SERIBU PERTANYAAN TENTANG CINTA (9)

June 5, 2007
By

dsc03250.jpg

81. Tanya:
Apakah sebenarnya arti jodoh?

Jawab:
Suami atau istri. Sebab itu sebelum kamu mengikat perjanjian nikah dengan seseorang (secara gereja, negara, adat) jangan katakan dia adalah jodohmu. Sebaliknya kalau kamu sudah menikahi seseorang jangan pernah katakan dia bukan jodohmu. Berusahalah dengan segenap hati dan akal budi mencintainya dan menjadikan dia jodohmu.

82. Tanya:
Apakah Tuhan memilihkan jodoh kita?

Jawab:
Kecuali Adam tidak ada orang yang dipilihkan Tuhan secara langsung jodoh atau suami/istrinya. Masing-masing orang harus mencari dan memilih sendiri siapa yang dianggapnya tepat untuk diajak menjadi suami atau istrinya. Mungkin dengan meminta bantuan orangtua atau biro jodoh, tetapi prinsipnya tetap yang bersangkutan harus mencari dan memilih sendiri.


83. Tanya:
Kenapa ada sebagian orang tampaknya begitu mudah mendapatkan pasangan hidupnya dan sebagian orang lagi tampaknya sangat susah.

Jawab:
Cepat atau lambatnya seseorang bertemu dengan orang yang dianggapnya cocok dijadikan istri atau suami tergantung kepada banyak faktor: kepribadian, kesempatan, keluarga, lingkungan dan lain-lain. Orang-orang berkepribadian menarik, supel dan terbuka tentu kemungkinan lebih besar berinteraksi dengan banyak orang. Sebaliknya orang-orang pemalu, bekerja di kesunyian, dan dari keluarga eksklusif tentu sulit juga bertemu banyak orang. Jangan lupa faktor budaya juga berpengaruh. Bagi budaya yang “mengharamkan” perempuan untuk mengambil inisiatif, proaktif dan “agressif” tentu perempuan cenderung akan lebih banyak menunggu. Masalahnya: siapa yang ditunggu dan apakah yang ditunggu itu memang benar-benar ada. Saran saya: ciptakanlah sendiri sebesar-besarnya peluang untuk menemui-ditemui sebanyak-banyaknya calon, dan pilihlah satu dari antara yang ada itu.


84. Tanya:
Pacar saya sangat tidak menghargai saya. Kami seringkali bertengkar karena soal-soal kecil. Sepertinya tidak ada satu pun yang saya lakukan benar di matanya.

Jawab:
Untuk apa pacaran jika hanya untuk bertengkar? Apa artinya seorang pacar jika hanya membuat perasaan kita rendah dan kecil? :-) Pacaran adalah sebuah latihan untuk saling mengenal lebih mendalam, selanjutnya saling menerima dan saling meneguhkan, juga saling menghargai. Bukan malah saling menegasi dan saling menyalahkan. Mungkin kalian baik mengambil jarak sejenak dan merenungkan ulang apa sebenarnya yang mendasari kalian berdua membangun pertemanan khusus? Seandainya kalian berpacaran hanya berdasarkan daya tarik fisik belaka atau kebutuhan mengatasi rasa sepi, tentu saja perbedaan sifat dan kebiasaan mudah sekali menyulut pertengkaran. Sebab itu saya ingin memberi PR: carilah alasan-alasan lain yang membuat kalian ingin tetap dekat satu sama lain.


85. Tanya:
Saya seorang mahasiswi. Ibu saya melarang saya pacaran. Katanya jaman dulu orang tidak mengenal pacaran dan pernikahan mereka juga bahagia.

