ROH KUDUS TAK SEKEDAR MENGAJAR BERTEPUK

May 16, 2007
By

spintu-pintu-2.JPG

(Mohon dibaca minimal dua kali, tarik nafas berulang, duduk rileks, buka hati kepada kebenaran yang kadang menyakitkan, dan silahkan kasi komen dengan senyuman. :-)


Oleh: Pdt. Daniel T.A. Harahap


Gereja kurang Roh Kudus?

Salah satu kritik atau mungkin lebih cocok tuduhan yang sering ditujukan kepada gereja HKBP (dan gereja-gereja main stream lain seperti GKPI, GPIB, dan GKI dll) adalah gereja-gereja ini dianggap kurang Roh Kudus. Para pendeta dan penatua HKBP dianggap “belum” hidup baru dan karena itu tidak dipenuhi Roh. (Sebaliknya warga atau eks warga HKBP yang sering beribadah di kelompok kharismatik katanya malah sudah mendapat Roh Kudus).


Menurut saya, gereja HKBP tidak perlu marah-marah atau sewot menghadapi kritik atau tudingan ini, tetapi sebaiknya menyikapinya jujur, berani dan arif. Harus diakui gereja HKBP memang lebih bercorak kristologis (berorientasi kepada Kristus) daripada pneumatologis (berorientasi kepada Roh). Lihat saja bangunan-bangunan gereja HKBP, praktis hampir tidak ada gambar yang menunjuk kepada Roh, sebaliknya sarat dengan gambar atau simbol yang menunjuk kepada Yesus Kristus. Perayaan gerejawi terbesar di HKBP bukan Pentakosta atau hari turunNya Roh Kudus, tetapi pesta Natal atau kelahiran Tuhan Yesus, menyusul perayaan kematian dan kebangkitanNya. Sebaliknya hari Pentakosta atau turunNya Roh Kudus, kecuali warna altar merah, praktis hampir sama dengan minggu biasa, tak ada kesibukan sama sekali menyambutnya. Selanjutnya, kotbah-kotbah apalagi seminar-seminar tentang Roh Kudus juga sangat jarang dilakukan di HKBP. Itu berbeda sekali keadaannya dengan gereja-gereja Pentakostal dan kharismatik. (sebaliknya mereka sangat jarang melakukan kotbah atau seminar tentang moralitas atau etika sosial sebagai murid Yesus)


Walaupun kita mengakui Allah Tritunggal (Bapa, Anak dan Roh Kudus) adalah satu dan tidak terpisahkan, tetapi harus kita akui dengan jujur bahwa gereja HKBP sampai sejauh ini kurang menekankan aspek ketiga dari Tritunggal itu, yaitu Roh Kudus. (kebalikan dari gereja kharismatik yang cenderung melupaka ajaran etis dan moral Yesus.) Ini adalah pekerjaan rumah (PR) HKBP yang harus kita kerjakan. Namun baik juga kita sadar, itu tidak berarti bahwa HKBP harus serta-merta menganggap semua pemahaman orang lain tentang Roh Kudus adalah mutlak benar dan karena itu menelannya bulat-bulat. HKBP harus tetap memelihara sikap kritis dan kreatif untuk merumuskan sendiri tentang apa yang diyakini dan dihayatinya termasuk tentang Roh Kudus. Sebab itu alih-alih memuja orang lain dan menyalahkan diri sendiri (atau sebaliknya), mending HKBP kembali kepada kesaksian Alkitab tentang Roh Kudus.


Empat “tanda” kepenuhan Roh Kudus?

Menurut pemahamankawan-kawan kharismatik (sebagaimana diteliti oleh seorang teolog), ada 4 (empat) hal yang dianggap merupakan “tanda” gereja atau orang Kristen yang dipenuhi Roh Kudus:


Pertama: bahasa roh. Katanya seorang yang dipenuhi Roh Kudus akan mendapat karunia berbahasa roh atau “bahasa lidah”. Pada ibadah-ibadah kharismatik seseorang atau beramai-ramai tiba-tiba, dan itu selalu terjadi bahkan rutin, orang-orang mengucapkan suara-suara ganjil dan asing yang sama sekali tidak dapat dimengerti orang kebanyakan. Mereka mengklaimnya sebagai bahasa Roh. Seandainya kemampuan berbahasa roh ini adalah ukuran kepenuhan Roh Kudus, maka tentu saja saya harus mengaku belum atau tidak dipenuhi Roh Kudus walaupun sudah lebih 15 tahun menjadi pendeta.

Namun jika kita mempelajari Alkitab secara serius dan sungguh-sungguh, gejala bahasa roh sebagaimana yang musim di kalangan kharismatik moderen dewasa ini, di jaman Alkitab hanya terdapat di jemaat Korintus saja dan sepertinya tidak dikenal di jemaat-jemaat perdana lain seperti Roma atau Jerusalem. Rasul Paulus hanya membahas bahasa roh dalam suratnya kepada jemaat Korintus, dan sama sekali tidak menyinggung sedikit pun dalam surat-suratnya yang lain. Bahkan penginjil Yohanes yang memberikan perhatian khusus kepada Roh Kudus juga tidak menyinggung bahasa roh termasuk dalam Injilnya. Yang paling pokok: Yesus sama sekali tidak pernah diceritakan menggunakan bahasa roh saat berdoa kepada Sang Bapa. Mengapa bisa begitu?

Lebih lanjut gejala bahasa roh sebagaimana dialami jemaat Korintus sangat berbeda dengan bahasa Roh yang dialami oleh para murid saat Pentakosta di Yerusalem. Di jemaat Korintus (dan di gereja2 kharismatik moderen) bahasa Roh tidak bisa dimengerti, sementara di Yerusalem bahasa Roh justru dapat dimengerti oleh orang2 yang berbeda bangsa dan bahasanya.

Bagi orang-orang kristen moderen yang sangat gandrung dan berambisi berbahasa Roh, baiklah mengingat kritik Rasul Paulus kepada jemaat Korintus “lebih baik mengucapkan lima patah kata yang dapat dimengerti oleh orang lain, daripada beribu kata yang tidak dapat dimengerti” (I Kor 14:19). Kritik Paulus ini menyadarkan kita bahasa Roh bukanlah karunia utama Roh Kudus, sebab itu tidak bisa dijadikan parameter atau ukuran kepenuhan Roh. Dari segi praktis: kita memang percaya bahwa ada bahasa Roh. Masalahnya kita tidak punya alat untuk mendeteksi apakah yang diucapkan seseorang itu bahasa roh atau tidak. Seandainya benar bahasa roh, kita juga tidak mengerti apa artinya, dan seandainya ada orang mengaku bisa menterjemahkannya, kita juga tidak bisa tahu apakah terjemahannya itu benar atau tidak, sebab tidak ada buku tata bahasa atau kamus bahasa roh. (Pernah terjadi dalam suatu pertemuan ada seorang berbahasa roh, dan ada dua orang yang mengaku mendapat karunia menafsirkannya, namun tafsiran keduanya berbeda sama sekali.) Sebab itu jika ada seseorang yang mendapat karunia berbahasa roh, sebaiknya ia menggunakannya secara pribadi saja di ruang tertutup tanpa harus dilihat atau didengar orang lain. Selanjutnya, orang yang bersangkutan juga harus kritis kepada dirinya sendiri apakah memang benar ia berbahasa roh atau sedang memiliki masalah dengan kejiwaannya sendiri.

Tanda kedua: antusiasme beribadah. Menurut kawan-kawan kharismatik ibadah-ibadah yang spontan, semarak dan emosional adalah tanda kepenuhan Roh Kudus. Sebaliknya orang-orang yang beribadah dengan tenang dan khusuk, tanpa bertepuk atau melambai-lambaikan tangan, bergoyang atau berjingkrak, bersorak gembira atau sebaliknya menangis tersedu-sedu, tentu saja adalah orang-orang yang belum dipenuhi Roh. Seandainya antusiasme beribadah adalah ukuran atau parameter kepenuhan Roh, maka saya dan sebagian besar jemaat HKBP (juga gereja lain sealiran) tentu saja tidak dipenuhi Roh, sebab saya selalu beribadah tenang dan berdoa atau bernyanyi dengan emosi terkendali.


Gereja sudah berumur dua ribu tahun lebih, bermula di Timur Tengah, merambah ke Asia kecil, Eropah, bergerak ke Amerika, dan akhirnya sampai ke Indonesia. Selama perjalanannya itu gereja berjumpa dan berinteraksi dengan budaya-budaya setempat, dan sedikit-banyak mengambil-alih budaya-budaya setempat itu membantu mengekspresikan dan mengkomunikasikan iman gereja. Sebagai contoh sederhana: sewaktu gereja masih di Timur Tengah maka ibadah gereja menggunakan gambus dan kecapi yang biasa dipergunakan masyarakat gembala. Namun setelah sampai ke Eropah maka ibadah gereja pun menggunakan terompet dan biola. Contoh lain: sewaktu masih berjalan di padang pasir gereja beribadah di dalam tenda, namun sesudah masuk Kanaan, mereka menggunakan gedung batu, dan sampai ke Eropah membuatnya menjadi katedral, dan di Amerika menciptakannya menjadi katedral kaca.


Gaya ibadah kharismatik yang penuh spontanitas juga merupakan hasil perjumpaan gereja dengan masyarakat kota pelabuhan metropolitan Korintus. Kita tidak pernah mendengar Jemaat Yerusalem atau Roma beribadah dengan gaya kharismatik. Di kemudian hari, secara singkat bisa dikatakan bahwa gaya antusiasme beribadah ini muncul kembali di gereja kulit hitam Amerika. Itu bisa kita maklumi. Hidup sebagai budak dan dijajah, orang2 kulit hitam menemukan kebebasan, persaudaraan dan kehangatan hanya dalam gereja, sebab itu mereka sangat “hidup” dengan model beribadah yang sangat spontan, semarak dan hangat. Pertanyaan: gaya ibadah yang bagaimanakah yang paling cocok mengekpresikan iman orang Indonesia yang berlatar belakang Batak atau Jawa?

