DTA PERGI KE AMERIKA (2)

Selasa 21 Maret: KTP Ohio
Hujan salju terakhir musim dingin 2006 ini kayaknya bukan membuyarkan namun menambah semangat Eski dan terutama Ron mendampingi aku masuk yang lebih jauh ke dalam realita Amerika. Hari itu tugas penting lainnya adalah membuat State ID atau KTP Ohio. Menurut Eski, dengan kartu State ID itu aku bisa keliling AS(tentu saja kalau punya uang cukup hehehe) tanpa harus membawa paspor, dan dengan State ID itu aku juga bebas membeli bir atau wine di bar :-) (tanpa harus menunjukkan paspor bahwa aku sudah di atas 21 tahun, sesuai hukum).

Proses membikin KTP Ohio ini ternyata mudah sekali, jauh lebih mudah dari memperpanjang SIM di Daan Mogot. Dalam tempo lima belas menit semua sudah beres dan aku cukup membayar 8 dollar 25 sen dengan tanda terima resmi. Kini aku punya: KTP Ohio. Wah, entah kenapa ada rasa bangga memilikinya. Entah kenapa aku merasa statusku sedikit lebih tinggi dibanding mayoritas penduduk Indonesia. Kenapa ya? Kini aku memiliki sejumlah kartu identitas di negeri raksasa on line ini: Kartu Mahasiswa Ohio University, KTP Ohio, kartu debit Chase. Yang terakhir ini pun mudah sekali membuatnya. Hanya sekedar menunjukkan paspor dan isi formulir tanpa ditanya macam-macam.

Lantas apa lagi yang kuperlukan selain berjalan gagah? Sekarang Eski mengajak aku membeli kalung dompet di toko buku Frowlett. Katanya, agar semua kartu identitas dan kunci rumah bisa digantung di leherku. Praktis kan. Jadi aku tidak mungkin kehilangan hal2 penting tersebut kecuali aku lebih dulu kehilangan leherku. Hahahaha. Ide yang sangat brilyant dari seorang jurnalis perempuan yang biasa bertugas di daerah konflik.

 

bromley-hall.JPG

Bromley Hall

Bromley Hall, gedung berlantai 9, adalah salah satu asrama mahasiswa Ohio University. Inilah tempat tinggalku sementara, tepatnya di lantai 2 di kamar 223. Biasanya ini asrama anak2 S1 atau undergraduate. Tapi berhubung sedang spring break asrama ini dikosongkan. Tidak ada seorang pun yang boleh tinggal kecuali tamu2 “spesial” semacam aku. Menurutku asrama ini mewah (apalagi bila dibandingkan dengan asrama Sekolah Tinggi Teologia Jakarta jamanku dulu tahun 80-an). Tiap kamar berisi 2 tempat tidur, dua lemari pakaian, satu kulkas, satu microwave, satu komputer+printer. Kamar mandinya dan washtafel sharing dengan kamar sebelah dihubungkan dengan conecting door.

Sebenarnya aku sudah masuk Bromley Hall hari Senin. Tapi baru di hari Selasa aku menemukan “harta karun” sangat berharga di kamarku, yaitu sinyal koneksi internet. Ah, terpujilah Tuhan, Allah Israel, yang telah menunjukkan tanda-tanda kehidupan kepadaku, gumamku bermazmur seorang diri. Aku pun mulai merintis kontak lagi dengan dunia nyata selain Amerika. Ya, duniaku sebenar-benarnya. Hello hello Palembang, di sini Ohio! Hello hello Palembang, disini Bapak Daniel. Apa kabar? Email dicinta email tiba. Panggil berbalas sapa. Aduh senang dan harunya membaca email pertama Martha, istriku, setelah kami dipisahkan jarak ribuan mil. Lebih senang lagi aku, membaca kabar mereka baik-baik dan gembira-gembira saja di Palembang. Kami pun merancang waktu chat: pagi di sana sore di sini. Chatting pertamaku dengan Martha dan anak-anak rasanya seperti kencan pertama sepuluh tahun yang lalu! Bedanya dulu tidak ada Kika, Nina dan Willy. Kedua anakku, Kika dan Nina excited sekali tiba-tiba menemukan kembali bapaknya di layar komputer. Aku sengaja membuat font raksasa-32 merah jambu menyapa anak-anakku, terus-menerus menghujani mereka dengan kata-kata sayang dan foto-foto baruku di amerika raya. Sementara Nina sangat suka memencet ikon buzz membuat layar monitorku saban-saban tergoncang hebat. Rasanya asyik dan bahagia.

 

 

Rabu 22 Maret: Orientasi Mahasiswa Internasional

Aku sudah mulai disapih, belajar sendirian. Habis sarapan gulai tempe dan telur di rumah Yoga, seorang guru SMU Muhamaddyah yang sedang studi S2 disini, aku ditinggal untuk ikut orientasi di Script Hall. Sebagaimana lazimnya, seluruh mahasiswa internasional yang hendak belajar di Ohio University diwajibkan ikut orientasi. Kegiatan orientasi ini didahului dengan yang namanya refreshment atau makan-makan ringan. Asyik juga. Aku sengaja mengambil sebanyak-banyaknya buah, terutama anggur, terutama lagi anggur hijau. Kopinya aku ngga begitu suka, tapi berhubung disini tidak ada merek kapal api kesukaanku, ya sudahlah. Bukankah kita harus selalu bersyukur untuk apa yang ada?

Orientasi itu dipandu oleh dua orang remaja dengan gaya cuek sedikit slenge’an yang kusuka, yang satu bernama Rainny berasal dari Thailand, yang kedua bernama Rhena, asal Turki. Belakangan kutahu, mereka adalah mahasiswa S1 yang sedang bekerja di musim libur (mungkin untuk mendapatkan uang atau karena ikatan beasiswa). Namun cara kerja mereka sangat profesional, dan terutama keduanya begitu percaya diri.

Jumlah mahasiswa ikut tidak banyak, hanya belasan orang. Begitulah katanya kalau musim semi, sepi. Jika musim gugur, yang ikut bisa ratusan orang. Apa sebenarnya orientasi di OU? Yang jelas bukan plonco, apalagi gaya STPDN. Ini benar2 orientasi membantu mahasiswa manca-negara masuk ke dalam proses belajar-mengajar dan kehidupan kampus raksasa, moderen dan teknologi minded. Aku lupa persisnya, tapi ada sebelas atau dua belas orang yang ngomong, masing-masing 10 menit. Mulai dari masalah pendaftaran, perpustakaan, kesehatan, housing atau cara mencari rumah, culture schock, konsultasi psikologi, jasa transportasi, keamanan, peraturan tentang pelecahan seksual, parkir, makanan, belanja, ruang rekreasi dll. Aku cuma terkagum2 saja. Ternyata kehidupan Ohio University ini sudah dirancang sedemikian baik dan terpadu. Tidak ada ceramah-ceramah panjang. Semua informasi sudah disediakan tertulis dan ada di website universitas. Yang mereka lakukan hanya memberi pengantar dan penjelasan. Sebentar2 aku membayangkan situasi kampus di Indonesia, membayangkan HKBP, membayangkan diriku sendiri. Karena tujuanku kemari adalah belajar bahasa Inggris, dan semua informasi disediakan dalam bahasa Inggris, jadinya aku benar-benar menyimak hendak memahaminya. Jika aku ngga tahu artinya, aku harus mengeceknya di kamus yang ada di PDAku, kemudian aku manggut-manggut lagi.

Orientasi yang dimulai tepat jam 12 siang dengan lima belas menit break berakhir dengan happy ending jam 17.00. Seluruh peserta diajak makan malam bersama di restoran buffee China King. Aku mengambil sedikit nasi, banyak udang, banyak jamur, dan sedikit ayam, dan banyak buah. Kenyang sekali.

tupai-ohio-university.JPG

Kamis 23 Maret: kampus bermaskot kucing tapi ramai tupai
Setiap kampus di Amerika punya maskot. Ohio University maskotnya kucing, yang diberi nama Bob. Ya, Bobcat. Tapi kucing itu perutnya gendut. Kutanya kepada teman-2 Amerika kenapa kuncing perutnya gendut, mereka bilang karena kebanyakan minum bir. Hahahaha. Ohio University memang terkenal dengan kota peminum. Kota kecil Athens yang lebih kecil dari Salatiga ini bayangkan memiliki 24 bar dan pub! Namun jangan harapkan juga ketemu dengan orang mabuk berjalan miring membawa botol bir dan menantang “ise do jago dison?” . Peraturan negara bagian Ohio sangat ketat. Usia minimum untuk dapat minum alkohol 21 tahun. Dan orang hanya boleh minum alkohol di dalam bar atau di rumah pribadi. Hukumannya sangat berat jika melanggar. Aku kagum sekali. Di satu pihak negara ini sangat bebas, tapi di lain pihak hukumnya sangat ketat. Di negeriku, orang tidak bebas tapi hukumnya sangat longgar. Macam mana pula ini? :-) Tapi jujur, bukan takut dibaca istri, selain BW3BG aku tidak tahu kondisi bar yang lain. Cuma dengar-dengar saja dan lagi pula kurasa umurku sudah terlalu tua untuk mencoba semua bar itu. Alasan terakhir, tentu: aku pendeta. :-)

Namun walaupun kampus ini bermaskot kucing kebanyakan minum bir, aku belum pernah menemukan seekor kucing pun berkeliaran. Yang banyak justru tupai. Tahu bahasa Inggris tupai? Squirrel. Ya, s-q-u-i-r-r-e-l. Hehehehe. Aku kesini kan untuk memperbaiki bahasa Inggrisku, jadi harus terus memperbanyak kosa kataku. Tupai2 itu berkeliaran bebas di taman2 kampus yang sangat indah ini. Tak seorang pun mengganggunya. Aku pun tidak. Aku cuma memandangi hewan berekor kembang ini yang begitu bebas berkejaran di rumput dan di dahan pohon yang masih meranggas menunggu saat bertunas. Dan hatiku terasa damai memandangnya.


Jumat 24 Maret pindah ke rumah baru
Bromley Hall hanyalah tempat tinggalku sementara. Aku hanya diberi waktu sampai hari Minggu. Terus terang saja, aku tidak tahu bagaimana mencari tempat tinggal permanen. Aku pasrah saja kepada pertolongan Tuhan yang datang melalui malaikat-malaikat bertubuh berjiwa. Lagi-lagi Eski dan Ron yang berpikir untuk aku. Tiga hari yang lalu Eski dan Ron d memperkenalkan aku dengan DR. Elizabeth Collins. Perempuan yang tampangnya ringkih dan dekat uzur ini adalah professor ilmu agama-agama di OU, dia pernah tinggal di Palembang (dan menganggap Palembang kotanya yang kedua). Suaminya pernah mengadakan penelitian tentang perempuan Pasamah didekat Pagar Alam Lahat. Dia kayaknya semakin antusias, ketika kukatakan mertua dan istriku lahir di Palembang dan sekarang masih tinggal di sana. Dr Collins berjanji akan mencarikan aku tempat tinggal. Katanya dia akan menghubungi George, pemain organ di gereja Lutheran.

Jumat siang itu Dr Collins sibuk mencari aku sejak pagi. Aku sedang ikut orientasi khusus peserta OPIE (kursus bahasa inggris intensif yang diselenggarakan OU). Siangnya kami janjian ketemu di perpustakaan Alden, Dr Collins yang menghampiri aku. Dia mengajak aku ke rumah George, sahabatnya, pemain organ gereja Lutheran itu. Rumahnya ternyata persis di depan perpustakaan, di jantung kampus Universitas Ohio, dan di samping rumah Presiden atau Rektor Universitas Ohio. Wah. Aku kaget sekali, tadinya kupikir George itu anak muda, yang berjiwa melayani dan hobbi main organ digereja. Rupanya pemain organ itu professor agama-agama. Aku seperti mendapat durian kupas tanpa biji terhidang di nampan. Lezat sekali. Bahasa Palembangnya: ladas nian oii. Prof George Weckman mengijinkan aku tinggal di rumahnya (katanya karena aku pendeta lutheran, ada enaknya juga rupanya jadi pendeta hkbp hahaha), memberikan aku sebuah kamar di lantai 2 dengan kamar mandi sendiri dengan penghangat ruangan dan AC (saatnya akan tiba diperlukan). Ada tempat tidur, meja, lemari dan kursi yang kutaksir umurnya sudah lebih seabad, namun kukuh, dan tak dimakan rayap. Antik. Persis seantik yang punya rumah, kataku dalam hati. Berita tentang aku mendapat tempat tinggal di samping rumah Presiden OU segera menjalar di kalangan anak-anak Indonesia. Kayaknya mereka bingung bagaimana aku bisa tinggal bertetangga dengan Presiden OU Jack Davis. Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas, jarak antara rumahku dengan perpustaaan hanya empat puluh meter dan dengan tempat kursus seratus meter. Satu lagi yang terpenting: ada sinyal gratis koneksi internet wyreless kecepatan tinggi.

