<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.3.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: HAMATEAN</title>
	<link>http://rumametmet.com/2007/04/14/hamatean/</link>
	<description>Pdt Daniel Taruli Asi Harahap</description>
	<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 09:44:25 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.1</generator>
		<item>
		<title>By: parombi</title>
		<link>http://rumametmet.com/2007/04/14/hamatean/#comment-23223</link>
		<dc:creator>parombi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 11:26:07 +0000</pubDate>
		<guid>http://rumametmet.com/2007/04/14/hamatean/#comment-23223</guid>
		<description>Sepanjang pengetahuan kami bahwa mangongkal holi itu bukanlah suatu paksaan (kecuali karena hal lain) dan dilaksanakan hanya dan hanya jika keluarga sudah mampu baik secara materil maupun spirituil, memang pada prosesinya adakalanya kita bertanya tanya apakah tdk bersinggungan dgn kekristenan maupun keislaman? namun jika kita melaksanakannya dgn berfikir positif dan berpegang penuh pada kekristenan maka akan dapat menjadi suatu sukacita bagi seluruh keluarga, demikian juga pada prosesi adat utk orang meninggal khususnya mengenai saput, tujung dan  sanggul marata dapat dimaknai secara positif ssi kekristenan tidak perlu melihat dari sisi haholomon sehingga semua dapat dimaknai sebagai wujud kerukunan, kesatuan dalam keluarga dan keharmonisan dgn masyarakat sekitar (maka jika mengikuti acara adat jangan asal hadir), jika diatas ada yg mempertanyakan kata kata saat memberi saput seolah ditujukan kepada orang meninggal  ini memang menjadi dilema (bukankah Jesus sendiri masih berada didunia ini selama 40 hari),

Ziarah: Ziarah saya kira tdk ada salahnya, yang salah adalah ketika kita memberikan dan atau memohon sesuatu dan atau mendoakan yg sudah meninggal (digereja lain; katolik? mendoakan orang yg sdh meninggal itu tdk salah), kami sering melakukan ziarah biasanya pada hari kematian (membersihkan makam) dan menjelang natal dan ditambah lagi jika kami merasa rindu (ada kalanya kami teringat segaa jerih payah mereka memperjuangkan kami sehingga kami ada sebagaimana kami ada hari ini) maka tdk jarang kami pergi ziarah,

Adat batak kelihatannya rumit (kami mengalami sendiri) karena dari kecil hingga umur 34 thn kami tinggal diluar sumatra dan kebetulan menikah dgn halak sileban, namun setelah kami mulai mempelajari dan mengikuti acara adat batak ternyata indah sekali, Luhur sekali dan luar biasa, asal dilakukan dengan penuh keihlasan, yang menjadi masalah adalah adanya rasa keterpaksaan, rasa penghamburan biaya (orang pelit) dan perlu dipahami bahwa seluruh acara interaksi sosial pasti memerlukan pengorbanan baik berupa waktu, uang dan pemikiran, GBU</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sepanjang pengetahuan kami bahwa mangongkal holi itu bukanlah suatu paksaan (kecuali karena hal lain) dan dilaksanakan hanya dan hanya jika keluarga sudah mampu baik secara materil maupun spirituil, memang pada prosesinya adakalanya kita bertanya tanya apakah tdk bersinggungan dgn kekristenan maupun keislaman? namun jika kita melaksanakannya dgn berfikir positif dan berpegang penuh pada kekristenan maka akan dapat menjadi suatu sukacita bagi seluruh keluarga, demikian juga pada prosesi adat utk orang meninggal khususnya mengenai saput, tujung dan  sanggul marata dapat dimaknai secara positif ssi kekristenan tidak perlu melihat dari sisi haholomon sehingga semua dapat dimaknai sebagai wujud kerukunan, kesatuan dalam keluarga dan keharmonisan dgn masyarakat sekitar (maka jika mengikuti acara adat jangan asal hadir), jika diatas ada yg mempertanyakan kata kata saat memberi saput seolah ditujukan kepada orang meninggal  ini memang menjadi dilema (bukankah Jesus sendiri masih berada didunia ini selama 40 hari),</p>
<p>Ziarah: Ziarah saya kira tdk ada salahnya, yang salah adalah ketika kita memberikan dan atau memohon sesuatu dan atau mendoakan yg sudah meninggal (digereja lain; katolik? mendoakan orang yg sdh meninggal itu tdk salah), kami sering melakukan ziarah biasanya pada hari kematian (membersihkan makam) dan menjelang natal dan ditambah lagi jika kami merasa rindu (ada kalanya kami teringat segaa jerih payah mereka memperjuangkan kami sehingga kami ada sebagaimana kami ada hari ini) maka tdk jarang kami pergi ziarah,</p>
<p>Adat batak kelihatannya rumit (kami mengalami sendiri) karena dari kecil hingga umur 34 thn kami tinggal diluar sumatra dan kebetulan menikah dgn halak sileban, namun setelah kami mulai mempelajari dan mengikuti acara adat batak ternyata indah sekali, Luhur sekali dan luar biasa, asal dilakukan dengan penuh keihlasan, yang menjadi masalah adalah adanya rasa keterpaksaan, rasa penghamburan biaya (orang pelit) dan perlu dipahami bahwa seluruh acara interaksi sosial pasti memerlukan pengorbanan baik berupa waktu, uang dan pemikiran, GBU</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rajaraggae</title>
		<link>http://rumametmet.com/2007/04/14/hamatean/#comment-16664</link>
		<dc:creator>rajaraggae</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 16:04:12 +0000</pubDate>
		<guid>http://rumametmet.com/2007/04/14/hamatean/#comment-16664</guid>
		<description>wadoh...terima kasih banyak atas artikel ini.jadi bergizi nech isi kepala...hehehe..mf amang,klo cara q agak slenk..btw,aku tertarik dgn komen mangokkal holi pada kalimat,kalau bisa,tulang belulang yg tlh diangkat jgn di bawa ke rumah,tp langsung ke gereja.nah..klo kt bicara geraja,maka kekristenan yg jadi acuan.pertanyaan aqiu,apakah memang ada ayat pada Injil untuk membenarkan ritual mangokkal holi?dan membenarkan,tulang belulang yg telah diangkat di bawa ke gereja?terima kasih,salam.GB'Us/rajaraggae/</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wadoh&#8230;terima kasih banyak atas artikel ini.jadi bergizi nech isi kepala&#8230;hehehe..mf amang,klo cara q agak slenk..btw,aku tertarik dgn komen mangokkal holi pada kalimat,kalau bisa,tulang belulang yg tlh diangkat jgn di bawa ke rumah,tp langsung ke gereja.nah..klo kt bicara geraja,maka kekristenan yg jadi acuan.pertanyaan aqiu,apakah memang ada ayat pada Injil untuk membenarkan ritual mangokkal holi?dan membenarkan,tulang belulang yg telah diangkat di bawa ke gereja?terima kasih,salam.GB&#8217;Us/rajaraggae/</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Harisan Parhusip</title>
		<link>http://rumametmet.com/2007/04/14/hamatean/#comment-10542</link>
		<dc:creator>Harisan Parhusip</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 04:15:56 +0000</pubDate>
		<guid>http://rumametmet.com/2007/04/14/hamatean/#comment-10542</guid>
		<description>memang pelaksanaan adat Batak sekilas nampak rumit dan berbelit-belit, tatapi bila dilihat secara mendalam adat batak yang dilakukan saat ini mengandung nilai-nilai sosial yang tinggi. banyakngkan saja apabila tidak ada adat tersebut bagaimana kita saling mengenal satu sama lain di tengah-tengah kesibukan di perkotaan. walupun tata cara adat kematian ini di pandang sebagaian orang menyalahi aturan agama, tetapi adat ini tetap masih dijalnkan oleh orang tersebut. hendaknya peran serta gereja lebih banyak dalam menerangkan masalah adat batak agar tidak terjadi kesalahan pemahaman antara kajian teologia dan sosiologisnya. perlu diadakan seminar tentang adat di setiap resort atau huri sabungan agat pemuda dan orang tua tidak mengalami kekaburan dalm hal adat dan agama.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>memang pelaksanaan adat Batak sekilas nampak rumit dan berbelit-belit, tatapi bila dilihat secara mendalam adat batak yang dilakukan saat ini mengandung nilai-nilai sosial yang tinggi. banyakngkan saja apabila tidak ada adat tersebut bagaimana kita saling mengenal satu sama lain di tengah-tengah kesibukan di perkotaan. walupun tata cara adat kematian ini di pandang sebagaian orang menyalahi aturan agama, tetapi adat ini tetap masih dijalnkan oleh orang tersebut. hendaknya peran serta gereja lebih banyak dalam menerangkan masalah adat batak agar tidak terjadi kesalahan pemahaman antara kajian teologia dan sosiologisnya. perlu diadakan seminar tentang adat di setiap resort atau huri sabungan agat pemuda dan orang tua tidak mengalami kekaburan dalm hal adat dan agama.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: t.m.sihombing</title>
		<link>http://rumametmet.com/2007/04/14/hamatean/#comment-8812</link>
		<dc:creator>t.m.sihombing</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 05:45:17 +0000</pubDate>
		<guid>http://rumametmet.com/2007/04/14/hamatean/#comment-8812</guid>
		<description>Bagus banget pemamparannya sehingga orang tua/muda yang membaca lebih berani lagi untuk menyerapkannya dalam lingkungan marga/keluarga dan sebaiknya dalam khotbah dapat disampaikan secara partial.

Menurut saya onda-onda/sijagaron boleh saja dan berputar mengelilingi yang almarhum dan satulagi yang tidak boleh adalah membawa sijagaron itu kedalam kamar karena  pengertiannya tuah jangan hilang, kalau hanya sekedar menyimpan sih tidak apa-apa.

Tentang ulos saput dari Tulang, sering kata-kata sbb : hami pihak tulang datang pada saat kau  lahir  dan saat kau mati dan kelihatan berbicara dengan orang mati, hal ini sering terjadi dan parhalado sangat sulit melarangnya, sebaiknya hata diberitahukan saja ke keluarga dan langsung meletakkan ulos saputnya secara sorpikah(dilipat) ?

Mangongkal holi  : Saya dari kecil sudah mendengar bahwa holi yang diangkat harus masuk ke Gereja dan tidak dibawa lagi ke rumah tetapi langsung ketempat barunya.   Kalau mangongkal holi dari kota ke kampung, sebaiknya holi yang dibawa sebaiknya langsung ke gereja jangan nginap di rumah karena dapat menimbulkan kegiatan animisme.

Tugu :
Pembuatan berupa monumen ataupun kuburan keluarga, keturunannya selalu berlomba-lomba membuat pesta besar dan kalau bisah di pnggir jalan (pernah lihat mulai lumban julu sampai ke Balige) supaya terlihat jelas, dan kadang rumah penduduk berada di belakangnya. Saya selalu bertanya apakah para keturunan sudah memberikan hal yang terbaik saat almarhum masih hidup ? apakah keluarga ini penuh dengan damai/rukun?   Sudah sebaiknya pola tersebut dirobah dan biaya monumen dan kuburan yang indah di sisihkan juga untuk keturunan yang ditinggal atau kesejahteraan orang banyak.