Pertanyaan selanjutnya yang terpenting: bagaimanakah seharusnya kita mengekspresikan iman, ketaatan dan rasa syukur kita kepada Allah Sang Pencipta, Yesus sang Pembebas dan Roh Kudus Sang Pembaharu? Nilai-nilai apakah sesungguhnya yang dicerminkan melalui model atau gaya beribadah kita? Allah yang bagaimanakah yang kita sembah?

Tanda ketiga: frekuensi menerima bisikan atau penglihatan. Tanda ketiga orang yang dipenuhi Roh adalah orang tersebut sangat sering mendapat bisikan atau penglihatan dari Roh Kudus. Itulah sebabnya dalam ibadah-ibadah kharismatik, termasuk yang disiarkan lewat televise, kita sering mendengar pengkotbah berkata-kata bahwa dia baru saja atau sedang menerima bisikan Roh atau penglihatan. Jika frekuensi menerima bisikan atau penglihatan ini dijadikan ukuran kepenuhan Roh, maka saya tentu saja tidak dipenuhi Roh, sebab saya hampir tidak pernah menerima bisikan dan penglihatan, dan hanya harus puas memperoleh firman melalui Alkitab saja.


Saya mengajak orang-orang HKBP mau sedikit lebih kritis, dan tidak terlalu gampang menyalahkan diri sendiri dan memuji-muji orang lain (atau sebaliknya). Baiklah kita sadar tidak ada parameter atau ukuran yang dapat kita pakai untuk menguji apakah yang didengar atau dilihat si pengkotbah benar berasal dari Roh Kudus, halusinasi atau reka-rekaan si pengkotbah. Ketiadaan parameter atau alat ukur yang jelas ini seharusnya membuat kita ekstra hati-hati. Kita tidak boleh terlalu cepat menghakimi sebab ada kemungkinan memang si pengkotbah menerima visi dari Tuhan. Tetapi, kita juga tidak boleh terlalu cepat percaya, sebab ada juga kemungkinan si pengkotbah sedang mimpi kosong, menghayal atau membual. Sebab itu, berhubung tidak ada parameter untuk menguji penglihatan atau bisikan, mending kita berkonsentrasi kepada berita Alkitab saja sambil memelihara sikap rendah hati, jujur dan setia. Ingat, Yesus pernah berkata: berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya.


Bagi sebagian orang parameter itu mungkin tidak penting dengan alasan klasik: si pengkotbah atau si gembala tidak mungkin berbohong atau salah. Namun kalangan ini sebenarnya mengajarkan bukan saja ketaatan dan kepercayaan absolut kepada penginjil atau gembala, tetapi juga pemahaman terselubung bahwa penginjil dan gembala (termasuk pemimpin persekutuan kampus!) tidak lagi dipandang manusia berdosa yang setiap saat bisa salah, tetapi anak Allah yang sudah mendekati tahap sempurna, karena itu hampir tak mungkin salah.

Pertanyaan: apakah pendeta atau penginjil, juga pemimpin persekutuan kampus, bukan lagi manusia berdosa sehingga tidak mungkin keliru, tidak punya ambisi dan nafsu, tidak mau dan tidak mampu bohong satu kali pun? Jika tidak, lantas apakah alasan Anda atau saya menelan saja bulat-bulat perkataannya ketika dia mengatakan “tadi pagi Tuhan mengatakan bla-bla-bla kepadaku” atau “aku melihat ada seorang blablabla di kota anu”?


Tanda keempat: penyembuhan tanpa prosedur dan tindakan medis
. “Tanda” keempat dari seseorang yang dipenuhi Roh katanya adalah terjadinya apa yang disebut penyembuhan ilahi, atau penyembuhan tanpa menggunakan tenaga dokter. Inilah yang sering dipertontonkan dalam KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) atau siaran-siaran kristen di televisi. Tindakan penyembuhan yang sensasional, dramatis dan fantastis ini dianggap salah satu bukti kehadiran Roh. Jika penyembuhan tanpa prosedur dan tindakan medis ini adalah parameter atau ukuran kepenuhan Roh Kudus, maka saya tentu tidak dipenuhi Roh karena saya tidak mendapat kemampuan menyembuhkan secara ajaib itu.

Selanjutnya dalam Alktab memang kita saksikan bahwa Yesus menyembuhkan dengan kata-kata. Namun, kita juga tahu bahwa murid Yesus yang bernama Lukas adalah seorang tabib. Dalam sejarah ilmu kedokteran dan pengobatan itu berkembang sedemikian pesat sehingga mencapai tahapnya yang seperti sekarang.

Saya percaya dan mengamini serta mengalami Tuhan berkuasa dan dapat menyembuhkan manusia yang sakit dengan caraNya sendiri yang berbeda atau melampaui akal manusia. Namun Tuhan juga menganugerahkan kita akal dan budi dan menyuruh manusia menggunakannya sebaik-baiknya. Salah satu buah akal budi itu adalah ilmu pengetahuan kedokteran dan farmasi. Sebab itu kita boleh juga mengatakan bahwa pengetahuan kedokteran dan farmasi juga merupakan anugerah Allah kepada manusia. Itu artinya kita tidak perlu mempertentangkan iman kepada Allah dan upaya penyembuhan dan pengobatan medis. Dalam beriman kepada Allah kita berupaya mencari kesembuhan melalui pengetahuan medis yang sudah teruji dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, etis dan hukum.


Kesaksian Alkitab tentang Roh

Marilah kita saksikan apa sesungguhnya yang disaksikan Alkitab tentang Roh Kudus.

Roh tidak bisa dikendalikan. Roh Kudus disaksikan oleh Alkitab sebagai pribadi yang berkuasa, yang tidak bisa dikendalikan, bahkan tidak dapat diramalkan. Roh digambarkan seperti angin yang bertiup yang tidak diketahui dari mana sumbernya dan kemana hendak perginya, namun dapat dirasakan dampaknya. Kadang Roh digambarkan seperti api yang membakar. Di lain tempat digambarkan seperti burung merpati. Kadang digambarkan seperti air yang mengalir.

Kita percaya bahwa Roh Kudus sampai sekarang bekerja. Namun Roh bekerja menurut caraNya sendiri. Roh Kudus tidak bisa disistimatisir atau diprogram. Roh Kudus bukan seperti mobil, televisi atau robot yang bisa dikendalikan memakai remote sesuai keinginan manusia. Sebab itu kita harus benar-benar kritis jika ada seseorang atau sekelompok orang yang mengklaim dapat berbahasa Roh secara rutin setiap hari, atau mendapatkan penglihatan kapan dia mau. Kemungkinan besar orang itu berbohong, sebab kita tahu Roh tidak bisa dijinakkan, dikendalikan atau diprogram oleh manusia (termasuk yang beriman). Sebaliknya Roh Kuduslah yang menjinakkan dan menggiring manusia.


Tanda Roh: Pengakuan akan Yesus

Dalam suratnya kepada jemaat Korintus (12:1-3) Rasul Paulus menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengaku Yesus adalah Tuhan jika bukan karena Roh Kudus. Dengan kata lain: jika kita dapat mengaku dan percaya kepada Yesus itu adalah karena Roh Kudus tinggal dalam hati kita. Semua orang beriman kepada Yesus (walaupun tidak bisa berbahasa lidah, tidak pernah mendapat bisikan atau penglihatan, tidak beribadah secara emosional, dan tidak bisa menyembuhkan secara ajaib) boleh mengklaim bahwa dia pun telah menerima Roh Kudus.

Sebaliknya, Paulus berkata bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menyangkal Yesus dengan dorongan Roh Kudus. Artinya jika ada seseorang atau sekelompok orang mengaku dipenuhi Roh namun tindakannya mengecilkan, menegasi, dan bertentangan dengan ajaran, teladan dan sikap hidup Yesus, maka orang itu sebenarnya berbohong. Sebab Roh Kudus tidak dapat berkata-kata di luar Yesus, apalagi menentang Yesus. Roh Kudus bersaksi tentang Yesus dan memuliakan Yesus (Yoh 15:26, Yoh 16:13-14). Di sini kita harus kritis dan jangan mudah terkecoh. Jika kita melihat ada seseorang yang sangat biasa-biasa dan sederhana namun sangat menghayati teladan Yesus maka kita dapat mengatakan bahwa orang itu dipenuhi Roh Kudus.


Menguji Roh

Itulah sebabnya Rasul Yohanes meminta agar kita menguji setiap roh apakah benar berasal dari Allah. Dalam 1 Yoh 4:1 dikatakan bahwa parameter yang harus digunakan adalah Yesus. Maksudya jika ada ajaran yang menolak (secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi) ajaran, sikap hidup dan penderitaan serta kematian Yesus maka itu bukan Roh Kudus. Dengan kata lain: jika ada paham yang mengecilkan apa yang dilakukan Yesus sewaktu menjadi manusia di Tanah Palestina (termasuk perumpamaan-perumpamaan, kotbah-kotbahNya di bukit, ajarannya tentang doa) itu jelas-jelas bukan suruhan Roh Kudus. Sederhana saja kan?

Pertanyaan yang harus diajukan oleh pribadi dan kelompok yang mengaku lebih memiliki Roh Kudus dibanding gereja-gereja sederhana: apakah sikap hidup saya dan kami sangat dekat dengan Yesus sewaktu hidup di Palestina sebagaimana disaksikan Injil? Apakah saya dan kami menghayati sikap moral dan etis yang diajarkan Yesus atau malah membuat ukuran moralitas sendiri yang sangat bertentangan dengan yang dihayati Yesus? Jika YA, kita boleh percaya bahwa kita diilhami Roh, tetapi jika TIDAK, kita boleh mencurigai diri sendiri sebagai pembohong.