Jawab:
Ibumu benar. Jaman dahulu orang tidak mengenal pacaran dan pernikahan mereka juga sukses dan bahagia (tidak semua). Mengapa? Pada jaman dahulu orang biasanya menikah dengan teman sesuku yang tinggal sewilayah. Pola pikir, adat, kebiasaan, kebutuhan dan harapan, serta pengalaman mereka boleh dibilang sama. Namun jaman sudah berubah. Manusia menikah dengan orang yang walaupun sesuku dan seagama, tetapi berbeda sekali pola pikir, adat, kebiasaan, pengalaman dan harapannya. Itu membuat pernikahan masa kini (tanpa didahului proses pengenalan dan penyesuaian diri) menjadi sangat sulit dan bisa berakhir berantakan.


86. Tanya:
Kapan saatnya saya boleh memberikan bibir saya dicium pertama kali oleh pacar saya?

Jawab:
Pada saat kamu yakin dan memperoleh kepastian bahwa pacarmu sehat dan tidak mengidap penyakit yang dapat menular melalui pertukaran air liur dan sentuhan kulit. :-)


87. Tanya:
Pacar saya mengajak ke Puncak bermalam. Katanya dia akan manis-manis dan menjaga diri dan tidak akan macam-macam. Saya bingung: antara ingin dan takut. Bagaimana?

Jawab:
Pamit kepada orangtuamu saja. Jika orangtuamu mengijinkan, ya silahkan pergi, jika tidak, ya jangan pergi. Ingat: kadang-kadang rasa takut itu berguna.


88. Tanya:
Ini sudah jaman super moderen, tapi mengapa gereja masih mengajarkan moralitas seks kuno?

Jawab:
Apakah sebenarnya yang dimaksud moralitas seks kuno? :-) Gereja hanya mengajarkan agar seks dihayati sebagai anugerah Allah kepada kehidupan manusia yang diberikan bersama-sama dengan cinta, penerimaan, perlindungan dan kesetiaan. Artinya seks tanpa cinta, penerimaan, perlindungan dan kesetiaan adalah manipulasi atau penyimpangan. Apakah itu moralitas kuno? Lantas apa pula yang disebut moralitas seks moderen?

89. Tanya:
Saya sedang jatuh cinta. Dunia tiba-tiba begitu indah. Hati saya berbunga-bunga. Siang dan malam, dimana-mana, saya hanya memikirkan dan membayangkan dia saja.

Jawab:
Ya, cinta memang membuat dunia menjadi luar biasa indah dan menyenangkan. Nikmatilah hari-hari indahmu. Semoga kemesraan tidak cepat berlalu. Namun tetap sediakan cukup ruang kepada akal sehat dan hati nurani ya?! Satu lagi: tetap selesaikan tugas-tugas kuliahmu. :-)

90. Tanya:
Darimanakah saya bisa tahu bahwa pacar saya telah bebas bias gender, dan menganut kesetaraan laki-laki dan perempuan?

Jawab:
Itu pertanyaan penting namun sulit. Pertama-tama tentu melalui bahasa atau percakapan. Jika pacarmu benar-benar sadar gender maka dia akan menghindari kata-kata yang melecehkan perempuan (contoh: bukan Wanita Tuna Susila tetapi Pekerja Seks Komersial). Dalam membahas berita koran atau televisi tentang pemerkosaan maka dia cenderung melihat dari perspektif korban dan bukan sebaliknya menyalahkan korban. Kedua: melalui sikap dan tindakan sehari-hari. Dia tidak akan risih melakukan pekerjaan yang selama ini dianggap pekerjaan perempuan, yaitu: mencuci, memasak, membuat minuman. Cara yang terbaik adalah mengecek bagaimana hubungannya dengan kakak atau adik perempuannya. Jika dia masih merendahkan mereka maka besar kemungkinan dia juga akan melakukannya kepadamu sesudah menikah.

