DARAH BATAK JIWA PROTESTAN

April 13, 2007
By

kampung batak

Seri Diskusi Injil & Adat

Oleh: Daniel T.A. Harahap

1. INJIL DATANG KE TANAH (JIWA BATAK)

BERABAD-ABAD suku bangsa Batak hidup terisolasi di Tanah Batak daerah bergunung-gunung di pedalaman Sumatera Bagian Utara. Pada waktu yang ditentukanNya sendiri, Allah mengirim hamba-hambaNya yaitu para missionaries dari Eropah untuk memperkenalkan INJIL kepada kakek-nenek (ompung) dan ayah-ibu kita yang beragama dan berbudaya Batak itu. Mereka pun menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruslamat. Mereka tidak lagi bergantung kepada dewa-dewa dan roh-roh nenek moyang yang mati tetapi beriman kepada Allah Tritunggal (Bapa, Anak dan Roh Kudus) yang hidup. Mereka berpindah dari gelap kepada terang, dari keterbelakangan kepada kemajuan, dan terutama dari kematian kepada kehidupan yang kekal. Injil telah datang
dan merasuk ke Tanah (baca: jiwa) Batak!

2. MENERIMA INJIL DAN TETAP BATAK

Namun penerimaan kepada Kristus sebagai Tuhan, Raja dan Juruslamat tidaklah membuat warna kulit kakek-nenek kita berubah dari “sawo matang” menjadi “putih” (bule), atau mengubah rambut mereka yang hitam menjadi pirang. Mereka tetap petani padi dan bukan gandum, memakan nasi dan bukan roti, hidup di sekitar danau Toba dan bukan di tepi sungai Rhein. Penerimaan Kristus itu juga tidak mengubah status kebangsaan mereka dari “Batak” menjadi “Jerman”. Sewaktu menerima Injil dan dibabtis dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus kakek-nenek dan ayah-ibu kita tetaplah tinggal Batak dan hidup sebagai masyarakat agraris Sumatera dengan segala dinamika dan pergumulannya. Para missionaries itu juga tidak berusaha mencabut kakek-nenek dan ayah-ibu kita yang Kristen itu dari kebatakannya dan kehidupan sehari-harinya. Bahkan mereka bersusah-payah menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Batak agar kakek-nenek kita dapat mengerti dan menghayati Firman Tuhan itu dengan baik sekali. Selanjutnya melatih mereka memuji dan berdoa kepada Kristus yang baru mereka kenal itu juga dengan bahasa Batak (baca: bukan Inggris atau Yahudi).

3. INJIL DAN KOMUNITAS BATAK MODEREN

Injil itu kini juga sampai kepada kita sekarang. Sebagaimana kakek-nenek dan ayah-ibu kita dahulu kita sekarang pun menerima dan mengakui Kristus sebagai Tuhan, Raja dan Juruslamat, Anak Allah yang hidup. Melalui iman kepada Kristus itulah kita menerima hidup baru yang kekal, pengampunan, berkat, damai sejahtera Allah dan Roh Kudus. (Yoh 3:16). Sama seperti kakek-nenek dan ayah-ibu kita dahulu, kita yang sekarang pun mengalami bahwa babtisan dan kekristenan tidaklah mengubah warna kulit kita dari sawo matang menjadi putih. Juga tidak mengubah kita dari Batak-Indonesia menjadi Eropah-Amerika. Sebagai pengikut Kristus rupanya kita tidak harus menjadi orang yang berbahasa dan berbudaya lain. Tidak ada bahasa dan budaya atau status social tertentu yang mutlak menjamin kita lebih dekat kepada Kristus. (Gal 3:28) Tidak ada juga bahasa yang menghalangi kita datang kepadaNya.

4. FIRMAN MENJADI MANUSIA

Firman telah menjadi manusia sama dengan kita dan tinggal di antara kita (Yoh1:14). Itu artinya Itu dapat diartikan bahwa Firman itu juga telah menjadi manusia Batak dan hidup diantara kita orang yang berjiwa dan berkultur Batak juga. Sebab itu tidak ada keragu-raguan kita untuk menyapa, memuji dan berdoa kepada Allah dengan bahasa, idiom, terminologi, simbol, ritme, corak dan seluruh ekspressi kultur Batak (termasuk Indonesia dan modernitas) kita Mengapa? Sebab Tuhan Yesus Kristus lebih dulu datang menyapa kita dengan bahasa Batak yang sangat kita pahami dan hayati.

5. DAHULU DAN SEKARANG

Bagaimanakah kita menyikapi tortor, gondang dan ulos Batak sebagai orang Kristen? Memang harus diakui bahwa pada awalnya – jaman dahulu – tortor dan gondang adalah merupakan ritus atau upacara keagamaan tradisional Batak yang belum mengenal kekristenan. Harus kita akui dengan jujur bahwa leluhur kita yang belum Kristen menggunakan seni tari dan musik tortor dan gondang itu untuk menyembah dewa-dewanya dan roh-roh, selain membangun kebersamaan dan komunalitas mereka. Disinilah kita sebagai orang Kristen (sekaligus Batak-Indonesia) harus bersikap bijaksana, jujur, dan hati-hati serta kreatif. Kita komunitas Kristen Batak sekarang mau menerima seni tari dan musik Tortor dan Gondang Batak warisan leluhur pra kekristenan itu namun dengan memberinya makna atau arti yang baru. Tortor dan gondang tidak lagi sebagai sarana pemujaan dewa-dewa dan roh-roh nenek moyang tetapi sebagai sarana mengungkapkan syukur dan sukacita kepada Allah Bapa yang menciptakan langit dan bumi, Tuhan Yesus Kristus yang menyelamatkan kita dari dosa, dan Roh Kudus yang membaharui hidup dan mendirikan gereja. Bentuknya mungkin masih sama namun isinya baru. Ini mirip dengan apa yang dilakukan gereja purba dengan tradisi pohon natal. Pada awalnya pohon terang itu adalah tradisi bangsa-bangsa Eropah yang belum mengenal Kristus namun kemudian diberi isi yang baru, yaitu perayaan
kelahiran Kristus. Begitu juga dengan tradisi telur Paskah, Santa Claus dll.


6. MENGACU KEPADA ALKITAB

Dalam Alkitab kita juga pernah menemukan problematika yang sama. Di gereja Korintus pernah ada perdebatan yang sangat tajam apakah daging-daging sapi yang dijual di pasar (sebelumnya dipersembahkan di kuil-kuil) boleh dimakan oleh orang Kristen. Sebagian orang Kristen mengatakan “boleh” namun sebagian lagi mengatakan “tidak”. Rasul Paulus memberi nasihat yang sangat bijak. “Makanan tidak mendekatkan atau menjauhkan kita dari Tuhan. Makan atau tidak makan sama saja.” (I Kor 8:1-11). Keadaan yang mirip juga terjadi di gereja Roma: apakah orang Kristen boleh memakan segalanya. (I Kor 14-15). Rasul Paulus memberi nasihat “Kerajaan Allah bukan soal makanan atau minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (I Kor 14:17). Kita boleh menarik analogI dari ayat-ayat ini untuk persoalan tortor dan gondang dan juga ulos. Benar bahwa tortor dan gondang dahulu dipakai untuk penyembahan berhala, namun sekarang kita pakai untuk memuliakan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.. Selanjutnya: kita sadar bahwa kekristenan bukanlah soal makanan, minuman, jenis tekstil atau musik, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita Roh Kudus.

Nasi sangsang atau roti selai tidak ada bedanya di hadapan Tuhan. Tenunan ulos Batak dengan batik Jawa atau brokart Prancis sama saja nilainya di hadapan Kristus. Taganing atau orgel adalah sama-sama alat yang tidak bernyawa dan netral. keduanya dapat dipakai memuliakan Allah (atau sebaliknya bisa juga untuk menghinaNya).