Ziarah:  Orang yang memberikan rokok atau makanan memang tidak diperbolehkan karena yang mati sudah berurusan dengan Tuhan, tetapi kalau berdoa di kuburan saat ziarah apakah tidak boleh ?  Karena doanya : Tuhan kami datang ditempat ini untuk memohon kiranya apa yang baik yang dilaksanakan oleh orang tua kami dalam masa hidupnya dapat kami laksanakan ,dsb ....., tanpa ada menyinggung yang sudah mati.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagus banget pemamparannya sehingga orang tua/muda yang membaca lebih berani lagi untuk menyerapkannya dalam lingkungan marga/keluarga dan sebaiknya dalam khotbah dapat disampaikan secara partial.</p>
<p>Menurut saya onda-onda/sijagaron boleh saja dan berputar mengelilingi yang almarhum dan satulagi yang tidak boleh adalah membawa sijagaron itu kedalam kamar karena  pengertiannya tuah jangan hilang, kalau hanya sekedar menyimpan sih tidak apa-apa.</p>
<p>Tentang ulos saput dari Tulang, sering kata-kata sbb : hami pihak tulang datang pada saat kau  lahir  dan saat kau mati dan kelihatan berbicara dengan orang mati, hal ini sering terjadi dan parhalado sangat sulit melarangnya, sebaiknya hata diberitahukan saja ke keluarga dan langsung meletakkan ulos saputnya secara sorpikah(dilipat) ?</p>
<p>Mangongkal holi  : Saya dari kecil sudah mendengar bahwa holi yang diangkat harus masuk ke Gereja dan tidak dibawa lagi ke rumah tetapi langsung ketempat barunya.   Kalau mangongkal holi dari kota ke kampung, sebaiknya holi yang dibawa sebaiknya langsung ke gereja jangan nginap di rumah karena dapat menimbulkan kegiatan animisme.</p>
<p>Tugu :<br />
Pembuatan berupa monumen ataupun kuburan keluarga, keturunannya selalu berlomba-lomba membuat pesta besar dan kalau bisah di pnggir jalan (pernah lihat mulai lumban julu sampai ke Balige) supaya terlihat jelas, dan kadang rumah penduduk berada di belakangnya. Saya selalu bertanya apakah para keturunan sudah memberikan hal yang terbaik saat almarhum masih hidup ? apakah keluarga ini penuh dengan damai/rukun?   Sudah sebaiknya pola tersebut dirobah dan biaya monumen dan kuburan yang indah di sisihkan juga untuk keturunan yang ditinggal atau kesejahteraan orang banyak.</p>
<p>Ziarah:  Orang yang memberikan rokok atau makanan memang tidak diperbolehkan karena yang mati sudah berurusan dengan Tuhan, tetapi kalau berdoa di kuburan saat ziarah apakah tidak boleh ?  Karena doanya : Tuhan kami datang ditempat ini untuk memohon kiranya apa yang baik yang dilaksanakan oleh orang tua kami dalam masa hidupnya dapat kami laksanakan ,dsb &#8230;.., tanpa ada menyinggung yang sudah mati.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: nova</title>
		<link>http://rumametmet.com/2007/04/14/hamatean/#comment-2250</link>
		<dc:creator>nova</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 14:31:26 +0000</pubDate>
		<guid>http://rumametmet.com/2007/04/14/hamatean/#comment-2250</guid>
		<description>hmmm aku msh bingung soal mangongkal holi,atau menggali tulang-belulang, aku sendiri blm pernah liat langsung, cuma denger cerita dari temen aja,waktu itu mau mindahin dari medan ke kampungnya (kurang tau dimana),,,

katanya waktu upacara berlangsung emang didahului kebaktian dipimpin pendeta grejanya, tapi ga sampe selesai seperti yang dipaparin di atas, kebaktian sudah selesai sebelum tulang2nya dimasukin ke tempat yang baru, entah gimana ditengah2nya, tiba2 cerita nyambung ketika di rumah keluarganya yang dikampung. disana katanya namboru2 kandungnya dikumpulin di satu ruangan di rumah itu buat siap2 "dirasuki" oleh yang dipercaya sebagai "roh ompungnya",harus namborunya, buat mengetahui petuah apa yang mau disampaikan "ompung" tersebut ke keluarga besarnya.
dan bener aja, sesaat kemudian salah satu namborunya seperti kerasukan, suaranya berubah jadi berat (suara cowo tua) berkata2 dalam bahsa batak, berupa nasehat2 buat keluarga besar tersebut. (mana bisa???bukannya itu kerjaan iblis)

trus acara pake gondang, tortor, dll, karena ompungnya ini udah sepuh bgt (lupa istilah bataknya,,,)
katanya ga boleh, tapi kenapa ga dilarang pihak gerejanya ya???

setelah prosesi itu, baru tulang2nya di tanam di tempat yang sudah disiapkan. semua benda2 ompungnya dibagikan ke seluruh anggota keluarga, baju, sarung, ulos, topi, bahkan temen saya dapet tongkat kayu (alat bantu jalannya) yang katanya "bertuah". padahal meninggalnya udah lamaaaa bgt, masih harus disimpen ya semua barang2nya?

