GEREJA YANG LUKA & TAK MENYERAH (10)

April 8, 2007
By

Sebuah kesaksian seorang pendeta tentang konflik HKBP 1990-an

Oleh: Daniel T.A. Harahap

Mencari akar konflik HKBP
Aku mulai mencoba mengambil jarak dari masalah HKBP untuk mencoba merefleksikan ulang segala pengalaman dan pemikiranku tentang konflik yang menyerupai benang kusut ini. Aku sangat ingin tahu akar-akar konflik HKBP. Lewat permenungan panjang yang sangat melelahkan, aku akhirnya menemukan sedikit-sedikitnya 6(enam) hal yang kuanggap merupakan akar konflik HKBP. Keenam akar pahit HKBP itu terkait satu sama lain.

Akar konflik pertama: Campur Tangan Eksternal
Walaupun kelompok SSA mengangkatnya sebagai isu utama, menurutku campur tangan pemerintah terhadap HKBP bukanlah akar tetapi pemicu sekaligus penajam konflik HKBP. Bibit-bibit konflik itu sendiri sebenarnya sudah lama ada di tubuh HKBP, tidak hanya di pusat melainkan juga di jemaat-jemaat lokal. (Jika kita perhatikan sejarah HKBP sarat konflik). Namun campur tangan pemerintah membuat konflik 1990-an ini meledak dan berakibat sangat parah, sehingga seolah-olah tidak terselesaikan.

Pertanyaan: mengapa pemerintah mencampuri urusan HKBP? Atau lebih baik: mengapa pemerintah bisa mengaduk-aduk HKBP? Itu pertanyaan sulit. Alasan resmi yang sering dikemukakan pemerintah saat itu adalah untuk membantu HKBP menyelesaikan masalahnya. Demi menjaga stabilitas pembangunan. Pada jaman Orde Baru pemerintah memang memposisikan dirinya sebagai pembina atau pengayom segala-galanya termasuk lembaga-lembaga agama. Organisasi-organisasi sosial dan keagamaan harus “dibina” dan diarahkan agar dapat ikut menjaga stabilitas nasional demi suksesnya pembangunan berdasarkan Pancasila. Generasi muda sekarang tidak usah pusing dengan kalimat di atas. Itu bahasa khas Orde Baru. Namun fakta menunjukkan “bantuan pemerintah” bukan saja tidak menyelesaikan konflik HKBP selesai tetapi membuatnya semakin menjadi-jadi dan ruwet sekali. Hal ini antara lain disebabkan telah tumbuh rupanya kesadaran kritis di sebagian warga HKBP sehingga tidak lagi dapat menerima campur tangan pemerintah dalam kehidupan beragama.

Aku bukan penganut teori konspirasi yang dengan mudah akan mengatakan memang ada usaha penghancuran secara sistematis gereja HKBP sebagai sebuah institusi. Menurutku teori konspirasi hanya cocok untuk sebuah novel (jaman sekarang mungkin untuk talkshow infotainment televisi), namun tidak terlalu berguna untuk penyelesaian masalah yang sesungguhnya. Tetapi kuakui juga tidak sedikit orang yang percaya bahwa memang ada konspirasi mengobok-obok HKBP. (Kasus-kasus mirip yang dialami oleh PDI dan NU memperkuat hal itu.) Aku sendiri tidak habis mengerti peran yang sedang dijalankan Menteri Agama Tharmizi Thaher dalam konflik HKBP. Menurutku sebagai Menteria Agama dia tahu betul bahwa DR PWT Simanjuntak dan DR SM Siahaan jelas-jelas tidak mampu menyelesaikan masalah HKBP, namun alih-alih mencari jalan keluar Menteri Agama Tharmizi Thaher justru “mengukuhkan” bahwa kepemimpinan mereka di HKBP dengan menyatakannya sudah final. Sulit menampik jika ada orang mengatakan adanya semacam “politik pembiaran” dalam sikap itu.

Presiden Soeharto sendiri bungkam soal HKBP. Aku belum pernah satu kali pun mendengar statement Presiden Soeharto tentang HKBP. Itu pun sebenarnya aneh sekali. Masa seorang Kepala Negara tidak berbicara sedikit pun tentang konflik berdarah yang melanda sebuah gereja protestan terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Apakah Presiden Soeharto menganggap masalah HKBP terlalu kecil dibanding urusan sapi di Tapos untuk ditangani oleh seorang Presiden? Atau memang Soeharto sengaja membiarkan konflik HKBP dengan alasan yang hanya dia sendiri yang tahu? Entahlah. Mungkin ada orang lain yang lebih mampu menjelaskannya.

Aku mendengar samar-samar pernah ada tiga orang pendeta yang diutus menjumpai Abdurahman Wahid Ketua PBNU di kantornya di Jalan Kramat. Gus Dur mengatakan, bahwa HKBP memang test case. Sebenarnya yang hendak “ditelan” adalah NU. Namun disayangkan oleh Gus Dur bahwa Kantor Pusat HKBP di kampung Tarutung, jauh dari pandangan masyarakat luas, sehingga “operator-operator” Orde Baru dengan mudah mengobok-obok HKBP. Sebaliknya kantor PBNU ada di Jakarta, dimana ada begitu banyak kedutaan dan lembaga internasional serta media asing, yang pasti akan segera bereaksi jika PBNU diusik secara kasar dan telanjang.

Jaman itu memang masa hegemoni Orde Baru. Ya masa puncak kekuasaan Soeharto. Tidak ada satu organisasi pun yang boleh independen di Indonesia. Semua harus ditundukkan kepada pemerintahan Soeharto yang menganggap dirinya identik dengan negara atau jangan-jangan juga dengan Tuhan. Celakanya di HKBP muncul seorang pemimpin agama berkaliber internasional yang kritis kepada kekuasaan, punya gagasan membaharui HKBP, dan memiliki banyak pendukung fanatik. Jadi logis saja jika HKBP harus digebuk. (kata gebuk itu digunakan sendiri oleh Soeharto dalam pidatonya di depan publik untuk ditujukan kepada lawan-lawan politiknya.)

Tapi menurutku nafsu syahwat penguasa Orde Baru itu bukan urusan HKBP, atau lebih tepat di luar kendali HKBP. Yang jadi masalah, di HKBP ada banyak sekali celah yang bisa dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Tanpa perlu susah-susah berpikir, semua orang yang mengamati HKBP akan bisa segera tahu ada cukup banyak pendeta-pendeta senior dan juga warga elit-elit HKBP yang merasa sakit hati dan ingin menghentikan langkah-langkah Eforus SAE Nababan. Semua orang yang sadar politik pasti tahu bahwa “barisan sakit hati” adalah kelompok yang paling gampang digarap untuk menghancurkan satu organisasi.

Di sini aku benar-benar sedih. Menurutku ada dua kegagalan HKBP. Pertama HKBP gagal melakukan pembinaan ke dalam, sehingga orang-orang HKBP, pendeta atau anggota jemaat biasa, sangat mudah dimanfaatkan untuk agenda kelompok lain. Kedua: HKBP juga gagal (kurang berhasil?) mengkomunikasikan dirinya ke luar, untuk meyakinkan elemen-elemen lain bangsa ini bahwa jika HKBP kuat itu bukan ancaman tetapi keuntungan bagi bangsa dan negara ini. Aku berandai-andai. Seandainya HKBP waktu itu mampu mengkomunikasikan kepada masyarakat luas bahwa HKBP dapat memberi kontribusi bagi Indonesia yang pluralistik dan demokratis jika gereja ini dibiarkan tumbuh dan berkembang, tentulah sejarah akan lain ceritanya. Namun semua sudah terjadi.


Akar konflik kedua: tekanan kultur Batak

Eforus Nababan seringkali mengatakan HKBP bukan gereja suku. Secara formal ya. Konstitusi HKBP mengatakan gereja ini adalah persekutuan segala bangsa, bahasa dan kaum. Namun prakteknya 99% warga HKBP berasal dari suku Batak. Suka tak suka, diakui tak diakui, HKBP benar-benar menyatu atau tidak terpisahkan dengan kultur dan masyarakat Batak. Apa yang terjadi dengan kultur dan masyarakat Batak pasti berdampak kepada HKBP, sebaliknya apa yang terjadi di HKBP berdampak juga kepada kebatakan.