7. MENGGARAMI DAN MENERANGI BUDAYA

Persoalan sesungguhnya adalah: bagaimana sesungguhnya hubungan antara iman Kristen dan budaya. Dalam Matius 5:13-16 Tuhan Yesus menyuruh orang Kristen untuk menggarami dan menerangi dunia. Itu artinya Tuhan Yesus menyuruh kita mempengaruhi, mewarnai, merasuki, memperbaiki realitas sosial, ekonomi, politik dan budaya yang ada.

Itu artinya sebagai orang Kristen kita dipanggil bukan untuk menjauhkan diri atau memusuhi budaya (tortor, gondang dan ulos) namun untuk menggarami dan meneranginya dengan firman Tuhan, kasih dan kebenaranNya. Bukan membakar ulos tetapi memberinya makna baru yang kristiani. Namun sebaliknya kita juga diingatkan agar tidak terhisab atau tunduk begitu saja kepada tuntutan budaya itu! Agar dapat menggarami dan menerangi budaya (tortor, gondang dan ulos dll) kita tidak dapat bersikap ekstrim: baik menolak atau menerima secara absolut dan total. Kita sadar sebagai orang Kristen bahwa kita hanya tunduk secara absolute kepada Kristus dan bukan kepada budaya Sebaliknya kita juga sadar bahwa sebagai orang Kristen (di dunia) kita tidak dapat mengasingkan diri dari budaya. Lantas bagaimana? Disinilah pentingnya membangun sikap kreatif dan kritis dalam menilai hubungan iman Kristen dan budaya Batak itu, termasuk tortor dan gondang serta ulos. Mana yang baik dan mana yang buruk? Mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus diubah? Mana yang relevan dengan kekristenan, Indonesia dan modernitas dan mana yang tidak lagi relevan?

8. TORTOR DAN GONDANG KRISTIANI

Kita akui jujur sebelum datangnya kekristenan tortor dan gondang adalah sarana untuk meminta kesuburan (sawah, ternak, dan manusia), menolak bala dan atau menghormati dewa-dewa dan roh nenek moyang. Bagi kita orang Kristen tortor dan gondang bukanlah sarana membujuk Tuhan Allah agar menurunkan berkatNya, namun salah satu cara kita mengekspressikan atau menyatakan syukur dan sukacita kita kepada Allah Bapa yang kita kenal dalam Yesus Kristus dan membangun persekutuan sesama kita. Selanjutnya sebelum datangnya kekristenan gondang dianggap sebagai reflektor atau yang memantulkan permintaan warga kepada dewa-dewa. Bagi kita yang beriman Kristen gondang itu hanyalah alat musik belaka dan para pemainnya hanyalah manusia fana ciptaan Allah. Kita dapat menyampaikan syukur dan atau permohonan kita kepada Allah Bapa tanpa perantara atau reflektor kecuali Tuhan Yesus Kristus. Dahulu bagi nenek moyang kita sebelum kekristenan, tortor dan gondang, sangat terikat kepada aturan-aturan pra-kristen yang membelenggu: misalnya wanita yang tidak dikaruniai anak tidak boleh manortor dengan membuka tangan. Bagi kita yang beriman Kristen sekarang, tentu saja semua orang boleh bersyukur dan bersukacita di hadapan Tuhannya termasuk orang yang belum atau tidak menikah, belum atau tidak memiliki anak, belum atau tidak memiliki anak laki-laki. Semua manusia berharga di mata Tuhan dan telah ditebusNya dengan darah Kristus yang suci dan tak bernoda (I Pet 1:19).

 

Home: http://rumametmet.com

 

Share on Facebook

Tags: , , , , , , ,

31 Responses to DARAH BATAK JIWA PROTESTAN

  1. Frederick on April 14, 2007 at 4:46 am

    Horas amang,

    Terima kasih telah mengangkat topik ini. Saya juga mengalami dilema yang sama dengan doktrin-doktrin dari gereja tertentu yang meminta untuk memilih antara “Tuhan” atau jadi orang “batak”. Seolah-olah saya tidak bisa menjadi Kristen dan menggunakan ke-batak-an saya untuk memuliakan Dia. Harus mbakar ulos lah, ndak boleh makan sangsang lah, dsb.

    once again thanks for bringing this topic up.

    horas,
    fred

  2. Roulina on April 17, 2007 at 4:45 am

    Amang…konfirmasi ttg sikap gereja yg ke-3 “sikap kritis dan dinamis. Pilihan ketiga bagi gereja adalah tidak larut namun tidak eksklusif, sebaliknya mengembangkan sikap kritis dan dinamis”. Amang menurutku yg benar gereja justru harus larut tapi tidak kehilangan jati dirinya. Yesus mengumpamakannya seperti garam. Kalo kita beri garam sewaktu memasak sayur kan gak mungkin garamnya tetep utuh. Justru garam itu harus berubah bentuk dan melarut bersama2 dgn air agar menghasilkan citarasa buat sayur itu. Tidak perlu banyak garam. Biar sedikit tapi sudah memeberikan perbedaan. Jati diri kan gak sama dengan peran diri.

    Buat topik adat Batak…makasih Amang sudah mau mengangkatnya ke permukaan. Bisa dimengerti buatku yg buta sama sekali ttg adat Batak. Mungkin aku lebih senang kalo Amang membahas topik blog ini dalam sebuah buku. Pasti kubeli :) )

  3. sabar tambunan on January 23, 2008 at 10:00 pm

    Syaloom,
    Di dunia Barat sekarang terjadi ‘booming’ produk-produk nyanyian dan tarian puji2-an (worship) yang sangat modern dan ‘gaul’. Unsur hiburan populernya sangat tinggi. Hal ini saya duga juga didorong kepentingan dunia industri musik….menjadi kebutuhan hiburan dan sangat komersial…serasa tak ada bedanya dengan industri musik populer. Namun sangat berhasil dari sisi penjualan (bisnis), terutama untuk konsumsi anak-remaja-pemuda/i disana!!

    Dunia barat memang akhir2 ini mengalami masalah dalam perkembangan kekristenan, ibadah minggu sangat sepi dari jemaat. Jangankan jemaat muda, yang tua-pun sudah bisa dihitung dengan jari. Bahkan di hari biasa banyak pintu2 gereja yang ditutup, takut kecurian, katanya.

    Disini, gereja Batak (HKBP, GKPS, GBKP,HKI, GKPI..) masih tetap semarak……anak balita sampai ompung2 yang jalannya ditatah-pun masih tetap bersemangat pergi ke gereja…..

    Cuma kondisi ini sampai kapan ????

    Setiap gereja sebagai layaknya sebuah organisasi harus diusahakan tetap punya daya tarik tertentu….. Saya memimpikan HKBP secara berkala ibadah minggunya di iringi musik gondang atau uning2-an.

    Ataupun dalam khotbah dan liturgi menyertakan dan memasukkan unsur peribahasa/pantun (umpamasa) batak yang telah diterangi oleh firman Tuhan. Intinya, HKBP harus punya ciri khas……untuk gereja HKBP yang bukan di bona pasogit, saya yakin warna budaya batak merupakan daya tarik luar biasa apabila kita bisa mengemasnya.

    Saya orang kristen yang jauh dari bonapasogit… tapi tetap ingin menjadi batak..maka saya dan istri serta anak-anak pergilah beribadah ke HKBP.. bukan lagi ke GKI.

    Tolonglah perdengarkan ke saya iringan musik gondang dan uning2an, kenalkan juga nilai2 umpamasa batak yang sesuai firman Tuhan, serta ajari menyanyi sambil manortor dalam ibadah minggu…. supaya kami tetap rindu ke HKBP

    Amang Pendeta dan para Sintua, mungkinkah itu ???

    Oh ya…jemaat kristen Indian saja sudah lama mengubah gambar wajah Tuhan Yesus yang berwajah Eropa menjadi wajah Indian…biar terasa tidak asing dan menjadi lebih dekat, katanya.. amin !

  4. JP Manalu on January 24, 2008 at 8:07 am

    Tu Amang Harahap, santabi jolo ate, forum ni amang on hupinjam lao mancoba mangalehon hatorangan tu lae S. Tambunan.
    Lae S Tambunan Yth,
    Saya mencoba sedikit penjelasan ya lae
    Mengenai iringan musik gondang di acara kebaktian menurut hemat saya sah-sah saja, dan kami di Solo di event-event tertentu misal pesta “parheheon”, pesta ulang tahun huria dlsb sudah kami lakukan beberapa kali, bukan hanya di acara hiburannya, tetapi juga untuk lagu-lagu ibadah yang bisa diiringi dengan gondang Batak. Sedangkan untuk marumpasa, latihan manortor, dll mengenai budaya Batak, hemat saya bisa lae usulkan sebagai bagian program dari dewan/seksi yang ada di huria. Bisa misalnya dititip ke seksi Bapak dan atau seksi hubungan masyarakat di Dewan Marturia dll. Khusus untuk latihan manortor, di gereja kami di Solo untuk saat ini belum menjadi program rutin, tetapi guna menghadapi event-event tertentu latihan manortor telah dilaksanakan, khususnya anak2 sekolah minggu dan NHKBP/Remaja.
    Demikian dulu lae penjelasan dari saya, semoga bermanfaat.
    Untuk amang Pdt DTA saya berterima kasih untuk “peluang” memberikan jawaban di situs amang…..
    Horas….

  5. Berlin Situmorang on March 12, 2008 at 4:21 pm

    begitu banyak tradisi dalam kehidupan orang batak dan saya pikir menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai orang batak. namun ketika kita ingin menjadi Kristen dan mau menyampaikan Injil dalam tradisi Batak, kira-kira tradisi apa yang bisa dipakai untuk penyebaran Injil tersebut? terimakasih

  6. lambas siregar on March 14, 2008 at 11:17 am

    Horas !! Menjadi Batak adalah anugrah, kita tidak pernah dan mungkin bisa memilih itulah kedaulatan Tuhan, ini sesuai/mirip konsep predestinasi. Sebagai orang Batak kita memiliki ciri berbudaya yang mengatur hidup kebatakan. Selain itu, kehidupan kita juga berubah karena dunia yang terus berubah akan berdampak mempengaruhi adat kita karena adat bukanlah hal mutlak untuk tidak diperbaharui. Adat akan menjadi penghambat kemajuan suatu etnis tertentu jika tidak direformasi maka lebih besyukurl lagi kita oleh anugrah yang lebih besar yaitu menjadi orang Kristen. Ini bukan gampang karena anugrah tanpa tanggung jawab menjadi pincang. pepatah mengatakan, small knowledge is great danger maka ketika kita kurang berakar dalam Firman maka kita susah memberi respons terbaik terhadap perilaku adat Batak kita yang bisa menjadi beban. Belakangan ini, saya belajar tentang pandangan Calvinis yang sangat terbukti mempengaruhi kemajuan banyak hal ; budaya,politik,seni pendidikan/ilmu pengetahuan dll. Kesimpulan saya singkat , Kekristenan dengan dasar Alkitab/Sola scriptura merubah kemajuan budaya kita ke arah yang jauh lebih baik. Sayangnya kita saja kurang serius secara total menyelidiki Alkitab/Bibel kita sehingga kita bingung membagun darah Batak yang unggul dan jiwa protestan yang menerangi dan memberkati. Konflik wawasan dunia akan terus berlangsung tetapi hanya Firman Tuhan yang mampu menjadi hakim perubahan. Totalitas kemerosotan kita adalah karena kemorosotan Kekrkristenan kita. GBU, Mauliate

  7. andre on April 4, 2008 at 12:55 pm

    Wah ini kebetulan sekali ketemu situs blog http://rumametmet.com dan tanpa sengaja browsing ehhh… tiba-tiba nemu deh disini…

    Salut banget buat seorang Pdt. Daniel Harahap yang sudah mengikuti perkembangan teknologi informasi dengan membuat sebuah situs blog…

    Jarang-jarang loh saya melihat seorang pendeta buat situs…
    Semangat dan terus membuat dan menulis artikelnya ya pak Pendeta…
    Sukses selalu menyertai bapak… Tuhan kita Yesus Kristus memberkati bapak selalu. Amin.

    Salam hangat saya,
    Andre
    Admin 1 Pemuda/I GKPI Mandala Medan
    http://ppgkpimandala.blogsome.com/

  8. Ando on June 16, 2008 at 2:41 pm

    Pertanyaan saya adalah: Apakah Amang menerapkan (baca: mewariskan) adat Batak itu kepada putra-putri Anda? Atau dgn istilah yg lebih sederhana, apakah Anda membiasakan berbahasa Batak di rumah jika berbicara dgn istri dan putra-putri Anda? Saya yakin seyakin2nya: Tidak! Inilah yg sangat menggelisahkan saya. Siapa lagi yg bisa menjadi teladan bagi generasi muda untuk bangga menjadi orang Batak, kalau bukan tokoh panutannya sendiri.

    Seorang praeses pernah berkata dlm khotbahnya, “Jika HKBP bubar, maka bubar pulalah budaya Batak, punahlah bahasa Batak, dan lenyap jugalah orang Batak dari muka bumi ini.” Artinya HKBP adalah “benteng terakhir” budaya &; bahasa Batak dlm menghadapi “serangan” arus zaman yg semakin kencang ini.

    Saya sering bertanya dlm hati, mana yg akan lebih dulu punah, bahasa Batak atau adat Batak. Bagi saya sama saja. Jika bahasa Batak punah, maka tdk bisa terbayangkan dlm benak saya puluhan tahun lagi orang mengadakan upacara adat Batak dg bahasa pengantar bahasa Indonesia. Sebaliknya jika adat Batak sudah hilang, maka utk apa lagi org berbahasa Batak? Toh dlm kehidupan sehari2 mrk sdh tdk mengenal lagi bahasa Batak.

    Di rumah, di sekolah, di kantor, dan di lingkungan pergaulan sehari-hari, kita semua berbahasa Indonesia. Kapan lagi kita berbahasa Batak kalau bukan di gereja dan di punguan marga. Sayangnya orang muda sekarang banyak yg tdk suka lagi ke acara2 adat dgn berbagai alasan. Yg lebih menyedihkan, Gereja (baca: HKBP) turut “mendukung & menyukseskan” ketidakmampuan generasi muda berbahasa Batak dgn menyediakan ibadah berbahasa Indonesia (bukannya mengajar mereka utk bisa berbahasa Batak).Seolah2 HKBP berprinsip, drpd repot2 mengajari mrk berbahasa Batak, lebih baik langsung melayani mrk dlm bahasa Indonesia yg sdh mrk mengerti (krn sdh dipelajari sejak di bangku Taman Kanak-kanak).

    Di beberapa gereja di Jakarta yg mengadakan kebaktian Minggu lebih dr satu kali, ibadah berbahasa Indonesia diadakan lebih banyak drpd ibadah berbahasa Batak. Belum lagi acara pemberkatan nikah yg lebih sering diadakan dlm bahasa Indonesia. Bahkan acara baptisan kudus dan peneguhan sidi yg notabene diadakan di tengah ibadah Minggu berbahasa Batak, justru dilayani dgn liturgi berbahasa Indonesia.

    Sebenarnya utk mengatasi hal ini bisa dimulai dg cara yg sangat mudah. Misalnya utk acara pemberkatan nikah, jika kedua pengantin dan kedua orang tua mereka semuanya Batak, maka pemberkatan nikah mutlak harus & wajib diadakan dlm bahasa Batak. Jika mrk tdk mengerti, sebelumnya dpt diberikan semacam pengarahan ttg arti liturgi pemberkatan dlm bahasa Batak itu.

    Utk “mengimbangi” sekolah2 TK dan SD yg mengajar para siswanya berbahasa Indonesia (bahkan bahasa asing), apakah salah jika di Sekolah Minggu HKBP (dan di kelas katekhisasi sidi) juga diajarkan bahasa Batak kepada murid-muridnya?

    Tapi sayangnya, blm ada pendeta yg mau melakukan hal ini. Apakah Anda bersedia?

    Daniel Harahap:
    Ando, HKBP adalah gereja dan bukan lembaga budaya. Tugas utama HKBP adalah menyampaikan Injil dalam bahasa yang sangat dimengerti dan dihayati oleh warganya. Jika bahasa yang sangat dimengerti dan dihayati warga HKBP sekarang adalah bahasa Inggris maka mau tak mau HKBP harus melayani mereka dalam bahasa Inggris. Berhubung saat ini lebih banyak warga Batak di perkotaan yang memahami bahasa Indonesia maka HKBP wajib melayani mereka dalam bahasa Indonesia. Urusan mengajar bahasa Batak bukan tugas HKBP sebagai gereja tetapi tugas masyarakat Batak. HKBP mengajarkan bahasa Batak dalam katekisasi sidi? Itu salah kaprah. Katekisasi sidi bukan untuk melestarikan budaya tetapi mengajak warga untuk mengenal Kritus dan mengakui imannya. Saya tidak mengatakan bahasa Batak tidak penting atau sebaiknya dilupakan saja, tapi menurut saya Ando mencampur adukkan tugas gereja dengan tugas keluarga/ masyarakat adat.

    Saya pribadi jujur belum mengajarkan bahasa Batak kepada putra-putri saya (bahasa asal leluluhur saya dari pihak Harahap bukan bahasa Batak Toba, tetapi bahasa Batak Angkola!). Analk-anak malah sekarang belajar bahasa Mandarin dan Inggris karena tuntutan kurikulum. Saya sendiri sejak kecil di Medan berbahasa Indonesia (saya besar di lingkungan perkebunan yang plural) dan baru belajar bahasa Batak Toba setelah saya merantau ke Pulo Mas.

    HKBP “benteng terakhir” budaya Batak? Menurut saya itulah kesalahan terbesar para tokoh Batak. Mereka (tidak semua) hanya bicara banyak dan mengkhayal serta sibuk dengan urusan seremoni artifisial. Seharusnya tugas tokoh Batak, termasuk Ando, adalah belajar membangun organisasi-organisasi masyarakat Batak yang benar-benar kuat, sehingga tidak menggantungkan “segalanya” kepada HKBP. Daripada mengeluhkan HKBP mending bikin organisasi masyarakat Batak yang benar-benar concern kepada pendidikan dan kebudayaan Batak dan bukan hanya untuk mencari kekuasaan atau popularitas. Tapi siapa mau? :-( :-)

    Ambal ni hata: boasa ndang marhata batak hamu pasahathon pandapotmuna di ginjang i? Ai dia do? :-)

  9. Janpieter SIAHAAN on June 25, 2008 at 5:08 pm

    Darah batak Jiwa Protestan.
    Suatu penelaahan topik yang sangat menarik.
    Orang batak dengan budaya batak yang melekat di kehidupan sehari-hari sangat beruntung dipilih Tuhan Yesus menjadi bangsa yang memiliki pengharapan hidup yang nyata bahwa Hidup orang batak yang Kristen benar-benar, dan melaksanakan perintah, hukum dan segala ajaran Tuhan Yesus yang ada dalam Alkitab pasti akan masuk ke kerajaaan Sorga yang telah disediakan oleh Tuhan Allah kepada Kita dan ini harus kita camkan menjadi suatu kesadaran yang melampaui akal pikiran kita sebagai manusia.

    Orang batak yang telah Kristen melompati sejarah dan mencapai kemajuan yang bisa disetarakan dengan suku-suku lain dalam jangka waktu yang relatif lebih singkat atau cepat. Ini adalah semata-mata oleh kasih karunia Tuhan Yesus yang telah memberkati kita orang batak melalui tangan kasih missionaris Jerman yaitu Nomensen. Melalui pendekatan kebuadayaan, Kristen diterima oleh orang batak dan menjadi suku bangsa yang diperhitungkan di Indonesia ini.

    Kita harus mewaspadai bahwasanya banyak kekuatan gelap yang memakai seseorang “(bisa jadi orang batak dan bermukim di tanah batak yang telah berganti imannya)” dengan memakai teknologi tinggi (mis. internet) untuk mempengaruhi keimanan orang batak Kristen. Hal ini perlu diwaspadai dan harus disikapi dengan memperkuat iman, pengharapan dan kasih dalam Tuhan Yesus.

    Ada beberapa cara kekuatan gelap yang telah memakai seseorang untuk mempengaruhi iman orang Kristen terutama Batak, antara lain :
    1. Membawa orang batak Kristen untuk berpikir sendiri (lets thinking)
    Mungkin dengan beberapa tulisan di buku-buku ataupun melalui media
    massa, mis. internet, membahas tentang kebenaran dan asal-usul
    Tuhan. Pembaca dibawa untuk mempertanyakan eksistensi Tuhan dan
    keberadaan Tuhan yang berhubungan dengan proses penciptaan
    dengan memakai logika yang seakan-akan nyata dan benar. Disini
    proses memecahkan kepercayaan iman orang batak yang Kristen
    dimulai. Tujuan utama membiarkan para pembaca untuk berpikir
    sendiri adalah menumbuhkan keraguan iman yang dikonfrontatifkan
    dengan logika manusia. berhati-hatilah dalam membaca.
    2. Membuat tulisan yang menyatakan bahwa agama itu di semua suku
    bangsa di dunia adalah benar namun dia sendiri tidak mengimani. Ini
    sudah masuk pada tahap pencucian otak lebih lanjut. Pembaca batak
    yang Kristen dibawa untuk lebih berpikir lagi bahwa Tuhan Yesus
    bukanlah juru selamat dunia satu-satunya (menurut iman Kristen dan
    kita tetap menghormati iman saudara kita yang lain yang berbeda).
    Disini penulis membawa pembaca batak yang Kristen masuk perangkap
    pengingkaran kepada imannya sendiri, ini adalah tahapan penggalangan
    selanjutnya.
    3. Setelah pembaca batak Kristen ragu-ragu atas imannya, maka penulis
    yang dipakai kekuatan gelap ini telah menang dalam tujuan jangka
    pendeknya.
    4. Setelah tercapai tujuan jangka pendek, maka penulis akan menulis
    selanjutnya tentang tidak perlu ke gereja, atau meninggalkan keimanan
    dan masuk/ mencari iman yang lain atau ideologi yang lain.
    5. Tujuan jangka panjang adalah memecah kekuatan batak kristen yang
    telah dipilih Tuhan Yesus dan akhirnya menjadi manusia kalah yang tak
    berguna di dunia terlebih di hadapan Allah.

    Cara menghadapi orang seperti ini:
    1. Bacalah sesuatu tulisan apapun dengan berdoa kepada Tuhan Yesus
    dan meminta hikmad suci dari Tuhan Yesus untuk mengerti makna dan
    tujuan dari suatu tulisan.
    2. Tetaplah fokus pada iman Kritiani dengan setiap hari membaca firman
    Tuhan dan merenungkannya setiap waktu dan melaksanakannya dalam
    kehidupan sehari-hari.
    3. Perbanyak kumpulan dan iku aktif membangun jemaat Kristus di lingku
    ngan masing-masing.
    4. Menyadari iman Kristen dengan Tri Tunggalnya merupakan iman yang
    melampaui akal budi, rasio atau pikiran manusia. Kita diberi pikiran
    yang cerdas yang mampu mengkritisi semua yang bersangkut paut
    dengan alam semesta, tetapi kita juga harus lebih cerdas untuk
    menyimpulkan bahwa kita manusia adalah bagian kecil dari suatu
    cipataan atau kreasi Tuhan Yesus yang maha besar dan kita tidak ada
    apa-apanya jika menganalisis tentang jalan pikiran Tuhan Yesus.

  10. Hendrawan on August 1, 2008 at 12:58 am

    Terimakasih, saya bukan orang batak juga tidak ada keluarga yang bata ; saya sangat kagum dan sangat menjunjung luhur budaya. Saya selalu berkata kepada teman-teman seiman “JADI KRISTEN SEKALIGUS JADI ORANG BATAK” Kalau ada sekte kristen yang “menentang adat-nya batak” tanyakan saja ADAT MANA YANG MAU KITA PAKAI ? tidak ada yang salah dengan adat BATAK hanya “pemahaman animisme / dinamisme” masa lalu ITU YANG HARUS DITINGGALKAN ; tetapi semua bagian ADAT bisa DI-KONTEKTUALISASI-KAN mengapa tidak ? HARUS…. supaya budaya BATAK (indonesia lainnya juga) tetap mernjadi kekayaan dan identitas BANGSA.

