DTA PERGI KE AMERIKA (1)

united-airlines.jpg

Minggu 19 Maret jam 18.30
Pesawat United Airlines yang kutumpangi sejak dari Singapura mendarat lembut di bandara Columbus Ohio. Aku sengaja turun belakangan, memberi kesempatan kepada diriku menarik nafas dalam-dalam menenangkan jiwa yang gundah. Masih juga mengenakan t-shirt dan jeans yang kupakai sejak dari Changi, aku melangkah perlahan-lahan, berharap akan ada orang yang menjemputku – sesuai pesan Esther – di gerbang bumi digdaya Amerika ini. Sementara itu, aku cuma berjalan pelan-dan-pelan mengikuti petunjuk-demi-petunjuk papan neon bandara. Tak lama, seorang lelaki muda gagah, tampang khas Amerika , senyum dan menyapaku dengan logat Melayu Malaysia, “apakah Bapak Pendeta Daniel Harahap?” Ya jawabku bahagia mendengar namaku disebut. Ini rupanya dia yang kuharap. Tuhan tidak bohong, Dia memang tidak pernah ingin aku terlantar. “Saya Ron” tuturnya lagi ramah dan hangat sekali, “saya disuruh oleh Prof Marry Anne Fluoronoy untuk menjemput Bapak”. Aku senyum mencoba seramah mungkin, lantas bersusah-payah menyatukan keping2 lepas bahasa Inggrisku mengucapkan padanya: “nice-to-meet -you-Ron-really-I-appreciate-your-kindness”. Namun ia tetap saja berusaha berbahasa Melayu kepadaku, seakan ingin membuat jiwaku tenteram sentosa di saat-saat pertama di bumi Amerika. Aku merasa melayang ke atas matras empuk yang bernama United States of America. Semoga ini pertanda baik, kataku, kepada diriku sendiri. Rasa percaya diriku menumbuh. Namun bagaimana dengan istriku dan anak-anakku tercinta di Palembang? Semoga mereka juga gembira, kataku di hati, gagal menghalau air mata rindu yang justru datang di saat bahagia.

Perjalanan Columbus – Athens memakan waktu satu setengah jam. Aku duduk sangat nyaman di mobilnya Ron sembari memandang bebas Amerika yang gagah perkasa. Ron terus bercerita dan bila aku menyapa mendengarku seksama. Kadang aku menyapanya dengan keping-keping bahasa Inggris, namun terus terang lebih banyak memakai bahasa Indonesia. Beberapa kali Ron bertanya apakah aku cukup “comfortable” dengan ukuran kehangatan udara dalam mobil dan apakah aku lapar dan ingin berhenti dulu untuk makan. Aku minta maaf sebab bahasa Inggrisku sangat jelek namun entah apa yang ada di benaknya, ia justru memuji bahasa Inggrisku, dan meminta maaf jika harus menyapaku dengan bahasa Indonesia logat Melayu. Pujiannya tak begitu penting bagiku, tapi aku merasakan keramahan dan kehangatan yang tulus dalam tutur dan sikapnya. Terang saja aku tak perlu memaafkan kejanggalan Ron menutur bahasa Indonesia, karena bagiku apa yang dilakukan Ron kepadaku sungguh luar biasa. Tak bisa kubayangkan bagaimana paniknya aku jika tak ada yang menjemputku di bandara ibukota Ohio State ini: kemana aku akan pergi? (dengan atau tanpa air mata). :-) Namun ia rela mengorbankan waktu akhir pekannya yang kutahu sangat berharga bagi seorang Amerika hanya untuk menjemput seorang pendeta tak dikenal dari negara miskin bernama Indonesia!