Aku teringat lagi tulisan Kartini Syachrir (boru Panjaitan) di Majalah Prisma tahun 80-an. Tulisan doktor antropolog Boston tersebut membuat banyak orang marah pada saat itu . Dia mengatakan bahwa orang2 Batak di bawah sadar sudah merasa kalah di pentas nasional lantas karena itu ramai-ramai menarik diri ke dalam. Fenomena maraknya pembangunan tugu dan organisasi berdasarkan pengelompokan marga menurut Kartini adalah semacam bentuk kompensasi kekalahan masyarakat Batak dibidang ekonomi dan politik di pentas nasional itu. Saat konflik HKBP terjadi aku berpikir jangan-jangan Kartini benar. Berhubung elit-elit Batak merasa tidak mampu lagi bersaing di tengah-tengah masyarakat luas dibidang ekonomi dan politik, mereka lantas ramai-ramai kembali ke HKBP yang merupakan “tugu dari segala tugu” dan “punguan dari segala punguan” Batak, sekedar untuk menunjukkan dirinya tetap eksis. (Kalau thesis Kartini benar maka tugas sangat berat HKBP adalah mendorong warganya kembali ke masyarakat, bangsa dan negara ini, bukan sekedar jadi pegawai negeri, pejabat atau salah satu menteri, tetapi terutama menjadi expert dan pedagang yang memberi kontribusi bagi kesejahteraan dan keadilan negeri ini.)

Analisisku kultur Batak pada masa itu juga sedang merasa terancam oleh maraknya gerakan kharismatik yang sangat anti kepada kultur Batak. Gerakan kharismatik ini jelas-jelas punya agenda “mentobatkan” HKBP. Gereja suku ini dianggap rimba yang belum diinjili dan “diubahkan”. Mereka pun secara sistematik dan semangat militan terus-menerus melakukan propaganda menolak adat Batak yang ditandai dengan ajakan membakar ulos Batak yang dianggap salah satu unsur kekafiran dalam kebatakan. Tentu saja masyarakat kultur Batak merasa sangat terancam dan terpancing melakukan perlawanan. Ide pembaharuan yang digagas Eforus Nababan sialnya disalah-mengerti sebagai usaha penghancuran tatanan kebatakan. Apalagi Eforus SAE Nababan dianggap pernah memberi angin kepada kelompok kharismatik dengan mengijinkan kelompok evangelisasi dari HKBP Jalan Jambu masuk ke Toba dan melakukan berbagai aktivitas yang sangat “asing” bagi masyarakat Kristen-Batak di Tapanuli sebelumnya.

Gerakan kharismatik dan orang Batak sebenarnya bagaikan api dan bensin. Gerakan kharismatik sangat menekankan spontanitas dan partisipasi warga jemaat. Orang Batak sangat haus berperan dan berbicara. Sebab itu orang-orang Batak yang tidak mendapatkan tempat di HKBP melihat tanpa sadar gerakan kharismatik adalah jawaban atas kebutuhan (bawah sadar) untuk berperan dan diakui. Nanti akan kujelaskan lebih lanjut mengapa begitu banyak orang HKBP (baca: Batak Kristen) terkagum-kagum dan tergila-gila kepada gerakan kharismatik yang kalau beribadah sangat hobi sekali bertepuk-tangan diiringi band pemekak telinga ini. :-)

Akar konflik ke tiga: ketidakjelasan teologi
Visi HKBP tidak jelas. Benar eforus Nababan sedang membuat visi Mempersiapkan HKBP menghadapi era industrialisasi yang maju dan moderen. Namun visi itu kurang diterjemahkan ke dalam konsepsi yang benar-benar baik dan dalam. Akibatnya gagasan itu bukan saja kurang mendapatkan dukungan para pendeta dan warga yang sangat mencintai dan membela kebatakan, namun dirasakan sebagai ancaman. Sebab itu analisisku HKBP menghadapi tiga tekanan sekaligus: pemerintah yang ingin berkuasa total dan mencampuri semua kehidupan organisasi yang ada di negeri ini, kultur Batak yang merasa sedang terancam, plus gerakan kharismatik dan kaum fundamentalis Kristen yang sangat bernafsu mengubah HKBP.

Kembali ke soal teologi, menurutku ada 3(tiga) ketidakjelasan teologi HKBP ini yang menurutku ikut menyumbang konflik di tingkat Pusat maupun di jemaat-jemaat lokal ini.

Pertama: ketidakjelasan eklesiologi atau konsepsi tentang gerja. Lama HKBP terlena dan lupa mendidik warga jemaatnya agar benar-benar mengerti dan menghayati apa sesungguhnya gereja. Kadang atau selalu warga HKBP tidak dapat membedakan gereja dengan perkumpulan arisan, klub, koperasi, warung pribadi, bioskop, atau negara. Menurutku, ketidakjelasan eklesiologi ini mengakibatkan banyak warga jemaat tidak memahami secara jernih hubungan gereja dengan negara, begitu juga relasi gereja HKBP dengan kultur Batak. Ketika terjadi ketegangan antara gereja dengan pemerintah, maka warga HKBP kebingungan dan tidak punya pegangan merumuskan sikapnya. Di bidang lain, ketika terjadi permasalahan dalam persekutuan adat, maka masalah itu dibawa-bawa juga ke dalam gereja.

Kedua: ketidakjelasan liturgi atau konsepsi dengan ibadah. Serangan bertubi-tubi kelompok kharismatik dan fundamentalis kristen terhadap HKBP adalah menyangkut. terhadap liturgi HKBP yang mereka katakan kaku, kering, membosankan dan tidak hidup. Berhubung HKBP kurang atau tidak menjelaskan kepada warganya apa sebenarnya liturgi itu, maka warga HKBP terutama yang muda-muda, yang memang sangat haus akan perubahan dan pembaharuan ibadah, menelan bulat-bulat apa yang dikatakan orang lain tentang liturgi HKBP. Sebelum mempelajarinya sungguh-sungguh, apalagi menghayatinya, warga jemaat HKBP yang sudah termakan ajaran kelompok kharismatik dan fundamentalis, langsung ingin mengganti tata ibadah HKBP atau memasukkan segala hal baru yang dilihatnya di luar ke HKBP. Celakanya HKBP sendiri bersikap reaktif dan emosional. Alih-alih mengembangkan dan membaharui kehidupan ibadahnya berdasarkan prinsip-prinsip liturgi yang benar dan baik, HKBP malah mempertahankannya mati-matian dan menganggap liturgi warisan itu sudah final, tidak boleh berubah satu titik pun. Warga HKBP yang merasa dibina di luar dam selalu mengatakan “berjumpa Yesus bukan di HKBP itu” juga tak mau menyerah, mereka pun terus bergerilya “mengubahkan” HKBP, akibatnya terjadilah ketegangan atau bahkan konflik terbuka di banyak jemaat.

Konflik antara kelompok kharismatik HKBP versus kelompok konservatif ini sangat melelahkan kedua belah pihak. Berhubung HKBP belum terbiasa mengelola konflik (selama ini konflik “diatasi” dengan perpisahan) maka penyelesaiannya selalu menang-kalah atau kompromi murah-meriah. Lahirlah apa yang dinamakan “liturgi alternatif” yang merupakan anyaman kasar dari banyak keinginan, selera, dan gaya yang belum tentu match atau cocok satu sama lain. Aku sering melukiskan, maaf untuk kawan-kawanku, liturgi alternatif ini ibarat minyak campur air. Atau, mirip sekali pengantin bermuka Batak yang mengenakan brokaart Perancis, songket Palembang, sanggul melati Jawa, tusuk konde Jerman, dan buket Eropah lantas dengan nikmat makan sangsang babi dan sup daun kol yang dipotong lebar-lebar. Tidak ada yang salah di sana, tapi nggak mecing saja. :-)

Ketiga: ketidakjelasan etika. HKBP terlalu sibuk dengan ritus, upacara dan seremoni, sehingga lupa mengajarkan etika Kristen kepada warganya. (Etika artinya: apa yang harus dilakukan.) Keadaan ini sebenarnya mempunyai akar yang sangat dalam, yaitu pemahaman dualisme kehidupan yang sejak dahulu hidup di kalangan warga gereja. Yang kumaksud dualisme adalah pemahaman yang memisahkan secara absolut yang rohani dan yang jasmani, surgawi dan duniawi, ibadah di gereja dan kehidupan sehari-hari. Bahasa Bataknya: manirang ngolu partondion asa sian ngolu pardagingon. Berhubung hal-hal rohani dianggap terpisah dan tak punya hubungan sama sekali dengan hal-hal jasmani, akibatnya apa yang dipercayai oleh warga gereja seringkali juga tidak punya korelasi langsung terhadap apa yang dilakukannya sehari-hari dalam lapangan bisnis, ekonomi, adat dan politik. Sebaliknya praktek kehidupan sehari-hari dalam berbisnis, beradat dan berpolitik juga ber-seks, tidak sungguh-sungguh lahir dari iman atau kepercayaan.

Berhubung seremoni atau ritus ibadah dianggap mahapenting, atau satu-satunya yang penting di dunia ini, maka pertanyaan-pertanyaan etika atau moral (sosial, politik, budaya, seks dll) tidak mendapat perhatian serius. Contohnya: seorang warga HKBP bisa sangat terganggu “imannya” melihat pemimpin ibadahnya yang kebetulan flu, batuk-batuk atau membuang ingus saat memimpin ibadah, namun bisa tidak terusik sama sekali mendengar kabar penggusuran orang-orang miskin tanpa ganti rugi, kekerasan yang terjadi terhadap tahanan, atau hasil survey yang mengatakan Indonesia juara korupsi se dunia. Kembali ke soal konflik HKBP, kini aku semakin paham mengapa dalam konflik HKBP banyak warga jemaat HKBP tidak terlalu mempermasalahkan kekerasan yang terjadi di HKBP selama tidak mengusik kenyamanan dan ketenangan beribadah di tempatnya.

(Kini HKBP sudah berdamai, namun sikap yang terlalu mementingkan seremoni atau ritus itu ketimbang etika masih saja hidup. Ini jelas-jelas “kabar baik” bagi para maling atau “tikus” di HKBP. Para maling bebas mengambil uang gereja dengan berbagai cara halus atau kasar, dan kalau ketahuan tidak usah juga terlalu kuatir sebab banyak orang tidak akan mau mengusut pencurian itu, apalagi membawa kasus itu ke polisi, demi ketenangan beribadah dan “keutuhan” jemaat.)

Akar konflik ke empat: kelemahan organisasi
Kelemahan visi itu jelas-jelas berdampak kepada organisasi HKBP. Gereja HKBP yang berawal lebih seratus tahun lalu di Tanah Batak itu oleh penginjilan Jerman, sekarang sudah memiliki 300 resort dan 3000 jemaat dan 2 juta jiwa yang tersebar di seantero Indonesia dan beberapa bagian dunia lainnya, dan dikendalikan dari sebuah kampung kecil yang bernama Pearaja, kurang-lebih 300 kilometer dari Medan. HKBP sungguh-sungguh organisasi besar. Bahasa Batak: HKBP na bolon i. Namun bagaimana gereja besar ini dikelola?

Struktur tidak match dengan kultur
Sudah lama aku sadar struktur organisasi HKBP yang sangat sentralistis tidak match atau mecing dengan kultur Batak yang sangat de-sentralistis. Gagasan sentralisasi dalam bidang apa pun (termasuk keagamaan) bertentangan dan mengalami resistensi dari orang Batak. Tiap-tiap orang Batak (dulu hanya laki-laki, sekarang juga perempuan) merasa dirinya sebagai raja, setidak-tidaknya penguasa atas dirinya dan apa yang ada di bawahnya. Secara umum orang Batak, diakui atau tidak, sangat ingin berkuasa (marhuaso) dan mulia (marmulia). Namun di HKBP keinginan ini dihambat oleh aturan organisasi yang menyatakan bahwa kekuasaan ada di Pusat (baca: eforus), dan sebagian lagi diberikan kepada pendeta dan parhalado (seumur hidup). Tidak heran jika sepanjang sejarah terjadi ketegangan antara Pusat dan jemaat-jemaat lokal. Pusat mengklaim merekalah yang berkuasa (berdasarkan aturan), namun jemaat-jemaat lokal mengatakan merekalah yang berkuasa (sebab mereka sumber uang pusat). Pendeta merasa berkuasa (berdasarkan klaim panggilan dari Tuhan) dan jemaat merasa merekalah yang harus mengendalikan pendeta, sebab mereka yang menggajinya. Lantas bagaimana HKBP menyelesaikan perebutan klaim-klaim kekuasaan ini?

Parhalado seumur hidup
Aku ingin menyebut satu akar masalah di HKBP yang tidak disadari banyak orang, yaitu: sistem parhalado seumur hidup. Di HKBP parhalado pada mulanya dipilih dari anggota jemaat di weik atau lungguk secara demokratis. Namun sekali seseorang terpilih maka dia akan terus menjadi sintua atau anggota parhalado mencapai usia pensiun 65 tahun yaitu saat pensiun, atau sampai mati. Menurutku inilah salah satu “biang kerok” konflik HKBP. Mengapa?

Pertama: HKBP kehilangan mekanisme melakukan penyegaran kepengurusan jemaat-jemaat lokal. Tentu saja sintua-sintua HKBP pada dasarnya orang baik-baik, namun berhubung terlalu lama menjadi parhalado, logis saja jika dia kehilangan kreativitas dan daya kritisnya, dan sedikit-banyak mendukung status quo. Kedua: HKBP tidak bisa melakukan kontrol dan melakukan mekanisme reward and punishment kepada parhalado, sebab bagaimanapun kinerja atau prestasinya seseorang tetap saja menjadi parhalado sampai pensiun usia 65 tahun atau meninggal dunia. Ketiga: sistem parhalado seumur hidup menghambat partisipasi warga jemaat. Peran yang diberikan kepada warga hanyalah peran pembantu dan bukan pengambil keputusan. Jemaat-jemaat HKBP pun lantas menjadi sangat elitis. Keempat, inilah yang terpenting: sistem parhalado seumur hidup ini bertentangan dengan kultur Batak yang dianut 99% warga HKBP yang justru sangat menjunjung mekanisme pergiliran peran dan jabatan: hari ini hula-hula besok jadi boru. Sekarang duduk di belakang melayani, nanti duduk di depan dilayani. Tapi bagaimana di HKBP? Persis seperti kisah lawak tentang keluhan seorang penumpang bus PPD: mulai dari kenaikan sampai keturunan aku tidak dapat kedudukan. :-)

Menurutku banyaknya jumlah warga HKBP yang aktiv di persekutuan atau gereja-gereja “sayap kanan” haruslah juga dimengerti dalam kerangka analisis kultural ini. Berhubung mereka tidak mendapat peran (ulaon) dan bagian (jambar) di HKBP maka mereka pergi mencari tempat-tempat dimana mereka bisa memperolehnya secara mudah. Kebetulan orang Batak sangat suka pula berbicara. Jadi tidak heran jika si Batak ini sangat senang di kelompok kharismatik dimana mereka punya banyak kesempatan bicara banyak-banyak dan berlama-lama. Nama resminya bersaksi. Bahasa Bataknya: mandok hata. :-)

Ketidakberesan pengelolaan keuangan
Satu lagi masalah organisasi HKBP yang harus disebutkan secara gamblang adalah masalah keuangan. HKBP ini gereja rakyat. Uang HKBP datang dari bawah (baca: jemaat) dan bukan dari atas (baca: Pusat). Jemaat-jemaat HKBP sejak dulu bebas mengelola keuangannya, yang penting mengirim setoran ke Pusat (banyak jemaat nakal yang menyunat setoran itu sesukanya tanpa sanksi). Namun aturan HKBP menyangkut keuangan tidak jelas, tidak transparan dan juga tidak akuntabel.

Di HKBP sampai tahun 1990-an (sampai sekarang?) uang memang dilaporkan setiap minggu, namun hanya penerimaan saja. Pengeluaran hanya dilaporkan sekali setahun (itu pun seringkali lisan). Bendahara gereja berfungsi sebagai penerima, pemegang buku, pengambil kebijakan, juru bayar, dan kadang-kadang juga pembeli barang. Transaksi keuangan (penyerahan persembahan syukur, pengeluaran program) seringkali tidak dilengkapi kuitansi apalagi rangkap tiga atau empat, apalagi dengan bukti-bukti pihak ketiga. Yang kami namakan Parhalado Parartaon (Majelis Perbendaharaan) bertugas sebagai perencana, pengawas sekaligus pelaksana. Runyam. Tim audit (istilahnya di HKBP tim verifikasi) bertugas sekali setahun menjelang Natal, bisa bayangkan repotnya dan hasilnya. Para pendeta, parhalado, pengurus pemuda, termasuk guru Sekolah Minggu tidak disiplin menggunakan uang. Apa akibatnya? Kami di HKBP sering bertengkar dan berkelahi soal uang sampai habis enerji.

Warga jemaat umumnya tidak mau (mampu) mencampuri urusan keuangan gereja HKBP. Menurut mereka uang itu sudah dipersembahkannya ikhlas kepada Tuhan, karena itu dia tidak mau tahu apakah uang itu digunakan secara benar atau diselewengkannya. Dalam hatinya mungkin itu urusan pengelola kepada Tuhan. Parhalado yang diserahi tanggungjawab mengelola keuangan gereja juga berpendapat sama. Klop. Namun aku selalu mengatakan uang itu diserahkan jemaat kepada Tuhan. Harus disadari bahwa parhalado bukan Tuhan. Itu artinya parhalado harus membuat laporan pertanggungjawaban penggunaan uang Tuhan itu.

Pada jaman dulu pengelolaan keuangan secara sederhana, lisan dan asal percaya ini bisa dimaklumi dan tidak menimbulkan masalah. Di desa-desa uang gereja tidak banyak dan kebutuhan juga tidak besar. (Catatan: gaji pendeta dibayar dengan padi setiap panen.) Namun sejalan dengan perkembangan jaman, uang HKBP sudah sangat banyak, namun aturannya tetap tidak jelas. Pengelolaan keuangan di banyak HKBP masih mirip pengelolaan keuangan keluarga di desa tahun enam puluhan. Jaman sudah berubah banyak namun HKBP belum mau berubah. Kenapa? Sudah tahulah kau. Tapi, kalau sudah tahu, bagaimana?