Sabtu 25 Maret Nina sembuh Willy sakit.

SMS Martha benar-benar mengganggu aku. “Nina sudah mulai pulih, doakan Willy, pa, sudah beberapa hari demamnya ngga turun-turun”. Tentu saja Martha tulus meminta doaku, dan bukan bermaksud mengganggu atau melemahkan aku. “Willy ngga mau makan, lesu sekali dia, aku masih pantau keadaannya”. “Willy minta gendong terus, aku sudah ngga tidur bikin jurnal, aku sudah capek sekali dan kayaknya sudah mau tumbang juga pa, doakan ya”. Berita-berita pendek orang tercinta dari tempat yang sangat jauh itu dengan mudahnya menggoncangkan dan mengganggu fokusku. Aku memang sudah punya HP baru, harganya 60 dollar dengan pulsa 30 dollar di dalamnya. Tapi HP bermerek Cingular (baca: cingular, jangan ganti c jadi s!) itu hanya untuk SMS, jika dipakai telepon mahal sekali, bahkan menerima pun kena charged. Namun untuk SMS lumayan murah 5 sen, baik mengirim atau menerima.

Aku ngga tahu bagaimana menelpon dari telepon umum yang ada di perpustakaan. Pengetahuanku tentang Amerika ini terbatas sekali. Kata Yoga, di dekat pompa bensin ada toko menjual kartu telepon, merek dagangnya Rocket harganya 5 dollar. Bisa dipakai sejam. Tapi cuaca dingin sekali. Namun sore itu dengan jaket tebal – yang dikasih oleh Nando suami Esther – aku memaksa diriku jalan mencari di mana toko yang menjual kartu telepon itu. Ketemu. Aku membeli 2 kartu. Jam 3 siang waktu Ohio begitu habis kursus jam 3 malam WIB, aku langsung menelpon ke Palembang, dengan mengikuti petunjuk yang ada di balik kartu. Pencet nomor sekian, masukkan PIN, pencet kode negara dan seterusnya. Palembang pun terhubungkan. Martha dan aku sangat bahagia bisa bicara langsung berdua (selama ini kami cuma kontak by email dan chat). Kurasa kami berdua sama-sama menangis. “Bagaimana Willy, say” tanyaku. “Ya begitulah pa”. Rupanya Willy terbangun, Martha memberikan ponselnya kepada Willy. “Hai Willy, ini Bapak, apa kabar sayang?”. “Aku lesu Pak” katanya lemah sekali. Mulutku tiba-tiba terkunci. Oh Tuhan. Oh. “Willy cepat sembuh ya,” pesanku pendek setelah berhasil menenangkan diri. “Willy mau dikirim apa?” kataku, “terserah bapak aja” kataku makin lirih. “Mana Mama, kataku tak kuat berbicara lama dengannya. Aku cuma minta agar Martha mewaspadai kemungkinan demam berdarah atau entah apa lagi. Pokoknya jangan ambil resiko, kataku. Sesudahnya aku mengambil tissue melap mukaku dan pergi cepat-cepat dari perpustakaan. Apa yang kaukejar ke Amerika, Dan? Untuk apa kau pergi jauh-jauh? Apa arti semua ini? Aku bertanya kepada diriku dan tidak berjawab.

Jam 5 pagi waktu Palembang jam 5 sore waktu Ohio, aku kembali menelpon ke rumah di Palembang. Martha segera membangunkan Kika dan Nina. Mereka gembira sekali mendengar suaraku, bapaknya, apalagi aku mendengar suara anakku. Kedua anak perempuan itu berlomba menyampaikan laporan kepada bapaknya: anak anjing sudah bisa jalan, palembang hujan terus, nina berenang, kika dapat nilai sembilan, dan macam-macam. Mereka sangat terheran2 ketika aku mengatakan di Ohio sedang sore di palembang sedang pagi. Kok bisa begitu tanyanya heran? Ya, begitulah jawabku sekenanya. Namun yang membuat aku paling bahagia, Willy sudah lebih segar dan karena itu banyak omong. Ia minta dikirimkan robot. Beres kataku. Aku baru sadar mungkin saja Willy stress, disangkanya bapaknya sudah hilang. Dia belum bisa baca. Artinya belum bisa baca sms, email dan chat dengan bapaknya. Sementara dua kakaknya sudah tenang karena bisa kontak setiap saat denganku. Tapi syukurlah, dia sudah sembuh. SMS Martha malamnya mengatakan Willy masih istirahat di rumah, tapi sudah berkicau lagi seperti biasa. Aku gembira. Ya, begitulah hidup rupanya.

 

SURAT NINA

halo bapak apa kabar – nina lagi di palembang – bapak kalau sudah punya duit banyak kita beli krayon koper yang ada capnya ya – nina rindu sekali sama bapak – kata bapak wili mau dikirim baju batmat – nina wili sekarang di rumah – tadi wili tidak masuk sekolah – nina wili sakit panas – cuman kika dan mama – soalnya kika dan mama mau beli krayon – kika mau ikut lomba mewarnai dan komputer – kika pulang sekolah jam 9 – tempatnya di sma 1 – dada dada

cium nina kika wili – untuk daniel bapak – dari nina

Minggu 25 Maret: Komunitas gereja Lutheran
Minggu pagi jam 08.15 aku dijemput oleh Mary Anne untuk bersama ke gereja Lutheran Athens. Begitu beliau sampai aku mengucapkan selamat kepadanya, sebab kudengar cucunya yang kedua sudah lahir. Lantas kami pun pergi dengan sedannya yang besar menuju gereja kecil Athens.

Gereja Lutheran Athens adalah komunitas kecil. Tapi menurutku ini komunitas hebat. Mengapa? Karena mereka begitu serius membangun dan memelihara komunitas ini. Dari luar, bangunannya tidak berkesan gereja seperti biasa dikenali. Tidak ada menara. Beratap rendah. Namun arsitekturnya menurutku sangat menarik. Dinding, lantai dan langit-langitnya kayu, memberi kesan hangat sekali. Altarnya menghadap ke timur, dan dinding di belakang altar itu diberi kaca timah warna-warni dengan motif dekoratif moderen. Kurasa itu altar menghadap timur adalah simbol yang bagus tentang kiblat atau orientasi ibadah menghadap Allah sumber terang. Aku tidak begitu paham arsitektur, cuma banyak diskusi saja dengan Jimmy Purba dan Erwinthon Napitupulu saja, tentu saja dengan iparku Parulian (ketiganya arsitek) tapi kesanku pribadi itu jendela kaca warna-warni gereja Lutheran Athens menggambarkan Roh Kudus yang sedang memberkati segala bangsa dari segala warna dan bahasa. Dari mana aku mendapat kesimpulan itu? Ngga tahu juga. Namun pagi hari, cahaya matahari memberkas lewat mosaik kaca itu indah sekali, benar-benar bagaikan cahaya Ilahi yang masuk ke hati.

Namun bukan itu yang paling membuatku berkesan. Di lobby gereja ada begitu banyak papan nama tergantung. Mary Anne mengambil satu. Untuk apa tanyaku? Katanya, kami ingin agar kami dikenali oleh pengunjung baru atau tamu gereja. Wow luar biasa! Menyediakan diri dikenali dan disapa oleh orang asing. Itu sikap yang sangat teologis sekali, kataku dalam hati. Lantas Mary Anne begitu sibuk memperkenalkan aku dengan semua orang yang berpapasan dengannya di gereja itu. Dan mau tahu cara memperkenalkan aku? Ini Daniel, pendeta Indonesia yang sedang belajar bahasa Inggris di Athens, dia adalah pendeta Esther Sianipar”. Aku memang tidak salah memilih (dipilih) sumber referensi. Esther Sianipar, sekarang Ny Esther Sitorus, ternyata sangat termashur di kota kecil ini. Dan kemashurannya membuat aku kelimpahan berkat. Dia lima belas tahun di kota ini, semua orang di gereja ini tahu dia sudah menikah dan baru mendapatkan bayi. Hebat sekali.

Satu lagi, eh sebetulnya banyak lagi, yang membuat aku terpesona dengan gereja ini adalah ruang makannya.Mereka katanya suka sekali makan bersama di gereja. Semoga aku bisa membuktikannya, harapku. Itulah yang salah satu kurindukan di HKBP: Gereja punya ruang makan bersama. Bukan ruang pesta adat yang hiruk-pikuk dengan musik memekakkan telinga, tapi ruang makan dimana orang-orang bisa makan bersama nasi atau mie dan minum kopi sesudah kebaktian sambil berbagi cerita dan kehidupan. Alangkah indahnya persekutuan HKBP yang semacam itu! Bukankah kultur Batak menganggap makan bersama sebagai suatu ritus pendamaian? (di pesta batak di kota besar aku tidak melihat lagi makan bersama, yang ada cuma makan sendiri-2, selain karena sudah sangat lapar, juga karena bising oleh musik yang memaksa banget masuk ke telinga).

Senin 25 Maret: kursus paling spesial untuk seorang pendeta rendah

Aku seorang pendeta diperbantukan. Artinya, sederhana saja: pendeta rendahan. Bukan pengambil keputusan. Tapi bukan berarti tidak mendapat rahmat. Terus terang, aku berangkat ke Amerika dibiayai sepenuhnya oleh Yayasan Del yang dipimpin Pak Luhut Panjaitan (harus dicatat: aku tidak punya pertalian persaudaraan dengan beliau). Aku dan istriku, sangat bersyukur kepada Tuhan, untuk rahmat Tuhan yang kuterima lewat Yayasan Del, secara khusus lewat Keluarga Luhut Panjaitan. Bagaimana ceritanya sehingga aku bisa disponsori ke Amerika hanya untuk memperbaiki bahasa Inggris? Mau tahu?

Suatu malam, persisnya di tanggal 26 Agustus malam 2005, persisnya di hari ulang tahunku, Martha dan aku berdoa bersama. Kami selalu menaikkan doa khusus di hari-hari khusus, dan biasanya selalu doa itu terkabul. Martha bertanya apa yang kuinginkan agar didoakan olehnya. Aku menjawab, aku ingin belajar bahasa Inggris beberapa bulan di luar negeri, sebab hanya dengan itulah aku bisa melayani dengan lebih baik di HKBP di masa depan. Martha spontan berkata, “kenapa tidak meminta kepada Pak Luhut Panjaitan mensponsori kursus?”. Beasiswa S3 saja sudah dikasi, apalagi cuma meminta kursus pendek. Ya juga kataku. Tapi dimana, tanyanya? Singapura, Australia, atau Inggris? Ngga tahu, kataku. Dalam hatiku aku ingin yang jauh, Inggris atau Amerika, tapi tak kukatakan dengan jelas, sebab aku tahu Martha pasti ingin tempat yang dekat. Dan itu dikatakannya jelas. Tapi malam itu, seperti malam-malam spesial yang lain, ia sungguh tulus mendoakan aku agar diberi kesempatan belajar ke luar negeri memperbaiki bahasa Inggrisku.

Sesudah kembali ke Jakarta, aku mengungkapkan keinginanku lewat seorang sintua HKBP Rawamangun, Inang Sianipar Naiborhu yang aku merasa dekat dengannya sejak Pesta Gondang HKBP Rawamangun, dan yang kutahu punya hubungan saudara begitu dekat dengan Keluarga Luhut Panjaitan. Dan jawaban Pak Luhur sangat segera dan pendek: “ya oke, berangkat aja, maunya kemana?”. Inang Sianipar yang pernah lama di Ohio rupanya juga hanya punya satu jawaban “Ohio”. Jadilah aku berangkat ke Ohio “hanya” untuk belajar bahasa Inggris. Aku tahu banyak orang tidak percaya. Belajar bahasa Inggris saja kok mesti jauh-jauh amat? Naposo Rawamangun suka bercanda meledek aku pendetanya, “daripada les di ame-rika mending Amang les ame-Ricky”. Hahahaha.

Kursus bahasa Inggris yang diselenggarakan Ohio University katanya terbaik di dunia, dan kubuktikan kayaknya benar. Kata kayaknya diperlukan sebab aku belum pernah ke bagian dunia yang lain memeriksa kursus yang sama atau mirip. Tapi apa yang kualami di sini memang sesuatu privilese atau keistimewaan yang hanya boleh dianggap sebagai anugerah Tuhan, agar aku tetap rendah hati dan menguasai diri. Setelah tes TOEFL dengan skor 420 (empat-ratus-dua-puluh) placement (penempatan), aku ditempatkan di level AE-45 (academic english 45, intermediate). Murid di kelas AE-45 itu ada satu orang, yaitu aku sendiri. Gurunya ada 4(empat) orang. Yaitu: Jack Humbles (native asal Indiana, sudah puluhan tahun mengajar Inggris) mengajar grammar, Deborah Siegrist (native, mengajar writing), Olena Gobrosrchv (nama belakangnya kurasa salah, sebab susah sekali menghapalnya, asal Ukrania, sudah lama mengajar disini) mengajar reading, dan Erica Silva (asal Brasil) yang mengajar listening. Empat guru satu murid!