    JADILAH ORANG BATAK YANG KRISTEN & ORANG KRISTEN YANG TETAP SETIA DENGAN KEBATAKANNYA.

    Daniel Harahap:
    Berhubung tidak semua Batak itu beragama Kristen, maka harus ditambah juga:
    jadilah Batak yang Islami & Muslim yang tetap setia kebatakannya.

    Sekaligus menjadi orang Indonesia dan moderen. :-)

  11. Ita on September 24, 2008 at 12:47 pm

    Saya setuju dengan amang. HKBP adalah Gereja bukan Lembaga Budaya . Bagaimana mungkin suatu Gereja memaksakan Jemaatnya ” harus ” mengerti Budaya sendiri.
    Budaya Batak hanya bisa diselamatkan oleh orang Bataknya sendiri , dan Bahasa Batak bukan hanya dapat digunakan di kumpulan Marga atau di Gereja. Saya bekerja di Perusahaan Swasta yang hanya sedikit karyawan Bataknya. Tapi kami selalu menggunakan Bahasa Batak ketika kami bertemu walau hanya 5 menit. Kami juga memperkenalkan Tortor Batak pada saat Anniversary Perusahaan dan Natal gabungan di tempat kami bekerja .Tanggapan rekan – rekan yang non Batak sangat bagus . Jadi jika ingin memelihara budaya Batak , mulailah dari diri sendiri dan lingkungan anda sendiri .
    Menjadi Orang Batak bukan pilihan karena kita dilahirkan dari orangtua yang berdarah Batak dan kita tak dapat memilih dari orang tua mana kita dilahirkan . Kita tidak bertanggung jawab secara langsung atas apa yang terjadi pada Budaya Batak , walaupun beban moral bagi yang menyadarinya pasti ada.
    Sebaliknya menjadi Kristen adalah Pilihan karena kita a kan bertanggung jawab atas hidup kita secara langsung kepada Sang Pencipta.
    Tapi menjadi Kristen sekaligus Orang Batak (atau Jawa , atau Timor, atau India ) jauh lebing menyenangkan , karena kita punya “Identitas” yang spesifik di mata Sang Pencipta.
    Mau punya ” Identitas ” yang spesifik di Mata Tuhan ?
    GBU

  12. Rafles Agus Tarihoran on December 11, 2008 at 3:27 pm

    Horas3x…..Saya sangat senang sekaligus bangga dengan apa yang di tuliskan oleh Bpk Daniel. Kita tidak dapat pungkiri bahwa budaya dan adat itu sangat penting sekali khususnya untuk menjaga persaudaraan diantara kita semua. Selama budaya dan adat itu relevan dengan zaman sekarang ini, kenapa tidak.. Dan yang paling penting tidak bertentangan dengan Kebenaran Firman Tuhan. Janganlah kita memperdebatkan hal-hal yang tidak membawa keuntungan bagi iman. Jadilah Terang dan Garam bagi semua orang.

  13. Erpesim on January 7, 2009 at 4:16 pm

    Terimakasih untuk artikel yang baik ini dan mudah-mudahan bisa dijadikan Referensi umum di kaum muda Orang Batak.
    Pemahaman saya adalah:
    Jadi Orang Batak atau Darah Batak adalah Takdir dan Anugerah Tuhan. Menjadi Kristen atau berJiwa Protestan adalah Pilihan personal kita masing2.Sedangkan Budaya adalah warisan dari lingkungan atau titipan para leluhur dan sifatnya dinamis atau berkembang.Orang Batak yang sudah menjadi Kristen (DBJP), beranakpinak dan memelihara kehidupan jasmani dan rohaninya. Diawal generasi mereka (Tahun 1900 an),DBJP yang telah memiliki nilai2 Kristiani (a.l: Punya Allah yg Maha Kuasa /Maha Pengasih dan Penyayang, meyakini punya tugas sebagai Terang dan Garam dunia ) keluar dari ritual animisme dan brutalisme yang diyakini bukanlah tujuan hidup yg betul.Mereka dalam jumlah yg masih kecil, terobsesi menapaki kehidupan dunia luarnya dengan sangat-sangat bergairah.Akhirnya,sejarah mencatat dan menunjukan bahwa mereka adalah Pelopor Orang Batak Sukses dan juga berhasil meraih status sosial yang baik dan tinggi.Mayoritas mereka-mereka yang sukses tsb adalah warga atau anak-keturunan jemaat HKBP. Budaya tanpa Harta bisa kering dan punah.Dengan harta dan status sosialnya para DBJP memberi perhatian dan waktunya merambah dan mencoba memodernisasi Budaya Batak.Instrumen yang digunakan adalah prosesi dan seremoni versi Gereja/HKBP.Setiap proses pembangunan Gereja HKBP pasti ada unsur Budaya Bataknya. Jadi menurut saya tidak keliru juga mengatakan bahwa HKBP identik dengan Batak. Namun Budaya Batak milik semua Orang Batak (bukan hanya DBJP) dan sekarang ini yang punya akses modal Harta juga ada yg lain spt DBJB (Darah Batak Jiwa Batak),Parmalim dll.Sehinga dinamika tumbuh kembang Budaya Batak (adat istiadat,Bahasa,rumah,ulos dlsbnya) jadi tidak bisa dilihat dan dibebankan sepenuhnya ke HKBP.Lembaga/ Organisasi / Punguan Budaya Batak sdh ada,marilah kita apresisasi spy bisa berperan maksimal.Di sisi lain,HKBP tetap melayani diladangNYA dgn tidak terlepas dari unsur budaya Batak nya.Menjadi Terang dan Garam tidak merubah bentuk tetapi Meneranginya dan Memaknainya.

  14. Robert Sibarani on January 7, 2009 at 6:03 pm

    Sedikit kalo bisa saya luruskan ya Lae Ando : Bahwa kita Orang batak ini adalah bagian dari bangsa/Negara Indonesia, jadi sudah wajar kalo kita HKBP juga menggunakan bahasa Indonesia pada sebagian Ibadah kita. Karena Ibadah yang kita lakuka ini adalah pemujian bagi Tuhan kita, Kalo kita paksakan bahwa kita beribadah harus pake bahasa batak TOK, tentu itu kurang tepat, Sebab Tuhan maha tau kok semua bahasa bahasa yang ada di Dunia ini,
    Tapi… kalo konteksnya mengenai pelestarian budaya kita (Bahasa Batak saya pikir bukan hanya di Gereja tempatnya lae dan sedikit kalo bisa juga koreksi statement Praeses yang Lae Kutip yang mengatakan : Kalo HKBP
    Bubar maka punahlah Orang Batak dari muka Bumi ini. Saya pikir ini keliru Lae. Tuhan sudah menciptakan manusia di bumi ini dan manusia itu diperintahkan supaya berketurunan dan terdiri dari latar belakang yang bermacam – macam, masa hanya karena adat dan bahasa lantas Orang Batak akan lenyap dari Bumi ini. ini terlalu Hyperbol lae.
    Dihadapan Tuhan manusia itu adalah sama , mau dari suku manapun Dia, Nah sekarang kembali ke diri kita masing masing kita mau seperti siapa di hadapan Tuhan, itu dulu lae tanggapan saya , jadi jangan terlau pesimislah dengan keberadaan Komunitas Batak dan budaya kita. Bahkan sekarang banyak koq gereja HKBP yang mengahdirkan Uning – uningan dalam kebaktian minggu di gerja sekalipun periodenya masih minim.Ada juga yang mengiringi Koor, Nah marilah kita sikapi kemauan ini dengan positif dan doakan supaya uninguningan itu semakin sering digunakan. Horasss Lae, Bravo Budaya Batak & Bravo HKBP.

    Sayangnya orang muda sekarang banyak yg tdk suka lagi ke acara2 adat dgn berbagai alasan. Yg lebih menyedihkan, Gereja (baca: HKBP) turut “mendukung & menyukseskan” ketidakmampuan generasi muda berbahasa Batak dgn menyediakan ibadah berbahasa Indonesia (bukannya mengajar mereka utk bisa berbahasa Batak).Seolah2 HKBP berprinsip, drpd repot2 mengajari mrk berbahasa Batak, lebih baik langsung melayani mrk dlm bahasa Indonesia yg sdh mrk mengerti (krn sdh dipelajari sejak di bangku Taman Kanak-kanak

    Statement ini juga sya kurang sependapat: masa HKBP turut mendukung & menyukseskan ketidakmampuan para generasi muda Berbahasa Batak, hanya karena HKBP menyedikan waktu ibadah khusus Bahasa Indonesia, emangnya Gereja fungsi utamanya belajar Bahasa Batak? Tapi ini justru karena HKBP itu adalah milik bangsa Indonesia juga. Jadi tidak benar bahwa HKBP tidak mau Report mengajari mrk berbahasa Batak seperti yang lae Bilang, buktinya : banyak para Naposo bisa nyanyi dengan Buku Ende, banyak juga Naposo Markoor (lagu Batak) bahkan Festifal Koor (Bah. Batak) se HKBP sering dilakukan yang diikuti oleh naposo juga

    Jadi lae kalo bisa saya sumbang saran, aklo misalnya Lae mau anaknya yang dirumah sering sering aja dengarin CD/Kaset lagu lagu Batak itu sangat membantu sekali. Dari pada lae sering bertanya tanya dalam hati mana yang yang lebih punah Bahas Batak atau Budaya Batak mendingan tamulai ma parjolo sian diri ta , asa unang adong be hata namandok seolah olah HKBP tidak mau Report mengajari mrk berbahasa Batak seperti yang lae Bilang.

    Ok songoni majolo naboi huapsahat saoti koreksi ate lae,

    Tu Amang Pandita DTA , mauliate ma di topik na diangkat saonarion.
    Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.

  15. Daniel on January 7, 2009 at 9:57 pm

    Menanggapi sdr. Ando saya justru jadi penasaran apakah HKBP memang pernah secara resmi dalam Konstitusi atau dokumen lainnya menjadikan bahasa batak sebagai bahasa liturgis untuk ibadah di HKBP? Atau ini hanya alami saja karena dulu (dan di banyak tempat masih) memang bahasa batak itulah bahasa jemaat di HKBP?

    Menurut saya dari sudut pandang Protestan tampaknya mutlak bahwa bahasa liturgi adalah bahasa yang dimengerti oleh Jemaat. Bahasa batak adalah pilihan pertama jika memang itulah bahasa yang digunakan dan dimengerti oleh jemaat.

    Contoh yang dikemukakan sdr. Ando dimana Pendeta menggunakan bahasa indonesia untuk Baptisan Kudus dan Peneguhan Sidi adalah tindakan pastoral yang amat tepat jika yang mau di-Baptis dan diteguhkan Sidinya itu tidak menguasai bahasa batak dengan baik. Bahkan menggunakan bahasa indonesia secara lebih luas lagi dalam kebaktian bahasa batak juga menurut saya sah-sah saja terutama pada bagian khotbah dan pembacaan Alkitab (epistel dan evangelium), dua bagian yang unsur didaktiknya sangat kuat.

  16. Salngam on January 8, 2009 at 8:08 pm

    Buat Bapak Robert Sibarani,

    Menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris atau Bahasa lainnya kenapa Tidak???. Problemnya adalah core business HKBP itu dimana?, kan komunitasnya Batak. Tapi anehnya kadang kala sebuah Gereja HKBP lupa akan core-nya. Keunikan Batak adalah di Bahasanya. Bahasa menunjukkan Bangsa, itu salah satu ciri utama. Masihkah Batak Exist kalau bahasanya tidak exist, dengan kata lain HKBP dengan sendirinya akan bubar kalau B-nya sudah tidak exist.

    Buat Bapak Ando
    Saya pernah mengajukan protes ketika acara terdidi anak saya harus dengan tatacara berbahasa Indonesia sementara liturgi ibadah Bahasa Batak. Lalu pak Pendeta menjawab, untuk mengakomodasi keluarga baru yang tidak memahami lagi Bahasa Batak.Lalu saya menjawab, bagaimana dengan kami yang lebih memahami Bahasa Batak tidakkah lagi diakomodasi???. Sang Pendeta menjadi bingung. Kebetulan disebelah saya ada anggota DPR yang Bataknya juga fanatik dan anaknya ikut tardidi. Teman saya itu mengajukan Voting. Memang ternyata dari 7 KK, 4 KK lebih suka Bahasa Indonesia. Sang Pendeta Handsup. Namun kami yang kalah tidak mau terima begitu saja, kami memohon : Khusus kata-kata…”Ale…..Hu didi ma ho dibagasan goar ni Debata Ama, Anak dohot Tondi Probadia, Amen” harus dilakukan kepada kami bertiga yang kalah. Sang Pendeta geleng-geleng kepala, dia bilang hal tersebut merupakan hal tersulit yang akan pernah dia lakukan dengan segala resikonya, dan kami pun sedikit puas karena anak kami di Didi dalam Bahasa Batak (Sejarah Hidup anak kami demikian) walaupun hanya dalam samponggol Bahasa Batak.

    Saya menyarankan kepada pengelola HKBP, tolong ciri utama HKBP jangan sampai hilang, karena apalagi bedanya ia dengan GPIB. GKI, dan GKPI. kalau itu sudah hilang yakinlah HKBP secara isntitusional akan bangkrut.

    Daniel Harahap:
    Saran yang terakhir terutama ditujukan kepada orang Batak: guruhon ma muse hata batak jala ajarhon ma anakhonmu marhata batak!

  17. Robert Sibarani on January 9, 2009 at 1:23 pm

    Saya setuju dengan pernyataan Amang Salngam yang mengatakan” Bahasa menunjukkan Bangsa, saya setuju itu , justru itulah tidak ada salahnya kalo HKBP memakai bahasa indonesaia karena Orang Batak juga adalah bagian bangsa Indonesia maka secara otomatis HKBP juga adalah milik Bangsa Indonesia. Pada sebagian waktu acara ibadahnya seperti misalanya di Gereja HKBP Kiwi Pasar Rebo kebetulan saya Ruas di sana dimana kalo kebaktian Pagi Hari jam 07 & 10 WIB Pagi pada minggu terakhir dalam satu bulan itu selalu Pakai Bahasa Indonesa Minggu 1, 2, 3 selalu pake bahasa Batak. dan untuk kebaktian Sore hari selalu menggunakan Bahasa indonesia.

    Kalo masalah keunikan Bangso Batak bukan hanya dari segi bahasanya, masih banyak keunikan keunikan Batak lainnya, tapi apakah lantas kita hanya sampai di keunikannya saja? Tidak kan?, Menurut saya apapun Bahasanya selama kita mengerti apa yang disampaiklan dengan Bahasa itu sendiri gak ada masalah, itu pun kalo kita mau belajar pasti bisa. Nah sekarang sudah sejauh mana kita mengajarkan bahasa Batak tersebut kepada anak – anak kita, yang barang tentu bukan hanya di Gereja, bahkan sebenarnya tempat yg paling strategis itu ya di Bagasta masing masing. Ajarkan lah keunikan Bangsa Batak itu lebih banyak di rumah kita.

    Nah berarti disini ada pembagian bahasa yang digunakan, Dan saya pikir kalopun kita pake bahasa Indonesia pada waktu 2x tertentu gak ada masalah bahkan Bahas Inggris sekalipun.

    Masihkah Batak Exist kalau bahasanya tidak exist, dengan kata lain HKBP dengan sendirinya akan bubar kalau B-nya sudah tidak exist.

    Sepertinya Pertanyaan ini agak kurang tepat ya,
    Sebab banyak orang Batak yang exis dimana mana tanpa harus mutlak memakai bahasa batak tersebut sebab Bahasa Batak itu hanyalah Bahasa yang berlaku untuk komunikasi orang Batak saja.

    Kalo Masalah Exis dan tidaknya Batak itu bukan hanya di gereja saja , masih banyak tempat tempat lain bahkan di dunia International, apakah bahasa Batak bisa kita pakai di forum nasional atau dunia Internasional , Padahal Gereja HKBP itu sendiri sdh me-nasional bahkan Meng-internasional.

    Kalopun Lae bilang HKBP itu adalah komunitas Batak, lalu saya jawab , memang Ia tapi apakah kita tidak punya visi dan misi supaya HKBP tersebut dimiliki oleh orang orang di luar BATAK. Nah pandangan pandangan seperti inilah mungkin agak perlu diberikan pencerahan (Benarkah itu amang Pendeta DTA?)
    Saya kurang tau Visi dan Misi nya HKBP itu sendiri (Mohon dijelaskan amang Pendeta ya thx.)

    Sebab Bahwa Gereja itu adalah Tubuh Kristus, Yang berarti Bahwa siapapun dan darimana pun asal usulnya dia berhak tau Siapa itu HKBP karena Tuhan itu sendiri ada disana
    Nah kalo sudah begini apakah masih layak kita mengatakan bahwa HKBP hanya komunitas orang Batak? Hanya saja Asal muasalnya dari batak , Jemaatnya adalah banyakan orang Batak. Sama kan kasusnya Bahwa Jakarta ini adalah dulunya kampungnya Orang Betawi, Sekarang yang berdiam disana siapa saja ?

    Cobalah kita agak membuka diri terhadap orang di luar Batak tanpa menghilangkan jati diri kita dan Nilai -nilai dan Tata Ibadah HKBP serta Visi dan Misi Manusiawi itu sendiri, Dan kita pun harus siap dibentengi dengan aturan dan perautaran HKBP itu sendiri supay tidak terlindas pengaruh yang lain nanti.

    Nah ini baru namaya HKBP yang sudah Mapan dan dan siap seutuhnya dan mestinya inilah yang harus kita tanamkan dalam Benak kita.Jangan beranggapan lagi bahwa HKBP itu hanya Milik Orang batak saja , dan sebaliknya Orang batak juga tidak selalu harus Jemaat HKBP kan? tetapi dia tetap saja orang Batak Betul Tidak Pak?

    Berdoalah kita supaya HKBP itu tidak Bubar seperti yang bapak khawatirkan diatas, Nah ini kita percayakan kepada para pengurus HKBP dan seluruh Jemaat kita supaya selalu diberi kebijaksanaan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dalam menjalankan Aturan dan peraturan HKBP yang berlaku baik sebagai Ruas Pun Penetua semuanya serta Pimpinan Pusat dan aparatnya.

  18. Daniel on January 9, 2009 at 6:47 pm

    HKBP gak akan hilang “B” nya hanya karena masalah bahasa Bataknya hilang. Sama seperti Anglican Communion tetap bersifat Anglo walaupun sebagian besarnya jemaatnya sekarang sudah bukan orang inggris dan kebaktiannya juga banyak yang tidak berbahasa inggris.

    Nilai “B” nya HKBP menurut saya tidak bisa digampangkan menjadi semata soal bahasa saja.

  19. Andar on January 9, 2009 at 11:54 pm

    Betul, saya juga percaya bahwa HKBP lahir, bertumbuh dan besar bukan karena dia gereja Batak, atau mempergunakan bahasa Batak apalagi adat Batak. HKBP bisa seperti ini hanya karena pekerjaan Roh Kudus. Karenanya, ketika kita membuat sebuah analisa akan bubarnya HKBP hanya karena nama atau bahasa Batak, itu sama dengan menyangkal karya dan kemampuan Roh Kudus bagi gereja-Nya. Horas.

  20. Agus Karta Parulian Panggabean on January 11, 2009 at 12:18 am

    Seandainya tidak ada amanat agung dari Tuhan Yesus (Mat. 28:19-20) maka orang Batak tetap merupakan suku primitif diantara suku-suku yang ada di pulau Sumatera. Terisolir, terbelakang dan juga animisme (sipelebegu). Jangankan jabotabed, sumatera barat atau aceh aja mungkin tidak kita kenal. Apalagi orang nias, sunda, betawi, jawa!

    Terima kasih kepada Tuhan karena IA memberikan amanatNYA kepada murid-muridNYA, sehingga hamba-hambaNYA yang berada di Eropa (khususnya Jerman) tergerak hatinya untuk memberitakan Firman Tuhan di kampung kita, bona pasogit.

    Hasilnya orang batak menjadi salah satu suku yang cukup maju di negeri yang kita cintai ini. Sejak zaman orde lama, banyak orang batak yang menjadi pejabat, musisi/penyanyi ternama, dll. Karena itu jangan kita tinggalkan Tuhan Yesus yang telah mengeluarkan amanatNYA yang agung itu hanya karena peningkatan karir/status/jabatan, harta, gadis/pria idaman, atau kita ini minoritas di tempat tinggal masing-masing.Murid-murid Tuhan Yesus juga dulu termasuk kaum minoritas di Israel sesudah DIA naik ke sorga.

  21. Meb on February 17, 2009 at 2:12 pm

    relevansi antara adat dan agama memang sangat erat, tapi ga akan ada masalah kalau setiap orang bisa memberikan garis pemisah yang tegas di antaranya, mungkin salah satu caranya adalah dengan melihat adat sebagai sarana untuk bersosialisasi antar manusia dan agama sebagai sarana penghubung ke Tuhan YME.

  22. klarissa anesty nainggolan on February 17, 2009 at 9:06 pm

    bener banget amang…..

    tapi saya mau tanya… kalo batak itu kan masih sangat sekat sekali dengan adat….

    menurut amang apakah ada pengaruh, hubungan dengan Allah mempengaruhi penggunaan adat dalam suku batak???

  23. Friska Pardede on February 20, 2009 at 12:06 pm

    Terimakasih amang telah menghadirkan kembali topik yg sangat bagus ini, kebetulan sepupu saya baru menikah dgn Batak juga tepat hr valentin yl tgl 14-02) tetapi krn mrk sdh kharismatik jadilah pernikahannya ya ala kharismatik sebab mrk ini sdh sangat anti dgn adat Batak yg diangap memiliki kuasa gelap walaupun di setiap acara msh menyebut marganya mrk berdua ( bukankah marga ini diturunkan dari moyang kita yg kala itu blm mengenal Tuhan) saking bencinya mrk dgn adat batak , mrk tdk melibatkan keluarga dlm persiapan perhelatan ini hanya mrk berdua dgn undangan 300 org saja.

    Orangtuanya mrk tentu saja kecewa tatapi jaman sekarang ini bangay sekali org tua takut bicara pada anaknya dgn mengatakan dari pada tu ugamo lain atau daripada kumpul kebo atau dari pada ribut. Saya katakan pada adik saya itu sudah terlaksana pernikahan yg kamu idam2kan seperti ini tanpa memperhatikan juga kebahagiaan ortumu dan ortunya suamimu, tolong jangan berlarut2 pikirammu mengatakan bw adat Batak itu penuh dgn kuasa gelap , usahakan baca ruma metmet disitu ada semua jawaban tentang kristen dan batak, mudah2an amang dia membuka topik ini yg sangat pas buat mrk berdua.

    Lalu ketika saya bertanya kepada anak gadis saya apa komentarnya terhadap pernikahan itu dia bilang pernikahan yg saya idam2kan adalah pernikahan yg agung dan itu saya dapatkan di HKBP juga saya hrs dapat ulos dari tulang saya tidak perlu mewah tetapi krn saya boru siahaan(Batak abiss) pernikahan saya ya hrs pakai adat. Dalam hati aku berdoa ya Tuhan dengarlah keinginan anak saya juga keinginan kami ortunya ,sediakanlahl ia seorang calon suami yg HKBP sesuai nasehat amang DTA dulu ketika ia msh rajin mengunjungi blog ini.