Namun supaya kaujangan berpikir terlalu jelek tentang HKBP aku juga harus mengatakan kenapa di gereja lain orang-orang tidak bertengkar soal uang. Pertama: gereja-gereja kharismatik dalam hal keuangan mirip perusahaan pribadi. Gereja mirip bioskop atau restoran milik pribadi. Gembala atau pendeta adalah pengelola restoran dan jemaat adalah pengunjung. Uang gereja tentu sepenuhnya wewenang gembala atau pemilik. Sebab itu di gereja kharismatik yang sangat rajin disambangi orang-orang HKBP itu tidak ada laporan keuangan sama sekali. Sebab untuk apa restoran menyampaikan laporan keuangan kepada tamu-tamunya? Bahkan uang persembahan itu juga sering tidak dihitung di gereja, namun bulat-bulat dibawa oleh gembala guna dihitung di rumahnya. Tim audit? Tidak ada jalannya. Korupsi? Ya jelas saja tidak dianggap ada, karena ini adalah uang pribadi. Suka-suka. Bertengkar soal uang? Tentu saja tidak. Sebab apa hakmu mempersoalkan yang bukan uangmu? Sekarang aku ingin mendengar komentarmu jujur: dimana kemungkinan uang Tuhan yang paling besar diselewengkan, di HKBP yang memiliki sistem yang jelek atau di tempat dimana tidak ada sistem sama sekali?

Akar konflik ke lima: Kualitas Pendeta rendah
Aku harus jujur. Aku tidak mau menjelek-jelekkan pendeta atau diriku sendiri, tapi menurutku memang banyak pendeta HKBP tidak melakukan tugas kependetaannya dengan baik dan benar. Memakai bahasa sederhana: mutu atau kualitas kami pendeta (tentu termasuk aku) juga rendah. Sebagai otokritik aku melihat ada tiga kelemahan dalam diri pendeta HKBP yang ikut menyumbang kepada konflik dan krisis HKBP ini.

Pertama: kotbah banyak pendeta HKBP secara substansial kurang menjawab pergumulan-pergumulan nyata di jemaat. (Pdt Einar Sitompul, Pdt Bonar Tobing, Pdt Andar Pasaribu yang muda dan ganteng itu, Pdt Gomar Gultom, dan Pdt Lidya Simanjuntak dll adalah pengecualian.) Para pendeta seringkali asyik-masyuk dengan dirinya sendiri, kisah-kisah masa lalu yang tak berhubungan dengan masa kini, atau penjelasan-penjelasan istilah teologis asing. Namun kelemahan yang lebih besar menurutku adalah hal metode atau gaya penyampaian yang terkesan sering menggurui, mendikte, dan cenderung menyalahkan warga jemaat. Pada pihak lain warga jemaat HKBP sudah sering mendengar pendeta atau pengkotbah lain di luar HKBP, dan mereka serta-merta membanding-bandingkannya dengan kami pendetanya di HKBP. Celakanya banyak jemaat juga tidak bisa membedakan mana bungkus dan mana isi, sehingga berhubung penyampaiannya kurang baik (apalagi dengan bahasa Indonesia yang kurang fasih), warga jemaat yang sudah “hidup baru” ini langsung menolaknya mentah-mentah di bawah sadar. Lebih celaka lagi, sebagian pendeta HKBP kurang percaya diri, mereka pun meniru-niru gaya pengkotbah kharismatik di luar sana. Makin kacaulah semua.

Kedua: kami para pendeta HKBP juga memiliki kelemahan dalam hal konseling. Aku tidak tahu apa penyebabnya, padahal di STT konseling adalah salah satu mata kuliah penting. Warga jemaat yang memiliki pergumulan pribadi yang sangat berat sebab itu tidak tahu kemana harus mencari dukungan, akhirnya pergi ke luar. Aku sering mendengar pembelaan diri para pendeta yang mengatakan bahwa kami siap namun jemaat yang tidak mau datang. Aku diam saja. Dalam hatiku: orang yang bermasalah selalu mencari orang yang dipercayanya. Jika mereka tidak datang kepada pendeta HKBP jawabnya sederhana saja: mereka tidak percaya. Warga jemaat yang punya masalah pribadi dan merasa dibantu di luar, kembali lagi ke HKBP sebagai “duta-duta” yang sangat militan memaksa HKBP berubah. Makin ramailah kami berkelahi.

Ketiga dan mungkin bukan yang terakhir: kami pendeta HKBP juga lemah sekali dalam hal mengorganisir dan memimpin perubahan. Perubahan di HKBP seringkali berjalan mengikuti arus dan gelombang bukan berdasarkan perencanaan dan pengorganisasian yang matang. Aku setuju pendeta adalah gembala dan pelayan. Tapi pendeta bukan gembala kambing atau pelayan restoran. Pendeta adalah pemimpin jemaat. Persekutuan, kesaksian dan pelayanan HKBP harus diorganisir rapih. Jika tidak, maka jemaat akan sibuk bertengkar dan berkelahi tentang soal-soal sepele dan melupakan panggilan dan tujuan gereja yang sesungguhnya.

Akar konflik ke enam: Masalah Kepemimpinan
Pada akhirnya harus disebut ada faktor kepemimpinan. Menurutku lagi-lagi tersangkut dengan budaya. Dalam kultur Batak tidak dikenal kepemimpinan tunggal tetapi komunal. Semua orang Batak merasa dirinya raja, mampu dan berkuasa, dan ingin dihormati serta diakui perannya. Namun eforus Nababan tampil dengan kekuatan karakter pribadinya. Dia hampir-hampir menjadi “pemain tunggal” di HKBP, sebab itu banyak orang tersinggung dan melawan. Aku mendengar di kelompok sana, kepemimpinan Sekjen SM Siahaan juga digoyang. Aku suka bercanda, mungkin karena di Tanah Batak orang jarang melihat ada pohon kelapa. Pohon yang menjulang tinggi sendirian dianggap congkak karena itu harus digergaji. Dulu Eforus GHM Siahaan yang sangat low profile dihormati oleh orang-orang Batak ini.

Terus terang hal ini membuat aku takut dan ragu untuk maju. Aku tak ingin menonjol sendiri. Sejak itu aku sadar bahwa pada waktu-waktu tertentu aku harus mundur, sebelum aku dipotong atau dijatuhkan, bukan karena bikin kesalahan tetapi karena dianggap ingin menonjol sendirian. Tapi masalah tidak selesai juga. Akibat harus kerap mundur banyak program harus ditunda atau tidak selesai hanya dengan alasan agar jangan ada orang yang merasa disingkirkan atau kehilangan peran. Lagi-lagi ini menimbulkan pertanyaan dalam hatiku: mungkinkah gereja HKBP ini bergerak maju dengan kepemimpinan kolektif? Atau jangan-jangan HKBP hanya berputar-putar seperti gasing di tempat? Kepalaku sudah pusing. Aku tak mampu lagi mencernanya dan mencarikan solusi. Mungkin kalian yang muda-muda lebih mampu menangani masalah ini.


Siapa yang diuntungkan dalam konflik HKBP?

Ada satu pertanyaan menggoda dalam benakku: siapa yang paling diuntungkan dalam konflik HKBP ini baik di tingkat Pusat maupun di jemaat-jemaat lokal? Dengan bahasa lebih vulgar, siapa yang paling menarik keuntungan jika HKBP hancur? Aku berani menjawab cepat: bukan DR SAE Nababan, bukan PWT Simanjuntak, bukan SM Siahaan, bukan OPT Simorangkir, bukan Jend M Panggabean, bukan Laksamana Farel Parapat, atau tokoh-tokoh HKBP lain. Mereka semua tidak mendapat apa-apa bila HKBP hancur lebur. Lantas siapa? Aku tak tahu.

Aku tidak suka teori konspirasi. Aku bertanya lagi jangan-jangan memang kita harus kembali memakai pendekatan kultur Batak melihat masalah ini. Sebab ada pameo Batak: ndang di au ndang di ho tagonan disintak begu. Tidak untukku, tidak untukmu, biar diambil hantu. Jangan-jangan politik bumi hangus itu yang sedang terjadi. Jika itu yang terjadi, mungkin kita harus berdoa agar Tuhan menyuruh Nommensen bangkit lagi sebab kekristenan itu rupanya belum mengakar di jiwa Batak. Iman Kristen yang dibawa oleh Nommensen dan para misionaris itu mungkin baru sampai di kulit, wajah, rambut dan baju, dan sedikit bagian kepala. Entahlah. Aku lelah. Ya, aku lelah sekali.

Pesan moral: generasi muda HKBP jangan hanya mengeluh atau menggerutu apalagi dari jauh, namun lakukanlah sesuatu untuk HKBP. Lakukanlah sungguh-sungguh dan tulus bersama Tuhanmu!

