PEMBINAAN WARGA GEREJA
1. Mengapa memberi persembahan?
2. Tuhan pemilik kehidupan.
Aktivitas dan kehidupan TUHAN tidak tergantung pada belas kasihan kita. Mazmur 50:7-14 dan Yesaya 1:10-13 secara eksplisit mengatakan bahwa Tuhanlah Pencipta dan Pemilik seluruh kehidupan ini. Bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan (I Kor 10:26). Sebagaimana kata sang pemazmur: “PunyaMulah siang, punyaMulah malam, punyaMulah langit, punyaMulah bumi” (Mazmur 74:16, Maz 89:12)
Itu artinya Tuhan sama sekali tidak tergantung kepada sokongan, bantuan apalagi belas kasihan kita untuk melakukan aktivitasNya. Bahkan Tuhanlah yang sesungguhnya yang empunya diri kita dan segala apa yang ada pada kita. Tubuh, jiwa dan roh, serta harta milik kita pada hakikatnya adalah milik Tuhan. Sebagaimana dikatakan oleh Rasul Petrus “kita sudah ditebus oleh Allah dengan darah yang Kristus kudus dan mahal itu” (I Pet 1:18-19), sebab itu kita telah menjadi milik Kristus dan milik Allah (I Kor 3:23, I Kor 6:9. Ef 1:4, Mazmur 100:3) . Jika memang segala sesuatu yang ada dalam diri kita dan pada kita milik Allah: apakah lantas arti persembahan? Sebab itulah dalam doa persembahan kita seyogianya mengatakan: siapakah aku ini, ya Tuhan sehingga pantas memberi kepadaMu? Apakah yang ada padaku yang tidak berasal dari Engkau? Tubuh, jiwa dan rohku dan harta milikku sesungguhnya adalah pemberianMu. Aku adalah milikMu!
“Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah……Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (I Kor 3:23, 6:20)
3. Persembahan adalah penyerahan diri penuh
4. Persembahan bukan ganti hati dan sikap taat
Selanjutnya kita sadar bahwa hati dan dirilah yang seharusnya harus dipersembahkan kepada Tuhan. Uang tidaklah dapat menggantikan hati dan diri kita. Uang juga tidak dapat menggantikan sikap dan tingkah laku kita yang diminta Tuhan. Sebab itu persembahan juga bukanlah semacam uang “pelicin” untuk melunakkan hati Tuhan dan menutupi pelanggaran atau memaafkan kesalahan! Tuhan lebih menghendaki pengenalan akan Allah dan kesetiaan dibandingkan korban bakaran (Hosea 6:6).
5. Nilai persembahan ditentukan motivasi
6. Nilai persembahan tergantung prosentase berkat
Paramater menguji persembahan:
Ada pertanyaan yang harus diajukan oleh masing-masing orang untuk mengukur persembahannya pantas apakah tidak pantas. Jangan tanya berapa persembahan yang SUDAH Anda diberikan, tetapi berapakah berkat Tuhan yang BELUM atau TIDAK Anda dipersembahkan?
8. Makna persembahan
Pertama : Tanda Pengakuan
Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa tubuh, jiwa, dan roh serta segala yang ada pada kita adalah berasal dari Tuhan dan pada hakikatnya milik Tuhan. Sebab itu kita harus mempergunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebagian dari apa yang ada itu kita potong (dengan sadar dan sengaja) dan kita kembalikan kepada Tuhan sebagai tanda pengakuan bahwa pada hakikatnya diri dan harta yang ada pada kita adalah milik Tuhan. Jumlah yang kita potong dan beri itu bisa saja kurang atau bahkan lebih dari sepuluh persen (persepuluhan). Namun harus “terasa sakit” atau pengaruhnya bagi yang memberi tersebut. Memberi persembahan secara benar ibarat “memotong” dan “memberi” bagian tubuh atau hidup sendiri orang lain. (Mal 3:10)
Kedua: tanda syukur dan terima kasih.
Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa kita sudah menerima (banyak) dari Tuhan. Sebagian kita kembalikan kepada Tuhan sebagai tanda syukur atau ucapan terimakasih. Sebab itu kita memberikannya dengan penuh sukacita dan ikhlas! Persembahan sebab itu adalah respons atau jawaban orang beriman terhadap kasih dan berkat Allah yang begitu besar kepadanya. Persembahan adalah respons karena dan bukan syarat supaya mendapatkan berkat Allah! Persembahan bukanlah situmulans untuk
merangsang kebajikan Allah namun reaksi atas kebajikan Allah. Persembahan bukanlah upeti yang dituntut Allah namun ucapan syukur manusia yang menerima berlimpah berkat. “Persembahkanlah syukur kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi” (Mazmur 50:14)
Ketiga: tanda kasih dan kemurahan hati.
Yesus Kristus sudah memberikan diriNya kepada kita, menderita dan berkorban bagi kita. Sebab itu kita juga mau memberi, berbagi dan berkorban bagi sesama kita. Sebagaimana Kristus rela memecah-mecah tubuh dan mencurahkan darahNya untuk umat yang dikasihiNya, kita juga mau memecah-mecah roti dan berkat kehidupan untuk sesama. Ketika memberi persembahan kita sekaligus mau mengingatkan diri kita dan membaharui komitmen/ janji kita untuk selalu memberi, berbagi dan berkorban sebagaimana telah diteladankan oleh Kristus. (I Yoh 3:16-18).
Keempat: tanda iman atau kepercayaan
Kita percaya bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan kita dan menjamin masa depan kita. Sebab itu kita tidak perlu kuatir atau kikir. Dengan memberi persembahan kita mau mengatakan kepada diri kita bahwa kita tidak takut kekurangan di masa depan sebab Allah menjamin masa depan. Persembahan adalah tanda iman kita kepada pemeliharaan Allah di masa depan. Sebab itu kita memberi persembahan tidak hanya di masa kelimpahan tetapi juga di masa kekurangan, tidak saja sewaktu kaya namun juga saat miskin. (Lih. Flp 4:17-19, II Kor 9:8).
Home: http://rumametmet.com
Bagus banget buat ngerjain tugas Kuliah gw…
Horas.. Amang Pandita.
salam kenal….
minta izin copy tulisan nya.
mauliate godang.
sip! mantap. pertanyaanku kemarin berarti tidak substansial ya amang.
terima kasih seribu..
mely
Pada saat ini pembahasan terhadap Firman Tuhan khususnya perihal persembahan sangat penting sekali dikarenakan hal tersebut sangat berpengaruh dalam pembentukan jati diri seorang Kristiani dalam beribadah kepada Yesus Kristus. Adapun tulisan ataupun juga saya dapat katakan Khotbah yang bapak sampaikan adalah sangat tepat dan baik adanya. Dan secara pribadi saya mengucapkan terima kasih atas khotbah yang bapak sampaikan, dikarenakan pengetahuan saya terhadap “Persembahan” semakin bertambah.
Apakah bentuk Persembahan (“Dalam Hal Ini Materi”) Hanya di kategorikan kedalam persembahan ke Gereja? Apakah pemberian materi kepada Orang Tua/ Saudara/ Orang di Panti Asuhan juga termasuk persembahan? Karena yang saya ketahui dan pahami, bahwa ada Firman ALLAH mengatakan “Bagaimana Mungkin Kita Mengasihi Yang Tidak Terlihat Bila Yang Terlihat Di Depan Mata Kita Saja Tidak Ketahui”?
Bonagres Siallagan
Konduktor Paduan Suara Kaum Bapak
HKBP Bandar Setia
Percut Sei Tuan
http://wisata2day.blogspot.com
http://bonagres.blogdetik.com
Daniel Harahap:
Menurut saya pemberian kepada orangtua atau saudara dekat bukan persembahan, tetapi kewajiban.
Pemberian kepada orang2 miskin yang tidak ada pertalian saudaranya dengan kita bolehlah dikategorikan persembahan.
makasih buat tulisannya ya Pak. Tuhan memberkati
Syaloom Pak Pendeta, mohon izin tulisan tentang persembahan saya jadikan bahan renungan pada ibadah Kaum Bapa. Tuhan Yesus Memberkati
horas…! amang pandita, mau nanya ne,teringat konteks diatas,apakah persembahan itu hanya berbentuk uang(rupiah) pada zaman sekarang ini?dan kalau boleh berbentuk yg lain<berupa apa?'mohon petunjuk dan arahannya.tks