yang mau aku tanyain,,,
-bukannya itu artinya ada hal tertentu dari adat atau tradisi ini  bertentangan sama ajaran Kristen?
-apa semua pendeta, terutama pendeta HKBP sudah punya pemahaman yang sama tentang tradisi mangongkal holi ini?
-udah pernah ada instrusi supaya 'disosialisasikan' ke jemaat2nya? (buat transfer pemahaman tsb)
-apa ada agenda khususnya yang ditetapin gereja? buat ngatur acaranya?
-masih perlu ga sih tradisi seperti ini dilakukan? (mindahin tulang2 dari pemakaman di Jakarta ke Pemakaman keluarga di huta sana) apa batasannya? 
-gimana caranya ngomong ke orang tua seandainya kita tahu kalau mereka melakukan tradisi yang bertentangan dengan iman Kristen? bukannya oran2 tua batak rata2 kepala batu, ga mau dikoreksi? (masih ga sih jaman sekarang? =p)

makasih amang,,, maaf ya kebanyakan nanya,,,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hmmm aku msh bingung soal mangongkal holi,atau menggali tulang-belulang, aku sendiri blm pernah liat langsung, cuma denger cerita dari temen aja,waktu itu mau mindahin dari medan ke kampungnya (kurang tau dimana),,,</p>
<p>katanya waktu upacara berlangsung emang didahului kebaktian dipimpin pendeta grejanya, tapi ga sampe selesai seperti yang dipaparin di atas, kebaktian sudah selesai sebelum tulang2nya dimasukin ke tempat yang baru, entah gimana ditengah2nya, tiba2 cerita nyambung ketika di rumah keluarganya yang dikampung. disana katanya namboru2 kandungnya dikumpulin di satu ruangan di rumah itu buat siap2 &#8220;dirasuki&#8221; oleh yang dipercaya sebagai &#8220;roh ompungnya&#8221;,harus namborunya, buat mengetahui petuah apa yang mau disampaikan &#8220;ompung&#8221; tersebut ke keluarga besarnya.<br />
dan bener aja, sesaat kemudian salah satu namborunya seperti kerasukan, suaranya berubah jadi berat (suara cowo tua) berkata2 dalam bahsa batak, berupa nasehat2 buat keluarga besar tersebut. (mana bisa???bukannya itu kerjaan iblis)</p>
<p>trus acara pake gondang, tortor, dll, karena ompungnya ini udah sepuh bgt (lupa istilah bataknya,,,)<br />
katanya ga boleh, tapi kenapa ga dilarang pihak gerejanya ya???</p>
<p>setelah prosesi itu, baru tulang2nya di tanam di tempat yang sudah disiapkan. semua benda2 ompungnya dibagikan ke seluruh anggota keluarga, baju, sarung, ulos, topi, bahkan temen saya dapet tongkat kayu (alat bantu jalannya) yang katanya &#8220;bertuah&#8221;. padahal meninggalnya udah lamaaaa bgt, masih harus disimpen ya semua barang2nya?</p>
<p>yang mau aku tanyain,,,<br />
-bukannya itu artinya ada hal tertentu dari adat atau tradisi ini  bertentangan sama ajaran Kristen?<br />
-apa semua pendeta, terutama pendeta HKBP sudah punya pemahaman yang sama tentang tradisi mangongkal holi ini?<br />
-udah pernah ada instrusi supaya &#8216;disosialisasikan&#8217; ke jemaat2nya? (buat transfer pemahaman tsb)<br />
-apa ada agenda khususnya yang ditetapin gereja? buat ngatur acaranya?<br />
-masih perlu ga sih tradisi seperti ini dilakukan? (mindahin tulang2 dari pemakaman di Jakarta ke Pemakaman keluarga di huta sana) apa batasannya?<br />
-gimana caranya ngomong ke orang tua seandainya kita tahu kalau mereka melakukan tradisi yang bertentangan dengan iman Kristen? bukannya oran2 tua batak rata2 kepala batu, ga mau dikoreksi? (masih ga sih jaman sekarang? =p)</p>
<p>makasih amang,,, maaf ya kebanyakan nanya,,,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