(bersambung)

Kembali ke halaman depan

 

Share on Facebook

Tags: , , , ,

28 Responses to SERIBU PERTANYAAN TENTANG CINTA (9)

  1. Rhema on June 6, 2007 at 10:17 pm

    saya mau tanya tentang jawaban (apakah Tuhan memilihkan jodoh kita)nomor 82? mengapa kita harus mencari dan memilih sendiri ? kenapa kita gak melibatkan Tuhan biar Tuhan yang menentukan jodoh kita? karena menurut saya jika kita memilih sendiri mungkin bisa salah tapi kalau Tuhan yang memilihkan jodoh kita saya yakin dan percaya tidak pernah salah. Gbu

  2. daniel harahap on June 6, 2007 at 11:11 pm

    Kenapa kita harus memilih sendiri jodoh (suami/istri) kita? Pertama: karena yang mau maried adalah kita dan bukan Tuhan. :-) Kedua: karena kita sudah dewasa, tahu siapa yang paling cocok untuk kita. Ketiga: agar kita bertanggungjawab, dan tidak menyalahkan siapa-siapa termasuk Tuhan bila pernikahann kita kelak bermasalah.
    Melibatkan Tuhan untuk meminta pertimbangan dan restuNya? Tentu saja baik dan harus dilakukan. Tetapi yang memilih dan mengambil keputusan tetap kita. Bagaimana?

  3. -YANZ- on June 8, 2007 at 4:04 am

    saya setuju, kalau jodoh sebenernya di tangan kita, tapi tetap dengan melibatkan TUHAN, sepanjang yang saya imani, TUHAN memberikan kriteria pasangan hidup buat kita, dan menyerahkan pilihan buat kita untuk memilih org2 seiman diskitar kita yang sesuai dengan kriteria TUHAN, TUHAN hanya melarang kita memilih pasangan hidup dari luar kriteria tersebut. inti nya TUHAN memberikan org2 seiman untuk kita pilih. TUHAN berikan 10 org untuk dipilih? atau mungkin 100 org teman2 seiman kita? tidak soal. kita tinggal pilih yang sesuai dengan hati kita. aduhh,,, maaf amang jadi ikutan kotbah nehh hehehhee…. cuma kasi masukan sbg tambahan aja amang. terima kasih Gbu all

  4. daniel harahap on June 8, 2007 at 9:31 am

    kalau boleh tahu, apakah kriteria yang dianggap dari Tuhan, selain harus seiman tapi berbeda jenis kelamin? :-) Menurut saya kriteria pasangan hidup juga mesti kita masing-masing yang bikin, sesuai selera, kebutuhan, harapan, dan kemampuan. :-)

  5. AprilLany on June 8, 2007 at 2:23 pm

    Menurut saya kedewasaan secara umur, bukan jaminan seseorang bisa memutuskan yang terbaik untuk dirinya. Jadi minta petunjuk dan konfirmasi dari Tuhan adalah yang paling utama, karena Tuhan pasti tau apa yang terbaik buat kita lebih dari pertimbangan-pertimbangan yg kita miliki secara selera, kebutuhan, latar belakang, harapan dlsbg.
    Lagipula kalau dalam hal-hal yang lebih kecil saja kita minta petunjuk dari Tuhan, apalagi dalam hal memilih pasangan hidup.

  6. daniel harahap on June 8, 2007 at 5:28 pm

    Saya mau mengajak berpikir sebaliknya: Bagaimana kalau Tuhan justru menuntut kita agar memilih dan mengambil keputusan sendiri, karena menganggap kita sudah dewasa? :-)

    Kadang saya bertanya: kenapa orang Kristen suka sekali jadi kanak-kanak yang malas berpikir sendiri, selalu minta dipilihkan, dan karena itu tidak perlu bertanggungjawab atas hidupnya. Bukankah Paulus menyuruh kita berpikir sebagai orang dewasa dan hanya menjadi seperti anak-anak dalam hal melakukan kejahatan (sebab anak2 tak pintar melakukan yang jahat)?

  7. AprilLany on June 9, 2007 at 3:59 pm

    Duh, melibatkan Tuhan dalam keputusan2 kita justru pekerjaan paling dihindari oleh orang pemalas, Amang. Memutuskan sendiri malah lebih gampang menurutku, taat pada kehendak Dia justru kadang jauh lebih sulit dan menuntut kedewasaan. Mungkin disini kita berbeda.

    Kembali ke laptop… eh kembali ke masalah jodoh, kenapa saya yakin Tuhan berperan besar dalam memilih pasangan hidup kita selain prinsipnya didapat dari kisah Adam juga contoh dari Kej 24 dimana hamba Abraham minta petunjuk Tuhan dalam memilihkan istri untuk Ishak.

  8. Marshel on June 9, 2007 at 5:12 pm

    Hmmm amang menarik sekali semua tanya-jawab ini. Tapi saran saya amang membuka diri dengan mengundang mereka berpikir lagi mengenai pembahasan tersebut. BIsa2 interpretasinya berbeda dari yang sesungguhnya ingin amang sampaikan hehehe. Satu hal tambahan dari saya: unsur terpenting dari hub pacaran adl cinta. U can give without love but u can’t loving without giving. Dalam ‘giving’ yg sesungguhnya ada pengorbanan. Pengorbanan yg baik dan benar menuntut tanggung jawab. Jadi ada 3 unsur terkait:cinta, berkorban, tanggung jawab. Kalau udah siap akan hal itu…menurut saya gak ada salahnya pacaran. Tapi dalam kasus saya yang tersulit adalah mencari calon pacarnya ini hehehe.

  9. Marshel on June 9, 2007 at 5:35 pm

    Well, saya baru liat comment aprillany…menarik. Yesus datang ke dunia untuk mengajarkan menyerahkan kehendak kita dalam Dia. Tapi di salah satu surat Paulus ada tertulis kira2 spt ini : biarkan dengan pengenalan Tuhan akan memperbaharui pikiran akal budi kita……… Dalam mengambil keputusan kita sendiri, kita akan memakai seluruh informasi dan rasionalitas. ………… Tuhan memebrikan anugerah manusia untuk memilih. Dengar, itu anugerah!Malaikat iri dengan manusia karena mereka tdk diberi anugerah demikian. Binatang hanya punya intuisi. Kita manusia boleh bebas memilih. Terjadi insinkronisasi kalau tiba2 Tuhan bilang: kamu tdk bebas memilih! Saat kita menerima Roh Kudus sbg pemimpin dlm hati kita…kita pun harus memilih untuk menetapkan Dia sbg Tuan atas hidup kita atau tidak. Tuhan ingin kita bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas kesalahan dengan mengakuinya dan minta pengampunan. Bertanggung jawab atas kejatuhan dgn bangkit berdiri………………Jadi menurut saya apapun yg kita pilih, harus diikuti dgn berbagai alasan yg baik maupun konsekuensi yang dapat kita pertanggungjawabkan.. Itu cara Dia mendidik kita…

  10. Marshel on June 9, 2007 at 5:42 pm

    Tambahan lagi…aduh nambah mulu yah hehehe. Coba deh lihat kisah2 di alkitab terutama suami istri. Ishak-Ribka, Abraham-Sarah,Daud-Batsyeba. Tuhan itu luar biasa! Dari hubungan daud-batsyeba yg gak halal lahirlah Salomo yg mjd legenda dan memasyhurkan nama Allah. Sarah meminta Abraham meniduri pelayannya krn janji Allah tampak mustahil. Ribka menyuruh yakub menipu Esau utk mengambil hak kesulungan. Tidak ada manusia yg lahir sempurna, meskipun itu pilihan Allah. Begitupun pasangan kita nanti..even itu kita pikir dari Allah…krn itu jelas kita yg harus memilih…tapi tetap Tuhan udah kasih bekal kan dengan bagaimana kita memilih itu…

  11. daniel harahap on June 9, 2007 at 6:25 pm

    Salomo bukan contoh yang baik dalam hal cinta, pacaran dan seks. Dia punya istri sebanyak 700 orang dan gundik 300 orang. (Baca 1 Raja2 11:3). Itu contoh yang sangat buruk bagi anak-anak muda sepanjang jaman. Apakah 1000 (baca: seribu) perempuan itu adalah jodoh yang dipilihkan Allah untuk Salomo atau nafsu Salomo sendiri? :-)

    Daud ayahnya juga tidak boleh dipuji dalam soal seks. Karena kepincut kepada seorang perempuan yang dilihatnya sedang sun bathing di atap, dia menyuruh membunuh suami perempuan itu untuk mendapatkan si cantik. Itu perbuatan sangat keji dan jahat di mata Tuhan dan manusia. Jangan dicontoh apa pun alasannya.

  12. Daniel on June 9, 2007 at 10:25 pm

    Bagi saya mengetahui kehendak Tuhan dalam mencari jodoh adalah sebuah ilusi – sama seperti eksegesis adalah ilusi :) -
    Apa patokan kehendak Tuhan dalam jodoh itu? Ah, absurd. Toh kebanyakan kita, pada saat AKAN memilih jodoh, selalu memberikan kriteria2 yg justru kita buat sendiri-sendiri sesuai dengan pikira kita. Apakah dengan membawa jodoh kedalam doa tiap hari lalu kita jadi yakin itu kehendak Tuhan? Lah, Abraham aja yg bisa denger suara Tuhan masih tidur ‘ma pembantunya, apa lagi kita-kita ini.
    Yang saya lebih yakini bahwa kehendak Tuhan lebih mudah dimengerti jika kita sudah berhubungan. menjaga integritas, membuat hubungan menjadi indah dan tidak merugikan, tidak melakukan KDRT, dll.

  13. rgwGATRA on November 21, 2007 at 8:22 am

    comment 82…Secara langsung Tuhan tidak memilihkan pasangan untuk kita karena Tuhan itu adalah sosok yang demokrasi (tidak memaksakan kehendak). Tapi Tuhan mengarahkan kita untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Tetapi itu semua kita harus kembalikan kepada yang diatas, karena baik dimata kita, belum tentu baik dimata Tuhan. Jadi semua serahkan kepada Tuhan. Biar kehendaknyalah yg jadi. Yakin, Jika engkau mencari dan mengetuk dengan sungguh-sungguh, pasti pintu akan dibukakan:)

  14. Helen on January 16, 2008 at 8:46 am

    kalo menurut helena amang, seperti alkitab katakan Tuhan menciptakan manusia berpasang pasangan. jadi menurut saya setiap manuasia sudah Tuhan sediakan jodoh yang baik, tapi tinggal bagaimana kitanya saja sadar atau mungkin harus lebih peka terhadap setiap yang tuhan sampaikan kepada kita.
    Saya meyakini apa yang di tulis Alkitab bahwa Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Tuhan memberikan kekekalan dalam hati kita.
    Seperti pengalaman saya, saya gagal menikah sudah 3x tapi di kemudian hari saya tahu bahwa mereka bukan yang terbaik bagi saya, bahkan Tuhan sudah begitu baik menjaga saya sehingga saya dapat melihat semua yang mereka alami dalam pernikah mereka.

  15. Helen on January 16, 2008 at 8:48 am

    kalo menurut helena amang, seperti alkitab katakan Tuhan menciptakan manusia berpasang pasangan. jadi menurut saya setiap manuasia sudah Tuhan sediakan jodoh yang baik, tapi tinggal bagaimana kitanya saja sadar atau mungkin harus lebih peka terhadap setiap yang tuhan sampaikan kepada kita.
    Saya meyakini apa yang di tulis Alkitab bahwa Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Tuhan memberikan kekekalan dalam hati kita.
    Seperti pengalaman saya, saya gagal menikah sudah 3x tapi di kemudian hari saya tahu bahwa mereka bukan yang terbaik bagi saya, bahkan Tuhan sudah begitu baik menjaga saya sehingga saya dapat melihat semua yang mereka alami dalam pernikahan mereka.

  16. Veronika on March 28, 2008 at 4:18 pm

    Saya berpacaran dengan cowok yang berbeda agama… Selama ini tidak ada masalah yang berarti dlm hubngan kami. Kami berdua berkomitmen utk serius menjalani pacaran kami. Gimana nih? Aku dah yakin bgt ma dia,sedangkan kami beda agama…?

  17. LAMBAS SIREGAR on March 31, 2008 at 7:52 am

    Buat Veronika : Perbedaan adalah sumber masalah termasuk dalam rumahtangga, apalagi beda agama?. Coba survei sendiri pasangan yang paling langgeng adalah pasangan yang sudah
    bertobat kepada Tuhan Yesus Kristus. Agama bukan Tuhan. Di negara yang kental agamanya banyak perceraian dan polemik perkawinan.

  18. Tiara on May 27, 2008 at 4:46 pm

    buat saya, tentang jodoh siapa yang pilih ini sangat membingungkan, contohnya ada seorang pria mendekati saya, tp ternyata sifat ataupun fisiknya jauh dari yang saya harapkan padahal dia sudah seiman dan lain jenis dalam hal ini Tuhan memberi kita kebebasan untuk memilih kriteria pasangan kita sendiri,masalahnya bagaimana kalo pria ini adalah pilihan Tuhan? contoh lainnya lagi ada seorang pria yang saya suka seiman, kriteria sudah sesuai dengan saya dan takut akan Tuhan, setiap hari dibawa dalam doa tp ternyata pada akhirnya bukan dia yang menjadi pasangan saya, padahal sudah saya yang memilih dan sesuai dengan kriteria Tuhan dan saya,tapi Tuhan tidak ijinkan saya bersama dengan pria pilihan saya…jadi siapa yang pilih Tuhan atau saya? atau dua duanya?

    Daniel Harahap pro Tiara:
    Berdasarkan debar jantung, kriteria, selera, perhitungan ekonomis dan kesehatan, saran orangtua, aturan gereja, uu pernikahan, tradisi budaya, dan jangan lupa: pendirian iman, pilihlah sendiri siapa yang tiara mau diajak/mengajak membentuk rumah tangga. sesudah kalian menikah terimalah dia pilihan sadar tiara itu sebagai jodoh dan pertanggungjawabkanlah kepada Tuhan. :-)

  19. Tiara on May 28, 2008 at 5:39 pm

    saya sempet diskusi sama temen saya soal ini, kesimpulan kami kemarin adalah, kami setuju kalau jodoh itu yang memilih kita jadi semua kriteria kita yg tentukan siapa dan bagaimana orangnya kita juga yang pilih, tp soal perizinan tetap otoritasnya Tuhan, mengizinkan dan memilih tentunya adalah dua hal yang berbeda, jadi kita yang memilih Tuhan yang memberi izin,kira – kira bener ga ya amang? hehehe ;)

    Daniel Harahap:
    Secara prinsipil benar bahwa kita harus meminta restu dan ijin dari Tuhan melakukan segala sesuatu. Namun berhubung ijin dari Tuhan itu tidak pernah berbentuk surat ijin tertulis, tentu kita harus merenung untuk meyakini bahwa apa yang kita pilih ini baik. Selanjutnya: Tuhan memberikan kita kebebasan (karena menganggap kita sudah dewasa) untuk memilih apa yang kita pandang baik, benar, bertanggungjawab termasuk siapa yang ingin kita ajak menikah. Sebagai orang-orang dewasa dalam iman tentu kita tidak akan menyalahgunakan kebebasan itu namun malah semakin takut dan takzim kepada pesan, amanat dan petunjukNya.