Bersambung Ke: Gereja Yang Luka & Tak Menyerah (11)

Home: http://rumametmet.com

Share on Facebook

Tags: , , , , , ,

24 Responses to GEREJA YANG LUKA & TAK MENYERAH (10)

  1. Ingrid on April 8, 2007 at 9:53 pm

    Rendah hati. Hhhh…susah banget ya…
    Aku jadi inget, kejatuhan Lucifer adalah karena ketinggihatiannya….
    Aku rasa kita ga mau berakhir seperti Lucifer kan?

  2. Amelia on April 9, 2007 at 2:30 am

    Hallo Pak Daniel,
    Saya sangat (dan selalu) menggemari dan tersentuh oleh tulisan-tulisan Pak Daniel. Meski bukan HKBP, dan lebih senang menamai diri katolik sporadis (tidak punya afiliasi), tapi saya tetap selalu merenungkan gereja dan segala lika-likunya dalam perjalanan umat manusia. Saya berusaha beriman, dan berusaha tetap pada harapan. Tulisan-tulisan Bapak membantu saya untuk ingat akan iman dan harapan.

  3. Tulus on April 9, 2007 at 6:29 am

    Terima kasih banyak untuk tulisan amang, yang bagi saya banyak memberi nasehat kpd saya untuk terus mempersiapkan diri menjadi pelayanNYA yang baik dan siap menghadapi situasi tersulit sekalipun. Sungguh salut buat keberanian dan kejujuran amang dalam menuturkan cerita ini. Apalagi saya jadi lebih mengerti bagaimana liku2 konflik HKBP yang menyisakan luka lama itu. Saya akan terus menunggu dan menjadi pembaca setia tulisan2 amang (terutama gereja yang luka dan tak menyerah ini). Apalagi yang berhubungan dengan kependetaan.. Itung2 amang ‘nurunin’ ilmu positif buat calon2 pelayan seperti saya. Sekali lagi terima kasih banyak dan salut buat amang.

  4. indra on April 9, 2007 at 8:47 am

    “pemahaman yang memisahkan secara absolut yang rohani dan yang jasmani, surgawi dan duniawi, ibadah di gereja dan kehidupan sehari-hari”
    maaf jika saya sering memandang kehidupan jemaat termasuk saya sekarang sama seperti kehidupan mafia sisilia, yang dengan mudahnya membunuh orang hari ini,dan mengaku dosa pada hari minggu berikutnya,….:)
    karena memang pintu gereja kita hanya buka pada hari minggu,sementara cobaan,pergumulan,dan masalah kehidupan jemaat kadang sudah terlalu terlambat untuk diselesaikan pada hari Minggu!

  5. ruthh-duhh on April 9, 2007 at 4:47 pm

    Ijinkan saya menorehkan pendapat saya dalam kesempatan ini :

    Menurut saya, HKBP yang 99 % beranggotakan orang batak adalah terdiri dari orang2 yang rindu dan sangat mengasihi Tuhan Yesus, namun mereka masih sangat terbatas dalam pemahaman Alkitab. Hal itu di mata Tuhan menjadi sebuah jeritan yang mengharukan, itulah sebabnya ROHNYA bekerja dengan leluasa dan membuat hatiNYA tak tahan untuk tidak melakukan apa-apa. Akhirnya, diijinkanlah pencobaan itu terjadi, hanya dengan satu tujuan “MENDATANGKAN KEBAIKAN, BAGI MEREKA YANG MENGASIHI DIA dan TERPANGGIL sesuai dengan rencanaNYA” (Roma 8 :28). Makanya semua orang yang mengasihi DIA dan dipanggil sesuai dengan rencanaNYA, pasti telah memperoleh kebaikan setelah kejadian tersebut, sedangkan (maaf) yang kurang atau bahkan tidak mengasihi DIA atau memang tidak terpanggil, entah mengasihi apa atau dipanggil siapa, atau memang belum mengasihi DIA atau belum dipanggil, ya belum menemukan kebaikan yang dimaksud. Atau…. mereka mengasihi dan juga terpanggil sesuai rencanaNYA, tapi masih mengeraskan hati masih kali-kalian dengan jalan pikirannya yang masih dipenuhi dengan hikmat manusiawinya, ya …. itu juga belum merasakan kebaikanNYA, setelah kejadian itu. Karena sebenarnya ketika sesuatu terjadi dalam hidup kita, dan itu membuat kita terperangah, maka sebenarnya itulah saat terindah untuk kita datang kepadaNYA dengan kerendahan hati dan dengan hati yang hancur di hadapanNYA, sehingga sesuai dengan firmanNYA dalam 1 Yoh. 1: 9, yang berkata, “Jika kita mengaku segala dosa kita maka IA adalah setia dan adil dan IA akan mengampuni kita dari segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”, ini berbicara mengenai adanya pemulihan. Maka cepat atau lambat, semua pintu akan dibukakanNYA dan kita akan dimampukanNYA untuk melihat sebuah rahasia yang indah yang sudah lama IA persiapkan buat kita. Bagitulah, IA mau agar kita segera mengerti apa yang IA mau kita lakukan dan bukan kita paksa IA terus menerus harus mengikuti apa yang kita mau…..karena sangat disayangkan memang, banyak orang tak menyadari bahwa pelayanan kepada Tuhan tanpa sebuah pertobatan yang sungguh adalah sebuah kejahatan di mata Tuhan, sehingga aktivitas pelayanan itu tidak lagi membawa dupa yang harum di hadapanNYA, melainkan membawa bau busuk yang membuat jemaat Tuhan mabuk, pusing dan kehilangan damai sejahtera Tuhan. Demikianlah, menurut saya, hanya karena kasihNYAlah, jemaat HKBP akhirnya beribadah secara charismatic atau bahkan lari menikmati hadirat Tuhan pada ibadah2 charismatic dan bukan karena orang batak suka ngomong, makanya mereka lari ke Charismatic. Itulah salah satu dari kemurahan Tuhan yang IA nyatakan untuk memberi air yang segar dan murni kepada mereka yang haus akan kebenaranNYA.
    Sebagaimana doa banyak orang, sayapun turut berdoa, kiranya apa yang Tuhan mau, itulah yang akan dilakukan oleh pemimpin2 HKBP. Saya percaya, suatu saat HKBP akan dipakai Tuhan luar biasa, mereka akan menyembah Tuhan dalam Roh dan kebenaran, bukan hanya sebatas liturgis yang diulang2 menurut maunya manusia, namun mereka akan menyanyi menyembah dan berdoa menurut hati Bapanya.

    Karena…….
    “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” dan bukan aku yang memilih kemana aku akan bertumbuh di dalam Kristus, tetapi DIA, YESUS yang mengasihiku, yang tahu dengan pasti yang akan menuntunku dan menyediakan bagiku suatu tempat dimana aku dapat bertumbuh dalam pengenalan akan KRISTUS dan firmanNYA dan bukan pengenalan akan sebuah denominasi.

    Jika Tuhan mau, bisa jadi suatu saat orang2 yang telah meninggalkan HKBP akan kembali menjadi jemaat HKBP, tetapi tidak untuk mempertahankan sebuah denominasi dan nama besar HKBP, tapi mereka akan dipakai Tuhan untuk menjadi umat yang dipakai Tuhan secara luar biasa untuk meninggikan nama YESUS, nama YAHWEH, suatu nama yang lebih patut diagungkan daripada sekedar nama besar sebuah gereja atau sebuah denominasi.

    Demikianlah, saya percaya seorang hamba Tuhan yang dewasa, seperti itoku ini, akan dapat menanggapi tulisanku ini dengan kebesaran hati dan rasa persaudaraan diantara sesama hamba Tuhan. Kiranya tulisan ini dapat menjadi berkat bagi kita semua untuk kembali kepada kebenaran FirmanNYA, (Baca Yehezkiel 34).
    Tuhan Yesus Memberkati.

    Salam & Doa….
    Vera

  6. LE on April 10, 2007 at 7:56 am

    Yah, koq msh bersambung seh?? ^_^

  7. LE on April 10, 2007 at 7:58 am

    Yah, koq msh bersambung seh?? ^_^

  8. ECCO on April 11, 2007 at 4:06 am

    ada lagi amang akar kejatuhan HKBP,

    1.SULITNYA MENCARI TELADAN DI HKBP, PENDETA NGEROKOK, SINTUA NGEROKOK, GURU SEKOLAH MINGGU NGEROKOK….(rata2 pendeta HKBP tiap minggu khotbah tentang Yesus, tp tingkah laku lebih mirip Imam2 Farisi)akhirnya 80% jemaat pria HKBP telah menjadi perokok aktif

    saya ga mau bilang kalo ngerokok itu dosa amang, tapi saya rasa amang sadar BURUKNYA dampak langsung dan tidak langsung

    2. BURUKNYA PROSES PEMBINAAN KAUM MUDA (REGENERASI) di HKBP…..

    HKBP sangat kurang sekali memperhatikan kualitas pembinaan kaum mudanya, padahal justru di tangan kamilah (hehehe..) nantinya gereja ini, selain terutama di TANGAN TUHAN…dan itu sebabnya para kaum muda rame2 ikut kebaktian2/pembinaan2 Gereja Kharismatik…jujur aja mereka SANGAT MEMPERHATIKAN PROSES PEMBINAAN KAUM MUDA…jadi bukan karena anak muda batak hobi berperan dan berbicara…tapi memang sudah naluri alamiah seorang yang ingin maju (berkembang) untuk terus belajar hal2 baru…kalo di HKBP cuma itu2 aja,yah maaf aja amang…anak sekolah minggu sekarang udah lebih hafal lagu peterpan/ratu daripada lagu sekolah minggu….
    jadi kalo HKBP bertahan dengan metode lama, saya berani bilang kalo HKBP TIDAK AKAN BERKEMBANG!!!!mungkin yang terjadi hanya kesetiaan buta :)

    dibalik kritik keras saya amang, saya tidak akan meninggalkan HKBP, saya yakin HKBP adalah gereja penuh berkat ‘pendewasaan’ :-) yang perlu dirubah adalah paradigma orang2nya…jadi saya jg kurang setuju dengan temen2 kaum muda yang eksodus ke gereja lain, hehehe kalo kami (red.kaum muda) kabur siapa yang jadi kaum penuai HKBP hehehe..

    Tuhan memberkati amang

    eko sumando nababan
    -mantan ketua remaja hkbp cijantung. mantan kasubsie kerohanian naposobulung hkbp cijantung. sekarang bekerja di Serui, Papua-

  9. daniel harahap on April 11, 2007 at 9:39 pm

    pro vera dan ecco:
    thx atas komennya,
    bagaimana kalau kita gabungkan saja pendapat kita, orang Batak itu sangat gandrung kelompok kharismatik karena memang ingin bertumbuh dan maju, sekaligus karena dapat menyalurkan hobinya suka bicara (mandok hata), termasuk bicara kepada Tuhan, sehingga doanya juga puanjang-panjang sekali…. :-)

    daniel harahap

  10. Edward on April 12, 2007 at 1:32 am

    HKBP… hmmm… sedih, bosan, bingung, kesal.

    Tiap gereja hari minggu, hanya makan Nasi Putih (baca: Firman Tuhan) tanpa lauk-pauk (baca: Uraian Firman), penyajiannya (baca: Penyampaian Firman) pun.. kadang berlebihan.

    Tapi, Puji Tuhan! kita masih dikasih Nasi Putih-Nya barang 1-2 sendok nasi untuk menahan lapar. :-D

    Tetap semangat Amang! Tetap semangat untuk HKBP!

    Salam dari naposo yang jarang makan siang di rumah sendiri. :-D

    -EN-

  11. Imme on April 12, 2007 at 10:47 pm

    Hahaha….
    Amang… Komen2 nya blog Amang kayaknya udh bisa dibikinin satu category lagi nih…
    Pada jago2 euy yang ngasih komen juga.
    Emangnya aku, menceriakan suasana aja dengan komen2 “gak penting”…
    hihihi….

  12. evan sirait on February 5, 2008 at 11:48 pm

    Horas amang Pendeta Harahap, kenalkan nama saya evan sirait, aku sudah membaca tulisan amang tentang “anak penyu menggapai laut” dan “gereja yang luka dan tak menyerah 1-12″ dan aku tulis komen di bagian yg ke 10 karena isi tulisan bagian 11-12 menurutku sudah kurang relevan dengan judul tulisan amang.
    Pertama sekali saya sangat terkejut dan terkesan membaca tulisan amang yang saya mulai dari “anak penyu menggapai laut”, tentang bagaimana amang menjalani masa2 awal kependetaan amang, tentang cinta dan komitmen amang terhadap pelayanan di HKBP, tentang pendapat amang mengenai baik buruknya kondisi dan pengelolaan HKBP termasuk jika dibandingkan dengan gereja2 ‘baru’ jaman sekarang ini. Mohon maaf saat itu dalam benak saya muncul pertanyaan “Apa masih ada pendeta HKBP yang punya pola pikir seperti ini?”, saya sangat salut dan bangga membaca pemikiran2 yang cerdas dari amang pendeta serta itu jelas sekali menunjukkan kapabilitas amang yang sangat memadai menjadi seorang pemimpin, dan akhirnya saya berkata dalam hati semoga suatu saat amang menjadi pemimpin tertinggi di HKBP agar bisa mereformasi HKBP lagi ato mengembalikannya ke visi-misi nya Nommensen sang founding father HKBP. Selamat amang.
    —————-
    Tapi membaca tulisan amang mengenai gereja yang terluka jujur saja hatiku juga jadi terluka, mohon maaf sebelumnya klu pemikiranku tidak sepaham dengan amang dalam hal ini. Tidak seharusnya jemaat menjadi korban karena perseteruan kelompok pendeta, karena jemaat tidak pernah terlibat dalam penentuan kepemimpinan HKBP tapi kenapa karena para Pendeta tidak mampu bermusyawarah dengan baik untuk menentukan arah kepemimpinan HKBP maka jemaat menjadi dilibatkan dan harus tewas sia-sia; dimanakah sekarang jiwa orang yang mati karena keributan HKBP? (korban meninggal ada di 2 kelompok)

    Mohon maaf saya tidak setuju dengan ‘gerakan’ amang yang membawa masalah HKBP ke jemaat, seharusnya itu amang perjuangkan dengan sesama pendeta yang lain yang sepaham dengan amang dengan cara-cara yang simpatik dan damai.
    Kini masalah HKBP sudah dianggap selesai tetapi belum ada penjelasan yang detail tentang itu, termasuk dalam tulisan amang ini. Mungkin itu perlu juga diperjelas dan dijadikan buku agar para generasi muda HKBP dapat mengantisipasi permasalahan yg demikian.

    Akhir kata aku hanya bisa mengatakan semoga Tuhan Yesus menyertai amang dan menambahkan hikmat dan kebijaksanaan terhadap Amang agar kelak dipakai-Nya semakin luar biasa untuk melayani umatNya di HKBP. Mohon maaf kalau kata2 saya tidak mengenakkan.
    —Majulah HKBP untuk kemuliaan-Nya–

    salam.

  13. elumban on February 6, 2008 at 2:32 pm

    Horas Amang Pendeta
    Apa yang Amang Pendeta sampaikan pada bagian ini sangat benar. Dan bahkan boleh saya katakan siapapun yang kita tanya tentang kondisi HKBP dan perbaikan yang harus dilakukan pasti jawabannya dalam esensi yang sama dengan tulisan Amang ini. Hal ini sungguh mengherankan bagi saya, ibaratnya semuanya sudah tahu persoalannya juga sudah mengetahui solusinya, tapi kok ngak bisa dijalankan?. Aturan HKBP yang baru mengusung pradigma pelayanan yang berpusat kepada jemaat. Akan tetapi tidak ada implementasinya. Secara struktur organisasi sih dijalankann sesuai dengan aturan peraturan baru, tapi dalam konteks pelaksanaan masih dalam pradigma lama. Kami sering mengatakan bahwa parhalado kami adalah Politbiro Iman – Segala sesuatunya harus berdasarkan keputusan rapat parhalado -walaupun sudah diputuskan rapat jemaat.
    DTA menulis
    “Aku teringat lagi tulisan Kartini Syachrir (boru Panjaitan) di Majalah Prisma tahun 80-an. Tulisan doktor antropolog Boston tersebut membuat banyak orang marah pada saat itu . Dia mengatakan bahwa orang2 Batak di bawah sadar sudah merasa kalah di pentas nasional lantas karena itu ramai-ramai menarik diri ke dalam. Fenomena maraknya pembangunan tugu dan organisasi berdasarkan pengelompokan marga menurut Kartini adalah semacam bentuk kompensasi kekalahan masyarakat Batak dibidang ekonomi dan politik di pentas nasional itu.”
    Saya sangat setuju dengan statement ini. Dan barangkali hal ini juga harus menjadi suatu parameter yang harus dipikirkan untuk pembaharuan di HKBP. Banyak jemaat HKBP yang mendapatkan “panggungnya” di HKBP, hanya untuk kepuasan sendiri atau menonjolkan diri tapi menyimpang tapi tidak sesuai dengan misi gereja sendiri. Uang menjadi faktor utama bagi orang-orang kalah seperti ini untuk membeli tiket berpanggung di HKBP.
    DTA menulis:
    “Kedua: HKBP juga gagal (kurang berhasil?) mengkomunikasikan dirinya ke luar, untuk meyakinkan elemen-elemen lain bangsa ini bahwa jika HKBP kuat itu bukan ancaman tetapi keuntungan bagi bangsa dan negara ini. Aku berandai-andai. Seandainya HKBP waktu itu mampu mengkomunikasikan kepada masyarakat luas bahwa HKBP dapat memberi kontribusi bagi Indonesia yang pluralistik dan demokratis jika gereja ini dibiarkan tumbuh dan berkembang, tentulah sejarah akan lain ceritanya”
    Hal ini juga didukung oleh ketidak jelasan fungsi organisasi di gereja. Di level regional – Distrik misalnya, tidak ada kejelasan apa sebenarnya menjadi bobot fungsi kerja (Koinonia, Marturia dan Diakonia) dari Pareses, Pendeta Resort dan Pendeta Huria – semua mengerjakan semua, akibatnya tidak efektive. Barangkali dengan pemahaman seperti yang Amang tulis, mestinya fungsi Diakonia menjadi bobot yang lebih besar bagi seorang Pareses untuk lebih meningkatkan hubungan HKBP ke external.
    DTA menulis:
    “Pertama: kotbah banyak pendeta HKBP secara substansial kurang menjawab pergumulan-pergumulan nyata di jemaat”
    Seringkali saya mendengarkan kotbah pendeta yang sudah menjadi “Template”. Apa pun ayatnya, kotbahnya itu-itu juga. Seringkali saya berfikir, jangan-jangan para pendeta ini tidak mempersiapkan diri untuk kotbah, karena kotbahnya sama sekali tidak nyambung dengan almanak HKBP. Atau barangkali banyak juga pendeta yang tidak tahu bahwa jemaat HKBP juga “membeli” buku “Pajonok ma tu Debata”, yang dibaca jemaat sebelum mereka ke gereja. Sehingga masih “berani” masa bodoh dengan kotbah “template-nya”. Saya setuju – tidak mengingkari banyak pendeta HKBP yang hebat-hebat.
    Masih banyak yang bisa dikomentari tentang HKBP, tapi anak saya bilang – “ah, Anak kecil juga tau”.
    Ayah saya melayani di HKBP hampir 50 tahun, tapi dia tidak pernah mau jadi sintua. Suatu saat sebelum dia meninggal saya bertanya: “Apa yang membuat Bapak bisa bertahan melayani di HKBP selama itu?. Ayah saya berkata: “Kalau kamu mau melayani di HKBP dengan motivasi untuk memperbaiki sesuatu di HKBP, lebih baik kamu menjadi ruas biasa saja, karena bada yang akan datang, tapi kalau kamu ingin melayani di HKBP untuk memberikan kontribusi terbaik yang bisa kamu lakukan, lakukanlah”.
    Mungkin yang paling penting adalah berbuat. Memberikan kontribusi yang bisa membawa perbaikan di HKBP. Membaca tulisan anda memberikan banyak inspirasi.

  14. Rudy Sihombing on February 19, 2008 at 1:21 pm

    Amang Pdt Daniel, yang kalau Tuhan berkehendak, Amang akan melayani kami Jemaat HKBP Serpong. Saya mengucapkan SELAMAT MELAYANI.
    Kami sangat bersukacita karena Bapak di Surga melalui Kantor Pusat HKBP mengutus amang untuk bekerja di ladang Tuhan yang berlokasi di Serpong.

    Perlu kami ingatkan amang bahwa sebagian ruas HKBP Serpong itu sangat possesive yang artinya jemaat kita sangat menginginkan Pendetanya harus selalu memberikan waktu pelayanan penuh untuh kami. Dilain pihak dari talenta yang ada pada amang, seharusnya amang harus melayani lebih banyak jiwa terutama lewat RUMAMETMET ini. Jadi tolong nanti amang supaya bijaksana mengatur waktu, melayani ruas HKBP Serpong (mungkin nggak amang menghampiri rumah seluruh ruas, jemaat selalu rindu sentuhan pribadi seperti itu) dan juga banyak jiwa lagi ( bukan hanya hanya HKBP atau Kristen aja)
    Ada sedikit komentar tentang point 4, tentang point, yaitu tentang PARHALADO SEUMUR HIDUP.

    Pdt Dahlan Munthe ketika melayani di Serpong sering mendengungkan JEMAAT YANG MISSIONER atau JEMAAT YANG SALING MELAYANI. Siraman itu menghasilkan jemaat jemaat muda yang sangat ingin melayani. Ya, mereka bekerja melayani, tapi alangkah baiknya juga jika mereka menjadi pelayan yang formal. Tetapi itu terhambat karena masih terus bercokolnya kami sintua-sintua yang tidak muda lagi. Dan kami sintua yang tua sering merasa berjasa sehingga yang muda-muda kurang berkembang. Tolong konsep no 4, agar dimatangkan dan di implementasikan di HKBP Serpong.

  15. manurung on February 29, 2008 at 11:40 pm

    AMANG..saya tertarik dengan tulisan amang yang mengatakan:
    “kami para pendeta HKBP juga memiliki kelemahan dalam hal konseling. Aku tidak tahu apa penyebabnya, padahal di STT konseling adalah salah satu mata kuliah penting”.

    padahal, amang.. ini sangat penting!!!apalagi u kaum remaja, NHKBP, keluarga.
    saya jadi binggung, mata kuliah penting, dan sangat dibutuhkan jemaat tapi tidak bisa di interpretasikan?

    oia amang.. yang menjadi pertanyaan saya sejak remaja..kenapa jarang pendeta berkunjung ke rumah jemaat?kalo mamaku selalu bilang sibuk amang pendeta. apa gitu ya amang?

    satu lagi tentang kepemimpinan. kenapa pendeta (bukan hanya pendeta hkbp)kharisma kepemimpinan nya sama sekali tidak ada.malah yang sering saya lihat istri pendeta yang punya kharisma.

    tq amang….

  16. LAMBAS SIREGAR on March 3, 2008 at 1:57 pm

    sebagai mantan aktivis di HKBP saya mengamati keteladanan hidup/pertobatan dan pemahaman ajaran Alkitab/biblical persfektif para pendeta dan sintua sangat dominan mempengaruhi kehidupan HKBP. Untuk HKBP Serpong langkah strategis ke depan adalah pembinaan Khusus para sintua yang sebagian besar masih sangat kurang pemahaman Alkitabnya, hal ini membuat panggilan,cara,tujuan/motivasi dan paradigma mereka tentang pelayanan menjadi bias maka perlu waktu khusus diluar sermon mengadakan kelas pendidikan Teologi(dasar-dasar doktrin bagi hamba Tuhan) sebagai terobosan baru di HKBP. Kelas ini bisa menjadi tempat diskusi hangat melihat secara akurat dan luas bagi para sintua sebagai mitra pelayan pendeta dan sebagai representatif jemaat, memperlengkapi mereka secara kompeten melayani dan membangun HKBP bertumbuh di tengah-tengah kerasnya sekularisasi/ gereja semakin duniawi . Fakta bahwa HKBP kwalitasnya makin turun bisa juga disebabkan suamnya semangat para pelayan akibat kompetensi dan kapabilitas rohani para sintua. Saya memandang para sintua inilah ujung tombak yang membantu pendeta memberdayakan gereja secara kritis dan Alkitabiah supaya tidak sarat dengan konflik pertentangan . Penyelewengan gereja dimulai dari penyelewengan penafsiran maka mari kita mulai kelas pembinaan Alkitab sintua ini sebagai contoh/pilot project.

  17. RIKARDO SIAHAAN on August 16, 2008 at 4:48 am

    Kali ini saya mengamini tentang apa yang Bapak kemukakan.

    Sebagai penambah cerita waktu itu kami sedang makan di lapo ni Tondongta Pramuka, Luhut Pangaribuan pengacaranya Kelompok SAE Nababan ketemu dengan Jaksa (penuntut dari Pemerintah). Sang jaksa nanya sama Luhut: Sudah kemana para Pendeta itu kau bawa Luhut? Lalu Luhut menjawab ah kau bisa saja! Lalu Luhut kemudian bercerita : Lucu juga Pendeta HKBP ini, mereka memohon kepada saya: Tolonglah kami Luhut!, tudia be hami kalau kami kalah!!!. Lalu Luhut menjawab, ai pargabus dohamu huroha angka pendeta i. Waktu saya kecil dahulu sampai saya jadi pengacara khotbah kalian adalah: Sedangkan burung dilangit tidak menabur Tuhan kasih makan apalagi manusia, kenapa engkau harus khawatir!!!. Berarti khotbah kalian itu bohong dong??!! kata Luhut.
    Waktu itu saya hanya boleh menghapus dada : Kasihanlah kami HKBP ini dipermainkan orang-orang karena kebodohan kami.

    Cuma ada satu hal yang mungkin perlu Bapak Ungkapkan : Kemanakah para kelompok independen waktu itu?? Apakah mereka terlindas dengan kelompok yang bertikai???. Mudah-mudahan di masa Depan lebih banyak orang di HKBP yang masih tetap konservatif biar HKBP tetap exist. Sekali dia tidak lagi koneservatif hilanglah keunikannya. Improvementnnya adalah kiranya HKBP boleh menciptakan ratusan orang seperti Dr Einar Sitompul, Atau ratusan seperti Dr Daulay pindah ke HKBP dan makin banyak Pendeta HKBP yang mau belajar seperti Pdt DTA Harahap. Niscaya sustinabilitas HKBP akan makin mantab di dongani asi ni roha ni Tuhanta Pardenggan Basai.

    Daniel Harahap:
    Pertama: saya agak kurang percaya Luhut Pangaribuan berkata seperti itu. Saya kenal baik yang bersangkutan. Kapan2 saya cek apa dia mengatakan seperti itu dan apa maksudnya. (dan kenapa dulu dia tidak cerita bahwa dia sebagai pengacara hkbp ketemu jaksa penuntut di lapo pulak! :-) Dalam konflik 1990-an perjuangan lewat jalur hukum hanyalah salah satu bentuk perjuangan saya dan kawan-kawan. Kita sudah tahu bahwa kemungkinan kita akan kalah sebab hukum pada masa itu dibawah kendali rejim Orde Baru. Namun harus dicatat bahwa dengan jatuhnya Soeharto tahun 1998 dan dibubarkannya Bakorstanasda (lembaga yang sempat lancang dan lancung mengangkat pjs eforus hkbp) sebenarnya sudah merupakan bukti bahwa apa yang saya dan kawan2 perjuangkan benar. SK pengangkatan eforus hkbp oleh lembaga militer itu memang tidak pernah dicabut, namun lembaga itu dibubarkan karena dianggap tidak benar. Ya sama saja. :-)

    Kedua: saat konflik 1990-an melibatkan pihak pemerintah dan militer, sebab itu para pendeta tidak bisa netral. Pada saat itu semua dipaksa memilih. Tidak memilih artinya memilih pimpinan yang dibentuk dan disokong pemerintah dengan kekuatan angkatan perangnya.

    Ketiga: terima kasih atas sanjungannya. Ada banyak sekali pendeta HKBP yang konservatif. Yang terlalu konservatif juga banyak. :-)

  18. Oca Marbun on September 19, 2008 at 3:41 pm

    horass……..amang
    saya sangat terharu atas artikel amang ini.
    saya hanya ada satu pertanyaan ‘Kenapa jemaat HKBP itu suka berantem apalagi parhaladonya saling sikut menyikut???

    Daniel Harahap:
    Bukan suka berantem Oca, tetapi memang sengaja dipaksa berantem oleh orde baru supaya hansur. Tua ni ma nunga marujung orde baru i. :-)

  19. Magdalena on January 25, 2009 at 1:45 pm

    Saya sangat setuju…HKBP harus berubah.
    Waktu kecil sekolah minggu di HKBP, Pra Remaja di HKBP, Belajar Malua di HKBP, Malua juga di HKBP. Sayangnya habis malua tidak di HKBP. Pergi kemana ya NHKBPnya??

    Tapi HKBP juga terdiri dari berbagai manusia so HKBP juga manusia eh salah pelayan gerejanya juga manusia..Jadi mari membangun gereja dengan pelean eh salah peleaaaayanan yang berkualitas baik jemaat dan pengurus gereja. Nothing is impossible. Tuhan menyertai kita. Untuk tulang, nantulang, namboru, amang boru dan opung tolonglah carikan tempat magang di perusahaan. Saya sangat memerlukannya. Kalau ada hubungi vivi_magdalena@gmail.com

  20. Jeremy on January 26, 2009 at 11:16 pm

    HKBP sudah harus ada visi dan misi apalagi dah mau 150 tahun…
    Apa Visinya, mau dibawa kemana berjuta2 umat HKBP, Pimpinan harus mengingat inti penentu pengembangan gereja yang cukup penting
    1. Jemaat
    Potensi disini banyak sebenarnya, kalau HKBP mau menggunakan potensi yang baik dalam jemaat, betapa indahnya dan betapa berkembang dengan baiknya HKBP. Biasanya karena sudah banyak orang yang bisa dibilang “rohani”(dengan ijin yah amang, karena yang berhak ngomong rohani atau tidak Tuhan) berada di gereja, dan akhirnya menjadi stress tidak mau lagi mau kemana mengembangkannya lagi, jadi ada baiknya pimpinan HKBP mau menggunakan potensi jemaat kita yang mungkin dewasa dalam kerohanian untuk berkembang ke luar membawa HKBP. Ini yang tidak disadari Pimpinan. Masalah keuangan, banyak di jemaat bertitel SE,MBA Akt, MM dan lain2 yang berkaitan dengan ekonomi, kalaulah Pimpinan mau melibatkan mereka wahhh bisa dibilang HKBP Gereja Paling Transparan dan Accountable….
    2. Majelis. (dalam artian pendeta, guru, sintua, evangelis, diakon) hendaknya menjadi pelaksana pengejawantahan Amanat Agung dan amanat dari jemaat. Oleh karena itu betul kata amang, tidak baik adanya majelis seumur hidup. Pendeta kalau tahu betul2 tentu tidak ada jemaat yang akan ‘jajan’ atau mengatakan tidak semangatlah. Karena pendeta harus ditekankan lagi untuk mengulas firman pada kehidupan sehari-hari walaupun nanti ada jemaat yang sakit hati…
    3. Keputusan Rapat Huria dan Rapat Majelis. Inilah dokumentasi gereja yang formal, yang menjadi guideline, mau kemana gereja kita, apa yang belum dilaksanakan dan apa yang sudah, sehingga kalau ada yang asing2 mau masuk kita sudah ada guideline yang bagus untuk melangkah…

    Kalaulah tiga inti ini bisa dijalankan, mungkin VISI & MISI HKBP benar2 tercipta. Contoh Perusahaan besar pasti tentu punya target tahunan, bahkan target mingguan. Ini tentunya HKBP harus mempunyai target jangka panjang.

    Sistem Episkopal yang kita anut (betulkah amang?? atau sudah mix dengan Sistem Presbyterian??) harus bisa dirubah menjadi sistem yang lebih demokratis. Episkopal cenderung apa maunya Bishop diatas sehingga gesekan2 dengan jemaat sering ada. Kita ini dibilang organisasi gereja di Indonesia paling bagus, top , tapi pelaksanaannya weleh2… Sistem Struktur Pemerintahan Gereja yang ini harus bisa dikaji lagi ke depannya..

    Mungkin itu aja amang, mungkin saudara2 ada yang mau nambah lagi.. :)

  21. Lisbon Tumpal Pardamean Nababan on March 2, 2009 at 6:41 pm

    Wah, saya agak terharu membaca penjelasan disini…
    detil dan memang apa adanya..
    saya juga pernah mengalami perpecahan HKBP di jalan Riau Bandung..
    sedih juga sih…
    mudah2an tulisan ini bisa membuka mata semua intelek2 HKBP yang mungkin sampai saat ini masih tutup mata karena enaknya kursi panas.. :)

    HOras

  22. rani nainggolan on May 14, 2009 at 2:25 pm

    Horas amang..
    saya adalah jemaat hkbp balige. saya sangat mencintai hkbp dengan semua kekuatan dan kelemahannya.

    saat ini, saya sedang berencana mengajukan proposal skripsi dengan tema besarnya hkbp. Oh ya, saya hampir lupa kalai saya adalah mahasiswa psikologi ui.

    Saya memiliki kerinduan untuk mengaplikasikan ilmu saya di hkbp.
    Oleh karena itu saya berharap amang dapat membantu saya.


    Daniel Harahap:
    HKBP butuh lebih banyak psikolog membantunya menganalisis jiwanya. :-) Apa konkretnya bisa saya bantu? Kontak via email saja.

  23. yosua sidabutar on December 26, 2012 at 4:53 pm

    syalom amang,

    artikel yang menarik tapi kedepan dengan pembawaan orang batak yang arogan dan tidak mau rendah diri mungkinkah banyak generasi muda yang akan berkata seperti ini??”saya cukup bergereja saja setiap hari minggu ke HKBP asalkan sudah kasih persembahan dan perpuluhan sudah cukuplah itu, saya tidak mau terlalu ikut campur daripada nanti jadi bahan omongan di gereja oleh punguan inilah..itulah mendingan jadi jemaat biasa aja lah damai-damai aja..”

    tapi artikel yang sangat menarik amang..boleh kita kontak2 via email amang?

    GBU

  24. Naldy Lubis on February 7, 2013 at 3:03 pm

    Intinya..

    Jika HKBP mau maju..
    Didik anak muda hkbp.
    Anggaran hkbp untk nap0so bulung hanya 3% dri keuangan greja.
    Sdangkan buat ama/ina.
    Hampir 75%..

    Perkuat mengay0mi gen muda hkbp..
    Ciptakan wadah yg bisa brs0sialisasi..dan br0rganisasi..

    Didik gen muda hkbp ke arah yg lbh maju.
    Dan mampu tampil d pentas nasi0nal..

    Gen muda lemah.
    Karna memang kurang d prhatikan.

    Kalau sudah bgni.
    Gmana nasib hkbp k dpan nya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*