Buah Roh
Dari buahnyalah kita mengenal pohonnya. Demikian jugalah dengan Roh Kudus. Galatia 5:22-23 mengungkapkan kehadiran dan persekutuan dengan Roh Kudus membuahkan atau menghasilkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri dalam hidup orang beriman. Itulah bukti paling jelas kehadiran Roh.

Menarik direnungkan, jika kita perhatikan seksama maka tidak ada satu pun buah Roh itu sangat sensasional, spektakuler atau fantastis, seperti yang dipikirkan banyak orang. Buah Roh itu justru sangat sederhana dan biasa-biasa. Bahasa lidah, sikap emosional beribadah, frekuensi menerima bisikan dan penglihatan, serta penyembuhan ajaib tidak disebut sebagai buah Roh. Sebaliknya jika ada seseorang yang gembar-gembor dipenuhi Roh namun kehadirannya tidak memberikan sukacita, tidak menunjukkan kemurahan, tidak lemah-lembut maka orang itu sebenarnya sedang membohongi dirinya sendiri dan membohongi orang lain. Kembali kepada kritik yang ditujukan kepada HKBP: ukuran HKBP dipenuhi Roh Kudus bukanlah menyembuhkan secara ajaib atau berbahasa roh, tetapi sukacita, damai sejahtera, kemurahan, kesabaran, dan penguasaan diri dll dalam hidupnya.

Kini kita hidup di jaman entertainment dan showbiz. Ada bahaya pemahaman dan penghayatan akan Roh Kudus, sadar atau tidak sadar, bercampur aduk dengan kepentingan entertainment dan showbiz. Baiklah kita ingat bahwa Yesus menolak ibadah dan juga penyembuhan dijadikan tontonan atau show. Bukan hanya doa, tetapi Yesus tidak menginginkan persembahan, puasa, pujian dan juga mujizat dijadikan tontonan (dengan atau tanpa menarik keuntungan).

Roh Kudus dan Firman

Para nabi PL tidak membedakan antara Firman dan Roh Allah. Dipenuhi Roh sama artinya dengan dipenuhi Firman Tuhan. Roh atau Firman Tuhan itu diterima para nabi dalam kesadaran. Inilah yang membedakan Yesaya, Amos, Mikha, Yeremia dll daripada nabi-nabi palsu. Para nabi palsu itu selalu ekstatis atau kesurupan, sementara nabi-nabi yang benar justru tetap sadar ketika menyampaikan Firman Tuhan.

Konfessi HKBP menyebutkan bahwa Roh Kudus kita terima bersama-sama dengan Firman. Dengan bahasa sederhana, saat membaca Alkitab yang memuat Firman Tuhan kita percaya pada saat itulah Roh Tuhan datang. Ini juga sejalan dengan ucapan Yesus bahwa Roh Kudus tidak pernah berkata-kata tentang dirinya sendiri, namun bersaksi tentang Yesus. Roh Kudus tidak pernah datang di luar atau bertentangan dengan firman. Jadi tidak ada gunanya mengundang Roh Kudus untuk membantu kita melakukan yang jahat atau bertentangan dengan firman Yesus, sebab Dia pasti tidak mau!

Selanjutnya ini juga mengajak kita mengkritisi praktek-praktek kesurupan yang mengatasnamakan Roh Kudus, sebab Roh tidak menggantikan kesadaran dan juga tanggungjawab kita. Menerima Roh tidak perlu harus melewati upacara atau seremoni rahasia. Kehadiran Roh juga tidak mengubah suara, wajah, kulit, atau tubuh kita. (beberapa pendeta sering memanipulasi suara dan mimik dengan harapan jemaat melihatnya sebagai pendeta ilahi). Saat membaca Alkitab kita percaya Roh Kudus berbicara kepada kita.

Berbagai karya Roh Kudus.

Dalam Alkitab kita menemukan banyak sekali fungsi Roh Kudus. Roh ikut dalam penciptaan langit dan bumi (Kej 1:1), Roh menghidupkan dan memerdekakan (Roma 8:2, 8:6, 8:11, 2 Kor 3:17 ), Roh menjadikan kita anak-anak Allah (Roma 8:15-16), menyampaikan dan meneguhkan Injil (1 Pet 1:12, 1 Tes 1:5-6, 1 Kor 2:4), Roh membaharui, Roh memimpin ke dalam kebenaran (Yoh 16:13) Roh menyadarkan akan dosa, Roh memberikan bermacam-macam karunia sesuai dengan kehendakNya (1 Kor 12:4-11). Roh memberi sukacita (Roma 14:17), Roh diberikan sebagai jaminan atau panjar keselamatan (2 Kor 5:5.

Selanjutnya kita melihat karya Roh dalam pemberdayaan orang-orang lemah. Roh membantu kita melakukan pekerjaan diakonia. Roh membantu kita membawa kabar baik kepada orang-orang miskin (Luk 4:18-19, Kis 6:1-7). Semua ini menyadarkan kita betapa kaya dan berkuasanya Roh Kudus. Karya Roh Kudus tidak bisa direduksi hanya sekedar membuat orang bernyanyi atau beribadah sambil bertepuk. (Beribadah dengan bertepuk atau khusuk itu lebih menyangkut selera kelompok, kultur dan mode.)


Roh Kudus dan penderitaan
Roh Kudus memberi kesaksian tentang Yesus dan membantu kita memberi kesaksian ketika dalam penderitaan dan penganiayaan (Luk 12:11). Roh Kudus menguatkan orang-orang Kristen memikul salib, bersaksi mengikut Yesus, dan tetap setia dalam penderitaan (Wahyu 2:7, 2:11, 2:17,2:29, 3:6, 3:13, 3:22).

Disini kita disadarkan lagi supaya tidak mereduksi peran Roh Kudus seolah-olah hanya untuk membuat orang beribadah dengan antusias dan emosional, padahal Alkitab menyaksikan peran Roh Kudus yang terutama adalah menguatkan murid-murid bersaksi tentang kebenaran dan kasih, walaupun konsekuensinya adalah penderitaan.

Home: http://rumametmet.com

 

 

Share on Facebook

Tags: , , , , , ,

29 Responses to ROH KUDUS TAK SEKEDAR MENGAJAR BERTEPUK

  1. Marshel on May 19, 2007 at 2:02 am

    di 1 korintus 14 sebenarnya sudah dijelaskan. Semuanya kan harus balik lagi ke scripture. Itu udah jadi pedoman paling lengkap yang Allah berikan pada kita.
    ………………………………………………………………………………………..
    Teman-teman gak masalah kelihatan krg bersemangat atau terlalu bersemangat. Semangat gak dilihat dari saat ibadah saja, tapi apakah kasih Alllah dibawa juga ke luar di tengah2 dunia yang membutuhkan? Inti dari semua boleh2 merasakan jamahan Tuhan yg dashyat sampai seperti Daud menari-nari girang smp org2 sekitar geleng2 kepala..tapi jika dlm ibadah semua haru sopan dan teratur.Itu rumah Tuhan..Tuhan adalah Tuhan. seperti apa kita ingin menghadap Presiden atau mendapat kehormatan ikut dlm perjamuan makan malam bersama Presiden? Ingat ibadah yang kita hadiri adalah utk Raja dari segala Raja. Jauh lebih dari Presiden donkk…
    Satu quote yg saya suka “Sikap Kita dalam Beribadah Menunjukkan Allah yang Kita Sembah”…Allah spt apa yg kita sembah? Allah yg ugal2an, yg gak serius?

  2. ery on May 19, 2007 at 10:23 am

    Topik ini selalu menarik..
    Kurasa kita sepakat bahwa manifestasi Roh Kudus yang utama adalah sukacita damai sejahtera bagi orang-orang dimana Dia hadir, bukan soal bahasa atau gaya ibadah.

    Tapi kalo boleh mengingatkan juga bahwa kita gak perlu terpancing untuk menyikapi kawan-kawan dari denominasi karismatik sama seperti sebagian dari mereka yang menyikapi denominasi kita secara sempit. Apalagi semua pihak menggunakan apa yg tertulis di Alkitab sebagai dasarnya.
    …………………………………………………………………………………………………..

    Saya lebih menyarankan kita menyikapinya sebagai anak-anak Tuhan yang berbeda personality. Kalau boleh mengadopsi dari ilmu tentang temperamen sebagai ilustrasi.. anggap aja denominasi kharismatik itu seperti anak bertemperamen sanguin-kolerik dan denominasi HKBP seperti melankolis-kolerik. Yang satu kebanyakan omong dan extrovert (sanguin) sedangkan yang satu lg kebanyakan mikir dan introvert (melankolis), tapi dua-duanya ngototan (kolerik).. hahaha.. cuma misalnya aja kok :-D

    Salah besar kalau membatasi bahwa Allah (Bapa, Putera dan Roh Kudus) hanya hadir pada ibadah-ibadah yang emosional dan dan bermanifestasi bahasa lidah. Tapi tau dari mana kita kalau Allah tidak suka bertapuk tangan dan berjoget ketika mendengar nyanyian ibadah kita?? :-)
    ……………………………………………………………………………………………………

  3. Ingrid on May 20, 2007 at 10:19 pm

    ada yang sudah pernah ke Jakarta Praise Community Church (JPCC)??

    Aku rasa yang belum pernah ke sini akan sangat menentang (bahkan akan cenderung menghakimi) orang2 Kristen yang menganut aliran kharismatik…

    Kapan orang Kristen bisa memancarkan terangnya untuk dunia kalau malah jadi FARISI untuk saudaranya sendiri kayak ini…? B.U.L.L.S.H.I.T!!!