    Ada sedikit tips buat para orto agar anak2 mencintai segala kebatakannya

    - sering2lah bercerita tentang tulang,namboru dll
    -biasakan berbhs Batak dgn mrk pasti mrk antusias bertanya artinya apa
    -Sejak bayi bw ke HKBP dan dampingi hingga remaja
    -ketika lepas sekolah Minggu sesekali ibadah bhs Batak dan terjemahkanlah
    -leskan organ klasik greja sejak dini lalu ketika les dampingi. ketika mrk sdh mulai bisa main digreja untuk baca buku logu otomatis mrk belajar bhs Batak dan suatu saat akan diminta org untuk iringi pernikahan,kematian dan pesta batak lainnya (tentu makin sering bertemu dgn komunitas adat2).

  24. Daniel on February 20, 2009 at 11:27 pm

    @Friska Pardede

    Saran untuk dibawa ke HKBP, ibadah bahasa Batak, dan les organ klasik untuk belajar Buku Logu/Buku Ende sayangnya tidak mempan terhadap saya. Semua ini efektif untuk meningkatkan kesadaran akan warisan Kristen saya dan kesadaran akan tradisi Lutheran (sampai beberapa bulan lalu saya masih mengira HKBP itu Lutheran dan tidak begitu yakin akan ciri Uniertnya) tetapi sayangnya tidak untuk kebatakan saya.

    Alhasil bukannya makin cinta Batak saya malah jadi jatuh cinta pada Deutsche Messe, Buku Konkord, Formula Missae, dll.

    Jadilah sampai sekarang ini saya hanya batak fotocopy…..

  25. mudut on February 23, 2009 at 4:10 pm

    Trimaksih buat tulisannya amang. saya setuju orgel/organ/keybord adalah hanya alat. tapi bagi saya alat bisa membantu kita untuk masuk ke kabktian itu. betul memang liturgi adalah inisiatif Allah, tapi Dia mengharapkan respon kita. oleh karena itu keybord menurut saya musik yang lebih sekuler tapi organ lebih kepada musik liturgis. mauliate…

  26. Yitzak on February 25, 2009 at 11:58 am

    Terima kasih amang atas penjelasannya
    singkat, jelas dan padat

  27. Friska Pardede on February 26, 2009 at 9:51 am

    @ Daniel
    Tips itu kan dimulai sedini mungkin, sejak anak2 saya lahir selalu sy bawa beribadah di HKBP , dan ada keinginan kuat dihati saya berapapun nanti Tuhan memberikan anak kepada saya semuanya harus aktif di gereja HKBP sehingga ketika Tuhan memberikan kami rejeki 3 org anak dan waktunya bisa beli rumah kami mencarinya dekat dgn greja HKBP.

    Sesuai dgn mimpi saya Tuhan mempertemukan seorang guru oargan klasik dan anak2 saya mulai les di usia 7 thn sehinnga sang guru sdh 15 thn mengajar di rmh saat ini anak terkecil kami masih les dan 8 thm, ketika putri pertama kami memulainya 15 thn yl saya selalu dampingi mereka karena sang guru ( anak2 menyebutnya maestro) tdk dapat melihat alias buta ( kapan2 dgn seijin beliau saya ingin berbagi cerita di ruma metmet ttg beliau).

    Putri pertama saya mulai melayani di usia 12 thn(kls 6 sd) pelayanan pertamanya adalah mengiringi seorang pendeta yg meninggal,ketika jenazah di bawa masuk diiringi oleh banyak pendeta lengkap dgn jubah hitamnya (membuat anak saya merinding) juga diiringi suara orgen perlahan2 dgn ende “loas au asa lao au” membuat suasana sangat mencekam krn dia memainkannya dgn klasik
    Ketika itui dia meminta saya supaya duduk dekat dia dan menanyakan memangnya lagu itu artinya apa? lalu saya terjemahkan.

    Pengalaman berikutnya ketika marulaon nabadia, sering secara dadakan si liturgis minta ende tambahan, tabukka ma ende nomor mis; 287 putri saya sibuk bertanya no brp artinya. memang di buku logu tdk ada kata2 krn itulah makanya apabila dia memainkan nada2 minor pasti dia minta saya terjemahkan, contohnya ketika baru pertama kali memainkan ” o ulu nasap mudar” untungnya lagu itu ada juga di KJ, lalu dgn bangga ia katakan HKBP juga punya Requem yaitu “sonang ma modom” tdk ada di KJ bangga dia sebagai HKBP lalu untuk Bataknya dia sering dipanggil untuk mengiringi acara Batak mis memasuki rumah baru, pesta2 bona taon dll, hal2 ini yg membuat mrk bertiga cinta abis ke HKBP sekaligus bangga menjadi Batak.

  28. Rafina Harahap on April 19, 2009 at 11:30 am

    Amang pendeta, foto rumah batak-nya bagus. Kami sedang bikin power point ttg sejarah aksara Batak. Boleh kupakai foto di atas sbg halaman pembuka?
    oya, amang sudah kembali dari Qatar? semoga semuanya berjalan lancar….

    Daniel Harahap:
    Silahkan saja tentu dengan mencantumkan sumbernya. :-) Di galleri foto ada banyak foto rumah batak, silahkan dipilih.

  29. Andrie Gusti Ari Sarjono on July 10, 2009 at 3:51 pm

    PENDAPAT:
    Budaya dan Kepercayaan bukan untuk di perdebatkan atau di benturkan, tetapi sudah selayaknya berjalan berdampingan seperti REL KERETA API!

    hal tersebut diatas tercermin dalam simbol SALIB:
    Tiang Horizontal disana ada kebudayaan yang sosial dan saling menghormati satu sama lain;
    Tiang Vertikal disana ada Kepercayaan yang mengingatkan kita pada Penciptaan;
    Yesus sendiri yang di tengah merupakan “Pendamai hubugan Manusia dengan Tuhan” atau sebagai Jembatan/Juru selamat antara Manusia dgn kehidupan sosilnya dengan Allah sang pencipta alam semesta.

    Daniel Harahap:
    Silang dan rel kereta dua hal yang berbeda. Yang satu sejajar tak pernah bertemu. Yang satu lagi bertemu.

  30. sando brisman tambunan on January 11, 2010 at 5:56 pm

    Horas ma amang pandita. mauliate ma atas penjelasan dan blognya yang dapat menambah pengetahuan kita tentang adat budaya batak dgn agama. memang manusia tidak bisa lepas dari adat atau budaya.baik dari orang manapun tetap tidak bisa lepas dari adat atau budayanya.

    kita secara umum tidak menolak adat istiadat Batak tetapi kita yang telah beragama Kristen janganlah kita menjadi batu sandungan bagi orang lain.dalam artian banyak juga orang setealh menjadi Kristen menolak secara mentah menatah namanya adat istiadat dan budaya orang batak.seperti ulos,alat musiknya gondang,tortor,dll.orang yang sepeti itu sudah keliru dan menjadi batu sandungan.

    Kita tau Yesus Kristus datang ke dunia ini sebagai Transpormasi dalam artian Yesus datang untuk menyelamatkan Yesus sebagai TERANG. Memang ada juga tradisi orang batak yang menjadi kegelapan. itulah yang perlu di perangi itulah yang perlu ditolak yaitu dukun, “orang pintar” ,minta berkat dari kuburan dll Yesus adalah terang maka kita sebagai orang batak yang menjadi KEristen marilah kita menjadi terang yang mau melawan kegelapan.

    mohon maaff kalo ada salah kata kata.tolong amang ralat

    Daniel Harahap:
    Tak ada yang salah jadi tak ada yang harus dimaafkan. :-)

  31. Haposan Simanjuntak ,Batam on October 24, 2011 at 11:03 am

    Firman Tuhan berkata : II Timotius 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

    Dengan ayat ini kita harus menyadari bahwa dasar berpikir orang Kristen harus dari firman Tuhan bukan lagi dasar berpikir dan bertindaknya dari Ompung-ompung kita zaman dulu yang mana mereka semua belum mengenal Injil atau sipele begu.
    Orang percaya harus bisa membedakan antara kebenaran dan kebaikan.
    Kebaikan belum tentu benar tapi kebenaran ( Firman Tuhan ) akan membawa kita kepada kebaikan.Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*