DTA PERGI KE AMERIKA (3)

April 12, 2006
By

Senin 1 April: Berakhirnya musim madu.

Lewat jam tiga sore, sesudah kelas bubar. Aku duduk sendiri di depan Baker Center dengan sebotol Pepsi. Matahari musim semi kembali sukses menggoda banyak orang muda berjemur di taman kampus di seberang Baker Center tempatku duduk. Sebagian berbaring menelungkup sebagian menelentang. Bercanda gembira atau asyik sendirinya membaca. Duduk hening atau berlari-lari kecil keliling kampus dengan musik menyempal kuping. Namun tak seorang pun memanggil namaku. Mahluk-mahluk aneka warna: kuning, coklat, merah dan hitam serta putih, malang-melintang dari dan ke berbagai arah. Tak satu orang pun jua yang menoleh aku. Laki-laki bule bercelana jins melorot dan perempuan-perempuan bule bercelana super pendek. Tidak seorangpun menyapa apalagi menginginkan aku. Mahasiswa2 kaya Jepang dan anak-anak benua miskin Afrika. Tak satu pun kawanku. Aku duduk gelisah di tangga batu Baker Center yang dinginnya menusuk pantat.

Akhirnya kupanggul ranselku ogah-ogahan, berjalan pelan-pelan tak mengarah kepada satu tujuan. Jiwaku kosong, ranselku ringan, namun langkahku sangat berat dan lambat mengitari Athens yang kecil.
Inikah yang dinamakan “culture shock” itu?

Tadinya kupikir aku tidak akan mengalami kejutan budaya atau “culture shock” di Amerika ini, sebab aku sudah membaca Toffler sejak mahasiswa tingkat persiapan di STT Jakarta, aku rajin membaca buku dan menaruh minat kepada kultur internasional dan proses globalisasi, aku juga dibesarkan di kampus liberal dengan dosen2 liberal Amerika, terutama aku selalu memelihara jiwaku dan merasa sangat terbuka kepada ide kebebasan dan pembaharuan. Namun kini di kota kecil Athens di negara bagian Ohio Amerika, aku merasa diriku tidak hanya dikejutkan, namun benar2 dilemparkan membentur cermin yang kejam. Dan aku menangis ketakutan menyaksikan diriku sendiri.

Mukaku basah sembab. Dadaku sesak. Rasanya mau meledak, menahan ronta beraduk teriak dari dalam. Tidak tahu mau kemana, tidak punya seorang pun teman apalagi sahabat, aku pulang ke tempat tinggalku di 19 Park Place. Aku membuang nafas. Kulihat diriku. Layu. Kering. Tua sekali. Aku merasa mual dan muak sekali. Apa yang kau cari Dani? Kupanggil namaku sendiri. Apa sebenarnya yang ingin kau tuju, Dani? Kusebut namaku lagi. Kenapa kau ada di sini jika hanya untuk merasa dirimu tak bermakna, tak berguna? Bukankah di Jakarta hidupmu begitu bagus jiwamu mulia? Oh betapa bodohnya kamu. Aku.

Mataku meleleh lagi. Tapi aku tak perduli. Aku tak malu lagi menangis. Danau kaca bening. Angin menghembus dingin. Burung-burung melintas langit-langit. Aku pun melihat kembali hari-hariku yang pernah agung. Ya, perjalananku yang sederhana tapi mulia sebagai pendeta mulai dari kota kecil Sibolga Julu, Pearaja Tarutung, Palembang, Jatiwaringin dan akhirnya Rawamangun (disela potongan2 pendek di Jl. Jambu Menteng). Rasanya membanggakan. Tanpa harus menyombongkan diri, aku boleh mengatakan aku punya sejarah sukses yang panjang. Kecil atau besar, aku berkarya di dunia. Aku dibutuhkan banyak orang. Juga oleh istri dan anak-anakku. Aku, Martha, Kika, Nina dan Willy bahagia. Terutama aku bangga menjadi diriku. Bahkan aku bangga jadi pendeta HKBP tanpa jabatan dan bekerja di tengah2 pemuda. Kebanggaan itu terjadi berkepanjangan. Saban prestasi dalam tantangan meneguhkan komitmen kependetaan dan kepribadian. Setiap karya membuahkan kebahagiaan. Namun disini dan kini semua itu hilang lenyap sekejap. Aku ternyata cuma sekerat tongkol jagung di pinggir jalan ramai. Ampas tebu. Debu berbau. Tanpa harga. Tidak diperlukan siapa-siapa. Padahal baru seminggu yang lalu di Jakarta, tepatnya di Rawamangun aku menemukan diriku bahagia haru di pucak kesekian pelayananku sebagai pendeta HKBP, dan dilepas penuh cinta oleh kawan-kawanku dan murid-muridku naposo Rawamangun di Bandara Sukarno-Hatta Cengkareng.