  4. daniel harahap on May 20, 2007 at 10:54 pm

    kebenaran kadang menyakitkan… bisakah Ingrid tuliskan mana yang salah dalam tulisan saya lantas membantuy memberikan argumen yang lebih sahih? :-)

  5. Daniel on May 21, 2007 at 12:46 am

    Tuk senior ku inggrid (dulu aku pernah di IESP FEUI 1 tahun):
    1. aku pikir jalan terbaik: bukan bersikap skeptis terhadap sebuah tulisan, bukan mengajak orang pergi ke JPCC, dan juga tidak bersikap emosional.
    2. Aku pikir setiap manusia adalah “subject of critics” tidak terkecuali abang kita ini. Namun kritiklah idenya jangan “Personnya” karena “argumentum ad hominem” melanggar kode etik perdebatan yang sehat :)
    3. Adalah sangat baik jika JPCC atau kk inggrid sendiri bisa memberikan bantahan tulisan yang mungkin bisa memperkaya khazanah pemikiran kita disini.
    4. Menurut aku pribadi, HKBP harus bertanggung jawab, sebagian, karena banyaknya anggota jemaat yang terdaftar di HKBP tapi bergereja ditempat lain dan menerima ajaran baru tentang Roh Kudus, hingga dibaptis ulang dan menerima Baptisan Roh Kudus (apa pula ini)di gereja lain. Aku melihat tulisan abang ini sebagai bentuk tanggung jawab HKBP dalam mengajarkan doktrinnya kepada anak2 muda yang jiwanya kosong dan tidak terpenuhi kebutuhan jiwanya di gereja HKBP :)
    oiy bang nanya dong: kenapa kalo katekisasi di HKBP kita masih pake Katekhismus kecil dan bukan yang besar? padahal aku pikir ide-ide Martin Luther di Kat Besarnya cukup mumpuni untuk memberikan pengetahuaan yang baik bagi pengajaran dogmatika.

    br,
    daniel simanjuntak

  6. ossy ika dorin on May 23, 2007 at 11:09 am

    Hmm.. topik yang seru :)
    Klu Amang bilang perlu untuk membaca dua kali, menarik nafas panjang berulang, dan rileks.. itu betuuul bgt :) Dan akn lebih mantab lg jika disertai “Penguasaan Diri” (slh satu buah ROH-Gal5:22)dari Roh Kudus. Spy dlm meresponi topik ini (plus meresponi sgla hal dlm hidup) kita bs tetap teduh meresponinya. Sgt tidak mudah memang, tapi bukan hal yg gak mungkin :)
    Ttg pertayaan (yg retorik mngkn-tp aku pgn mnjawabnya,heheh)Amang yg menanyakan, “Gaya ibadah yg bagaimanakah yg paling cocok u/ mengekspresikan iman org indonesia yg brlatar belakang spt batak/jawa?”.

    => Menurutku…, dgn gaya ibadah apapun yang mereka (baik batak, jawa, dll) mau lakukan TIDAK MASALAH kan ya amang. Krn bagiku, semua gaya ibadah berharga di mataNYA(yg penting tdk mlenceng dari Firman). Jadi entah itu bertepuk2x tangan, bersorak2x, berjingkrak2x, bahasa roh (yg cenderung ekstrim spt kesurupan).. ataupun yg duduk tenang, diam, khusuk, pastitetap dihargaiNYA. Selama emang mereka melakukannya benar2x dgn sgnap hati, jiwa dan roh mereka u/ TUHAN – BAPA MAHA PENCIPTA yg sgt eksprsif atau kalem sekalipun..kenapa tidak??? Semua gaya ibadah sebisa mungkin kita responi dan maklumi. Memaklumi toh bukan berarti setuju/ sependapat/sehati/sepikiran/sealiran. Tp lbh kpd membiarkan org2x tsb mluapkan ekspresinya kpd TUHAN dgn gaya masing2x. Aku percayaaaa bgt, klu BAPA kita yang sgt baik itu mnghargai setiap ekpresi jiwa, hati, perasaan anak2xNYA dalam beribadah, memuji+menyembahNYA.

    —————————————– del————————————

    I’m sooo glad and sooo blessed to have DADDY GOD like YOU..my ABBA FATHER. … Jesus loves you all…. A M E N

  7. Avelia on May 28, 2007 at 10:05 pm

    gaya ibadah sebuah gereja tentunya dipengaruhi dan berakar dari teologi yang dipegang oleh gereja itu
    maka gereja kharismatik yang “menekankan” roh kudus mempunyai gaya ibadah yang menonjolkan manifestasi roh kudus menurut intepretasi mereka, terlihat dari lagu2nya dan isi khotbahnya
    tentunya ini sangat berbeda dengan, misalnya, gereja injili. penekanan injil tentu sangat terasa dengan waktu khotbah yang lebih lama dan pemilihan lagu2nya.

    maka, seperti apa kita beribadah..seperti itulah iman kita
    namun sayang sekali, banyak orang kristen yang tidak sadar akan kaitan kedua hal ini. maka mereka jatuh ke dalam mindset “wah..enak sekali ibadah disini..ya udahlah gapapa..toh di Alkitab juga gak pernah ada larangannya”

    ==> tidak ada larangan, bukan berarti boleh dilakukan bukan ?! <==

    seorang pesuruh mencuci kamar mandi dengan segenap tenaganya, padahal majikannya menyuruh ia membereskan tempat tidur.
    yah mungkin si majikan menghargai tindakan si pembantu, tapi tentunya si majikan akan lebih puas dan senang jika si pembantu melaksanakan perintahnya.

    begitu juga dengan kita, tentunya kita tidak ingin sekedar dihargai..tapi lebih dari itu, kita mau menyenangkan hati Tuhan..bagaimana caranya? cari tau kehendak Tuhan, iman seperti apa yang benar? yang menghasilkan ibadah yang Tuhan kehendaki
    bukan dengan emosi atau perasaan kita saja, tapi juga dengan menggunakan segenap akal budi kita

    soli deo gloria

  8. lela on May 31, 2007 at 6:08 am

    Pohon di kenal dari buahnya. Demikian juga manifestasi roh harus dilihat dari buah-buah yang dihasilkan.
    Tuhan menyukai semua jenis pujian yang dinyanyikan dengan sepenuh hati. Dengan hymn ataupun tepuk tangan.
    Bagi gereja atau orang-orang yang sering mengklaim dirinya “kepenuhan roh” alkitab berkata “Ujilah setiap Roh”
    Tuhan Yesus Melindungi kita

  9. boslem sinaga on January 14, 2008 at 11:44 am

    Horas amang,….

    ini memang topic yg agak rawan,….. dab menurut saya gereja tidak perlu menuduh dan menjelekkan gereja lain…..tidak baik di dengar tetangga.

    Fenomena maraknya gereja Mall,.. dan berkurangnya pemuda bergereja di HKBP dan gereja (anggota PGI) lainya di sebabkan oleh :
    1. tidak terbuka ruang dan pelayanan yg memadai. ortu di kampung bergereja di GKLI,… namun ketika di Jakarta, gereja itu belum ada. saya mau ke gereja lain,… ke HKBP namun tidak ada yg mengenal saya,.. asli songon ni dok lagu i,…. longo di na ribur…malas!!!!!
    2. Kita anak muda (perantau),.. merantau nasib dan merantau bergereja,…. memang lebih di terima secara terbuka di gereja Mall,… dari pada di gereja daerah.
    3. amang,… ini sedikit curhat. Saya pernah ke HKBP di bandung dengan pacar saya. “pacar saya memang dari suku lain”. kebetulan di samping ada inang br Sinaga (namboru saya lah ya,…) dan sambil bercerita bahwa pacar saya orang jawa,….. Namboru ini langsung bicara keras :: ai ganteng do ho ito hasian,… basa dang boru batak luluanmu,….. hati pacar saya ,… pasti sakit,.. dan aku tahu itu,…. Takut,.ke HKBP yuk dek,…. ajak aja tuh cewek2 batak. susah kan,.. ada saran amang
    4. melanjut di kemudian hari,..

  10. benny manurung on April 10, 2008 at 9:40 am

    Saya pernah bertemu dengan seorang perempuan mantan isteri pendeta (kebetulan pendeta gereja kharismatik), kenapa perempuan ini menjadi mantan isteri pendeta? Karena beliau telah menggugat cerai suaminya ke pengadilan dan atas gugatan tersebut pengadilan mengambil putusan menyatakan putus perkawinan antara ibu pendeta dan bapak pendeta. Saya tanya kenapa perempuan ini menggugat cerai suaminya padahal itu dilarang Alkitab? Katanya -dia jawab sambil menangis- suaminya adalah pendeta namun kesehariannya kerap memukuli dia, marah hebat dengan memaki-maki, bahkan malakukan tindakan yang tidak senonoh (maaf: pernah memperkosa pembatunya (orang non-Kristen) [beberapa kali dengan beberapa pembantu yang berganti]). Selesai melakukan tindakan barbarnya tersebut, pendeta itu menyesal dan berjanji tidak akan melakukan tindakan ‘penuh dosa’ itu lagi. Pendeta ini mengajak isterinya berdoa kepada Tuhan, dan dalam doanya tidak lupa mengucapkan ‘bahasa ajaib’ itu. Namun pertobatan itu hanya di ujung lidah -tak lama berselang- tangan, kaki dan (maaf) kelaminnya melakukan hal berdosa itu lagi, bahkan beberapa lagi dilakukan setelah pulang berkotbah dari gereja.
    ## ‘bahasa roh’ atau ‘jabatan pendeta’ sekalipun tidak menjamin orang mengalami kepenuhan Firman Tuhan, bahkan standar moral sekalipun.

  11. lambas siregar on April 10, 2008 at 4:06 pm

    Topik ini sensitif juga yaa !..Amang.

    Setiap gereja ada kekurangan dan kelebihannya, seperti kita sendiri.
    Mari kita bergumul dengan doa dan ujian dalam terang Alkitab menganalisanya. Perlu juga kita cermat dalam survei dengan rela beberapa kali mengikuti ibadah di beberapa gereja. Saya kurang respek dengan sebagian jemaat yang tidak pernah mengecap spirit gereja karismatik dan membuat penilain dini tanpa gambaran semangat kebersamaan.

    Saya menilai semangat dan keseriusan kalangan karismatik menyanyi, berdoa serta membaca Alkitab perlu kita contoh. Gereja arus utama terutama gereja daerah semangat dan keseriusan menyanyinya kurang, padahal syair-syair lagunya lebih Alkitabiah dan juga gerakan membaca dan penelahan Alkitab/Bibel juga hampir merosot. Ini menjadi sekaligus tanda kemerosotan iman dan gaya hidup. Salah satu kelemahan di karismatik yang saya amati adalah semangat penafsiran Alkitab yang kurang ketat/teliti dan tahan uji. Banyak hamba Tuhan diproses lewat jenjang pelayanan bertahap bukan lewat proses pendidikan atau mutu akademik tapi semangat pelayanan cukup militan kawan . Saya concern dengan kobaran semangat iman mari kita peduli dan belajar banyak Teologi di gereja kita masing-masing. Gereja kita banyak menghadapi tantangan untuk menjawab isu-isu kontemporer dan global dengan terang Alkitab. Untuk itu dibutuhkan semakin banyak figur figur handal yang mencintai Tuhan dan rela melayani dan berkarya bagiNya. GBU

  12. Nelson Saragih on June 8, 2008 at 10:47 pm

    Maaf amang, kebetulan saya sedang searching tentang Roh kudus dan menemukan topik ini. Setelah membaca semuanya saya jadi tertarik untuk ikut mengomentarinya.

    Tulisan Amang :
    “(kebalikan dari gereja kharismatik yang cenderung melupaka ajaran etis dan moral Yesus.)
    + Selanjutnya, kotbah-kotbah apalagi seminar-seminar tentang Roh Kudus juga sangat jarang dilakukan di HKBP. Itu berbeda sekali keadaannya dengan gereja-gereja Pentakostal dan kharismatik. (sebaliknya mereka sangat jarang melakukan kotbah atau seminar tentang moralitas atau etika sosial sebagai murid Yesus)

    Maaf amang, saya tidak setuju dengan tulisan amang ini. Saya tidak tahu apakah amang sering masuk ke Gereja Pentakosta dan Karismatik sehingga amang bisa mengambil kesimpulan seperti ini. Bukankah kita bisa mengambil kesimpulan setelah kita menyaksikan, meneliti baru kemudian menarik kesimpulan?
    Saya adalah jemaat sebuah Gereja aliran Pentakosta. Justru saat saya masuk di aliran pentakosta saya lebih banyak menerima kotbah dan pelajaran mengenai Tuhan Yesus dan teladannya dibandingkan sebelumnya. Justru diGereja ini pulalah setelah saya di gembleng dalam pengajaran firman saya dapat meninggalkan tabiat buruk masa lalu saya. Dulu saya perokok berat tapi setelah saya serius ikut Tuhan, puji Tuhan semua tabiat buruk masa lalu saya perlahan-lahan hilang.

    1. Mengenai Bahasa Roh.
    Memang benar bahasa roh bukan menjamin seseorang itu kepenuhan Roh kudus. Tetapi salah satu tanda kepenuhan Roh kudus adalah bahasa roh (baca Kis 2:4). Kita tidak boleh menghakimi bahwa orang yang berbahasa roh itu sesat. Bahkan ada yang berani mengatakan itu dari setan (hati-hati ini adalah sama dengan menghujat Roh Kudus). Memang tidak dipungkiri terkadang ada orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki karunia itu tetapi hanya ikut-ikutan saja agar dilihat lebih rohani. Nah..ini juga salah karena dia telah mempermainkan Roh kudus dan menipu diri sendiri.

    Hanya orang yang pernah ke Amerika lah bisa menceritakan dengan jelas bagaimana itu Amerika. Itu artinya orang yang telah memiliki karunia bahasa rohlah yang bisa menceritakan dengan jelas apa itu bahasa roh. Bahasa roh itu sangat penting karena salah satu fungsi bahasa roh adalah untuk membangun diri sendiri (I Kor 14:4). Pertanyaannya ialah bagaimana kita membangun orang lain/jemaat kalau tidak membangun diri sendiri terlebih dahulu?. Dengan bahasa roh orang yang berbahasa roh membangun persekutuan antara rohnya dengan Tuhan dan pada saat terjadi persekutuan roh tersebut disitulah dia dikuatkan dan disegarkan rohnya (sekali lagi hanya orang yang mengalaminyalah bisa mengerti hal ini). Jadi saya sangat berharap para pelayan Tuhan dan terlebih lagi hamba Tuhan agar tidak memberikan ajaran untuk menolak karunia ini baik secara terang-terangan maupun secara halus. Sebab saya yakin orang yang menghujat Roh Kudus itu tidak serta merta menjadi demikian kalau tidak terlebih dahulu menolak karunia-karunia Roh Kudus.

    Bukan tidak ada parameter untuk mengetahui seseorang itu dipenuhi Roh Kudus apa tidak. Parameternya adalah Alkitab dan buah-buah roh (Galatia 5:22-26). Kalau ajarannya bertentangan dengan alkitab dan tidak ada ditemukan buah-buah roh dalam kehidupannya maka kebenarannya bahwa dia dipenuhi Roh Kudus sudah pasti tidak benar. Contoh Jikalau ada seseorang mengaku dia dipenuhi Roh Kudus dan mendapat karunia bahasa roh tetapi dia masih merokok dan masih pergi ke lapo Tuak maka pengakuannya itu sudah jelas sangat di ragukan. Kenapa? I Kor 6 : 19 dikatakan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus, kalau kita mengotori tubuh kita dengan rokok dan minuman maka sangat diragukan ada Roh Kudus mau tinggal dalam hidupnya.
    Akhir jaman ini banyak orang menolak karunia-karunia Roh kudus dengan berbagai alasan.

    2. Antusiasme beribadah.
    Bertepuk tangan sewaktu bernyanyi bukanlah merupakan tindakan karena dorongan emosi. Dan juga bukan tanda kepenuhan Roh Kudus. bertepuk tangan itu juga adalah dorongan firman Tuhan (baca Mazmur 47:1-3). Jadi hal itu sangat alkitabiah bukan tidak ada dasarnya.

    3. Frekuensi menerima bisikan atau penglihatan.
    Ini juga bukan menjadi tanda kalau seseorang itu di penuhi oleh Roh kudus. Tapi hal itu bisa terjadi kalau kita memiliki persekutuan pribadi yang sangat erat dengan Tuhan. Dahulu ketika di Malaysia istri saya mempunyai persekutuan pribadi yang sangat erat dengan Tuhan. Ia bahkan bisa bersaat teduh dengan Tuhan sampai berjam-jam. Suatu ketika dia mendapat Tugas membawakan firman Tuhan di hari Minggu. Dia tidak memiliki latar belakang pendidikan teologia secara formal. Dia tidak tahu apa yang harus dibawa. Dia kemudian berdoa dan berpuasa. Ketika itulah dia melihat sebuah Kitab terbuka dan terlihat Roma 8. jadi dia mebawakan kotbah dari ayat tersebut. Pada saat dia membawakan firman itu rohnya merasakan ada seorang pemuda yang sedang sakit yang membutuhkan pertolongan. Dan benar ketika di tanya ke jemaat seorang pemuda mengangkat tangannya dan pada saat itu muzizat terjadi. Saat firman selesai dan pada saat Altar Call manifesitasi Roh Kudus benar-benar terjadi. Banyak jemaat yang dijamah Tuhan.

    Parameter untuk melihat apakah seseorang itu benar-benar menerima bisikan Tuhan atau tidak juga ada yaitu ALKITAB. Jikalau sesorang berkata aku mendengar Tuhan mengatakan ini dan itu tetapi ternyata bertentangan dengan firman Tuhan sudah pasti bisikan yang didengar itu bukan berasal dari Tuhan.

    4. Tanda keempat: penyembuhan tanpa prosedur dan tindakan medis
    Benar bahwa hal ini adalah salah satu tanda kehadiran Roh Kudus. Tidak mungkin terjadi muzizat kalau bukan karena pekerjaan Tuhan melalui Roh Kudus. Tapi hal ini bukan menjadi parameter kalau seseorang itu dipenuhi oleh Roh kudus.
    Kalau ada orang merasa dirinya memiliki banyak uang dan tidak membutuhkan Muzizat, Tuhan mengizinkan mereka mengandalkan kemampuan para Medis. Tapi saya yakin orang yang tidak memiliki banyak uang atau orang yang benar-benar mengandalkan Tuhan pasti ia akan mengharapkan muzizat. mengenai akibat mengandalkan Tuhan dan mengandalkan manusia silahkan baca Yeremia 17:5-8.

    Itulah kira-kira komentar yang bisa saya sampaikan. Maaf kalau ada kata-kata saya yang tidak berkenan. Bersama ini pula saya mengharapkan agar sesama tubuh kristus tidak lagi saling menyalahkan dan menghakimi. Marilah kita kembali ke ALKITAB jangan kita menghakimi menurut pemikiran kita. Tubuh Kristus harus bersatu. Yesus berkata : “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Matius 8:20). Kenapa demikian? Karena tubuhNya masih belum utuh, tubuhnya belum bersatu masih terpecah-pecah. Masing-masing anggota tubuh menganggap dirinyalah yang paling benar? Mari kembali ke ALKITAB. ALKITABlah yang Tuhan beri untuk menuntun kita kepada Kebenaran. Jadi benar atau tidaknya tata cara ibadah kita ALKITABlah parameternya. Oleh sebab itu mari kita beribadah sesuai dengan Firman Tuhan dalam Alkitab.

    Daniel Harahap:
    Sementara biarlah kawan-kawan lain yang menanggapinya. Secara singkat saya mau katakan tidak ada parameter untuk mengatakan bahwa yang sedang diucapkan seseorang itu bahasa roh atau bukan. Dan satu lagi, Anda lupa mengutip ucapan Paulus bahwa dia tidak suka menggunakan bahasa Roh dalam persekutuan jemaat sebab tidak membangun jemaat. Padahal karunia roh itu tujuannya untuk membangun jemaat. Satu lagi, bahasa Roh yang Anda sebut di Kis 2 justru dimengerti semua orang yang mendengarnya. :-)

  13. Nelson Saragih on June 11, 2008 at 12:31 am

    Syalom Amang, sedikit saya tambahkan.

    Tulisan amang:
    “Dan satu lagi, Anda lupa mengutip ucapan Paulus bahwa dia tidak suka menggunakan bahasa Roh dalam persekutuan jemaat sebab tidak membangun jemaat.”
    Kalimat ini terdapat dalam I kor 14:19. “Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh”.

    Penggunaan berkata-kata dalam bahasa Roh dapat dibagi 3 :

    1. Berkata-kata dalam bahasa Roh sewaktu pertemuan jemaat (I Kor 14:19).
    Dalam pertemuan jemaat biasanya kondisinya adalah komunikasi dua arah antara pembicara dan pendengar. Tentunya dalam pertemuan ini pastilah ada yang dibahas setidaknya pembahasan Firman Tuhan. Pada gereja mula-mula pertemuan ini tujuannya untuk pengajaran firman Tuhan oleh rasul-rasul (I Kor 14:19+ I Kor 14:6+ I Kor 14:9). Bagaimana jemaat bisa dibangun dan mengerti kalau pembicara berkata-kata dalam bahasa Roh? Tentunya tidak mengerti bukan? Oleh sebab itu dalam keadaan ini Bahasa Roh tersebut harus ada tafsirannya sehingga jemaat dapat dibangun.
    Mengapa Paulus mengatakan bahwa dia lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar dari pada beribu-ribu kata dalam bahasa Roh? Itu karena tidak dalam semua pertemuan jemaat ada orang yang memiliki karunia menafsirkannya.
    * Tujuannya untuk kondisi ini adalah untuk membangun jemaat.

    2. Berdoa dalam bahasa Roh (I Kor 14:14).
    Berdoa adalah komunikasi pribadi antara seseorang dengan Tuhan. Karena ini bersifat pribadi dengan Tuhan maka kondisi ini tidak harus ditafsirkan. Karena Tuhan mengerti arti dari kata-kata itu (I Kor 14:2).
    * Berkata-kata dalam bahasa roh disini bertujuan membangun diri sendiri.

    3. Memuji dalam bahasa Roh (I Kor 14:15).
    Memuji dalam bahasa Roh juga tidak harus ditafsirkan karena kita menyampaikan puji-pujian itu kepada Allah bukan kepada manusia.
    * Berkata-kata dalam bahasa roh disini bertujuan membangun diri sendiri.

    Nah, disinilah masalahnya….. banyak orang menganggap bahasa Roh itu pengertiannya seperti point No.1 sehingga harus ditafsirkan. Sehingga mereka menilai bahasa Roh yang ada di pentakosta/karismatik yang sekarang tidak ada penafsirannya berarti sesat. Padahal mereka tidak tahu bahwa bahasa Roh yang sering ditemukan dalam ibadah pentakosta dan Karismatik point No. 2 dan 3 yaitu berdoa dan memuji/menyembah dalam bahasa Roh.

    Sebenarnya saya sangat heran kenapa banyak orang sepertinya antipati dan memandang sebelah mata atas karunia ini. Dengan alasan ini dan itu mereka menganggap karunia ini tidak penting. Padahal Paulus sendiri menyarankan agar kita mengejar karunia-karunia Roh Kudus terutama karunia bernubuat (I Kor 14:1).
    Dari pengamatan saya terhadap beberapa hamba Tuhan yang memiliki karunia bernubuat mereka juga memiliki Karunia Bahasa Roh. Karena bagaimana mungkin mereka bisa membangun orang lain kalau mereka tidak membangun dirinya sendiri terlebih dahulu?

    Contoh yang paling nyata di Alkitab adalah Paulus. Paulus bahkan berkata-kata dalam bahasa Roh lebih dari orang lain (I Kor 14:18).
    Lalu kenapa ya kita tidak berusaha menjadi seperti Paulus yang bisa berdoa dengan akal budi terlebih lagi berdoa dalam bahasa Roh?
    Kenapa kita hanya mau berdoa dengan akal budi sementara Paulus juga mau berdoa dalam bahasa Roh bahkan lebih dari orang lain?

    Daniel Harahap:
    Kita boleh berbeda. Dan kepelbagaian tafsir sejak awal gereja adalah sah. Saya hanya kembali mengutip bahwa ucapan Paulus dalam 1 Korintus 14:18 yang kalau diterjemahkan dengan bahasa sekarang “sedangkan aku yang mendapat karunia berbahasa Roh lebih dari kamu tidak suka menggunakannya dalam pertemuan jemaat, lantas mengapa kalian sok-sokan?” Saya tidak menafikan bahasa Roh, tetapi sebaiknya digunakan di rumah saja, di kamar pribadi, untuk diri sendiri. :-)

  14. JP Manalu on June 11, 2008 at 12:27 pm

    Saya (tepatnya keluarga kami) pernah punya pengalaman dengan “bisikan” dari Tuhan ini…..
    Kejadiannya sekitar 13 sd 14 tahun yang lalu, ketika itu salah seorang anggota keluarga besar kami yang kebetulan belum dikaruniai Tuhan keturunan, “mengaku” bahwa menurut salah seorang hamba Tuhan (saya kurang etis menyebut namanya, tetapi salah seorang hamba Tuhan yang sangat populer, tetapi ini benar terjadi dan diceritakan ke seluruh keluarga besar kami) dengan menyatakan “berdasarkan ‘bisikan’ yang diperolehnya, keluarga anak amanguda tersebut akan dikaruniai seorang anak laki-laki dan akan diberi nama Immanuel. Sejak saat itu, isteri dari anak amanguda tersebut mencitrakan sebagai seorang perempuan yang mengandung, dan bahkan seluruh keluarga besar kami kalau berkomunikasi dengan keluarga tersebut sudah memberikan gelar “Pak/Nai Immanuel” untuk memanggil keluarga tersebut. Hari demi hari, keluarga menunggu dan menunggu, ternyata “maaf sodara-sodara” hingga hari ini apa yang diaku sebagai bisikan itu tidak terealisasi…. Dan yang bikin saya cukup “takjub” sudah begitu, saudara kami tersebut hingga saat ini masih tetap “percaya” dengan omongan yang mengaku menerima bisikan tersebut. Hingga saat ini, keluarga tersebut masih aktifis di gereja itu. Pesan moral cerita ini adalah : Jangan terlalu percaya dengan orang atau kelompok yang mengaku-ngaku mendapat bisikan dari Tuhan, tetapi perlu diuji seperti yang diutarakan oleh amang Pdt. DTA.

  15. rudy sihombing on June 11, 2008 at 3:22 pm

    Pusing juga baca tulisan ini, walau sudah baca berulang-ulang, sampai ngantuk…….. bangun………..baca lagi……….. ngantuk. ….pusing. Sama seperti pusingnya saya pada waktu SD berusaha menyelesaikan membaca Alkitab…. hingga pada pada kitab Wahyu.
    Tambah pusing lagi kalo aku ingat di kampung ku di depan rumah, ada pendeta gereja anu, alumnus PKI yang bersembunyi di kolong rumah kami ketika ada sweeping untuk membantai PKI. Pendeta tersebut secara rutin berbahasa roh, ngaku bertobat, mencuri lagi…bertobat……berbahasa roh lagi…….. berdoa dari malam hingga pagi hari… berzinah dengan jemaatnya………… nikah…….. poligami.

    Aku ingin bisa berbahasa roh kalau itu memang baik, karena memang para pendeta kami (HKBP) tidak ada/pernah saya tahu yang berbahasa roh, tapi maunya janganlah juga saya mendapat anugerah berbahasa roh plus berzinah.

    Ada teman pendeta dari aliran yang suka berbahasa roh, juga mengatakan bahwa: Kamu tidak mungkin kemasukan ROH KUDUS dengan alasan rokok dari kudus lebih banyak menguasai tubuh mu. Memang rokok/nikotin dan zat lainnya berbahaya, tapi jika orang Fisika/Kimia/Gizi harus menganalisis asupan yang masuk ke tubuh kita sudah sangat rumit. Wah udah ahhh kok ngelantur (Amang tolong di delete jika posting ini ngelantur karena memang dari awalnya juga topik ini buat pusing)

    Daniel Harahap:
    Ah, saya lagi pusing dan tidak punya waktu mendelete. :-)

  16. Nana Simarmata on June 12, 2008 at 1:04 pm

    aku baca tulisan ini sampai 3 kali…narik nafas dalam2…n rileks…hhmmm aku pribadi puas dengan tulisan Amang bukan karena aku jemaat HKBP tp dikarenakan mmg apa yg ditulis oleh Amang pdt sangat jelas dan
    Alkitabiah.

  17. walden sitanggang on October 23, 2008 at 8:24 pm

    roh kudus bukanlah sesuatu yang dapat disetir oleh siapapun yang berkekuatan duniawi. dia adalah rahmat bagi orang yang mau meneriamnya.

    Daniel Harahap:
    Setuju. Juga tidak bisa disetir oleh manusia walaupun dia sudah mendapat kurnia2 surgawi. :-)

  18. tiur on October 23, 2008 at 11:51 pm

    Setuju sekali kalau Roh Kudus itu tidak dapat disetir oleh manusia…..wong Roh Kudus itu adalah bagian dari Allah Tri Tunggal.

    Selamat berlatih didalam ladangNYA…:)

  19. Saurdot on October 24, 2008 at 10:52 am

    Penjelasan yang dalam sehingga artikel ini perlu disosialisasikan (tentu seijin Amang DTA) kepada teman-teman yang belum sempat di-’indoktrinasi’. Marilah hidup seimbang dengan melakukan hukum yang terutama, “Mengasihi TUHAN dan yang tak kalah penting juga mengasihi sesama manusia”.

    Thanks to ito Tiur. Keberadaanmu di recent comment menghantar saya ke artikel bagus ini.

  20. MM timbo on October 24, 2008 at 10:55 am

    kata pendetaku, (swaktu aku tanya topik yang sama dalam katekisasi orangtua untuk baptis anak), secara … kami sudah pikirkan kalau anak-anak menanyakan hal tersebut dan kami bingung mau jawab bagaimana–Amang J. Sirait bilang gini : “Hendaknya ibadahmu menyenangkan hati Tuhan bukan hati manusia.” (catatan: HKBP kan manusia juga)
    Kadangkala (kalo boleh dibilang sering) saya rada-rada sebel dengan liturgi hkbp, n kotbah yang menurut saya,.. kok ngga GUE BANGET.. :( karena beberapa pendeta mencoba mengaplikasikan firman Tuhan, tapi kok dengan kondisi bona pasogit ya?:) Trus, saya berdoa, Ya Roh Kudus, pimpin aku agar ibadah ku berkenan di hadapan Tuhan, amin… puji Tuhan, sampai saat ini saya masih merasakan kasih sayangNya.

  21. JFC on November 21, 2008 at 10:33 pm

    Saya org HKBP yg sekali2 mengikuti ibadah di gereja kharismatik. Memang gereja HKPB ada kelemahan2 yg saya rasakan. Salah satunya terasa kalo Gereja kurang capable dan kurang intens dlm menuntun jemaatnya lbh dekat ke Tuhan. Dari mimbar dibilang jgn minum minuman keras tapi kalo ada parhalado ketemu jemaat lg minum nggak ditegur contohnya gitu. Ato kalo lg ibadah banyak jemaat yg ngobrol2 dgn org lain, mainin hp lah or malah tertidur tapi ngga ada usaha dr pendeta maupun parhalado utk menuntun jemaatnya agar beribadah lbh kusuk lagi. Ini masukkan lo amang. Aku rindu melihat HKBP bs membawa jemaatnya lbh dekat lagi ke Tuhan bukan spy gereja HKBP makin top tp semata2 hanya ukt hormat & kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan ngga liat cara kita beribadah, lompat2 kek ato duduk diam Tuhan hanya melihat hati kita semata. Dekat ngggak dgn Tuhan. Jgn bibir kita memuji Tuhan tp hati kita sebenarnya jauh dari-Nya. Ingat Yak 1:27 :”Ibadah yg murni dan yg tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu & janda2 dlm kesusahan mereka (itulah KASIH) & menjaga spy dirinya sendiri tdk dicemarkan oleh dunia”. Jadi hidup kita adalah ibadah kita.

  22. jehuda on November 28, 2008 at 11:25 pm

    wah sepertinya pembicaraan mengenai baptisan Roh Kudus ini tidak ada
    habisnya, Kalau kita cuman ngeributinnya ( kan firman Tuhan bilang) “kalau mencari maka mendapatkan…”… kalau kita belum mendapatkan ya nyari, cari firman tuhannya, Kalau kita belum dapat jangan orang lain disesat-sesatin… apalagi kita sesama kristen…. gimana kalau kita ngeliat buahnya saja……
    1. apakah orang mengalami perubahan dalam karakter… ( semakin penuh kasih…) berari tidak menghakimi dong….

    2. Setiap orang harus bertumbuh dalam imannya, pengetahuan akan firman
    (jangan taunya cuman berzinah aja dosa, memikirkannya juga udah dosa)

    3. Karakter itu bagian dari buah, Pdt, pastor or anyway tidak membuat kita otomatis berkarakter Kristus, karakter itu PROSES

    4. Kristen itu bukan agama, tapi gaya hidup, yaitu gaya hidup yang seperti Kristus.. penuh dengan kasih….(ingat Yesus agamanya bukan Kristen)…Jadi orang kristen harusnya orang-orang yang bergaya hidup seperti Kristus…..ayo semangat cari kebenaran firman Tuhan.. jangan cuman kata pendeta doang .
    Mari alamin sendiri Mukjizat dari Tuhan Yesus, Cari Maka Kamu akan mendapatkan……..

  23. basa tiur mida siahaan on January 26, 2009 at 9:10 pm

    horas… saya sangat sepakat dengan informasi yang dituliskan ini. informasi seperti ini perlu terus ditulis oleh mereka yang lebih kompeten sehingga jemaat tidak lilu akan informasi “yang lilu “. iman saya tumbuh dari HKBP dan sampai saat ini saya bersuamikan orang yang tidak seiman sayapun tetap tumbuh di HKBP, hanya yang sangat saya sayangkan oleh Gereja HKBP masih memilih mereka yang mempunyai harta untuk tetap dituntun ketimbang mereka yang mau bahkan belum mengenal Yesus karena mereka tidak memiliki harta. Saya sepakat sekali jika memang Gereja HKBP lebih kristologi maka ada baiknya apa yang diajarkan oleh Kristus itulah yang menjadi landasan dalam menuntun jemaat…..mauliate

  24. jeremy on February 2, 2009 at 11:02 pm

    Masalah yang cukup sensitive memang…
    Tetapi Alkitab sendiri mengatakan (intinya saja, saya lupa dimana) hendaklah kamu teratur dan tertib dalam beribadah kepada Tuhan. Gejala2 ini memang banyak sekali. Prinsip saya sampai sekarang amang ialah :
    1. Bahasa Roh bukan paksaan…. syakala rabaraba itu bukan bahasa yang berasal dari Roh, Paulus sendiri toh mengatakan lebih baik diam kalau tidak ada yang bisa menterjemahkan
    2. Bahasa Roh merupakan karunia yang bisa dicabut lagi oleh Tuhan dan tidak akan kekal selamanya dalam diri orang tersebut. Jadi bukan yang datang tiba-tiba setiap minggunya
    3. Baptisan Roh Kudus ini juga salah karena dalam Alkitab juga telah disebutkan bahwa hanya ada satu baptisan saja dan bukan dua : “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,” (Ef 4:5).Ketika Paulus menuliskan : “…dalam satu Roh… telah dibaptis menjadi satu tubuh…” (1 Kor 12:13), kata”telah dibaptis” dalam bahasa Yunaninya menggunakan bentuk kata kerja lampau, aorist tense, yangartinya an unrepeated operation, a completed past action, once and for all. Yaitu suatu kejadian pada masa lampau, sekali dan tidak terulang lagi.Hal ini memberikan indikasi bahwa orang Kristen ketika menjadi percaya (pada saat yang bersamaan)
    telah dibaptis oleh Roh. Perkataan ini justru Paulus tujukan kepada orang Korintus yang pada saat ituhidup dalam daging serta perselisihan, maka ia mengatakan bahwa : “dalam satu Roh kita semua… telahdibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” jadi janganlah bertengkar satu sama lain.Baptisan Roh bagi kita pada masa kini ialah penempatan orang-orang percaya ke dalam persekutuan tubuh Kristus oleh Roh Kudus pada saat pertobatan.
    4. Banyak sekarang orang menjadi pendeta tanpa sekolah dengan alasan bahwa cukup dengan diurapi oleh Roh Kudus. Inilah pemotongan ayat yang sepotong-sepotong tanpa lihat konteks keseluruhan bahwa itu konteks untuk AntiKristus.

    Tetapi inilah yang menjadi pertentangan dalam keluargaku amang, begitu ditunjukkan makalah, artikel yang ada jawabannya “Ini Gereja koq malah saling menjelekkan satu sama lain sih?? Bukannya malah satu?? Gereja apaan begini??”

    Terdiam dan terduduk saja…. :)

    Daniel Harahap:
    Persatuan dan Kesatuan itu slogan Orde Baru yang mengharamkan perbedaan pendapat. Gereja boleh berbeda pendapat bahkan secara tajam (ingat berbeda pendapat, bukan bunuh-bunuhan!). Yang penting dalam dua hal kita sama: pengakuan Yesus adalah Tuhan dan azas kasih atau jalan tanpa kekerasan untuk mencapai tujuan.

  25. Rosa on April 5, 2009 at 4:41 pm

    Tritunggal = Bapa, Anak, Roh Kudus = satu
    Allah adalah Roh dan barang siapa menyembahnya, sembahlah dalam Roh dan Kebenaran
    Kebenaran adalah Yesus pergi ke Bapa artinya kita harus lihat bahwa Yesus itu adalah Bapa (Yoh 16:10, Yoh 17:17)
    Yesus dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30)

    Dan agar manusia bisa percaya Tuhan menurunkan diriNya lagi ke tingkatan Roh Kudus dan memberikan Roh Kudus sebagai hadiah dan materai bagi orang yang percaya kepada Dia. (1Kor 2:8-10, Ef 1:13, 1Kor 1:22

    Sebelum hari Pentakosta Yesus telah memberikan Roh Kudus. (Yoh 20:19-22)
    Jadi turunnya Roh Kudus bukan berarti ditandai dengan bahasa roh. Bahasa Roh adalah tanda bagi orang yang tidak beriman (1Kor 14:22) Jadi kalau kita sudah bertumbuh dan beriman apakah kita perlu bahasa roh agar kita percaya? agar kita punya iman?

    Iman datang bukan dari berbahasa roh tapi dari pendengaran akan Firman Tuhan (Roma 10:17)
    Roh Kudus adalah kasih Allah yang begitu dalam kepada umat manusia agar mereka bisa percaya dan berbalik kepada Allah Bapa. (Yoh 14:25-26)
    Itu sebabnya di Alkitab bilang jangan dukakan Roh Kudus, sudah tidak ada ampun lagi (Mat 12:31-32) kenapa?

    Kalau kita ga percaya Yesus Kristus adalah Allah Bapa, Yesus masih berdoa untuk kita agar kita bisa percaya (Yesus adalah pengantara kita 1Tim 2:5 ; Ibr 12:24) tetapi kalau Roh Kuduspun kita ga terima dan percaya sudah tidak ada jalan lagi.

    karena dari tingkatan Roh Kudus kita harus naik ke tingkatan Anak , Mengenal dan Percaya Yesus Kristus bertumbuh sampai kesempurnaan Kristus, percaya bahwa Yesus Kristus adalah Allah Bapa (Yoh 10:30, Yoh 14:6-7) dan menyambut Dia di Kedatangan KeduaNya dalam Kemuliaan Bapa.
    Kalau tidak mengenal Yesus Kristus adalah Allah Bapa kita akan mati dalam dosa kita. (Yoh 8:21 dan 27)
    Bukan yang berseru Tuhan2 yang masuk ke dalam Kerajaan Sorga tapi dia yang melakukan kehendak Bapa.

    Itu sebabnya marilah kita jangan saling berdebat tapi cari kebenaran lewat Firman Tuhan, Coba lihat dan rasakan hatinya Allah Bapa , lihat hatinya Yesus pada saat Dia di bumi, Dia adalah Allah Bapa, Allah Pencipta, Firman dari pada mulanya (John 1:1-4) tapi tidak ada yang mengenal Dia.
    Bagaimana hati Yesus saat pemimpin2 agama dan orang2 farisi memberi ajaran yang salah kepada orang Israel? hati Yesus marah dan sakit sekali itu sebab dia panggil mereka ular beludak. Itu sebabnya kita orang Kristen baik Pdt, Penatua, Majelis, Ketua2, Jemaat semua mari cek diri kita masing2 apakah kita sudah benar2 mengenal Allah Bapa kita dengan benar?

    Bagaimana kita bisa mengenal Dia, percaya Dia dan melakukan kehendak Dia? adalah dengan belajar Firman.
    Belajar Firman yang sebenarnya , yang murni, yang tidak dicampur dengan filosofi, ideologi, pikiran2 manusia. Makanya Yesus bilang hati2 dengan ragi orang farisi, maksudnya adalah ajarannya. Jadi kita harus balik ke Firman pada mulanya yang telah banyak disalahkan oleh banyak orang, dan ditafsir asal2an. (2 Pet 1:20-21)

  26. Bang Tampu on October 9, 2009 at 8:26 am

    Horas amang.
    Saya dulu jemaat HKBP, sejak 1997 saya berjemaat di gereja kharismatik. Gembala sidang saya saat ini menjabat sebagai ketua sinode gereja dimana saya beribadah. Pengajaran yang saya terima lewat khotbah2 gembala sidang saya tersebut 100% setuju/serupa dengan pemahaman amang. Berhubung saya pindah rumah jauh dari gereja dimana saya terdaftar, saat ini saya lebih banyak beribadah digereja dekat rumah yang masih satu merek dengan gereja dimana saya terdaftar. Digereja ini saya melihat pemahamannya serupa dengan penelitian theolog yang amang paparkan. Oleh karena perbedaan pemahaman tersebut maka saya mencari topik tentang bahasa roh, dan ketemulah topik amang ini. Dari kedua pengalaman saya tersebut kalau boleh saya menyimpulkan tidak semua gereja kharismatik seperti yang diteliti theolog tersebut. Tergantung pendeta/individu yang memahaminya.
    Saya tidak pusing membaca topik amang ini seperti beberapa rekan lainnya, tapi saya agak pusing membaca judulnya. Andaikan judul topik ini berasal dari orang kharismatik saya tidak agak pusing. Ya sudahlah hanya agak pusing aja koq, yang penting bagi saya, apapun topiknya, apapun gerejanya YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN. Horas!

  27. Friska pardede on October 9, 2009 at 10:23 pm

    Bah…ketika aku mencari renungan harian seperti biasanya di ruma ini tidak ada, ketemu dgn recent comment bang tampu sehingga sampailah saya ke topik ini dgn penjelasan yg enak dibaca dari yang punya rumah , menurut pendapatku dari semua yang telah kubaca yg disajikan amang pendeta ini amang inilah yg layak saya katakan telah dipenuhi Roh Kudus, dari cerita keluarga yg berjauhan cukup lama dan semualah yg diceritakan pak pendeta di blognya ini.

    Ada juga sepupuku yang sdh dibabtis ulang krn merasa sangat beriman setelah pindah ke kharismatik.
    Ketika mamanya yg sdh mabalu acara natalan di greja(kumpulan para janda/yg ditinggal mati suaminya) dan ikutan main drama yg agak tinggi panggungnya dimanakah anak2nya yg dulu ketika sekolah Minggu natalan ditunggui mamanya dgn penuh kasih, sehingga sayalah yg menuntun mamanya ini turun dan naik panggung, bahwa walaupun sang putri yg merasa dirinya ini di penuhi Roh Kudus setiap saat bukankah kasihnya yg utama dia tunjukkan kepada mamanya?

    Ketika mamanya ini sakit sianak sibuk dgn pelayanannya di rumah sakit setlh pulang dari kerja, lalu sampai dirmh sdh capek, sehingga mamanya tdk sempat diurusi, lalu mamanya mengeluhkan si anak, apakah ini baik??
    Begitu juga dgn pernikahannya si anak ini tdk berembuk dgn mamanya krn sudah pasti akan ribut ,mamanya menginginkan adat sedang sianak mengharamkannya, seperti itukah kasihnya.( menurut saya betapa egoisnya anak ini hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan kebahagiaan org yg sehrsnya paling dikasihinya), dimana dalam adat, itu mamanya memohon doa restu dari itonya,mamanya (tulang si pengantin dan ompungnya) dgn pemberian ulos( Yg katanya berhala….dimana letak berhalanya , yg membuatnya kan ada yg sdh pakai mesin, kenapa pulak kita bangga memakai batik? )

    Kalau menurut saya greja HKBP mengadopsi tata ibadahnya dari Jerman yg sudah berusia ratusan tahun, dan sudah melampui beberapa jaman dan telah teruji dimana pendahulu2 kita pastilah manusia2 yg sangat Di berkati, datang ke tanah Batak pastinya dalam pelayanan utk mengkristenkan nenek moyang kita begitu sulit sampai tidak masuk diakal bagi kita yg merasa diri paling pintar ini, toh mereka tidak pernah mengatakan paling beriman dan dipenuhi Roh Kudus.
    Pelayanan jaman sekarang/melayani manusia modern tdk ada seujung kukunya para pendahulu kita itu.

    Satu lagi…putri pertamaku tadinya aktif di persekutuan kampusnya, beberapa pemuda/i yg mengaku dirinya pelayan itu memakai kalung salib
    yg besar tetapi udel dan maaf lobang pantatnya kelihatan, sibuk angkat2 perlengkapan ibadah ( seperti gitar, alkitab) dari ruang TU kampusnya ke tempat mereka beribadah, setelah selesai ibadah, waktunya kuliah dan tiba2 si dosen mengatakan ya…saudara2 hari ini kita ujian …boruku mendengar dari mulutnya keluar kata…babi nih dosen….( bukankah setiap mahasiswa siap diuji kapanpun??), padahal baru saja dia mengatakan baru dapat bisikan bla….bla…dari Tuhan rupanya bukan bisikan ujian yg diterimanya kata boruku.

    Aku bersyukur ketiga anakku tdk tertarik dgn tata ibadah ala kharismatik mereka fanatik dgn HKBP danmerasa mendapatkan anugrah dan berkat yg sangat banyak melalui ajaran HKBP, karena kami (kedua orangtuanya) mencontohkannya kepada mereka dgn plus minusnya HKBP, maka mari berbuat utk HKBP kita yg sangat besar ini.

  28. juniarto on October 11, 2009 at 12:09 pm

    tulisannya bagus amang,
    saya sendiri hkbp tetapi melayani di oikumene.
    saya bersyukur ada tulisan berbobot dari pendeta hkbp seperti ini.
    Masih banyak topik yang lain amang, mohon ditulis lagi.
    tks, imanuel

  29. Big Jojosz on July 11, 2011 at 3:01 pm

    Wah, ada yg bawa2 hamba Tuhan nih.. Hehe.. Gak ush bw2 oknum lah.. Kl gara2 ada 1 / 2 oknum hamba Tuhan yg ga beres (g sjalan apa yg di khotbah-in dgn kelakuan shari2)trus jd ngehina aliran nya n nganggep alirannya sesat, cb deh pikir, “murid Yesus” aja ada yg g percaya Yesus dah bangkit, n ada pula yg ngejual Yesus demi materi..

    Kl gt kita ga ush percaya Yesusnya yak??? Ilustrasinya kan gini: Oknum Pendeta ga beres/ngeyel = Aliran ga beres/sesat => rasul ada yg g beres = Tuhan Yesus sesat/g beres.. Hehe.. Dah pasti kita smua sepakat jawabannya nggak..!!

    G ush cari2 ksalahan n hakimin greja lain..

    Pilihlah gaya/tata ibadah yg bikin krohanian km “bertumbuh” {bner2 bertumbuh, bhkn berbuah lebat n bs dinikmatin sesama (mnrt gw sih trutama kluarga sndiri dulu), trutama Tuhan}

    Di mn pun km bribadah, bribadahlah dengan sungguh2, per-erat persekutuan dengan Tuhan n Dia akan ngarahin km ke jln yg benar, memberi kekuatan untuk lakuin Firman, dll..

    I luv u all.. GBU..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*