  20. Tiara on May 28, 2008 at 5:51 pm

    saya sempet diskusi sama temen saya soal ini,kesimpulan kami kemarin adalah,kami setuju kalau jodoh itu yang memilih kita jadi semua kriteria kita yg tentukan siapa dan bagaimana orangnya kita juga yang pilih,tp soal perizinan tetap otoritasnya Tuhan.mengizinkan dan memilih tentunya adalah dua hal yang berbeda,jadi kita yang memilih Tuhan yang memberi izin,kira – kira bener ga ya amang?hehehe ;)

  21. risma on June 20, 2008 at 11:57 am

    setelah kepergian dia menghadap illahi robbi,hati ini terakan tertutup untuk pria lain…..
    tetapi saat ini di saat saya ingin membuka lembaran baru…..
    dan saya mulai membuka hati ini lagi
    pria yang dekati saya sudah mempunyai kekasih…..
    sebenarnya apa yang pria itu mau….??????
    tolong kasih saran wat saya dong…..
    thanx….

  22. Via on July 8, 2008 at 4:58 pm

    Apakah saya termasuk posesif bila saya tanya ke pacar saya ttg mau kemana dia,bersama siapa,apa yg dia lakukan?apakah hal tsb tdk patut saya tanyakan?terlebih sekarang2 ini pacar saya menjawabnya dgn nada tinggi, seakan saya tdk percaya dgn pacar saya.thnx

  23. alexender on August 13, 2008 at 4:02 pm

    Apakah saya termasuk posesif bila saya tanya ke pacar saya ttg mau kemana dia, bersama siapa, apa saja yg dia lakukan? apakah hal tsb tdk patut saya tanyakan? terlebih sekarang2 ini pacar saya menjawabnya dgn nada tinggi, seakan saya tdk percaya dgn pacar saya. thx.

    Daniel Harahap:
    Ya. :-)

  24. samuel on September 3, 2008 at 11:42 pm

    menjawab masalah pakah kita tau Tuhan yang memilih.sebenernya memang benar bhwa Tuhan mmberi kebebasab tuk kita memilih.pilihan terutama dalam hidup adalah memilih Dia tuk jadi tuhan n raja dalam hidup kita.jd orang yang memilih Yesus tuk menjadi Tuhan dalam hidupnya,maka dengan otomatis akan memberikan hak pilihnya pada Tuhan dalam hal jodohnya.tp orng yang tidak menjadikan Dia Tuhan dalam hdupnya akan memilih berdasarkan kehendak manusiwinya dia.

  25. MM timbo on November 25, 2008 at 1:38 pm

    Jodoh di tangan Tuhan, katanya Tuhan laki-laki :)

  26. iwan setyawan on March 3, 2009 at 9:04 am

    pacaran beda agama rasanya gak pernah ada jalan lurusnya dech,seperti memilih ortu sama pacar sendiri ,saya pernah pacaran tapi agamanya berbeda dan ortu saya tau,karna terus didesak sama ortu supaya putus sama itu cewek ya saya turutin aja.tapi setelah itu saya mencari pacar lagi eh malah saya dapat cewek beda agama lagi,apa saya harus turutin lagi permintaan ortu saya lagi???

  27. ITOle on July 18, 2009 at 3:23 pm

    percintaan antara co and ce itu unik. pasti terjadi pertengkaran besar atau kecil dan karena itulah cinta itu indah. pertengkaran2 di dunia pasangan suami istri atau kekasih mendidik mereka menjadi lebih dewasa secara mental dan emosi. jgn pernah meliat pertengkaran atau perbedaan itu sesuatu yang negatif tapi diliat dari sisi positifnya. seandainya sang kekasih atau suami istri bener2 saling cinta, cinta itu akan menguatkan mereka tuk menghadapi apa pun masalah kecil atau besar. mereka seharusnya meliat perbedaan yg ada sebagai sesuatu yang indah dan merubahnya menjadi sesuatu yang bisa menguatkan perasaan cinta di hati dan menjadikan cinta itu seindah dan seteguh diamond.smoga cinta di hati kita tidak pernah luntur dengan permasalahan yang dihadapi di hidup ini.

  28. lisma on January 26, 2012 at 9:19 pm

    amang apakah boleh seseorang menikah dengan orang yg cerai hidup…apa pandangan menurut kekristenan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*