Minggu 7 April: gereja tak gereja

Hampir seminggu disiksa sepi, aku pergi ke kebaktian pagi itu di gereja Lutheran lagi. Sendiri lagi. Jalan kaki tak sampai sepuluh menit. Sebelumnya aku minum kopi di Perk Cafe di depan toko buku Folett. Tapi rupanya aku datang pada jam yang salah. Terlalu lambat untuk kebaktian jam 08.30. Terlalu cepat untuk kebaktian jam 11.00. Namun masalah yang lebih besar karena, perasaanku tak seorang pun mau tahu atau perduli aku ada di situ. Mungkin perasaanku terlalu sensitif. Tapi yang pasti pagi itu aku merasa gereja Lutheran Athens berubah dari teh manis hangat menjadi es batu. Bayangkan, aku sudah mendekat, berdiri lama-lama di depan papan pengumuman, dekat pintu masuk, berharap ingin disapa, tapi perempuan gemuk tua yang minggu lalu itu begitu hormat dan ramahnya sekarang betul-betul cuek. Sepasang keluarga dengan dua anak nya yang baru pulang Sekolah Minggu bahkan sedetik pun merasa tak faedah menoleh kepadaku. Aduh betapa sakit dan malunya. Di gereja (baca: g-e-r-e-j-a) pun aku tidak dipandang apalagi dijadikan sahabat. Pulang? Malu aku. Bertahan? Malu tambah kaku tambah kikuk. Setelah bimbang, aku jadinya memilih yang kedua. Namun mengurangi rasa malu aku pura-pura asyik mengambil foto, pura-pura duduk santai di teras, dan seolah-olah tidak ada masalah. Lantas, aku pun masuk ke ruang ibadah seakan-akan gagah. Tak lama. Sebab begitu duduk di bangku paling pinggir baris ketiga dari belakang di gereja itu badanku langsung mengerut.

Satu per satu anggota jemaat Lutheran Amerika Athens itu datang dan lantas mengambil tempat di kursi depan, di samping, di belakang, di kursi sana-sini, namun tidak di dekatku. Kenyataan itu makin memukul harga diriku. Ruang kebaktian minggu ini, berbeda dengan minggu lalu, agak penuh. Tapi bangku barisanku cuma aku. Ya cuma aku sendiri! Mengapa tanyaku? Jawabku: karena aku Asia, Indonesia, pendeta miskin dan tidak bisa berbahasa Inggris! Sedih. Karena bajuku tidak bagus! Lantas aku merasa tubuhku kian mengecil dan jiwaku kian mengerdil di negeri adidaya, super super maju dan super kaya ini. Mengerikan sekali rupanya hidup ini. Aku sudah seperti lalat namun masih kesulitan juga mencari tempat bersembunyi. Mengapa aku harus ada disini?

Perasaanku waktu berjalan terlalu lama. Capek aku menahan resah. Namun akhirnya, kebaktian jam 11 siang pun dimulai, seperti minggu lalu juga, dengan sapaan informal pendeta kepada warga jemaatnya. Ya, kepada mereka (bukan kepadaku). Lantas jemaat Amerika ini pun memuji Tuhannya. Lantas, pada waktunya, kotbah pun dilayankan oleh pendeta baru bernama Steve (rambutnya dikuncir dan kupingnya bertindik satu). Jujur saja aku sama sekali tidak mengerti kotbahnya. Namun entah mengapa, saban kali aku berusaha mengangkat kepalaku, pura-pura menyimak dia, dan saban kali lagi kepalaku kembali merunduk. Terakhir, setelah lelah menahan malu, aku tertidur lelap dan terbangun lagi persis kebaktian baru usai. Aku pun bergegas pulang dari gereja putih itu dengan tangan bersembunyi dibalik jaket. Tak satu pun yang mengisi jiwaku. Capek. Suntuk. Lapar.

Selasa 9 April: malaikat di tengah sepi

Selama berhari-hari sepi mencekam. Aku malas mengikuti kursus, apalagi mengerjakan tugas-tugas rumah. Sejak Senin kemarin aku bahkan sangat segan bangun pagi dan rasanya ingin membungkus diriku terus pakai selimut tebal. Aku merasa lebih aman meringkuk sendiri di tempat tidurku dan menghibur diriku dengan alasan, ketimbang aku merasa tidak diperlukan di luar sana. Ya aku ingin berondok saja. Namun mungkin Tuhan tidak ingin hambaNya terlalu lama menderita. Mungkin Dia tahu batasku. Sebab itu Dia mengirim lagi seorang malaikat lagi untukku. Malaikat itu kelahiran Belanda namun lama tinggal di Amerika. Dia ingin mengajarkan aku bagaimana mengubah sepi ini menjadi hening. Mengubah hening jadi damai. Mengubah kesendirian menjadi solitude. Nama malaikatku: Henry J.M. Nouwen. Aku bertemu dengan rohnya ketika membaca kata demi kata dalam bukunya: Solitude. Buku kecil itu tak sengaja kutemukan lantas kubeli di Toko Buku Little Professor. Indah dan damai sekali rasanya, membayangkan sunyi menjadi hening, dan sepi jadi damai. Namun kusadar lagi itu sungguh tidak mudah.

Namun aku merasa kejiwaanku sedikit lebih baik setelah berjumpa Nouwen. Memang aku tetap sepi dan sendiri. Namun aku tidak begitu tersiksa lagi.