Kelas berlangsung empat hari seminggu: Senin, Selasa, Kamis dan Jumat. Kelas mulai jam 08.00 s/d 11 siang, kemudian dilanjutkan lagi jam 13.00 s/d 15.00. Hari Rabu tidak ada kelas, tapi mahasiswa wajib ke laboratorium untuk melatih listening, grammar. Reading punya laboratorium sendiri. Aku pertama-tama cuma terkagum-kagum saja melihat banyaknya komputer dan canggihnya. Semua komputer on-line. Selain bisa dihubungkan dengan website kursus bahasa Inggris milik OU dan lain tempat, bisa juga sekedar kirim email ke keluarga atau teman. Namun, pelan-pelan aku mencoba menggunakan komputer ini sesuai dengan maksudnya, yaitu memperbaiki bahasa inggrisku, walau kadang-kadang aku tergoda juga sekedar untuk kirim email. Hahaha.

Setiap guru memberikan PR setiap hari termasuk di akhir pekan. Jadilah aku “anak les” yang paling sibuk di dunia. Berhubung muridnya cuma satu, yaitu aku sendiri, maka silabus kursus dimodifikasi untuk kebutuhan dan kepentinganku sebagai pendeta hkbp yang ingin studi S3 di Jakarta. Mungkin inilah kursus privat paling mahal di dunia! Terus terang, dengan uangku sendiri, manalah aku sanggup membayarnya. Tapi ini kursus yang paling hebat. Gurunya tidak duduk di depan, tapi sering-sering di samping, persis seperti aku menemani anakku bikin PR. Dan berhubung cuma aku, maka semua pertanyaan harus aku yang jawab. Dan berhubung waktu mereka memeriksa PR sedikit karena muridnya cuma sebiji, maka PR-nya dikasih banyak-banyak. Aku polos mengatakannya ke Palembang, tapi Kika membalas dengan sms meminjam HP mamanya “kacian deh lo”.

Apa lagi? Oh ya, aku juga membeli radio merangkap jam merk Sony di Wal Mart harga 13 dollar untuk melatih kupingku mendengar bahasa Inggris. Aku juga selalu mengambil koran kampus gratis setiap hari (kadang lupa membacanya) dan selalu beli majalah Time (sebagian besar aku sulit menangkapnya). Aku juga berusaha melahap semua brosur yang disediakan seperti aku melahap nasi goreng ikan asin pete kesukaanku di Jakarta. Tadinya aku beli tevelvisi (14 inchi?) tapi sudah kupulangkan karena kurasa sangat boros jika aku langganan teve kabel. (sekaligus ingin membuktikan kabar yang mengatakan di Amerika, kalau ngga suka barang, setelah dipakai sebulan atau lebih pulangkan aja, uang dikembalikan penuh, dan ternyata benar). Kini aku cuma punya radio yang berceloteh sepanjang malam dengan berita Tuan George Bush.

(bersambung)

Home: http://rumametmet.com

 

Share on Facebook

10 comments for “DTA PERGI KE AMERIKA (2)

  1. April 13, 2006 at 12:05 am

    Hmm… Wow…
    Haru… Keren…!!

    God is good :)

  2. April 13, 2006 at 7:25 am

    Hi Amang..,
    Senang sekali aku baca tulisannya.. pasti karena sudah terbiasa nulis dan khotbah, sehingga bisa buat yang baca, serasa ikut jadi bagian dari tulisan Amang..
    Kalau aku pribadi jadi:
    -ikut ngerasa gimana bahagia campur sedihnya Amang sekarang..
    -ikut ngerasa gimana bangga dan rindunya Inang di palembang..
    -Ikut ngerasa bangga dan sedihnya anak2..
    -Ikut ngerasa deket dengan Amang, walau Amang datang ke hkbp rawamangun disaat aku menikah.. jadi aku hanya dengar cerita terus-menerus tentang Amang, baik dari adek2 dan mertua.. karena penasaran sebagus apanya Amang, sampai ngusulin Amang jadi pengkhotbah buat natal caltex di duri riau ini.. ha3..
    -Ikut bangga dan aku berniat bawa dalam Doa, Amang bisa menyelesaikan kursus dengan baik dan bisa tetep jaga misi Amang agar HKBP bisa lebih baik dari sekarang, juga kehidupan Keluarga Amang penuh kebahagiaan..
    A-M-I-N

    (HORAS!! Gara2 tulisan Amang aku berusaha keras tidak lagi menggunakan GBU dalam sms atau email ku..)

