PERSEMBAHAN

April 15, 2007
By

anggur-5.jpg

PEMBINAAN WARGA GEREJA

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

1. Mengapa memberi persembahan?

Hampir dalam setiap pertemuan ibadah atau kebaktian kita mengumpulkan persembahan. Bahkan anak-anak Sekolah Minggu dan Remaja/ Pemuda kita yang jelas-jelas belum berpenghasilan sudah kita ajarkan untuk memberi persembahan. Ada bermacam-macam nama kita berikan kepada persembahan atau pengumpulan uang untuk umat Tuhan ini: persembahan: syukur, tahunan/ bulanan, persepuluhan, sulung, paskah, natal, ujung tahun atau tahun baru dll. Dan jika kita jujur gereja kita bisa beraktivitas dan hidup dari dan karena persembahan itu, begitu juga petugas-petugas yang sepenuhnya mengabdikan hidupnya untuk melayani gereja. Namun apakah sesungguhnya makna persembahan itu? Mengapa setiap kali bertemu dalam rangka gereja atau ibadah kita harus mengumpulkan persembahan? Apakah makna teologis persembahan?


2. Tuhan pemilik kehidupan.

Aktivitas dan kehidupan TUHAN tidak tergantung pada belas kasihan kita. Mazmur 50:7-14 dan Yesaya 1:10-13 secara eksplisit mengatakan bahwa Tuhanlah Pencipta dan Pemilik seluruh kehidupan ini. Bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan (I Kor 10:26). Sebagaimana kata sang pemazmur: “PunyaMulah siang, punyaMulah malam, punyaMulah langit, punyaMulah bumi” (Mazmur 74:16, Maz 89:12)

Itu artinya Tuhan sama sekali tidak tergantung kepada sokongan, bantuan apalagi belas kasihan kita untuk melakukan aktivitasNya. Bahkan Tuhanlah yang sesungguhnya yang empunya diri kita dan segala apa yang ada pada kita. Tubuh, jiwa dan roh, serta harta milik kita pada hakikatnya adalah milik Tuhan. Sebagaimana dikatakan oleh Rasul Petrus “kita sudah ditebus oleh Allah dengan darah yang Kristus kudus dan mahal itu” (I Pet 1:18-19), sebab itu kita telah menjadi milik Kristus dan milik Allah (I Kor 3:23, I Kor 6:9. Ef 1:4, Mazmur 100:3) . Jika memang segala sesuatu yang ada dalam diri kita dan pada kita milik Allah: apakah lantas arti persembahan? Sebab itulah dalam doa persembahan kita seyogianya mengatakan: siapakah aku ini, ya Tuhan sehingga pantas memberi kepadaMu? Apakah yang ada padaku yang tidak berasal dari Engkau? Tubuh, jiwa dan rohku dan harta milikku sesungguhnya adalah pemberianMu. Aku adalah milikMu!

“Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah……Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (I Kor 3:23, 6:20)


3. Persembahan adalah penyerahan diri penuh

Rasul Paulus menyatakan agar kita mempersembahkan tubuh (baca: diri seutuhnya) kepada Allah. (Roma 12:1). “Serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk dipergunakan sebagai senjata-senjata kebenaran” (Roma 6:13b). Dalam Mazmur 51:19 dikatakan korban persembahan kepada Allah ialah jiwa yang hancur dan hati yang patah-remuk. Sebab Allah lebih menyukai kasih setia dan pengenalan akan Allah daripada korban persembahan. (Hosea 6:6). Allah menyukai perbuatan keadilan kepada sesama daripada korban (Amos 5:21-24). Sebagaimana disampaikan Rasul Paulus:“Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1)


4. Persembahan bukan ganti hati dan sikap taat

Selanjutnya kita sadar bahwa hati dan dirilah yang seharusnya harus dipersembahkan kepada Tuhan. Uang tidaklah dapat menggantikan hati dan diri kita. Uang juga tidak dapat menggantikan sikap dan tingkah laku kita yang diminta Tuhan. Sebab itu persembahan juga bukanlah semacam uang “pelicin” untuk melunakkan hati Tuhan dan menutupi pelanggaran atau memaafkan kesalahan! Tuhan lebih menghendaki pengenalan akan Allah dan kesetiaan dibandingkan korban bakaran (Hosea 6:6).


5. Nilai persembahan ditentukan motivasi

Yesus sangat menekankan motivasi dalam memberi persembahan. Bagi Yesus bukan jumlah nominalnya namun motivasi yang menggerakkan seseorang memberi persembahan itulah yang terpenting dan menentukan nilai persembahan itu (Matius 6:1-4). Sebab itu Yesus menganjurkan memberi persembahan secara tersembunyi untuk menguji kesungguhan dan ketulusan hati orang yang memberi. Orang yang memberikan persembahan untuk mendapatkan pujian dari sesama manusia sudah mendapatkan upahnya (dari manusia) dan karena itu tidak mendapatkan upah lagi dari Allah Bapa yang di sorga.


6. Nilai persembahan tergantung prosentase berkat

Nilai persembahan itu harus diukur dengan memperbandingkannya dengan berkat Tuhan yang sudah diterima orang tersebut. Berapa persenkah berkat Tuhan yang dikembalikan orang tersebut sebagai persembahan. Persembahan janda miskin dalam Lukas 21:1-4 dianggap lebih besar daripada persembahan orang-orang kaya bukan karena nominalnya memang lebih besar, namun karena persentasenya lebih besar (dibandingkan dengan berkat materi yang diterima masing-masing). Persembahan karena itu haruslah juga menjadi tanda keadilan. Yang mendapat banyak (dari Tuhan) wajar jika memberikan lebih banyak (“kepada Tuhan”). Orang yang mendapat berkat Tuhan berlimpah harus memikul beban persembahan lebih berat supaya ada keseimbangan dan keadilan. (lihat II Kor 8:13-15)


Paramater menguji persembahan:
Ada pertanyaan yang harus diajukan oleh masing-masing orang untuk mengukur persembahannya pantas apakah tidak pantas. Jangan tanya berapa persembahan yang SUDAH Anda diberikan, tetapi berapakah berkat Tuhan yang BELUM atau TIDAK Anda dipersembahkan?


8. Makna persembahan

Pertama : Tanda Pengakuan

Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa tubuh, jiwa, dan roh serta segala yang ada pada kita adalah berasal dari Tuhan dan pada hakikatnya milik Tuhan. Sebab itu kita harus mempergunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebagian dari apa yang ada itu kita potong (dengan sadar dan sengaja) dan kita kembalikan kepada Tuhan sebagai tanda pengakuan bahwa pada hakikatnya diri dan harta yang ada pada kita adalah milik Tuhan. Jumlah yang kita potong dan beri itu bisa saja kurang atau bahkan lebih dari sepuluh persen (persepuluhan). Namun harus “terasa sakit” atau pengaruhnya bagi yang memberi tersebut. Memberi persembahan secara benar ibarat “memotong” dan “memberi” bagian tubuh atau hidup sendiri orang lain. (Mal 3:10)


Kedua: tanda syukur dan terima kasih.

Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa kita sudah menerima (banyak) dari Tuhan. Sebagian kita kembalikan kepada Tuhan sebagai tanda syukur atau ucapan terimakasih. Sebab itu kita memberikannya dengan penuh sukacita dan ikhlas! Persembahan sebab itu adalah respons atau jawaban orang beriman terhadap kasih dan berkat Allah yang begitu besar kepadanya. Persembahan adalah respons karena dan bukan syarat supaya mendapatkan berkat Allah! Persembahan bukanlah situmulans untuk
merangsang kebajikan Allah namun reaksi atas kebajikan Allah. Persembahan bukanlah upeti yang dituntut Allah namun ucapan syukur manusia yang menerima berlimpah berkat. “Persembahkanlah syukur kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi” (Mazmur 50:14)


Ketiga: tanda kasih dan kemurahan hati.

Yesus Kristus sudah memberikan diriNya kepada kita, menderita dan berkorban bagi kita. Sebab itu kita juga mau memberi, berbagi dan berkorban bagi sesama kita. Sebagaimana Kristus rela memecah-mecah tubuh dan mencurahkan darahNya untuk umat yang dikasihiNya, kita juga mau memecah-mecah roti dan berkat kehidupan untuk sesama. Ketika memberi persembahan kita sekaligus mau mengingatkan diri kita dan membaharui komitmen/ janji kita untuk selalu memberi, berbagi dan berkorban sebagaimana telah diteladankan oleh Kristus. (I Yoh 3:16-18).


Keempat: tanda iman atau kepercayaan

Kita percaya bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan kita dan menjamin masa depan kita. Sebab itu kita tidak perlu kuatir atau kikir. Dengan memberi persembahan kita mau mengatakan kepada diri kita bahwa kita tidak takut kekurangan di masa depan sebab Allah menjamin masa depan. Persembahan adalah tanda iman kita kepada pemeliharaan Allah di masa depan. Sebab itu kita memberi persembahan tidak hanya di masa kelimpahan tetapi juga di masa kekurangan, tidak saja sewaktu kaya namun juga saat miskin. (Lih. Flp 4:17-19, II Kor 9:8).

Home: http://rumametmet.com

 

Share on Facebook

Tags: , , , ,

13 Responses to PERSEMBAHAN

  1. Dian Masniari on October 25, 2007 at 5:40 am

    Bagus banget buat ngerjain tugas Kuliah gw…

  2. Mey Hutagaol on November 27, 2007 at 2:35 pm

    Horas.. Amang Pandita.
    salam kenal….
    minta izin copy tulisan nya.
    mauliate godang.

  3. Mely on January 3, 2008 at 11:17 am

    sip! mantap. pertanyaanku kemarin berarti tidak substansial ya amang.
    terima kasih seribu..

    mely

  4. Bonagres on January 14, 2009 at 9:22 am

    Pada saat ini pembahasan terhadap Firman Tuhan khususnya perihal persembahan sangat penting sekali dikarenakan hal tersebut sangat berpengaruh dalam pembentukan jati diri seorang Kristiani dalam beribadah kepada Yesus Kristus. Adapun tulisan ataupun juga saya dapat katakan Khotbah yang bapak sampaikan adalah sangat tepat dan baik adanya. Dan secara pribadi saya mengucapkan terima kasih atas khotbah yang bapak sampaikan, dikarenakan pengetahuan saya terhadap “Persembahan” semakin bertambah.

    Apakah bentuk Persembahan (“Dalam Hal Ini Materi”) Hanya di kategorikan kedalam persembahan ke Gereja? Apakah pemberian materi kepada Orang Tua/ Saudara/ Orang di Panti Asuhan juga termasuk persembahan? Karena yang saya ketahui dan pahami, bahwa ada Firman ALLAH mengatakan “Bagaimana Mungkin Kita Mengasihi Yang Tidak Terlihat Bila Yang Terlihat Di Depan Mata Kita Saja Tidak Ketahui”?

    Bonagres Siallagan
    Konduktor Paduan Suara Kaum Bapak
    HKBP Bandar Setia
    Percut Sei Tuan

    http://wisata2day.blogspot.com
    http://bonagres.blogdetik.com

    Daniel Harahap:
    Menurut saya pemberian kepada orangtua atau saudara dekat bukan persembahan, tetapi kewajiban. :-)
    Pemberian kepada orang2 miskin yang tidak ada pertalian saudaranya dengan kita bolehlah dikategorikan persembahan.

  5. apri on May 5, 2010 at 3:31 pm

    makasih buat tulisannya ya Pak. Tuhan memberkati

  6. JAFRY KAMAGI on September 10, 2010 at 10:39 am

    Syaloom Pak Pendeta, mohon izin tulisan tentang persembahan saya jadikan bahan renungan pada ibadah Kaum Bapa. Tuhan Yesus Memberkati

  7. samuel siallagan on February 22, 2011 at 7:56 pm

    horas…! amang pandita, mau nanya ne,teringat konteks diatas,apakah persembahan itu hanya berbentuk uang(rupiah) pada zaman sekarang ini?dan kalau boleh berbentuk yg lain<berupa apa?'mohon petunjuk dan arahannya.tks

  8. Ivander Yeremia Simanungkalit on April 29, 2012 at 7:18 pm

    amang minta izin copas bahannya ya

  9. concon on May 15, 2012 at 12:58 pm

    Mohon ijin copas untuk bahan renungan pagi

  10. arina on June 1, 2012 at 11:04 am

    kalau boleh di HKBP janganlah sampai 4 kali mandurung,kan boleh 1 kali saja , diberikan sekaligus. kayaknya orang jadi repot tukar uang pada hari minggu pagi karena harus 4 kali.Kayaknya ruas pun masih banyak yang kurang kesadaran dalam memberikan durung-durung. Prihatin kali rasanya sampai 4 kali keranjang durung-durung lewat dari muka kita pada waktu acara minggu di Gereja… loja iba marpikiir holan alana i, maila muse iba tu diri niba sandiri ai sahali pe mandurung ba ni lehon manang na sadia Sintua ma mambagi i di bilut parhobasan..unang pola ruas gabe 4 hali mandurung….

  11. batak tulen on January 5, 2013 at 11:44 pm

    pendeta HKBP agak kurang menekankan pentingnya persembahan atau besarnya persembahan yang pantas dari pendapatan jemaat itu sendiri. sehingga terkesan asal dikasih saja semaunya bahkan jauh dari pantas.Apakah ada kekhawatiran uang itu akan diselewengkan parhalado jika dikasih besar atau memang kurang kesadaran arti persembahan itu sendiri. jemaat juga masih sangat kurang kesadarannya ketika memasukkan uang itu ke kantong persembahan sebab hampir semua uang itu dalam keadaan kusut bahkan parhalado kesulitan merapikannya sampai2 butuh waktu lama merapikannya. sangat tdk pantas jemaat itu memberikan persembahan dalam kondisi uang di kucak-kucak entah karena malu karena memberi sedikit atau sudah tradisi….( perlu ketegasan soal pemberian persembahan kepada Tuhan )

  12. Lucky on August 12, 2013 at 6:33 am

    Terima kasih…menambah pengetahuan tentang persembahan. Mohon ijin copy untuk penyusunan khotbah…JBU

  13. chandra on November 13, 2013 at 8:20 am

    Terimakasih amang atas ulasan mengenai persembahan, tapi saya berharap satu kali di gereja yang saya banggakan “HKBP” diulas mengenai isi kitab Maleaki khususnya Maleaki 3, juga kitab lainnya mengenai persembahan yang ada di Perjanjian Lama, karena itu mungkin akan membangkitkan kesadaran kita bahwa yang sudah kita kembalikan ke gereja belum ada apa-apanya dibandingkan yang sudah kita terima dari pada Nya. Walaupun perssembahan kita bukanlah semata-mata diukur dari jumlah materi yang kita kembalikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*