Sekonyong-konyong aku ingat lagi perumpamaan Yesus tentang sesama manusia. (Jujur saja, sejak sampai di bumi Amerika aku tidak pernah menyentuh Alkitab). Kau tidak pernah boleh memilih temanmu, Dani, kataku kepada diriku sendiri. Temanmu, sesama-mu, bukanlah orang yang kaucari atau kauimpikan, tetapi orang yang sekarang ada dekatmu, yang dipilihkanNya bersamamu dalam hidupmu kini disini. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berusaha memberi tempat bagi kata-kata Tuhan itu di dalam hatiku.

Hari itu aku bertemu Adrian Budiman (anaknya Arief Budiman) ditraktir makan siang di Nelson Dining Hall sebelum diajari memesan laptop lewat internet, berhubung laptopku yang kubawa dari Indonesia rusak dan selalu mati tiba2 bila konek. Suami dari Tiwi, ayah dari Aditya dan Amira ini sangat tulus membantu aku.

Lantas di mataku terbayang lagi wajah sejumlah orang di saban hari, berjumpa denganku tanpa harus kucari atau kudambakan, namun kutahu senyumnya bersahabat dan bukan sekedar hanya ingin disebut: friendly atau ramah basa-basi. Aku membayangkan wajah2 anak negeriku sendiri: Eski, Adrian, Putut, Yoga, Rudi dan mbak Erda, Farid, Sandra Nahder (laki2 padang), Qoshin, Lina, Wina, Elis dan Anis (dua2nya yang terakhir berjilbab). Kecuali Lina dan Wina, mereka semuanya muslim dan muslimat yang taat. Dan merekalah yang selama ini membantuku tulus, dan tidak pernah menolak bila dimintai tolong. Inilah kawanku, tidak hanya di retret atau masa sabatikal ini, tapi mungkin juga kawanku di masa depan setelah aku kembali ke dunia nyataku: Indonesia. Mungkin aku tidak pernah memimpikan mereka atau mengharapkan mereka ada di dekatku, namun merekalah orang Samaria yang baik hati itu: orang yang tersedia bagiku ketika aku membutuhkannya.

Lantas entah kenapa aku mengingat wajah Abdullah, mahasiswa S1 asal Saudi Arabia yang selalu kebagian tugas menggorok leher unta saban Idul Qurban di negerinya, temanku ngobrol enak di kampus. Juga Suzi Tan, gadis kerempeng China-Malaysia, Buddhis, 19-tahun yang selalu memanggil aku “uncle” dan merasa satu-satunya orang Malaysia di dunia Amerika. Untuk pertama kalinya setelah musim madu berakhir aku akhirnya dapat senyum lagi.

Home: http://rumametmet.com

Share on Facebook

4 Responses to DTA PERGI KE AMERIKA (3)

  1. MartinManurung on April 29, 2006 at 7:30 am

    Amang, itu mungkin bukan cultural shock, tapi personal shock. Aku juga mengalaminya 3 bulan pertama di UK. TO BE NOBODY! Tapi, setelah aku berdamai dengan diriku, justru semuanya menjadi enteng. Menjadi NOBODY itu ternyata enak juga. Kita bisa belajar lebih sabar ketika diacuhkan, dilecehkan dan dianggap tak penting. Kita bisa belajar lebih menerima banyak hal yang kita tak bisa terima. Kita bisa belajar untuk belajar! Selamat!

  2. tHA TORUZ on May 3, 2006 at 2:32 am

    Wah…sepertinya ada lagu yang agak pas buat keterasingan amang itu. judulnya Englishman in New York by STING
    “….Im an alien ……im a legal alien…..
    It takes a man to suffer ignorance and smile…”

    About the new Piercing Priest: ” Mister, belom pernah tugas di HKBP ya? Tau gak sich, saya& temen saya IT azza takut2 mo nge-cat rambut. Padahal ngecatnya juga gak ekstrim2 amat, cuma warna coklat tua. Itu kita b-2 cm pelayan doank, gimana Amang Steve yg pendeta? :D

  3. Riris on May 9, 2006 at 6:49 pm

    Ga usah di negeri orang, di negeri sendiri aja kadang2 kita sering ‘merasa sepi di keramaian’.

    Kecil mah itu…. :D

    I believe that you can through it, Challenger!

  4. parulian simarmata on May 30, 2008 at 10:00 am

    Bersyukur lah amang menganggap itu cultural Shock, saya pernah mengganggap diri saya yang wajah asia ini seolah dianggap berbahaya yang ketika menyapa dan bercanda dengan anak anak kecil yang lagi bermain setelah di lihat ibunya langsung si anak ditarik dan dibawa pergi menjauhi saya. Oh ya saya jadi teringat di bonceng Adrian Budiman naik motor GL Pro yang dipinjam dari sepupunya di Bandung 21 tahun lalu. Memang Adrian itu orang yang baik dan tulus membantu, bukan dikarenakan nama besar papanya dan Ibunya yang psikolog hebat itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*