Kami tiba di rumah Prof. Mary Anne jam 21.15 (karena akhirnya aku meminta Ron berhenti di Mc Donald). “Selamat datang, apa kabar?” sambut seorang perempuan kutaksir berusia 60-an berwajah tomat hangat. Aku merasa kembali bagaikan seorang anak kecil yang didudukkan di atas sofa yang lembut. Setelah berbasa-basi sebentar – ia minta maaf karena suaminya Don sedang di Texas menunggu ibunya yang sakit – Mary Anne mengajak aku dan Ron aku ke lantai atas rumahnya. Beliau sudah menyiapkan kamar lengkap dengan selimut (plus selimut cadangan) dan juga baju hangat serta kaos kaki. Aku berterima kasih dan tidak memerlukannya sebab aku sudah cukup mempersiapkan jaket, sweater, kaos kaki dan jaket dari Jakarta. (aku lupa tadi mengatakan, Ron juga menyiapkan jaket di mobilnya, takut2 aku kedinginan). Rasanya aku ingin berteriak kegirangan seperti Willy ketika mendapat sebuah kamar kayu yang sangat eksotis dan hangat sekali dan kasur springbed bercover tebal. Sungguh aku merasa tidak terlempar atau terdampar di benua yang jauh ribuan mil dari Jakarta ini. Aku merasa ada Tangan yang mengantar dan menuntun aku dari satu halte ke halte lainnya, sampai aku tiba akhirnya di suatu kota kecil bernama Athens di bagian utara Amerika Serikat.

Prof Mary Anne menunjukkan padaku dimana kamar makan, dapur, toilet dengan shower, dan ruang tamu. Juga lemari tempat gelas dan piring, gula dan kopi atau teh. Wanita ini kayaknya sudah lupa berbahasa Indonesia, ia tinggal di Surabaya tahun 70-an. Dia selalu berbahasa Inggris dengan tempo yang sengaja diperlambat, namun tetap saja aku merasa sulit memahaminya. Kecuali satu kalimat yang tidak mungkin hilang lagi dari jiwaku sampai selama-lamanya, ketika ia mengatakan dengan sorot mata sangat tulus: “my house is your house”. Aku merasakan itu sebagai kata2 malaikat penolong. Hari pertama di Amerika aku sudah bertemu dengan dua “malaikat” yang disuruh Tuhan menghampiriku.

rumah-don-fluoronoy-marry-anne.JPG

Senin 20 Maret pagi

Jam 7.30 Prof Mary Anne, memperkenalkan lebih jauh rumah kayunya yang terletak di sebuah kaki bukit di tepi lembah. Rumah itu katanya dibangun abad ke-19 terbuat dari kayu dan sampai sekarang belum mengalami perubahan. Menurut Mary Anne, rusa-rusa hutan suka sekali datang. Aku jadi teringat film kesukaanku sewaktu kecil: A Little house on the prairie! Amboi indah sekali. Padang rumput bertabur butir-butir halus salju, pohon-pohon meranggas menunggu waktu bertunas, pohon pinus hijau abadi, rumah kayu bercerobong, dan kicau burung-burung, semuanya datang menyatu merasuk jiwaku di pagi hari yang baru.

Setelah puas melihat-lihat rumah dan pemandangan di luar, terutama setelah aku menggigil kedinginan, Mary Anne mengajak aku sarapan pagi. Dia sengaja memasak nasi dan menggoreng telur mata sapi khusus untuk menyambutku. Nasi dan telur mata sapi di akhir musim dingin Amerika! Rasanya tak sabar aku ingin melahapnya. Ya memang aku memakannya lahap sekali. Selain memang lapar karena kedinginan, suhu di bawah nol derajad celcius, aku benar-benar menikmati penerimaan hangat tak bersyarat di rumah kayu ini. Aku menerima nasi pagi ini bagaikan manna tanda pemeliharaan Tuhan yang ajaib kepada hambaNya yang rendah dan kecil.

Hatiku terus melafas mazmur pujian bercampur kidung rindu kepada Willy, Nina, Kika dan Martha. Aku bahagia diterima di negeri adidaya ini, tapi sekaligus sedih karena yang kucinta justru tidak hadir bersamaku disini. Oh. Sejak berangkat dari Jakarta aku tidak bisa mengontak anak-anak dan istriku. Aku tiba-tiba terpisah dan kehilangan mereka. Satu-satunya harapku hanyalah doa. Ya, aku tak berhenti melafas litani “ya Tuhan jagalah mereka yang kucinta”. Semoga mereka juga sedang gembira di sana seperti aku di sini.

Jam 09.00 sesuai janji Ron Sargent datang. Ia berjanji akan mendampingi aku seharian ini untuk masuk ke dunia Amerika. Dengan sedannya kami pun mengelilingi Athens. Ron memperkenalkan jalan demi jalan, bangunan demi bangunan di kota ini. Terus terang aku tidak bisa menghapalnya. Aku cukup menikmatinya saja. Benar kata Esther, kota ini kecil. Athens adalah kota berbasis kampus Ohio University. Kota ini berbukit-bukit indah sekali. Suasananya sedang sepi karena para mahasiswa sedang pulang berhubung spring break atau liburan musim semi. Entah kenapa aku langsung tertarik dan jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Athens. Kupikir itu sangat berhubungan dengan Mary Anne dan Ron Sargent (juga dengan Esther Sianipar di Jakarta yang lebih dulu memiliki kota ini selama 15 tahun).

Pagi itu Ron memperkenalkan aku dengan Eski. Dia adalah seorang jurnalis, perempuan, muslim, Indonesia, mahasiswa S2 di sini. Ron dan Eski dengan sukarela menjadi guide pribadiku. Seharian penuh mereka menemani aku melakukan apa yang menurut mereka “hal-hal penting untuk bisa hidup di Amerika”. Amboi. Luar biasa beruntungnya aku. Sorry, betapa aku dikelilingi oleh rahmat. Hari pertama di Amerika aku sudah langsung mendapatkan ID Card Ohio University yang kuperlukan untuk berurusan dengan studi dan juga akses untuk mendapatkan segala kemudahan yang disediakan universitas, mengaktivasi e-mail kampus agar bisa akses internet gratis dari komputer perpustakaan dan mana saja milik universitas, membuat account bank, mendapatkan penginapan sementara di resident hall, dan belanja keperluan sehari-hari di wal mart. Hari itu benar-benar menjadi hari sibuk dan semangat. Ibarat pesawat, kurasa pendaratanku di Amerika sempurna. Rasa kagum, bangga dan gembiraku semakin bertambah, ketika aku tahu rupanya Ron Sargent ternyata adalah seorang tentara AS, berpangkat mayor, pernah tugas di Malaysia, dan akan segera ditugaskan ke Timor Leste. Sementara itu Eski adalah seorang jurnalis yang biasa meliput di daerah konflik, tadinya bekerja Radio Australia, berbapak Jawa beribu marga Sitompul.

BW3BG

Jam 20.00 malam, setelah seharian sibuk mengurus berbagai kepentinganku, Ron dan istrinya Lorie, Eski, Christ (tentara AS juga pernah setahun di Seskoad Bandung), Kenji (mahasiswa Jepang yang sdg belajar bhs Indonesia) dan seorang lagi Amerika (aku sungguh lupa namanya) dan aku bertemu di bar dekat tempatku menginap. Nama bar itu di telingaku sangat ganjil: BW3BG. Apalagi bila dilafal dengan bahasa Inggris! Itu katanya singkatan dari Buffalo Wild Wing Bar & Grill. Kuhitung-hitung huruf W-nya cuma 2, tapi kenapa dibilang 3? Apakah bila orang kebanyakan minum alkohol mata orang jadi nanar sehingga 2 dan 3 menjadi sama? Ah, masa bodohlah, kataku. Aku sedang bahagia di negeri adidaya ini dan ngga mau pusing urusan akronim. Aku sudah merasa aman dan lega sebab langsung punya kawan2 yang baik di tempat ribuan mil dari tanah air. Aku merasa masa depanku tiba-tiba terbuka begitu lempang. Mimpiku dan doaku terkabul jadi kenyataan. Sungguh aku sudah masuk ke negeri raksasa yang ternyata budiman. Untuk itu aku berteriak bersyukur. Tapi bagaimana Nina, Kika dan Willy? Bagaimana Martha istriku? Aku memesan bir heineken lagi, dan maaf :-) semakin tidak menyimak apa saja yang dipercakapkan oleh kawan-kawan baruku ini di antara bunyi laporan pertandingan bakset bercampur musik hingar.

Musim semi ternyata sudah datang lebih dulu ke dalam jiwaku, membawa semangat dan tekad ke masa depan, sekaligus rindu dan sunyi yang hening. Berjalan pulang gontai, aku merasakan Nina menangis lama dalam pelukanku, kecut Kika menatapku tanpa kata, wajah Willy tidur pulas, dan senyum Martha yang menyembunyikan dalam2 kekuatirannya agar aku, suaminya, bisa melangkah tenang ke tempat yang perlu bagi kami namun begitu jauh…

rumah-mary-anne.JPG

(bersambung)

Home: http://rumametmet.com

 

Share on Facebook

8 comments for “DTA PERGI KE AMERIKA (1)

  1. April 9, 2006 at 2:27 am

    Wah…mengharukan, tapi itu pergi ke negeri orang dan resiko orang berkeluarga bang. Jadi sulit deh pergi jauh-jauh. Tapi abang termasuk sangat beruntung karena ketemu malaikat. Setidaknya kesunyianmu tidak terlalu buruk karena ada rumah kalian walau bukan rumahmu..hehe Btw, apakah malaikat di Ohio bisa membantu meski jarak berjauhan?

  2. April 9, 2006 at 3:46 am

    suatu penggalan waktu yang indah dari sebuah perjalanan hidup…..dengan kacamata seorang yang memiliki keindahan hati…….segalanya pasti terasa indah….bila hati kita indah….seperti anda pak daniel……untuk jiwa2 yang takut menghadapi sesuatu…sangat menyejukkan hati…….trimakasih sekali lagi….salam buat keluarganya….

  3. Roy
    April 11, 2006 at 11:26 pm

    amang DTA,
    membaca tulisan ini bak membaca sebuah prelude novel yg penuh dengan nuansa kehangatan. kayak novel supernova 3 (akar) tulisan nya dee, adik nya imelda simangunsong hehehe….
    btw, selamat bertualang di negri paman sam !!

  4. May 23, 2007 at 1:25 am

    keren banget bang ceritanya,tetapi dari semua cerita itu aku yakin kok. dimana kita bergerak dengan kebaikan akan menuai kebaikan juga kok.gw kenal abang sejak abang masih pdt.NHKBP palembang. saya anak (dulu)Guru Huria S.Manullang.sekarang puji tuhan bapak udah mencapai apa yang diinginkannya (…Pdt…), walaupun melewati segala tantangan.makanya aku percaya bahwa apa yang kita yakini benar akan menciptakan output yang benar pula dan semuanya itu INDAH PADA AKHIRNYA.prificiat bang dan terus berkarya.

  5. kenzo
    January 13, 2008 at 3:44 pm

    ceritanya asyik dan suatu pengalaman yg cocok di simak, suatu kebahagiaan pada pembaca, agar kiranya dalam pelayanan amang di manapun tidak lelahnya amang bekerja di ladang Tuhan. kami dengar amang di tempatkan Hkbp BSD serpong, semoga karya amang dalam dunia maya lebih di minati pada semua golongan umur, utamanya umat hkbp, gbu, Kenzo hutapea bogor

  6. Grace Simanjuntak
    April 22, 2008 at 3:44 pm

    Seperti membaca ‘Semangkuk Sup Ayam’ edisi penulis Batak-Indonesia.
    Menguatkan siapa saja, untuk berani melangkah ke luar dari wilayah nyaman pribadi. Diawali perjalanan yang sangat panjang dan jauh serta dibutuhkan kesabaran super extra.

    Bravo buat Amang DTA.
    Salam dari saya, suami Andry Manalu, dan jagoan mungil kami Anthony Tobias Manalu (saat ini 7 bulan lebih) dari Tanjungpinang.

  7. February 18, 2009 at 1:36 pm

    shalom Pa Daniel. Salam kenal dari saya James. setelah membaca cerita bpk, saya jadi punya kerinduan dan ingin skali bisa pergi kesana.. Tujuannya pertama ingin melayani Tuhan di sana. Bisa ga pa kira2 sy ke amerika. Tuhan Yesus memberkati. Amen..

  8. September 12, 2009 at 10:08 pm

    ingin pergi kesana?
    gmna caranya ya?
    ada yg mau ngajak ngk?
    hahaa maunya…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *