila suatu ketika kami terpaksa menghadapi perintah-perintah sulit yang saling bertentangan di dunia ini, terutama bertentangan dengan perintahMu, mampukanlah kami lebih mendengar FirmanMu dan taat kepada perintahMu saja. Demi Kristus. Amin.


Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

11 comments for “Lebih Taat Kepada Siapa?

  1. June 13, 2007 at 6:47 pm

    ok amang. pas banget yah.
    yah, ketaatan memang tidak mudah untuk dilakukan, namun bila Roh Kudus sudah bekerja, tiada yang ga mungkin.
    dari ketaatan, kita belajar setia pada TUHAN.
    selamat melayani

    Tuhanta ma namangaramoti hita sude

  2. June 13, 2007 at 10:32 pm

    Renungan hari ini bagus sekali makna nya.. seandainya saya punya kemampuan dan keteguhan hati untuk dapat melaksanakan taat akan Allah.. kalau bisa besok kirim in lagi ya..

  3. June 13, 2007 at 11:14 pm

    klu boleh sharing ya amang, secara teori sih saya menaruh urutan berdasar prioritas
    1. Tuhan
    2. pekerjaan
    3. pelayanan
    4. keluarga
    5. teman dst

    tapi klupun hr minggu disuruh lembur saya kerja, trus gerejanya sore ;P
    soalnya saya ga berniat mempertentangkan Tuhan atas semua yg saya punya, toh pekerjaan, bos galak, keluarga n etc jg dariNya kan..

    mauliate.

  4. June 14, 2007 at 12:22 am

    Wah… Wah… Mantap-mantap…

    Bener kata Amang..

    Kadang-kadang kita diberi pilihan yang sulit…

    Waktu kita ingin pelayanan.. eh malah keluarga meminta kita untuk tidak pergi pelayanan karna urusan keluarga….

    Nah.. Misalnya… Saya diminta melayani di gereja… Tetapi keluarga meminta saya untuk tidak pergi….

    Apa yang harus saya perbuat amang???

    Benarkah karena ” keluarga itu hanya ada sementara, sedangkan pelayanan itu ada di seumur hidup kita” membuat kita mengeyampingkan pelayanan untuk keluarga amang???

    Mohon pendapatnya…

    Mauliate…
    Tuhan memberkati….

  5. June 14, 2007 at 1:02 am

    menurut saya melayani gereja dan melayani keluarga sama berharga dan mulianya, tidak ada yang bisa dikorbankan atau disepelekan… sebab itu mungkin kita harus lebih pintar menata waktu dan kualitas pertemuan, mungkin juga kita harus melihat tingkat urgensi dan kepentingannya, atau mungkin juga mengajak gereja melibatkan seluruh keluarga dalam acara-acaranya….. :-)

  6. June 14, 2007 at 1:04 am

    tetapi jika keluarga meminta saya melakukan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, saya akan mengatakan penuh rasa sayang: TIDAK.

  7. June 14, 2007 at 3:44 am

    Ini merupakan salah satu pengalaman ku dan suami. Tahun lalu, suami ku di mutasi di tempat yang mengharuskannya untuk bekerja di hari Minggu. Awalnya, kita bisa toleransi dengan pergi kebaktian di sore hari. Tapi minggu demi minggu pekerjaan makin banyak dan menyita waktu. Dengan membawakan masalah ini dalam doa, Puji Tuhan, suami ku di pindahkan kembali ke kantor sebelumnya, sehingga kita bisa tetap memberikan waktu buat Tuhan di hari Minggu (walaupun setiap saat adalah waktu Nya). Terima kasih Amang buat renungannya. Tuhan memberkati.

  8. June 14, 2007 at 6:45 am

    Amang, ternyata lebih jelas baca disini drpd di buku..hehehe..ada doa’nya juga lagi.

  9. June 14, 2007 at 7:23 am

    amang daniel,,
    ok bgt lho renungannya..
    terus berkarya utk Allah
    melalui anak2 muda ya
    Godbless

  10. June 15, 2007 at 1:45 am

    Amang terima kasih.
    Renungan hari ini (yang baru dibaca jumat karena ujian) meneguhkan saya akan pergumulan saya. Firman hari kamis sungguh tepat dan telak buat pertanyaan saya waktu itu…terima kasih.

  11. Leonard Mangunsong
    February 6, 2008 at 10:40 pm

    Saya tertarik sekali dengan tema TAAT. Sebuah pasangan kata yang sangat unik, tetapi menyimpan kedalaman makna yang luar biasa. Mungkin jika setiap orang berpikir untuk taat pada Allah dan kemudian taat kepada atasannya, Indonesia akan lebih baik dari sekarang…

    Note :
    Saya baru baca buku biografi Amang “Anak Penyu Menggapai Laut” dan saya merasa diberkati dengan penyampaian yang sederhana dan penuh makna.
    Oh ya.. saya PNB dari HKI, mungkin kapan-kapan kita bisa ketemu dan sharing kali yach… Bisa gak saya dikirimi nomor telp yang bisa dihubungi… Terima kasih.. TUhan Memberkati Amang…

Comments are closed.