    See you “Amang”

  3. April 13, 2006 at 11:58 am

    Halo Amang.. Belajar bahasa Inggris, kenapa nggak ke Inggris aja sekalian? hehehe.. Kan kalau ke Inggris: (1) bisa belajar bahasa sekaligus mengerti konteks sosial dari bahasa Inggris, (2) kita bisa ketemuan. Hehehe.. Congrats buat kesempatan ke Ohio. Bagaimanapun tinggal dengan cukup lama di negeri seberang pasti akan membuka wawasan lebih luas.

    Satu lagi, ‘pendeta rendahan’ itu justru posisi yg paling bagus dan lebih benar secara teologis menurut Luther dibandingkan ‘pendeta tinggian’. Bukankah esensi teologi pembaruan Luther adalah menghilangkan batas antara ‘pejabat’ (clergy) dengan ‘jemaat awam’?

    Horas!

    Salam dari Norwich,
    Martin
    (kalau Amang ‘pendeta rendahan’, aku gimana dong? Warga biasa HKBP yg gak punya ‘posisi’ apapun di dalam gereja [baca: warga rendahan]?

  4. April 19, 2006 at 3:57 am

    amaaaangggg….
    Curhat nya benar2 nyata… aku terbawa dlm suasana yg amang gambarkan…
    Kisah Amang benar2 “manusiawi” dan nggak dibuat-buat… thx amang… aku blajar banyak dr kisah amang ini…
    btw.. gmn kalo pas balik ke Jakarta, kisah Amang di bikin buku aja… hehehehe…. (^,*)
    Yg lain gimana??? stujuuuu??? ayo gantian kasih comment…
    Selamat atas sewindu pernikahan amang dengan inang…

    salam dan doa dr Muda/i HKBP Jatiwaringin buat amang sekeluarga…

  5. April 25, 2006 at 10:52 pm

    Waduh Amang, aku ampe 2 hari baca blognya,panjang kaleee…, tp aku senang bacanya, serasa aku di OHIO jg hehehehe…:-), aku juga merinding baca tulisan Amang tentang Willy yg sakit, tp Amang tetap tabah, kesaksian yang sangat bagus Amang, boleh juga tuch di tempel di mading:-) bisa ga yach???!! or musti ijin dari gereja? Btw, sekarang mainannya udah Bar nih:-)
    NB. : Balas emailku donk Amang ttg LDK!!!
    Thanks & IMMANUEL ….

  6. April 26, 2006 at 12:31 pm

    Terima kasih kawan2 atas komentarnya. Saya merasa semakin didorong untuk terus menulis serial solitude ini. Semoga pengalaman2 sehari-hari saya di negeri adidaya ini (sebagian mungkin konyol hehehe) bisa jadi sumber air yang kecil memberi inspirasi dan motivasi kepada banyak orang, terutama yang muda, agar lebih berani dan kreatif…. Sekali lagi thx atas komentar2nya…

    Salam dari Ohio,
    Daniel

  7. Sibarani
    December 14, 2007 at 3:01 pm

    Very touchy! Miracles do happen … Saya kebetulan berteman dengan anak-anak dari Inang Sianipar br. Naiborhu lewat isteriku yang pernah sekolah di Athens, OH dan kenal baik dengan keluarga ini di sana.

    Maju terus untuk pembaharuan di gereja halak hita! God bless …

  8. February 2, 2009 at 7:46 pm

    Ada yang bisa kasih info, bagaimana caranya bisa ke Amerika, ya lewat beasiswa atau yang lainnya?
    Dan adakah beasiswa bidang Seni Murni/ Fine Art, terutama seni lukis..?
    Terima kasih banyak yang bisa memberitahu.
    boch_el@yahoo.com

  9. Lamhot Naibaho
    November 28, 2009 at 10:46 am

    Bapa. Aku ingin bekerja di sana bisa gak Bapa bantu aku?

    Daniel Harahap:
    Saya bisa bantu doa.

  10. hadi saputra
    March 12, 2010 at 9:27 am

    saya juga lulusan STT tepatnya STT Gereja Kalimantan Evangelis, jadi saya sarjana Teologi. saya mau ke Amerika gimana caranya…ya kerja..ya membantu pelayanan…ya kerja sosial asalkan bisa ke Amerika
    ada info kasih ke saya
    hp 085249992621

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *