Seri Diskusi Injil & Adat
Oleh: Daniel T.A. Harahap
ADA ANGGAPAN bahwa orang Batak cenderung materialistis atau menjadikan materi sebagai nilai tertinggi dalam kehidupan. Sebagaimana dikatakan dalam syair lagu ciptaan komponis Nahum Situmorang, selain hagabeon (memiliki banyak turunan) dan hasangapon (sangat dihormati), hamoraon (memiliki banyak harta) adalah cita-cita, falsafah atau orientasi hidup masyarakat Batak.
Mungkin kita dapat setuju bahwa pada dasarnya memang orang Batak sangat menjunjung tinggi kekayaan (hamoraon). Kekayaan dipandang sebagai kebajikan sementara kemiskinan dianggap sebagai nasib
Tangkas ma hita maduma tangkasan ma hita mamora. Tubu dingin-dingin di tonga-tonga ni huta. Saur ma hita madingin tumangkas hita mamora.
Banyak tindakan kebajikan dilakukan orang Batak bukan semata-mata demi kebajikan itu sendiri namun dengan tujuan agar memperoleh kekayaan. Misalnya penghormatan kepada hula-hula dilakukan juga dalam rangka mendapatkan berkat kekayaan. Demikian pula pengormatan kepada orangtua yang telah meninggal dunia.
Nidurung situma
Kultur Batak pra-Kristen memang tidak terlalu mempersolkan sumber atau asal-usul kekayaan. Kekayaan bisa diperoleh karena kerja keras, warisan, menang berjudi, jarahan perang, tebusan gadai, “tangko raja” (pencurian yang luhur?) dan lain-lain. Molo malo iba na tinangko gabe na jumpang, molo oto iba na jumpang gabe na tinangko!
Namun kultur Batak juga menuntut sikap khusus dari orang kaya, yaitu kemurahan hati (marasi roha) atau kedermawanan. Orang kaya sejati digambarkan sebagai orang yang tikarnya tidak pernah digulung (karena selalu menerima tamu), bakul nasinya besar, dan talenan-nya tipis atau ringan karena selalu dipergunakan. Paramak so balunon, parsangkalan na neang, parbahul-bahul na bolon.
Begitu pentingnya kekayaan (hamoraaon) ini, bahkan menjadi tujuan hidup sehingga demi memperoleh kekayaan, banyak orang Batak-Kristen mengabaikan prosedur atau cara memperolehnya, atau cenderung menghalalkan segala cara. Orang kaya mendapat tempat terhormat, juga di kampung milik hula-hulanya. Sebagaimana disiratkan dalam umpama berikut: Ai hotang rasras do hotang singgoran bahen pangarahut ni ruma. Dos do raja dohot na mora marorot di bagasan huta. Semangat merantau atau meninggalkan Tanah Batak ke ke daerah-daerah lain juga sebagian besar juga merupakan cita-cita untuk kaya. Kemajuan diidentikkan dengan kekayaan. Kekayaan merupakan satu-satunya tanda sukses di perantauan.
Dalam kultur Batak pra-Kristen hamoraon (kekayaan) bukan saja menentukan status sosial seseorang namun dianggap sebagai suatu salah satu tanda yang absolut bahwa seseorang mendapat berkat. Karena itu kemiskinan dianggap sebagai bencana atau kutuk. Itulah juga yang menyebabkan kultur Batak pra-Kristen menganggap kekayaan begitu penting dan mulia, sebab itu sering diupayakan dengan segala cara.
Nilai hamoraon ini mempengaruhi peran sosial dan perilaku orang Batak sehari-hari. Banyaknya pemuda Batak yang memilih jurusan studi yang “basah” (cepat menghasilkan uang berlimpah) dan sedikitnya yang memilih jurusan studi yang “kering” (sulit menghasilkan uang berlimpah) haruslah dilihat dalam kerangka filsafat hidup ini. Begitu pula jenis-jenis profesi yang sangat diminati orang Batak (hukum, ekonomi, teknik) sebagian harus dilihat dalam konteks “keinginan menjadi kaya” (mamora). Satu hal yang sangat memprihatinkan orang Batak, karena ingin cepat kaya dan dapat untung, juga sangat banyak yang berprofesi sebagai rentenir, pedagang VCD porno, penjual togel.
Komunitas Batak sekarang hidup dalam era moderen. Agar dapat survive di tengah masyarakat moderen maka komunitas Batak juga harus mengakomodir nilai-nilai modern termasuk tentang kekayaan. Bagaimana pandangan modernitas tentang nilai kekayaan?
Namun dalam masyarakat moderen kekayaan mesti diimbangi juga dengan ketaatan membayar pajak dan kedermawanan (semangat filantropi). Semain kaya seseorang ia harus makin jujur dan taat membayar pajak dan memberikan bantuan sosial. Itulah sebabnya di luar negeri orang-orang kaya menggunakan kekayaannya mendirikan yayasan sosial guna membagi-bagikan kekayaan itu kepada masyarakat (baca: sama sekali bukan untuk mendapatkan keuntungan!).
Selanjutnya bagi masyarakat moderen bentuk kekayaan bukan lagi hanya sawah, ternak atau emas, namun meluas. Pengetahuan, informasi, jaringan, bakat dan keahlian khusus, dan bahkan kesehatan juga dianggap sebagai asset atau kekayaan, bahkan yang terpenting.
3. HAMORAON DALAM PERSPEKTIF KRISTEN
(1) Asal-usul. Dari manakah kekayaan itu berasal atau bersumber? Kekristenan menolak kekayaan yang diperoleh dengan cara korupsi atau mencuri. Hukum ke-8 berbunyi “Jangan mencuri!”. (baca: Jangan korupsi!). Bagi kekristenan bukan hanya tujuan menjadi kaya yang penting, tetapi terutama bagaimana cara menjadi kaya. Cara yang benar menjadikan tujuan benar. Cara yang salah membuat tujuan jadi salah.
(2) Pengelolaan. Bagaimana kita mengelola kekayaan itu? Kekayaan di tangan orang jahat akan cenderung digunakan untuk melakukan kejahatan. Sebaliknya di tangan orang baik, kekayaan akan digunakan untuk melakukan kebaikan juga. Hanya orang yang menjadi hamba Tuhanlah yang dapat menjadikan kekayaan sebagai hamba atau alat kebenaran dan kasih. Sebaliknya: orang yang menjadi hamba dosa, akan tidak dapat merajai kekayaannya namun malah menjadikan kekayaan sebagai majikan atau tuannya. Karena itulah Alkitab mengatakan “cinta uang akar segala kejahatan” (I Tim 6:10)
(3) Dampak. Apakah dampak kekayaan itu kepada orang yang bersangkutan?
Adalah wajar dan sah jika kita ingin hidup sejahtera dan berkecukupan. Tuhan juga menjanjikan hidup berkelimpahan kepada orang percaya (Yoh 10:10, Maz 23:5-6, II Kor 9:8). Namun kita dipesan agar kita melakukan kebajikan dan kasih demi kebajikan dan kasih itu sendiri, bukan karena pamrih.
(4) Tujuan atau motivasi. Apakah tujuan seseorang meraih kekayaan? Alkitab menolak kekayaan sebagai tujuan akhir (ultimate goal) dalam hidup. Tujuan akhir dalam hidup adalah memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama. Kekayaan tidak abadi, sebab itu tidak dapat dijadikan tujuan pertama dan terakhir dalam hidup ini. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semua itu akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:34). Langit bumi akan berlalu namun Firman Allah tetap (I Pet 1:24-25). Namun uang itu dapat digunakan untuk berbuat kebajikan di dunia ini (Luk 16:1-9). Bahkan Alkitab menjadikan uang sebagai alat untuk menguji kesetiaan iman. Barangsiapa dapat dipercaya soal uang, dapat dipercaya juga soal iman. (Luk 16:10). Sebaliknya siapa korup soal uang akan korup juga soal iman!
Kekristenan memahami kekayaan (yang diperoleh secara benar) sebagai berkat Tuhan sekaligus sebagai godaan. Kekayaan tidak otomatis sebagai berkat. Sama seperti kemiskinan dibalik kekayaan juga ada godaan dan resiko. (Amsal 30:1-7)
Home: http://rumametmet.com
Teologi nampaknya berkembang seiring interaksi ilmu pengetahuan yang enggan terkotak-kotak dan enggan menjadi “angkuh”, dari perspektif “dogmatis”, “ritual”, “religi” ke arah/tema “kontekstual” (“korupsi”, “pembangunan”, “hak asasi manusia” “budaya”), kekinian, kemanusiaan, sosial, psikologi, dan/atau ekonomi, atau dalam bahasa simple-nya mencoba menjawab (mencari tahu dan menularkan) serta (bila memungkinkan) menemukenalkan “akar/sumber masalah” (yang ruwet, kompleks, kait mengkait, modern, semrawut) yang telah menjadi tradisi peneliti “barat” mulai dari pendekatan kualitatif (filsuf) sampai dengan pendekatan kuantitatif dan “software khusus” (model builders).
Hal-hal diatas merupakan fakta-fakta yang benar. Kekayaan di pandangan orang batak sudah sampai pada taraf kebutuhan bukan lagi suatu keinginan. Hal ini diperparah dengan pandangan umum masyarakat Batak yang lebih menghormati orang-orang kaya daripada orang-orang miskin, walaupun mereka belum mengetahui asal-usul kekayaan tersebut. Pandangan yang mengutamakan orang kaya terlihat juga dari perlakuan para pemimpin gereja, misalnya : bila ada pesta atau kegiatan gereja.. maka para orang kaya batak dipersilahkan langsung di tempat VIP walaupun datang belakangan. Hal-hal seperti ini membuat semakin kuatnya pemahaman pentingnya kekayaan pada orang batak. Untuk menghilangkan paradigma seperti ini, para pemimpin gereja batak, misaalnya : Pendeta, Sintua, Bibelvrou dan juga jemaat umum lainnya harus memberi contoh perilaku yang menyamakan semua manusia sesuai dengan harkat martabatnya yang sama dan setara. Tidak ada lagi perlakuan yang istimewa terhadap para orang kaya yang berlebihan sehingga akan berdampak pada rasa iri, cemburu dan prasangka sosial negatif lainnya dari orang-orang batak umumnya. Perlakukan manusia dengan cara yang sama, pelayanan yang sama, dan lain-lain, sehingga bila hal ini berlaku dan menjadi kebiasaan di kalangan pemimpin gereja, akan timbul rasa kekompakan, perasaan senasib sepenanggungan, esprit de corp, saling membantu, saling pengertian, komunikasi yang terbuka dan benar, keakraban dan hal-hal positif lainnya. Semoga dengan adanya tulisan diatas, dapat menjadi cermin bagi kita semua untuk tidak memandang harta kekayaan sebagai segala-galanya.
Terima kasih amang atas tulisannya, tugas kita berikutnya adalah bagaimana supaya pemahaman sebagian besar “halak hita” terhadap hamoraon itu, mengacu kepada Firman Tuhan; sebagaimana amang tulis di atas. Saya juga melihat, “bakat” untuk memberikan “privelege” berlebihan kepada orang-orang kaya di perkumpulan orang Batak makin terasa dan bahkan dalam kasus-kasus tertentu juga telah terjadi di gereja.
Tetapi saya yakin semakin banyak orang yang membaca essai amang ini, pasti ada perubahan pandangan terhadap “hamoraon”. Semoga.
Saya perhatikan khotbah2 di gereja HKBP tidak ‘berani’ menyampaikan ‘hamoraoan’ seperti disinggung di tulisan ini. Sepertinya gereja ‘enggan’ menyentuh aspek ini. Padahal banyak sekali korupsi di negri kita ini,..pelakunya ya termasuk sebagian dari kita2 ini…terutama pegawai negri.
Bayangkan, di negara maju pegawai negri tidak mungkin kaya, kecuali dapat harta warisan. Di sini, luar-biasa…banyak sekali dari mereka yang kaya raya..dan menjadi donatur di gereja. Dilema memang !
Tapi harusnya gereja tetap menyuarakan menjadilah kaya dengan cara dan jalan yang benar…jangan takut bila menyinggung perasaaa sebagian anggota jemaat..kebenaran harus tetap disuarakan.
Atau takutkah gereja kita ditinggalkan oleh jemaat2 kaya namun ‘tak halal’ ??? Wuaa…lahh !!
Hal diatas memang sudah lama menjadi budaya dan tradisi serta dapat dipahami namun suatu waktu lima atau enam tahun lalu saya sangat terkejut mendengar ada orang tua yang menyarankan anaknya untuk sekolah pendeta dengan mengatakan : ” Pandita pe mamora do nuaeng ” Haaah………????
KEKAYAAN MERUPAKAN BERKAT DARI TUHAN
YANG DIANUGRAHKAN MELAUI KERJA, KEMAMPUAN DAN KECERDASAN YANG DIMILIKI
BUKAN SUATU KEMUNAFIKAN BAHWA KEKAYAAN SALAH SATU TUJUAN DALAM HIDUP INI….
daniel harahap:
setuju, salah satu tujuan, bukan satu-satunya tujuan.
Berikut ini adalah ajaran Kristen mengenai Hamoraon :
1. Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya (Amsal 10:4).
2. Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya (Amsal 10:22)
3. Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya (Amsal 13:11)
4. Orang yang suka bersenang-senang akan berkekurangan, orang yang gemar kepada minyak dan anggur tidak akan menjadi kaya (Amsal 21:17)
5. Orang yang menindas orang lemah untuk menguntungkan diri atau memberi hadiah kepada orang kaya, hanya merugikan diri saja (Amsal 22:16).
6. Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini (Amsal 23:4)
7. Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman (Amsal 28:20).
8. Janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya (Yeremia 9:23)
9. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 19:23)
10. “Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Matius 19:24)
11. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu (Lukas 6:24)
Daniel Harahap:
Terimakasih telah mengutip Alkitab. Bisakah Anda merangkum kutipan ayat-ayat tersebut dengan bahasa atau kalimat Anda sendiri sehingga mudah dipahami dan dilaksanakan?
Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya sebab berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.
Jika anda ingin kaya, anda harus rajin bekerja keras. Jangan main curang (korup), sebab harta yang diperoleh dengan cepat akan cepatpula berkurang. Selain itu hukum di Indonesia mulai ditegakkan melalui KPK. Selain itu anda juga tidak boleh boros, main perempuan, mabok-mabokan, dll. Sebab kalau ketiga hal tsb anda lakukan maka mustahil akan bisa menjadi orang kaya.
Setelah anda berhasil menjadi orang kaya, jangan sombong (Yeremia 9:23). Sebab keangkuhan itu mendahului kehancuran, kesombongan itu mendahului kejatuhan, begitu kata raja Salomo.
Kalau saya tidak mau jadi orang kaya di dunia ini, sebab kekayaan duniawi itu semu/palsu dan banyak semutnya baik semut hitam (orang baik-baik) maupun semut merah (pencuri, perampok, penipu, dll). Harta kekayaan saya ada di sorga yang saat ini sedang dipersiapkan oleh Tuhan Yesus.
Awal tahun 80′an saya diberi kesempatan mendengar renungan Firman Tuhan perihal Harta.Secara umum pembahasan Harta dilihat dari tiga kebenaran,yaitu: 1. Sumber nya 2.Penyimpanan nya. dan 3. Pemakaian nya.Waktu itu saya menerimanya sbg kebenaran dan menjadi pedoman dalam hidup.sehingga di organisasi kemahasiswaan saya diangap “munafik” dan Bodoh krn tdk mau memanfaatkan dana atau peluang2 yg berbau KKN.Di lingkungan keluarga saya dibilang “Oto”,krn menolak diperkenalkan untuk dijodohkan dgn anak boru atau pariban yang kaya raya.Kalo boleh jujur,setelah itu saya benar2 hidup dalam nuansa kehidupan petani yang memiliki tahapan2 proses sebelum panen.Memang,tidak selalu seperti yang kita mau atau rencanakan.Namun untuk kita,apakah seorang Pekerja atau Pengusaha tetaplah setia dan bekerja karena Segala sesuatu Indah pada waktuNYA.
Sebenarnya orang Batak menjunjung tinggi hamoraan bukan berarti orang batak materialistis tapi oleh karena orang Batak pada umumnya rajin bekerja dan mau berusaha keras untuk mendapatkan segala apa yang diingini dengan hasil keringat sendiri.
Namun orang Batak perlu koreksi kalau terlalu membuat perbedaan antar orang miskin dengan yang kaya. Misalnya kita bisa lihat kalau orang Batak akan menikah kalau si pria orang kaya tamatan s1 dan wanita cuma tamat SMA pastilah orangtua tidak akan merestuinya. Padahal sebenarnya sebagai orang Kristen yang Tuhan berikan hamoraon justru jauh lebih diberkati kalau kita bisa saling menerima dengan segala kekurangan. Tidak ada Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon kalau kita tidak sehati, sepikir didalam menjalani bahtera Rumah Tangga.
Sampai di sini saya tertarik dengan tanggapan Pdt DTA kepada salah satu komentator yakni :
———–
daniel harahap:
setuju, salah satu tujuan, bukan satu-satunya tujuan.
————-
Pertanyaan saya adalah : bisakah manusia bergerak ke dua (atau lebih) tujuan sekaligus ? ke bandung sekaligus ke Yogyakarta ? Bisakah manusia mengabdi pada dua tuan sekaligus ?
Sekaligus mencari kekayaan (dengan cara jujur) dan mencari kerajaan Allah ?
Materi/dunia adalah tujuan yang berbeda dengan surga/rohani. Dunia “dibawah”, surga “di atas”. Bisakah manusia bergerak ke dua arah sekaligus ?
Lah kalau begitu, “mati” dong di dunia ? tak mengejar materi, hidup miskin gitu ?
Yang perlu dipahami adalah materi adalah konsekuensi keberadaan manusia di dunia. Konsekuensi tidak dikejar-kejar. Adam harus bersusah-susah hidup dari tanah adalah karena ulahnya sendiri.
Bersusah-susah hidup dari tanah adalah konsekuensi, artinya, selama manusia berada di dunia semaksimal mungkin dia mencukupkan kebutuhan materinya yakni makan, pakaian dan papan.
Kemudian godaan datang, dari kebutuhan jadi keinginan. Baju satu tak cukup, malu dong masak baju cuma satu ? makan pun kemudian “berkembang”, kalau bisa yang enak-enak terus dan kemudian berlebih. Papan ? semakin besar semakin terhormat, dan di tengah kota dong, plus kolam renang atau halaman yang luas biar ada tamannya.:-(
Konsekuensi berubah/dijadikan prestise/kebanggaan.
Apa yang dibutuhkan tubuh fisik ? makan, pakaian, papan. Tapi kemudian manusia itu “bablas” bukan ? pakaian mau yang bagus terus, makan mau yang enak2, papan yang real estate dan buessaarrr plus kolam renang…
Kemudian kita diberikan kesempatan bertanya, “mengapa ya murid2 awal
itu menjual harta mereka dan kemudian mendistribusikannya di antara orang-orang percaya ?” (Kisah Para Rasul). Mengapa ya Paulus kerjanya cuma jualan tenda aja ?
Dunia (materi) dan surga (rohani) tidak ada kompromi, tidak ada “jalan tengah”. Pilih salah satu, sama saja dengan pilihan mati atau terus bertahan di dalam tubuh fisik yang sudah rusak.
Jadi ? kalau menurut saya, tujuan sih mesti satu, tidak boleh ada tujuan2 lainnya di antara tujuan yang satu itu, karena ini akan bikin kita bingung sendiri.
Tujuan satu itu adalah pulang ke surga, ke rumah Bapa. Adapun pencukupan materi, itu adalah konsekuensi saja, lepaskan prestise-prestise, yang mengubah kebutuhan jadi keinginan. Aplikasinya : silahkan direnungkan sendiri-sendiri, karena ini sifatnya sangat personal..contoh : pakaian beli yang sederhana dan murah saja, tak perlu merek-merek-an.. (bisakah ? gengsi ?
). Jas versus batik ? jas satu, dua atau tujuh ? dstnya..dstnya…
, karenanya saya katakan personal, perlu diingat gengsi adalah temannya prestise…
Pro Lae Rio:
Tujuan satu itu adalah pulang ke surga, ke rumah Bapa. Adapun pencukupan materi, itu adalah konsekuensi saja, lepaskan prestise-prestise, yang mengubah kebutuhan jadi keinginan.
Pendapat saya:
Setuju dengan statement bahwa Hamoraon adalah salah satu tujuan hidup (atau aspek kehidupan yang kita cari) dan bukan satu2nya tujuan hidup.Tujuan paralel dgn itu adalah Hidup sehat, Berpengetahuan dan berketrampilan, mempunyai pasangan hidup yang wouke, mempunyai anak laki dan perempuan, juara tenis atau catur, Jadi Terang dan Garam, dlsbnya. Hamoraon sendiri mengandung unsur relatif, jadi jelas tidak selalu berkonotasi negatif,gengsi atau berbau KPK kan? Kalo hidup dan kehidupan ini hanya untuk sekedar memenuhi Kebutuhan hidup (Needs),apakah kita dimungkinkan bercengkerama melalui Rumah metmet ini? Awalnya dunia maya ini juga ada karena adanya ‘keinginan” bukan “kebutuhan”.Bgmn bisa kita mengatakan hal hal diluar kerinduan Kembali kerumah Bapa disorga,dikategorikan sbg konsekwensi/prestise ( “WAJIB DITANGGALKAN”)? Life is colourful not just Black and White.
Lae Rio bisa bayangkanlah datar dan dangkalnya,Jika kita2 semua hanya cerita dan membahas Bagaimana cara dan teknik untuk dapat kembali kerumah Bapa di Surga?Bisa-bisa seperti Arab dan Israel yg membahas Hidup Damai,tp nyatanya perangdan intrik mlulu.Disamping itu,bagaimana bisa kita begitu sangat menginginkan kehidupan di Surga (Notabene kita belum pernah mendapatkan laporan pandangan mata dari Sorga,apa mungkin?) sementara selama hidup didunia kita tidak pernah mau peduli dengan namanya sukses memperoleh keinginan/kemauan(Wants) dan kenyamanan (to be nice)? Life is a matter of choice and also Personal,ya Lae!
saya ingin bertanya..
mengapa hukum jangan mencuri berada di urutan ke 8? mengapa tidak urutan ke 1 atau 2? terima kasih sebelumnya…
Daniel Harahap:
Wah kurang tahu ya. Mungkin karena kalau kita sudah melaksanakan hukum 1 s/d 5 baik-baik maka kita tidak mau lagi mencuri.